Baskara : Liberation

Baskara : Liberation
Chapter 30; Nearmiss.


__ADS_3

Seorang cowok aneh naik ke panggung Pensi. Penampilannya telah menjelaskan siapa dirinya, tato berpola di lengan kanan, rambut ikal yang diikat karet, juga kaus oversize dengan kalung besar.


"Heyy.. yo.. selamat malam Pensi Elang Emas." Ucap seorang penampil dengan Irama.


Dibalas dengan sorakan penonton berombak dari arah depan panggung hingga belakang. Mereka berlari pelan mendekati panggung setelah mendengar sambutan Rapper itu.


BHLAARRRR


Tak lupa guntur juga membalas sambutan itu dengan sedikit kilatan di atas langit.


Suasana panggung saat ini hujan ringan, namun acara tetap berlanjut. Mereka berpayung sambil terus menikmati sajian seni yang tersedia. Meskipun, di sudut sekolah telah banyak pertarungan yang menjadi penentu nasib seluruh murid SMA Elang Emas.


Sang Rapper tertawa pelan. "Untuk orang-orang di bawah hujan, mereka yang tetap berdiri untuk Pensi malam ini." Imbuhnya lagi dengan irama cepat mengejakan setiap kata. "Elang Emas, Ayo bersorak untuk babak terakhir kita.."


Penonton bersorak lagi mengangkat tangan bersemangat.


Di tepian panggung, pandangan Melody mencari-cari pasukan pemberontak suruhannya. Maka Ia berjalan tertatih mendekati seseorang di samping pot bunga. "Udah dapet berapa?"


Ia menoleh. "Lima, Mel."


"Terus udah diputusin kabelnya?"


"Nah itu masalahnya, Gua nemuin lima barang nggk ada kabelnya. Cuma barang berbentuk kotak kayak batu bata, terbuat dari plastik." Jelas cowok itu yang merupakan salah satu dari orang yang Ia cari.


"Hah? Terus sekarang dimana barangnya?"


"Gua kumpulin di ruang ganti olahraga. Tapi, gua juga nggk yakin itu bom atau bukan."


ZHRAASH!


Lantas jawaban dari cowok itu membuat Melody bergegas pergi tanpa menggubris.


"Bentar, Mel." Cowok itu menahan sejenak.


"Kenapa lagi?"


"Terus tiga lagi gimana?"


"Lu cari lagi deh.. gua mau mastiin barangnya dulu sama yang laen."


Sebenarnya mereka -pasukan pemberontak- enggan menjalankan perintah Melody soal bom itu. Membuat mereka setengah hati mengerjakannya, pasalnya itu ialah tugas dengan resiko tinggi. Jika saja Saga memencet tombol detonatornya lebih cepat, mereka akan jadi debu berbarengan dengan ledakan bom yang terjadi.


***


Han tertelungkup hilang kesadaran. Sedangkan, mereka bertiga saling bertatap-tatapan menanti kejutan.


"Nggk nyangka, gua harus mukul Han sekenceng itu." Ucap Alex memecah kemelut prasangka. "Padahal, gua cuma niat ngikutin Nadir." Manik matanya menangkap Nadir lekat-lekat. "Malahan ketemu bocah jagoan." Lalu berpindah seketika pada Wijaya.


"Jadi malem ini lu dipihak siapa, Lex?" Tegas Wijaya tanpa basa-basi.


"Gua nggk peduli tentang perang, atau apapun yang kalian lakuin malem ini."


KLONTANGG


Alex melemparkan tongkat kastinya ke belakang, lalu merogoh saku miliknya. "Target gua sekarang adalah lu, Chandra Wijaya." Dengan mengejutkan mengeluarkan sebilah pisau persis seperti milik Keni. Pisau mengkilap siap menghunus lawannya.


Settt


Mungkin, semua petinggi memang dibekali senjata jarak dekat itu, karena ancaman terus ada bagi mereka.

__ADS_1


"Lex? Kamu udah gila ya?" Tanya Nadir tak percaya. "Kamu mau bunuh Wijaya?"


Maka, Alex melangkah maju perlahan mendekati Wijaya tanpa menggubris Nadir dengan satu indera pun. Membuat Wijaya terus mundur hingga terpojok ke arah tembok.


"Kenapa semua berjalan di luar rencana gua anjir." Wijaya memelas pasrah. "Lu merasa berhak ngambil nyawa milik orang lain, Lex?"


Alex mengangkat seringai. "Iya, kalo itu elu."


"Alex berhenti, sebelum semua nggk bisa diperbaikin lagi." Pinta Nadir pelan. "Kenapa kamu jadi kaya gini sih?"


Sett


Alex menodongkan pisau runcing itu ke wajah Nadir, membuat cewek itu ketakutan mengangkat tangan tak berkutik. "Kalo aku pun nggk bisa milikin kamu, Nad. Maka orang lain pun juga sama."


Sett


Kini Alex berubah haluan, menodong Wijaya seraya terus memojokannya ke sisi tembok. "Dunia ini udah nggk berarti lagi, Nad. Setelah kamu pergi, kamu terlihat lebih berharga dari biasanya. Bikin aku nyesel udah ngerusak semuanya."


Hening


"Kalo kamu kayak gini, SIAPA YANG MAU ADA DEKET KAMU, LEX?" Teriak Nadir pekik. "Liat kamu sekarang. Kamu bukan cowok yang aku kenal dulu. Dan, kamu nggk akan pernah bisa berubah kayak dulu lagi."


Setelah sempat terpaku karena pekikan Nadir. Alex membulatkan tekadnya untuk merenggut nyawa Wijaya segera. Seorang yang paling Ia benci di dunia ini, seolah tujuan hidupnya hanya untuk melenyapkan bocah itu dari dunia.


Settt


Tak ada jarak lagi antara mata pisau dan leher Wijaya, hanya dengan sedikit gesekan maka itu akan berakibat fatal baginya. Wijaya menyadari ketika melihat mata Alex, cowok itu memiliki niat membunuh yang sudah tak bisa dibendung. Seolah ingin segera menghunus pisau itu untuk semua rasa sakit yang telah Ia akibatkan.


Jika ditelaah lebih seksama, sesungguhnya Wijaya tak pernah berniat menyakiti siapapun. Hanya saja, Alex menyangkal keadaan malam itu, bahwa Nadir lebih memilih jalan bersama Wijaya daripada dengan dirinya yang sedang sering bersikap kasar. Menyalahkan orang lain, atas kesalahan yang membuat Nadir menjauhinya.


"Kalo lu pengennya gitu, lakuin yang cepet." Ucap Wijaya memohon. "Semua terserah lu, Lex." Lalu membiarkan pasrah.


Alex mengganti posisi. Kini, lengannya menekan leher Wijaya dengan tangan kiri. Lalu tangan lainnya, merubah posisi pisaunya di perut cowok jagoan itu. "Kalo gua tusuk di sini, lu akan mati lebih lama kan? Lu lebih tersiksa daripada seharusnya." Dilanjutkan dengan seringai yang terangkat perlahan lagi.


Wijaya menghela napas menerima nasib. Karena telah banyak hal yang terjadi di luar rencananya, dirinya telah merasa skeptis terhadap keadaan. Otak pemikirnya tak menemukan celah apapun, hanya menanti keajaiban datang mendahului pemikirannya.


"Biar lu ngerti apa yang gua rasain selama ini, Jay. Hubungan gua hancur gara-gara lu anjing!" Alex mulai menekan pisaunya meski tak begitu dalam, memulai permainannya perlahan. "Itu cuma permulaan."


"Argghhh..." Wijaya mengerang tanpa usaha melarikan diri.


Tap!


Nadir menyentuh bahu Alex. "Lepasin Wijaya, Lex. Dia nggk ada kaitannya sama hancurnya hubungan kita." Matanya yang berbinar dipaksakan menatap Alex. "Jangan salahin orang lain atas retaknya hubungan kita."


Alex menghardik Nadir menyikutnya spontan. "Ahh diem lu!"


"Aww.." Nadir tersungkur menahan dengan tangannya.


Tangan Wijaya yang sejak tadi menahan kedua tangan Alex, tetap tak mampu membendung tenaga seorang petarung. Sedangkan, Wijaya hanya cowok biasa. "Kalo lu cerita, gua pasti akan paham, Lex." Ucapnya merayu. "Bukan dengan nusukin belati ke perut gua kaya gini."


Brak


Kepala Wijaya dipaksa terbentur dengan tembok usai banyak berbicara tadi. "Lu nggk bakal ngerti, asu!" Mata Alex memelotot bulat. "Gimana lu bisa ngerti? Ketika gua udah kehujanan, dan lu cuma liatin doang dari tempat teduh, njing?"


Hening.


"Sekarang cuma ada kita kan?" Imbuh Alex lagi. "Gua akan nikmatin permainan malam ini, Jay." Maka Alex menusukannya lebih dalam lagi sambil memutar pisaunya pelan.


"Argghhh.. Bangsatt!"

__ADS_1


"Kak Laras pasti benci banget liat kamu jadi kayak gini, Lex." Lantas ucapan Nadir memecah permainan yang baru saja Alex mulai, membuatnya menoleh dan terpaku lagi.


