
Lin Zhan yang melihat Bai Wang jatuh langsung melompat dan menangkapnya, membawanya ke tempat yang lebih baik.
Mereka bertiga membawa Bai Wang ke tepat yang sedikit jauh dari tempat itu. Mereka yakin pertarungan dua orang yang memiliki tingkatan pendekar Agung pasti menarik perhatian beberapa pendekar, dan di yakini nya pasti mereka akan datang ketempat itu untuk melihat apa yang terjadi. Dan benar saja, beberapa pendekar memeng datang melihat ke tempat pertarungan Bai Wang dan Lao Shan yang membuat langit bergemuruh.
Saat mereka sampai di sana, mereka semua tidak melihat apa pun, mereka hanya melihat tempat itu hancur dan kacau.
"Siapa yang melakukan hal seperti ini? Sungguh kekuatan yang sangat kuat," gumam seorang yang melihat kekacauan tempat tersebut. Yang lainnya mengangguk, membenarkan ucapan orang tersebut.
Setelah berkeliling di tempat tersebut dan tidak menemukan sesuatu apa pun, mereka pun pergi meninggalkan tepat terjadinya pertarungan. Sedangkan Lin Zhan dan lainnya kini memasuki pegunungan batu, beristirahat disana sambil menunggu Bai Wang sadar dari pingsannya.
Mereka membuat api untuk menghangatkan tubuh mereka di malam hari. Sambil sesekali melirik Bai Wang yang belum sadarkan diri juga. Lin Zhan membuka sesuatu hasil rampokannya di tubuh Lao Shan, cincin penyimpanan yang ternyata memiliki banyak barang bagus.
Setelah tubuh Lao Shan menghilang karena di serap oleh Bai Wang dalam keadaan tidak sadar, Lao Shan meninggalkan cincin itu, dan di temukan nya oleh Yan Tian sebelum mereka pergi dari tempat tersebut. Dan kini cincin itu telah ada di tangan Lin Zhan.
Lin Zhan yang melihat banyak harta pusaka matanya berbinar. Walaupun dia seorang putra mahkota, tapi jiwa nya selalu meronta jika melihat barang-barang bagus seperti itu.
"Wah....Kaya juga ini kelelawar," senangnya memegang satu persatu benda pusaka itu.
Wan Bao dan Yan Tian hanya saling pandang melihat hal itu, setelah itu menggelengkan kepala dengan tingkah tuannya yang seolah tidak pernah melihat barang-barang bagus.
Tiba-tiba Lin Zhan memiliki suatu pemikiran yang konyol, dia tertawa sendiri memikirkan hal itu. Setelah Bai Wang bangun dia akan mengatakannya dan Bai Wang pasti akan senang.
Yan Tian yang melihat tuannya terkekeh sendiri berbisik kepada Wan Bao, "Ada apa dengan Yang Mulia?"
Wan Bao yang di tanya hanya mengangkat kedua bahunya, tidak tahu apa yang di ditertawakan tuannya, berharap tidak menimbulkan masalah. "Aku tidak tahu. Semoga saja tidak membuat kita repot," jawabnya dan di angguki Yan Tian.
Cukup lama mereka disana, Bai Wang pun akhirnya sadar. Dia memegang kepalanya yang sedikit sakit, dan bergumam.
Ugh...
Lin Zhan dan lainnya yang ada di sana langsung melihat ke arah Bai Wang, menghampirinya dan membantu Bai Wang untuk duduk.
__ADS_1
"Kamu sudah sadar?" tanya Lin Zhan dan di angguki Bai Wang.
Bai Wang melihat sekeliling, "Dimana kita? Bukankah kita sedang berhadapan dengan Kelelawar Darah?" tanya nya tidak mengingat jika dirinya telah mengalahkan Lao Shan.
"Kita ada pegunungan batu. Dan untuk kelelawar darah itu kamu tenang saja, mereka telah mati," Jawab Lin Zhan menepuk bahu Bai Wang.
Bai Wang diam, kelelawar tingkat pendekar Agung mati? Mungkinkah mereka bertiga yang mengalahkannya? Tanyanya dalam hati sambil menatap pergantian ke arah Lin Zhan, Yan Tian Dan Wan Bao.
