
BLAM!
Bogem mentah mengenai wajah Alvin. Mereka berempat -anak buah keni- menyerang dirinya bersamaan. Jelas membuat cowok sipit itu kesulitan, karena kemampuannya tak sehebat Baskara dalam menangani ini.
Tsah..
Kini Alvin menunduk menghindar dan berupaya mengurangi kerusakan pada dirinya. Seraya memberikan serangan balasan sebisa mungkin. Pukuan dari arah bawah diberikan kepada seorang di hadapannya selagi menunduk tadi.
BLAM!
Seorang itu terpental melayang di udara sebelum akhirnya jatuh ke lantai keramik dengan kasar. Menyisakan noda darah berserakan di sekitarnya.
BRUK!
Keni geram melihat satu anak buahnya telah dilumpuhkan. "Bangsat! Jangan fokus mukulin doang, kunci gerakannya!"
Slep! Slep! Grep!
Kedua kaki Alvin dipeluk oleh kedua anak buah Keni, sementara badannya dikunci dengan kedua lengan diantara bahunya dari belakang oleh seorang lagi. Badannya benar-benar terkunci. Seorang yang mengunci dari belakang menambah tekanan pada tengkuk Alvin sehingga kesulitan memberontak.
Keni yang semenjak tadi menjaga jarak dengan Alvin. Belajar dari kekalahannya ketika di jalan buntu, jika satu lawan satu sudah jelas dirinya akan kalah, maka Keni menggunakan siasat, mencoba melawan Alvin dengan cara berbeda.
"Busuk! Lu cuma bisa keroyokan doang kan, Ken?" Alvin mengeluh tak terima. "Tiga kali kita ketemu kaya gini, tapi nggk pernah bener-bener bisa nyelesain urusan di antara kita! Dan sekarang lu ngelumpuhin gua kaya gini. Dasar Kecoa!"
"Sttt.. " Keni memberi intruksi kepada Alvin untuk tidak mengeluh.
"Sekarang nggk ada Rengga ataupun Saga. Kita bisa berduel sampe mati sekarang. Bedebah!"
"Kata kasar cuma senjata orang lemah!" Sekarang Keni berhenti di hadapan Alvin mengejeknya dengan sebuah kutipan. "Makanya jangan jadi orang lemah!"
BLAM!
Keni memberikan pukulan ke wajah Alvin dengan tangan kanannya memberi pelajaran penting bagi lawannya untuk tidak meremehkan.
BLAM!
Kini berganti dengan tangan kirinya.
Alvin mengertakan rahangnya. "Nggk ada rasanya." Komentarnya dengan remeh. "Pantes lu terus sembunyi di balik Rengga. Lu berdua sama aja. Cuma sampah yang pura-pura nguasain sekolah ini."
Mata Keni memelototi hingga bola matanya hampir meloncat tak terima. "Lu jangan remehin Rengga, Anjing! Lu nggk tau apa-apa tentang dia."
Ketiga anak buahnya terus memegangi seraya menyimak tak acuh. Sementara Keni yang sedang geram memberikan pukulan ke wajah Alvin berkali-kali bergantian dengan kedua tangannya.
Bakbukbakbuk!
Setelah puas Keni mengambil beberapa langkah mundur membelakangi Alvin. Mengeluarkan sebatang rokok, lalu membakarnya. Menghisapnya untuk menenangkan diri.
Wajah Alvin terlihat cukup berantakan setelah mendapat pukulan tadi berkali-kali. Meski dirinya mengatakan itu tidak ada rasanya, tapi tubuhnya tidak bisa berbohong dengan kerusakan yang telah Ia dapat.
"Emang bener gua sampah, dan Rengga adalah orang yang mungut gua dari tempat sampah." Keni mendongak membelakangi seraya menghisap rokok dari jepitan jarinya. "Makanya lu jangan ngomong sembarangan tentang dia di depan gua."
Di tengah percakapan Alvin meringis meski bibirnya telah penuh darah. "Lu memuja seorang perundung kaya gitu?"
Keni menoleh sinis. "Udah gua bilang. Lu nggk ngerti apapun tentang Rengga." Setelah sedikit membentak, Keni terdiam selagi menatap. "Rengga udah lama punya penyakit mental." Lanjutnya menjelaskan.