Hening.


Menyimak hal itu, Wijaya memberikan panggung bagi Nadir yang berhasil menemukan sisi lemah Alex.


"Sejak tadi, Dia terus ngeliatin kita dari 'sana' sambil nangis, Lex.. " Imbuh Nadir. "Terakhir ku ketemu kak Laras, dia selalu pesen untuk terus jagain kamu. Tapi, perubahan sikap kamu udah di luar jangkauan aku, Lex. Makanya, aku minta jarak sementara antara kita. Terus kamu yang minta putus kan?"


Alex hanya menggertakan gigi tak mampu membalas perkataan Nadir.


"Dan, jujur.. dengan ngeliat kamu kaya gini. Aku jadi benci sama kamu.. benci banget." Tambahnya lagi. "Kamu nyakitin orang lain untuk nyembuhin luka kamu yang nggk kami ngerti, Lex. Aku juga bersyukur udah berpisah sama kamu." Maka, Nadir menatap mata mantannya itu lekat-lekat, tak memberinya lepas sepersekian detik pun.


DEG!


Alex seorang yang lemah ketika membahas seorang kakaknya yang telah tiada. Hal yang belum bisa Ia terima sampai saat ini, dan tak mampu melakukan apapun untuk itu. Kekosongan tak bertepi yang tidak bisa digantikan posisinya. Badannya yang tadi mengeras, jadi lemas seketika.


"Argghhhh.." Wijaya mendeham kesakitan. Lantaran Alex terus memutar pisaunya membuat pendarahan deras di perut Wijaya.


Cratt.. Clang..


Alex mencabut belati itu, lalu melepasnya jatuh ke lantai.


BLAM BLAM


Memberikan pukulan keras. Setelah itu pergi tanpa berkata apapun. Meninggalkan Wijaya di ambang kematian dengan harapan hidup yang kecil.


Wijaya terus memegangi perutnya membendung darah yang terus mengalir keluar.


Gaun putih Nadir telah dinodai oleh banyak darah saat mendekatinya. Sementara itu, Nadir mencari sesuatu di kotak P3K yang ada di ruangan itu. "Kamu harus tetep hidup, Jay. Kamu harus bertahan.."


[*Note: P3K; Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan.]


Wijaya lemas, wajahnya pucat tak mampu membalas. Hanya tersandar di tembok seraya duduk dengan mengerang pelan.


Suara air mengalir.


Keran Westafel menyala, Nadir mencuci tangannya dari noda darah, memastikan agar tetap bersih. Setelah itu, Nadir mengulurkan tangannya. "Ayo bangun dulu sebentar, Jay. Terus tiduran di meja komputer. Biar aku liat luka kamu."


Meski tidak antusias mendengar, Fara sering mengajarkan Nadir bagaimana cara menangani orang-orang yang terluka, termasuk luka yang disebabkan oleh tusukan.


Kini, Wijaya telah terbaring di meja komputer. Mengangkat sedikit kausnya. Luka tusukannya terlihat membulat dan sesekali masih menyemburkan darah hangat. "Kita harus gimana kak? Darah ditahan atau dibiarin keluar?"


"Kamu diem dulu ya sekarang. Biar aku yang urusin. Tahan sakitnya dulu untuk sementara." Tangan Nadir sibuk menyeka luka itu dengan tisu pembersih tanpa alkohol.


"Arghh.." Sedangkan, tangan Wijaya mencengkeram memegangi tepian meja menahan perih.


Meski masih ada sedikit darah yang mengalir, Nadir memutuskan untuk mengolesi sedikit gel antiseptik di tepiannya untuk membantu mencegah infeksi.


"Argghh.." Wijaya banyak mengerang malam ini. Beruntung Ia ditangani oleh cewek yang mengerti caranya.


Tak menunggu lama, Cewek itu memotong, lalu melipat kain kasa sesuai kebutuhannya. Setelah itu, menempelkannya di area luka Wijaya merekatkannya dengan plester.


"Kamu harus bertahan, Jay. Cuma ini yang bisa aku lakuin. Setelah cukup tenaga kita harus keluar dari sini." Ucap Nadir lugas.


Wijaya bertanya di ambang kesadaran. "Kenapa?"


"Luka kamu parah, jadi bikin kehilangan banyak darah. Dan aku nggk tau. Apa aku udah nanganin ini dengan bener?" Nadir memasang wajah ragu. "Kita harus cepet-cepet ke rumah sakit abis ini."


"Biarin aku tiduran bentar, kak." Badannya yang kian lemas kini memejam di luar kendali.

__ADS_1


***


__ADS_2