
Bai Wang kembali masuk, namun masih dengan pikiran yang di lihatnya tadi tentang pria yang menemuinya. Ia berjalan sampai tidak sadar jika sudah berada di depan kamarnya. Lin Zhan yabg kebetulan keluar dari kamar melihat Bai Wang langsung menepuk bahunya.
"Hei, ada apa dengan mu?" tanyanya langsung membuat Bai Wang sadar.
"Tidak! Tidak apa-apa," jawabnya mengelak. "Kenapa kamu tidak istirahat?" tanyanya yang melihat Lin Zhan di luar kamar.
"Oh, tadi___," Lin Zhan berpikir dan setelah itu mengalihkan pembicaraan. "Kamu kenapa dari luar?" tanyanya membuat Bai Wang diam, tidak mungkin dia mengatakan apa yang terjadi, karena menurutnya kejadian tadi entah itu benar atau tidak, Bai Wang sendiri tidak yakin.
Mencari angin segar," jawabnya membuat Lin Zhan menganggukkan kepala. "Lebih baik kita segera istirahat, besok kita melanjutkan perjalanan lagi," sambungnya dan kedua nya pun langsung masuk kedalam kamar mereka masing-masing.
Bai Wang yang telah masuk kini berbaring di atas ranjang. Pikirannya menerawang tentang bertemu dengan pria dan seekor naga besar tadi. Dia masih bertanya-tanya siapa pria tadi. Menurutnya itu bukanlah mimpi, seperti kenyataan. Bahkan dia bisa merasakan tekanan kuat dari pria tampan tadi, sungguh sangat mengerikan.
Tiba-tiba muncul wajah gurunya dalam bayangan.
"Bukalah setelah kamu pergi," Ucap gurunya dalam ingatan tentang gulungan yang di berikan.
Mengingat itu, Bai Wang langsung duduk, dan mengeluarkan gulungan tersebut dalam cincin penyimpanan. Dan kini dalam sekejap berada di genggaman nya.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang berikan guru?" gumamnya penasaran, dan setelah itu membukanya.
Saat mata itu melihat, kening Bai Wang mengkerut, tidak mengerti isi dari gulungan tersebut. "Apa ini?" gumamnya tidak paham dengan gambar-gambar mutiara yang hampir sama bentuknya dengan mutiara yang di milikinya. "Kenapa guru memberikan gulungan sebuah gambar mutiara? Tidak mungkin kan aku di perintah untuk mencari mutiara ini dan setelah itu di berikan padanya, lalu di jual untuk membeli arak?" sambung nya tidak paham.
Bai Wang sungguh tidak mengerti dengan maksud gurunya memberikan gulungan gambar tersebut, karena sesungguhnya Bai Wang memang tidak tahu jika ada tujuh Benih Mutiara Kekacauan yang seperti dimiliki oleh nya.
Bai Wang melihat satu persatu dari ketujuh pecahan Benih Mutiara Kekacauan tersebut, "Mutiara ini sangat persis dengan Mutiara pemberian ibu," gumamnya menatap Benih Mutiara Kekacauan Emas. Tangannya terulur menyentuh lukisan tersebut, dan muncul kesadaran Tetua Jian yang di tinggalkan di lukisan tersebut untuk memberi pesan kepada muridnya.
Bai Wang yang melihat tentu saja terkejut, ia menatap bayangan gurunya dan mendengarkan apa yang di katakan-nya.
"Wang'er, kamu pasti bertanya-tanya kenapa guru memberikan gulungan berlukis-kan gambar-gambar tentang mutiara itu bukan?" Bai Wang yang mendengar diam, namun ia mengangguk. Memang kenyataan nya dirinya bingung dan tidak paham dengan maksud gurunya. "Guru ingin kamu menemukan ketujuh Mutiara tersebut. Kamu pastinya sudah melihat, di antara ketujuh mutiara ada satu yang tidak asing bagi mu. Ya, mutiara itu adalah mutiara emas milik mu. Mutiara yang telah bersatu dengan Jiwa pedang berkarat mu," jelas Tetua Jian. Bai Wang yang mendengar diam, berpikir.