"Cuih.." Alvin meludah ke sembarang arah. "Gausah sok nyari pembenaran di atas semua yang udah lu berdua lakuin."
Di sudut keramik terlihat liurnya yang telah bercampur darah segar.
BLAM! BLAM! BLAMM!
"Kalo gua ngomong jangan dipotong, Anjing!"
Badan Alvin lemas setelah mendapat pukulan berkali-kali lagi tepat disekitar rusuknya.
"Rengga terus minum Zoloft sama Xanax rutin dari psikiater, buat ngatasin kecemasan yang terus nyiksa dia. Sebenernya gua kasian, dia harus minum itu terus, cuma buat ngerasain tenang." Imbuh Keni menjelaskan. "Ditambah lagi, Najwa campakin dia. Seorang cewek yang pertama kali dia kagumi selama hidup. Kalau aja Najwa minta, apapun itu bakal dikasih tanpa nanya. Tapi cewek itu nggk minta apapun." Keni menggeleng menggambarkan. "Najwa pergi tanpa kabar. Ninggalin cowok yang rela nyerahin seluruh hidupnya gitu aja."
__ADS_1
[*Zoloft; obat antidepresan untuk gangguan kecemasan sosial. Sedangkan, Xanax; obat yang sering digunakan sebagai terapi kecemasan yang disebabkan oleh depresi.]
Asap rokok merayap di antara udara malam. Baunya menyebar diantara mereka semua seraya mendengarkan dongeng yang Keni lantunkan. Sekarang kita tau bahwa obat yang terus diminum Rengga dari plastik klip adalah obat penenang untuk kecemasannya. Menurut Rengga, perundungan yang dilakukannya merupakan upaya untuk mengalihkan kecemasan dirinya. Meski, tidak membuahkan hasil yang begitu baik.
"Nemenin Rengga ke club hampir tiap malem bikin gua ngerti seberapa terjerembab dia sekarang." Di balik seberapa menyebalkannya Keni, dirinya merupakan seorang perasa dan penuh empati. Meski hanya kepada seorang yang Ia hormati. "Gua bakalan jadi temen, disaat-saat terburuk Rengga."
Hening.
"Udah kelar lu berdongeng?" Tanya Alvin. Setelah cukup mengumpulkan kembali tenaganya. Lalu kakinya yang dipeluk erat itu dihempaskan hingga seorang anak buah Keni terlempar lumayan jauh.
BRUK!
Keni yang baru saja menoleh terbata kaget.
Seorang yang masih memegang kaki kirinya diinjak-injak hingga melepaskannya. Mengadukan kepala ke seorang di belakangnya, lalu Menyikutnya berkali-kali pula selagi lengah. Meski butuh waktu, semuanya telah tumbang sekali waktu.
"Gua naik pitam gara-gara sesuatu yang lu lakuin sama Lala. Sedangkan lu malah dongeng ngasal kemana-mana tai."
Tsing!
"Bangsat!" Maka Keni mengeluarkan pisau lipat yang sejak tadi Ia simpan disaku celana. "Hyaaa.."
Alvin menunduk selagi pisau melintas di atasnya. Juga mencondongkan badan ke belakang menghindari dua serangan kejutan itu. Menahan siku Keni dengan ujung pisau yang hampir menghunus matanya.
DUKK!!
Alvin menendang dengan telapak sepatu ke arah perut Keni untuk menjaga jarak, mencari celah lagi. Memukul dagu Keni namun tak terlalu kuat sehingga tak berdampak apapun.
Setelah menelaah keadaan, Keni mengerti sekarang dirinya lebih unggul karena Alvin telah babak belur. Maka Keni maju menyayatkan pisau dengan gerakan asal-asalan ke arah Alvin.
Slep!
Alvin memilih menghindar lagi dan terus mundur menjaga jarak juga sesekali berusaha menahan.
Slep! Slep!
Crat! Tes tes tes..
Itu bukan sebuah tusukan, melainkan darah menetes dari telapak tangan Alvin. Setelah kalah berkali-kali, tanpa ragu dirinya menangkap pisau itu, mencengkeramnya kuat. Tangan lainnya dibuat menarik pergelangan tangan Keni. Memisahkannya dari benda tak bernyawa itu. Keni terus menahan upaya Alvin dengan tangan lain miliknya.
DEP! DEP! DEP!!
Dengan tangkas, Alvin mengadu keningnya dengan Keni berkali-kali hingga mata Keni memutih lemas. Cengkeramannya melemah, maka kini arah angin berubah. Alvin mendapat benda tak bernyawa yang bisa menghilangkan nyawa itu, pisau belati.
Bruk!
Keni terkapar. Tak ingin menyiakan kesempatan lagi. Alvin mengarahkan pisau yang telah berubah warna menjadi merah pekat ke leher seorang pemiliknya. Kemudian duduk di perut Keni. "Kalo lu gerak dikit aja. Lu bakal ngeliat malaikat maut. Karena mereka udah di sekitar kita sejak tadi."
Nyut nyut nyut
Kepala Keni rasanya mau meledak setelah beradu seperti tadi. Meski Alvin yang lebih banyak terkena sayatan tetapi malahan badannya sendiri yang terasa lemas. Ketahanan fisik mereka berdua jelas berbeda.
"Jadi lu udah ngapain aja sama, Lala?"
Uhuk uhuk..
Ia Terbatuk. Napas Keni tercekat karena sikut Alvin menekan dadanya untuk bersanggah. Sedangkan, tangan satunya mengintimidasi dengan pisau. Wajahnya mereka berdua hanya berjarak tiga sentimeter sekarang. Mata Alvin menatap begitu dengki.
"Gua tanya lu ngapain aja sama, Lala? Gua harap lu cuma ngarang cerita tentang ciuman itu." Napas Alvin terburu di ujung kendalinya. "Jawab anjing!"
Keni terbahak. "Malam itu hujan.. gua minum seloki anggur sekali tenggak."
"Gausah dongeng lagi bangsat!" Alvin menekan pisaunya hingga sedikit menyayat leher Keni, namun tak sampai dalam. "Ceritain yang bener!"
Setelah sebelumnya mendeham menahan sakit. "Nggk gua sangka, Lala dateng ke hotel malem itu. Kami berdua ***** Hahahaha.." Keni terkekeh kencang. "Suara jeritan Lala lebih kenceng daripada gemuruh malem itu."
"Anak setan!" Maka Alvin berniat mengantar seorang di hadapannya ini langsung ke gerbang neraka dengan sebuah sayatan dalam di leher. Namun Keni hanya terkekeh seolah siap menerima apapun sekarang.
__ADS_1
"Alvin berhenti!" Suara lembut seseorang memecahkan keadaan kahar itu. "Aku mohon jangan percaya itu dulu. Aku bisa jelasin semuanya." Lala datang tepat waktu.
Alvin menoleh kepada seorang yang bersinar di hadapannya. Seorang bidadari bermata sayu yang Ia temui setelah diusir dari 'surga'. Seorang yang meminta untuk jujur dan saling terbuka.
Lala mengepal kedua telapak jemarinya memohon. Air tangisan berjatuhan di pipi indahnya berbelok terhenti di dagu.
"Aku mohon."
Alvin menggertakan giginya geram. "Kita akan ngobrol setelah aku antar dia ke gerbang neraka."
***
Clek! Sreek!
Pintu Lab. Komputer terbuka. Setelah suara daun pintu diputar, lalu terdorong ke arah dalam. Membuat Wijaya menoleh sigap, tangannya meraba meja di depannya mengarahkannya pada tongkat kasti yang dibawa Lala ketika masuk.
Slep!
Mengarahkannya kepada siapapun yang ada di balik pintu itu. Wijaya telah menyiapkan ini jika saja pusat kendali rencananya diusik. Tapi kini dirinya pun tinggal seorang diri, karena kepergian Lala di luar rencananya. Wijaya merupakan seorang pemikir ulung, jika saja tidak ada dirinya, tidak mungkin arah peperangan bisa imbang seperti ini. Terlalu mustahil untuk menerabas gerbang sekolah secara serampangan dengan cara kekerasan. Siasat yang telah Ia buat telah mampu membawa alur pertempuran menjadi lebih efisein.
Wijaya baru saja teringat, ketika Lala memaksa keluar tadi, dirinya belum sempat mengunci pintu itu dari dalam lagi.
Wajah cantik memandang 'celingak-celinguk' memperhatikan keadaan di dalam Lab. Komputer. Tangannya masih sibuk menjinjing high heels.
Tsah!
Wijaya mengayunkan kuat pemukul kasti itu tepat diwajah Nadir. Sepersekian detik dirinya berusaha menghentikan upayanya setelah terlambat menyadari bahwa itu ialah Nadir.
"Aghhh...." Nadir berteriak melengking mendapati kayu tebal di depan matanya.
"Kak Nadir?"
Nadir membuka mata perlahan masih dengan rasa takut. "Wijaya? Itu kamu kan?" Lalu membuka matanya satu lagi.
Clang!
Pemukul kasti terjatuh di pintu Lab. Komputer.
"Maafin aku kak." Ucap Wijaya setelah menjatuhkan pemukul itu, lalu meraih tangan Nadir lembut. "Aku udah nunggu kak Nadir daritadi. Kupikir kak Nadir nggk bakal dateng."
"Ah, Jay. Aku masih deg-deg an karena tadi." Ia memegang dadanya memastikan detak jantung. "Kan kamu yang nyuruh aku ke sini." Nadir mengembungkan pipi sebal.
Wijaya nyengir polos mencoba mencairkan ketegangan. "Ayo masuk, kak. Disini aman kok." Ia menarik pelan tangan Nadir.
"Aku tutup pintu dulu." Seketika Nadir terperanjat melihat jemari lain menahan pintu agar tak menutup. "Jay..?" Panggilnya dengan nada ragu.
"Hmm.." Wijaya menoleh dari arah dalam. Mimiknya yang sejak tadi berseri karena kehadiran Nadir kini berubah menjadi getir setelah menatap kepada sosok jauh di hadapannya, wajah seorang musuh terlihat di balik pintu dari arah luar terlihat mengenakan ikatan kain hitam di lengannya.
"Hansel?" Tanya Nadir memastikan.
Kemudian, Han menerobos paksa melangkah ke dalam Lab. Komputer matanya menelisik melihat semua yang ada di sudut ruangan itu berusaha tak meluputkan satu hal pun di hadapannya.
"Gua ngerti sekarang." Han mengangguk seolah baru saja menyibak rahasia penting sebuah negara. "Pantes banyak fenomena aneh. Ternyata semua diatur dari sini." Kini dirinya menatap laptop yang menampilkan CCTV yang menyoroti setiap sudut sekolah. "Lu otak dari semua ini kan? Chandra Wijaya?"
Wijaya dan Nadir bermain mata satu sama lain. Bingung dengan apa yang harus mereka lakukan sekarang. Ini di luar rencana si pemikir ulung itu. Membuat Wijaya merasa berhutang, karena dirinya telah berjanji untuk memberitau tempat aman untuk Nadir. Tetapi malahan bertemu salah satu musuh utama dalam perang ini.
Nadir pun merasakan hal yang sama, perasaan tak enak hati. Wijaya benar tentang semuanya, keributan, ledakan, peperangan, dan semua yang tak beres malam ini. Dan dirinya telah mengacaukannya, dengan membawa Hansel langsung ke persembuyian tempat untuk mengatur jalannya perang. Membawa kerugian besar terhadap pihak Wijaya.
Mereka berdua menunggu reaksi Han, menentukan sikap untuk bertindak. Karena kini, dirinyalah yang menjadi pemain kunci yang membongkar otak dari strategi musuh.
Dan lagi, Jika sekolah merupakan papan catur besar, maka Wijaya telah melakukan 'Blunder'. Alih-alih menyelamatkan cewek yang Ia kasihi di tempat aman. Malahan, membawa perwira musuh masuk ke dalam pertahanannya.
[*Blunder; Langkah sangat buruk yang bisa menyebabkan kehilangan banyak bidak, bahkan bisa menyebabkan kekalahan.]
Ke arah manakah angin peperangan ini akan di bawa oleh Han? Membuatnya semakin keruh atau menghentikannya dengan sebuah syarat?
***
__ADS_1