Karena rasa penasarannya, Bai Wang pun bertanya, "Apa kalian yang membunuhnya?" Lin Zhan dan dua pengawalnya saling pandang melihat Bai Wang yang tidak mengingat bahwa dia lah yang telah membunuh ketua kelelawar darah.
Lin Zhan diam, jika Bai Wang tidak mengingat mungkinkah Dewa Yama sendiri yang membatu mereka? Jika itu benar lebih baik Lin Zhan berbohong, tidak ingin mengatakannya yang sesungguhnya, berharap Bai Wang menjadi kiat dengan caranya sendiri tanpa terus bergantung dengan kehadiran Dewa Yama.
"Tidak, bukan kami yang membunuhnya," jawab Lin Zhan membuat Bai Wang mengerutkan kening.
"Siapa?" tanyanya penasaran.
"Seorang Pendekar Tingkat Agung yang menyelamatkan kita. Tapi aku tidak mengenalnya," jawabnya berbohong. "Mungkin dia seorang pendekar yang tak sengaja lewat dan melihat kita dalam bahaya," sambungnya dan di angguki Bai Wang. Berpikir mungkin saja memang benar adanya seseorang yang membantunya.
Lin Zhan yang melihat tubuh Bai Wang di selimuti cahaya emas dan berkumpul berpusat di pusaran dentian di perutnya menatap dengan diam. Ia tahu Bai Wang akan melakukan terobosan malam ini. Dia akan menjaganya, menunggunya hingga selesai.
Bai Wang yang ada di lautan jiwa menyerap kekuatan tersebut, dan perlahan kekuatan itu bergerak menyatu dengan pusaran emas, sebuah kekuatan yang di ambilnya dari tubuh Lao Shan. Dan cukup lama akhrinya dia berhasil menyatukan. Serbuk emas dalam lautan jiwa semakin banyak dan setelah itu mengalir kedalam pedang berkaratnya, membuat tubuhnya juga merasakan kekuatan yang penuh hendak membuka halangan terobosan naik tingkat.
Booom....
Pedang berkarat perlahan menambah satu cincin lagi berwarna hitam, yang artinya kini berhasil menembus Pendekar Perak Tingkat 4.
Tubuh Bai Wang ada di dunia nyata mengeluarkan gejolak kekuatan, hingga membuat kekuatan terobosannya menyebar. Lin Zhan dan lainya yang melihat tersenyum, Bai Wang berhasil meningkatkan kekuatannya.
Setelah berhasil menerobos Pendekar Perak Tingkat 4, Bai Wang menstabilkan tubuhnya, menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskan perlahan.
Huh.....
__ADS_1
Perlahan matanya terbuka, di lihatnya Lin Zhan menatapnya dengan senyuman.
"Selamat, karena berhasil naik tingkat," ucapnya masih di depan api unggun nya.
Bai Wang mengangguk, dan setelah itu menghampiri, duduk di samping Lin Zhan.
"Nih, makanlah," ucapnya menyerahkan daging yang di bakarnya. Bai Wang pun mengambil nya dan memakannya.
.
.
.
Pagi hari, mereka akan melanjutkan perjalanannya. Namun kali ini mereka tidak hanya berdua saja, melainkan Wan Bao dan Yan Tian akan mengikutinya, menjaga mereka dari bahaya yang akan menghampiri.
Mereka berjalan di pegunungan batu yang gersang. Tidak ada pohon satu pun disana, hanya ada tulang binatang buas yang berserakan dimana-mana.
"Kita harus waspada, pegunungan batu ini banyak binatang spirit nya," ucap Lin Zhan berjalan dengan waspada.
Dan tanpa di ketahui mereka, dari atas bebatuan yang sedikit tinggi, beberapa kawanan serigala darah dengan liur yang menetes dari mulutnya mengintai keberadaan mereka.
Grrr......
Mereka seakan tidak sabar memangsa makanan nya. Bai Wang dan Lin Zhan serta dua pengawalnya merasakan sesuatu yang mengintai langsung berhenti dan mencari apa yang mengawasi nya. Masing-masing dari mereka dengan cepat mengeluarkan Jiwa Beladiri nya, siap bertarung.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung