Baskara : Liberation

Baskara : Liberation
Chapter 9; Jiwo.


__ADS_3

BRUMM..


Hujan telah reda. Motor Alvin melaju perlahan dengan Lala dikursi penumpang. Setelah sebelumnya sempat berdebat lebih dulu dibasement.


"Aku gapapa pulang sendiri."


"Aku khawatir. Kamu pulang dini hari kaya gini sendirian."


Alvin tak banyak bertanya. Tapi Ia terus memaksa Lala mengiyakan permintaannya untuk diantar. Sampai Lala menyerah.


Alvin mengenakan jaket jeans dengan helm retro tanpa kaca. Matanya fokus kedepan kadang sesekali melihat spion, mencuri waktu untuk memandangi Lala.


Sedangkan Lala mengenakan helm half face standar yang dipinjami Alvin.


Kini tangannya melingkari perut Alvin. Tangisnya telah habis untuk malam ini. Butuh sedikit pelukan tidak salah kan? Setidaknya Ia tidak ingin merasa berjuang sendiri.


"Are you okay?" Keadaan memaksa Alvin untuk bertanya.


Lala tidak menjawab. Hanya mencengkram lebih kuat. Pipinya bersandar dipunggung seorang yang kuat.


"Are you suffering?"


Hening.


Hembusan angin mendesir diwajah mereka berdua pagi ini.


"Kamu emang misterius ya." Kata Alvin dengan sedikit terkekeh. "Aku tau kamu kuat. Tapi gapapa kan sesekali buat meminta bantuan?"


Degg


Perkataan yang tidak pernah Ia dapatkan dari siapapun.


Kota tua, Jakarta Barat.


Mereka berhenti sejenak. Alvin memarkir motornya ditepi jalan. Lala sudah duduk dibangku panjang dipesisir kali besar.


Setelah menaruh helm Alvin menyusul.


Kali besar yang dipinggirnya terdapat bangku-bangku panjang. Sepi sunyi pagi ini. Hanya beberapa lampu menyala dari tukang kopi sepeda yang masih berjualan.


"Nih minum dulu." Alvin menyodorkan teh hangat digelas plastik sederhana.


Setelah Lala sedikit menyeruput. "Tawar?"


Alvin terkekeh. "Banyak gula nggk baik tau. Lagian enakan kaya gitu pagi-pagi begini."


Lala lanjut menyeruput lagi. Sehabis hujan semalam ditambah suasana pagi yang dingin memang cocok meminum sesuatu yang hangat. Ia mulai setuju bahwa minum teh tawar cukup menarik disaat seperti ini.


Alvin duduk disampingnya. Menaruh teh miliknya juga.


Perlakuan spesial dari Alvin saat Lala terpuruk membuatnya perlahan membuka hati. Menyandarkan wajahnya ke bahu cowok yang selalu hadir disaatnya butuh.


"Terakhir kulihat kamu menangisi aku. Tapi aku sadar, sekarang kamu sedang menahannya kan?"


Hening.


"Gapapa buat ngerasa nggk baik. Nggk setiap saat manusia bisa merasa baik kan." Alvin mengelus rambut Lala.


Kini Lala mencengkeram tubuh Alvin dan menangis sejadi-jadinya. Air matanya yang tadi telah terkuras habis dengan ajaib muncul lagi. Tanpa Ia sadari sudah merasa senyaman ini disisi Alvin.


Dibalas dengan pelukan Alvin seraya mempuk-puk pundak Lala.


Hujan yang reda ternyata masih menyimpan banyak air mata, dibalik sisi awan gelap yang terlambat tumpah.


Lala menangis dengan sesekali berteriak melepas pelik. Ia kini bisa mengerti alasan lagu Melody yang menyedihkan itu bisa ada. Mungkin lagu itu Ia ciptakan saat merasa seperti ini.


"It's fine, you will okay." Alvin pun membalas lagi memeluk erat. Matanya melihat sekeliling. Memastikan tidak ada yang mengganggu tangis cewek ini.


Sungguh Alvin tidak mengerti apa yang terjadi, yang Ia tau Lala mengalami perundungan beberapa minggu lalu. Tapi kali ini Ia pun tak sanggup menebak apa yang terjadi. Dan lebih baik seperti itu. Ia tak ingin membuat Lala lebih sedih lagi dengan menanyakan hal yang tidak ingin dia ceritakan.


Entah mengapa Ia pun ikut merasa sedih. Ah iya, Alvin sadar. Karena tangis dan tawa memang mudah menular.


^^^[Awan tidak perpaling^^^


^^^Menemaniku menangis^^^


^^^Membasahi bumi ini^^^


^^^Dengan rasa dari hati]^^^


[Deras mengalir membasahi pipi


Menghapus debu didasar hati


Tak apa menangislah sayang


Bumi akan meresap air mata kita]


^^^[Kuharap ada dirimu^^^


^^^Disetiap ku jatuh^^^


^^^Berbagi tangis dibahumu^^^

__ADS_1


^^^Disaat hati tak utuh]^^^


Sebuah lagu mengiringi tangis dipagi ini. Lala juga mengerti mungkin lagu melow milik Melody lebih nyaman didengarkan disaat seperti ini. Membuat matahari yang ingin muncul malu untuk naik ke permukaan, karena sesuatu yang lebih bersinar darinya telah hadir. Sesuatu yang mampu menerangi hati seseorang dikala redup.


[*Note: Penggalan lirik lagu yang tercantum merupakan karya orisinil karangan penulis.]


***


Sekolah Elang Emas.


06.47


Murid berdatangan seperti biasa. Berjalan kearah yang sama. Kebanyakan dari mereka berjalan kaki. Adapula diantaranya yang naik motor sport ataupun mobil mewah.


Cowok berambut pirang duduk seberang gerbang sekolah. Bersama beberapa anak buah. Jarang sekali melihatnya seperti itu karena seperti yang kita tau dia lebih suka bekerja sendiri. Yaitu; Pras.


Matanya menelisik disetiap wajah yang hadir pagi itu.


"Mana orangnya? Gua nggk sabar pengen ngasih pelajaran." Tanya Pras yang mulai tak sabar menunggu.


"Itu, Bos. Orangnya!" Teriak satu anak buah dibelakangnya seraya menunjuk.


"Diem!" Sela Pras. "Jangan narik perhatian. Kita kepung dia."


Pras merasa harus menyingkirkan semua ancaman yang ada disekolah, demi keamanan fana. Ia mengincar salah satu murid, Wijaya.


Ia berjalan disalah satu sisi jalan menuju gerbang sekolah seorang diri. Pras memancingnya agar masuk sekolah lebih dulu. Meski beberapa anak buahnya telah mengepung dari sisi lain jalan. Pras belum memberi aba-aba.


Semulus-mulusnya siasat Pras. Wijaya telah menyadari beberapa orang sedang mengamati dirinya. Insting wajar seorang manusia. Namun kakinya telah memasuki gapura sekolah. Sudah jauh melangkah disekitar taman sekolah.


Ia melihat seorang berlari dari arah samping menuju dirinya. Menyadari itu adalah salah satu petinggi organisasi sekolah, Pras. Diikuti dengan serbuan dari berbagai arah, kecuali satu.


Yaitu depan.


Wijaya melempar ranselnya. Berlari sekencang-kencangnya yang dia bisa. Menuju arah lapangan sekolah. Beberapa murid terbentur karena pelariannya. Beruntung Ia menggunakan sepatu running pagi ini. Jadi itu membantunya dalam pelarian ini.


"Kejar!!" Seru Pras tiada ampun.


Jantung Wijaya dipaksa memompa kencang sekarang. Ia berpikir bisa saja petinggi yang lain telah menunggunya disuatu tempat. Siap untuk menerjang dirinya. Beberapa sebab juga Ia pikirkan mengapa Ia bisa dikejar seperti ini. Apa karena diperintah Alex? Berarti Baskara juga sedang dicari para petinggi. Bisa jadi Alex sudah pulih dan menceritakan semuanya.


Ia mengusir pikiran itu dan berusaha fokus untuk lari. Memang Ia tidak mahir berkelahi. Tapi soal lari mungkin Wijaya masih bisa diandalkan.


Ia memasuki area lapangan sekolah. Beberapa murid memperhatikan keributan yang terjadi. 'Kucing-kucingan' sudah terjadi sepagi ini.


"Sorry!" Kata Wijaya yang menabrak seorang murid. Lalu kembali berlari disela-sela murid yang sedang berjalan ke kelasnya masing-masing. Dari arah samping depan sudah ada seorang yang siap menangkapnya.


Ia berbelok menaiki tangga. Memutar lalu keatas lantai dua. Kini jaraknya semakin dekat Ia menaiki tangga menuju lantai tiga. Ada kursi pengawas sekolah disamping tangga.


Wijaya meraih kursi itu melemparkannya kebawah arah tangga hingga lumayan menyulitkan pengejaran. Bukan hanya satu. Wijaya melemparkan tiga kursi kayu yang lumayan berat. Kini Ia berbelok melewati lorong kelas mencari rute pelarian terbaik. Ia berpikir untuk turun dan keluar lagi dari sekolah, kemungkinannya kecil bisa lolos, mengingat hanya terdapat satu gerbang sekolah untuk keluar. Semua sisi dikelilingi tembok pembatas yang cukup tinggi.


Dari arah tangga murid yang mengejar telah berhasil menyingkirkan tangga dan siap melewatinya. Begitu pun Pras yang memblokir satu-satunya jalur pelariannya.


Hanya ada satu jalan lagi.


Rooftop.


Wijaya menaiki satu lantai tangga lagi menuju rooftop sekolah. Ia sadar itu jalan buntu tapi setidaknya bisa menunda malapetaka yang akan menimpanya.


Sesampainya disana Wijaya berusaha menahan pintu. Seraya mencari sesuatu untuk menahan ini. Tapi tidak ada apapun disana. Ia hanya menahan dengan tubuhnya.


Suara langkah kaki telah mendekat dan sebentar lagi.


BUKK!!


Suara seorang berusaha mendobrak.


Masih tertahan.


BUKK!!


Lagi masih tertahan.


Wijaya menyadari lagi ini mungkin akhir. Ia akan dihabisi ditempat sepi ini. Tanpa Baskara, yang mungkin dilain tempat sedang dikejar juga.


BUAKK!!!


Srekk..


Jebol.


Wijaya tersungkur karena dobrakan paksa pintu. Terjatuh lantai kasar menggores sedikit sikunya, baju putihnya yang habis berkeringat kotor sebab jatuh.


Pras melangkah dari balik pintu. Mendekatinya dengan langkah pasti.


Pasti menghabisinya.


Anak buahnya menyebar ke setiap sisi memastikan tidak bisa lari kemana pun.


Wijaya bangun dan lari kearah yang bisa. Membuatnya terpojok ditembok dekat toren air diatasnya.


Pras tetap tenang mendekat. Tidak ada jalan untuk lari kecuali sudah tidak sayang nyawa dengan melompat dari rooftop. Ialah bunuh diri.


Kini malapetaka telah didepan mata. Hal yang tidak bisa Ia hindari lagi. Ia harus meminum racun ini yang sesaat akan menyakitinya. Pasrah dengan keadaan.

__ADS_1


Pras mencengkeram kerah Wijaya.


SETT!


Menariknya hingga kakinya terangkat dari lantai. Leher itu menggantung dilengan seorang petinggi. Dengan kekuatan seperti ini tidak heran organisasi menjadikan salah satu petinggi.


'Monster Pirang!'


Julukan yang diberikan murid lain kepadanya.


"Lu tau ga? Udah bikin temen gua cedera?" Tanya Pras. "Dia belum sadar sampe sekarang."


"Sa-saya nggk ngapa-ngapain, Bang. Cuman-"


"Diem lu!" Sela Pras." Mana temen lu satu lagi? Bocah sok jagoan itu. Bikin resah organisasi. Kalo ada murid sekolah ini dipukulin. gua yang akan maju. Meski murid dari sini juga pelakunya."


Hening.


"Lu sama temen lu adalah ancaman buat organisasi."


Disisi lain, seorang terbangun karena keberisikan terjadi dibawahnya. Dari samping toren, diatas tembok tempat Wijaya terpojok.


Wijaya yang kerahnya dicengkeram kesulitan bernafas. Melihat itu Pras melepaskannya.


"Uhukk..uhuk." Wijaya terbatuk dilantai.


"Sekarang tunjukin keberadaan temen lu itu. Dimana pun dia gua kejar. Lu ga perlu sekolah hari ini." Ujar Pras. "Sebelum itu lu harus gua kasih paham dulu."


Pras mengambil posisi untuk menghajar.


"Lepasin bocah itu." Ucap seseorang dari arah toren air.


Membuat semua mata tertuju kepadanya.


Ia yang telah mengamati sejak tadi, memahami situasi.


"Jiwo?" Bisik salah seorang anak buah Pras tidak percaya.


"Dia kan orang yang menolak menjadi petinggi organisasi." Ujar seorang lagi.


"Lu ganggu tidur gua aja, Bangsat!"


[Susanto Manjiwo, Kelas dua, status tidak diketahui.]


Pras sedikit gemetar melihat Jiwo. Karena Ia seorang yang jarang menampakan diri.


"Tapi ini bocah udah meresahkan keama-."


"Kalo lu nyentuh bocah ini. Gua akan turun tangan." Sela Jiwo.


Anak buah lainnya ikut gemetar mendengar ancaman itu.


Pras geram tinggal sedikit lagi untuk memberi pelajaran malah Jiwo harus ikut campur. Dengan terpaksa harus menarik kembali semua anak buahnya.


"Lain kali akan gua hajar lu lebih cepat." Kata Pras seraya berlalu kembali.


Diikuti dengan semua anak buahnya.


"Dan satu lagi." Lanjut Jiwo.


Menghentikan langkah Pras.


"Temen bocah ini juga.., jangan lu sentuh."


Pras menoleh sejenak lalu berpaling pergi.


Wijaya menatap seorang cowok diatasnya lekat-lekat.


Siapa orang ini hingga petinggi sekolah ini pun bisa menuruti perintahnya. Ia menebak, tentu saja bukan salah satu anggota organisasi.


Jiwo kembali melanjutkan tidurnya pagi ini. Tanpa menghiraukan Wijaya dibawahnya.


Wijaya menghela nafas panjang.


Bersandar ditembok. Merasa lega namun disisi lain bingung harus berkata apa kepada seorang yang menyelamatkannya. Karena Ia pun tidak kenal. Ia merasa malang karena hidupnya sering kali berada ditepi jurang, sekaligus lega karna selalu disertai keberuntungan yang datang disaat genting.


Pras gusar karena tidak bisa menghajar orang. Langkahnya sampai dilobby sekolah. Diujung lorong dari arah gerbang seorang mengambil tas wijaya yang tergeletak lalu melangkah mendekat. Aura darinya sungguh berbeda, bersinar.


Dialah Baskara.


"Bos itu orang yang ngalahin, Alex." Bisik seorang.


"Nggk salah lagi bos!" Katanya lagi.


Pras melangkah saling mendekati Baskara. Untuk sesaat arah mata mereka bersatu menjadi garis. Namun tak ada seutas kata pun terucap diantaranya hingga saling berpapasan dan melewati.


Setelah beberapa langkah, Pras berhenti menoleh kebelakang untuk memastikan. Sungguh Ia ingin menghajar seseorang, meluapkan kekesalannya tadi.


"Ayo kita hajar, Bos."


Hening.


Pras menghela nafas. "Jangan hari ini."

__ADS_1


Lalu Ia melangkah pergi. Berurusan dengan Jiwo akan lebih merepotkan, lebih baik lain waktu. Ia ingin memastikan orang itu paham dengan posisi hirarkinya disini. Pras merencanakan sesuatu yang lebih besar.


***


__ADS_2