"Mutiara itu bernama Benih Mutiara Kekacauan. Dahulu kala, Benih Mutiara Kekacauan muncul di langit dan akhirnya membuat para dewa memperebutkannya. Melihat para dewa saling menginginkan demi kepentingan diri sendiri, Dewa tertinggi di langit memecah benih itu menjadi 7 bagian dan di sebar di penjuru dunia. Berharap tidak ada yang menemukannya, karena benih itu akan sangat berbahaya jika kembali bersatu dan yang menyatukannya adalah orang yang menginginkan kehancuran dunia. Namun katanya Jika yang menyatukan ketujuh Benih itu adalah orang yang tidak memiliki niat jahat terhadap dunia, benih itu akan membuat kedamaian bagi seluruh alam semesta," Jelas Tetua Jian yang mengetahui cerita tentang asal Benih Mutiara Kekacauan dari sebuah buku kuno yang di temukan nya.
"Tapi guru tidak tahu benar atau tidaknya cerita itu. Namun guru menyakini kebenaran itu setelah melihat Mutiara emas yang bersatu degan pedang mu. Guru memiliki pemikiran, mungkin kamu memang ditakdirkan akan hal itu," jelasnya membuat Bai Wang tidak paham tentang apa yang di katakan gurunya. 'Tengang hal apa' pikirnya. Bai Wang kembali menatap gurunya, mendengar penjelasan nya lagi, "Guru meminta mu untuk mengumpulkan ketujuh mutiara itu. Dan kamu harus bisa mengumpulkan semuanya. Jika kamu memilikinya lagi, kamu harus segera menyatukan dengan pedang berkarat mu. Guru yakin Pedang Berkarat mu yang selalu di anggap remeh dan tidak berguna, kelak suatu saat akan menggemparkan seluruh dunia," sambungnya.
Bai Wang yang mendengar permintaan gurunya diam, mungkinkah dia bisa memenuhi permintaan gurunya untuk mengumpulkan ketujuh mutiara tersebut? Bagaimana caranya, dia sendiri tidak tahu kemana harus mencari. Mungkinkah dia harus keliling dunia agar menemukan benih tersebut? Jika iya, sampai kapan. Tapi saat mengingat pria tampan yang baru saja dia temui dengan kekuatan besar, entah kenapa ia semakin tertarik dengan permintaan gurunya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mencari Benih Mutiara Kekacauan tersebut. Dan akan ku buat seluruh dunia mengakui ku, bahwa aku bukanlah manusia lemah dengan jiwa pedang tidak berguna," Ucapnya dengan semangat.
Setelah mendengar permintaan gurunya, Bai Wang menyimpan kembali gulungan tersebut ke dalam cincin penyimpanan dan setelah itu beristirahat, berharap esok pagi dirinya memiliki semangat kuat untuk memulai perjalanan nya mencari Benih Mutiara Kekacauan.
Sedangkan di kamar sebelah, Lin Zhan duduk santai berhadapan dengan anak buahnya, Wan Bao, Yan Tian, dan Lu Hao. Mereka bertiga memberi hormat, sebelum berbicara.
"Katakan!" perintahnya pada Lu Hao kesal karena bawahan nya dan bawahan ayahnya berhasil menemukannya lagi.
"Ampuni hamba, Yang Mulia Putra Mahkota. Hamba hanya di beri perintah oleh Yang Mulia Kaisar untuk mencari anda, dan membawa kembali anda Kekaisaran. Jika Yang Mulia, menolak maka___," belum selesai Lu Hao menjelaskan, Lin Zhan sudah memotongnya.
"Cukup! Aku tidak mau dengar," Lin Zhan berdiri dan menuju jendela, melihat langit malam yang tenang dengan banyak bintang gemerlap. "Aku tidak akan pulang, sebelum aku menjadi lebih kuat. Katakan kepada ayahanda, aku menemukan sesuatu yanag menarik," jelasnya dan mengeluarkan gulungan surat dari cincinnya yang telah dia tulis sebelum mereka bertiga datang, "Kembalilah ke benua Changshi dan berikan ini pada ayahanda," sambungnya menyerahkan gulungan pesan.
Lin Hao menerimanya, ia menatap Putra Mahkota dan setelah itu mengangguk. Tidak berani membantah lagi. "Baik, Yang Mulia," jawabnya dan setelah itu pergi, menyisakan Yan Tian Dan Wan Bao.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung