
Beberapa saat sebelum Pensi.
"Vin, dengerin apa kata aku." Lala mempertegas seolah apa yang Ia sampaikan sangatlah krusial. "Kalo kamu ketemu Keni, jangan dilawan."
"Kenapa?"
"Jangan pokoknya. Janji ya?" Manik matanya menatap lekat-lekat memastikan.
Alvin telah paham. Jika seorang cewek telah berkata seperti itu, maka dirinya harus menjawab. "Iya."
"Liat mata aku." Pintanya dengan sungguh. "Janji sama aku sekarang."
"Iya, Jeila Melisa.. Aku janji." Balas Alvin tak ambil pusing.
***
Sekarang.
Pertemuan itu telah terjadi, antara Keni dan Alvin sesuatu yang sangat dijaga oleh Lala. Keadaan malahan mempertemukan mereka berdua, diantara beribu ketidaksengajaan dunia ini.
Mata Alvin menyoroti dari arah atas di belokan tangga menuju lantai satu. Sedangkan, Keni menunjukan wajah serius menanti seseorang datang untuk dihajar, dirinya yang tadinya terduduk di tangga mulai berdiri menoleh ke arah belakang dengan agak terdangak.
"Gua dari tadi nyariin temen lu, malahan lu yang muncul." Ucap Keni melantur.
"Siapa?"
"Temen lu yang nyuri hape gua lah.." Sambarnya ketus. "Gausah pura-pura nggk tau dah."
Alvin bukanlah tipe orang pemaksa, memang semenjak kejadian di kedai saat itu, dirinya tidak pernah menanyakan apapun kepada Lala, tentang mengapa Keni mencarinya atau apapun, yang lebih penting adalah dirinya akan terus ada selagi Lala butuh. Memang terdengar jelas bahwa Keni meminta hapenya kembali, namun semua lupa karena cara Baskara menghalau Keni lebih menarik untuk diingat.
Bagi Alvin, Lala tetaplah cewek yang misterius. Dan menurutnya, biarlah tetap indah seperti itu adanya.
"Maksud lu, Lala?"
"Yaialah.. emang siapa lagi?" Tanya Keni dengan nada retoris. "Sampein sama dia buat balikin hape gua malem ini. Atau.." Keni terbata sesaat.
"Atau apa?" Alvin memasang alis gusar. "Lu kalo ada urusan sama Lala, ngomong sama gua. Sekarang.. urusan Lala jadi urusan gua juga."
"Emang lu siapanya?"
"Gua cowoknya." Sahutnya singkat.
"Pfttt." Bukannya terkesima, Keni malah meringis menahan tawa. "Oh jadi sekarang lu jadian sama cewek sundal bermata sayu itu?" Terlihat jelas, dirinya bertanya untuk mengalihkan perkataan yang belum terselesaikan tadi.
"Jaga mulut lu, kecoa!" Tetapi Alvin telah tersulut amarah, membuatnya menjadi terbuai dengan keadaan.
"Alvin!" Suara seorang cewek terdengar di telinganya. "Jangan urusin Keni. Kamu harus inget janji kita." Sudah jelas itu Lala.
Alvin menarik napas panjang berusaha memadamkan api amarah yang baru saja tersulut. Menahan diri bukanlah perkara mudah, lagipula telah banyak hal yang menyulut kemarahannya malam ini.
"Lu nggk tau apa-apa tentang cewek itu, bocah." Ucap Keni meremehkan.
Alvin memilih diam, berusaha mengendalikan diri. Menunjukan mimik pongah, hanya membalas dengan tautan alis seraya menunggu perkataan selanjutnya.
"Lu harus tau.." Keni masih meringis geli. "Ada dua tahi lalat di bokong kiri Lala." Kini Ia benar-benar terbahak sampai menghentakan tangannya.
Seketika perkataan Keni membuat darah Alvin mendidih, menguap hingga menuju kepala. Matanya melotot bulat menatap. Hampir tak mampu mengendalikan diri.
"Satunya kecil, satu lagi agak gede." Lanjutnya dengan terpingkal. "Jangan-jangan lu belum pernah liat?" Tanya cowok itu mencemooh.
Terpikir di benak Alvin. Kini dirinya sedang mengendalikan diri, atau menahan diri? Atau hanya menunda amarah yang hampir meluap? Jika hanya menunda apa yang dilakukannya hanya merusak hati kan? Ketika menahan rasa yang harusnya tersampaikan.
"Bibirnya anget." Imbuh Keni seraya mengusap bibir dengan mata yang berusaha mengingat. "Dan gua pikir, rasanya lebih dari yang gua bayangin sebelumnya.. Gua nggk akan lupain kejadian di hotel malem itu."
Alvin terus berpikir dan berupaya menelaah setiap kata yang terucap dari mulut Keni. Apa yang telah mereka lakukan berdua di belakang Alvin? Dirinya mulai mengaitkan semuanya dengan pertemuan anehnya di lift hotel malam itu.
"Alvin! Dengerin aku." Ucap Lala lewat earbuds. "Kamu gausah dengerin apa yang diucapin Keni. Kamu harus tinggalin dia, SEKARANG ALVIN!" Dilanjutkan dengan pekikan tajam.
Mendengar teriakan itu membuat emosi Alvin tambah terbakar. Ganjaran menahan emosi adalah merusak hati, karena sebaik-baiknya sebuah perasaan harus tersampaikan dalam bentuk apapun.
Meski dengan sebuah pukulan.
Lala tetaplah cewek misterius bagi Alvin, selamanya akan tetap seperti itu. Kini, Ia mulai menyalahkan diri juga karena tidak pernah mencari tau atau lebih penasaran tentang pacarnya. Membiarkan cewek itu menahan semuanya sendiri. Padahal mereka telah berjanji untuk saling bergantung satu sama lain.
"Maafin aku, La. Nggk bisa tepatin janji." Alvin melepas earbuds miliknya, menekan tombol power hingga lampunya berwarna merah berkedip, redup, dan mati. Melemparkannya entah kemana.
Klotak!
__ADS_1
Alvin pun merasa bersalah karena tidak bisa menepati janjinya juga kepada Basakara. Ia berharap agar Melody baik-baik saja. Mempercayakan semuanya pada keajaiban malam ini.
Alvin mengeraskan rahang, yang tadinya berdiri di belokan tangga, sekarang berlari ke arah bawah seraya melompat menuju Keni dengan sebuah tendangan yang Ia ayunkan sekuat tenaga.
BLAMM! SREKKK!
Keni terdorong tersungkur di lobby gedung D karena tendangan yang jatuh tepat di dadanya. Meski telah menahan dengan kedua tangan, gaya dorong yang diberikan terlalu besar untuk diredam. Setelah beberapa detik, tangannya disentakan karena kesakitan.
"Hajarr!" Titahnya kepada anak buah yang sejak tadi telah mengawal di sekitar Keni.
"Kyaaaa..!"
Empat orang anak buah Keni berlari bersamaan menuju Alvin yang berdiri kukuh di salah satu anak tangga. Matanya tertutup bayangan dari rambutnya yang terjatuh, sudah merasa terlampau tak bisa menahan emosi, lalu menyerah kepada amarah. Tanpa disadari, malam ini Ia telah mengingkari dua janji sekaligus
***
Lab. Komputer.
Lala merupakan seorang cewek yang mampu membuat semuanya terlihat baik-baik saja, tapi sekarang air kepedihan menetes dari matanya, deras menderu bak Air Terjun Bidadari di Venezuela. Menghadirkan semua kesedihan yang Ia tahan sendiri selama ini, sebuah kebenaran yang Ia sembunyikan dari dunia. Membuat cowok yang dicintainya mengetahuinya dari orang lain.
Ia hanya tak ingin Alvin tau secepat itu. Suatu saat kejujuran akan terucap jika Lala telah siap. Sebenarnya, dirinya hanya takut menerima respon Alvin jika menceritakan apa yang telah dilaluinya, takut akan perubahan sikap yang diberikan cowok mata sipit itu kepada dirinya.
Tapi semua telah terjadi, hal itu tidak bisa diubah lagi. Kini Alvin telah mengetahui setitik kebenaran yang Ia serap sebagai racun, meski rinciannya belum dijelaskan secara utuh.
Lala menaruh headset yang Ia kenakan. Kemudian, Melepas jaket hoodie hitamnya. kini Ia hanya mengenakan kemeja putih polos yang sejak tadi di dalam jaketnya. Separuh dirinya termenung sejenak, lalu Ia menghapus air matanya berusaha tegar. Kemudian berdiri, berlalu pergi meninggalkan Wijaya seorang diri.
"Aku harus pergi!"
"Di luar lagi kacau. Lu jangan aneh-aneh, La." Ucap Wijaya menghimbau. "Melody belum kita temuin. Bahkan nggk tau gimana keadaanya." Imbuhnya lagi "Lu jangan bikin keadaan makin parah lah."
"Aku harus jelasin semuanya langsung ke Alvin, Jay." Balas cewek cengeng itu tak mau kalah. "Aku nggk mau dia salah paham, dan menjauh dari aku gara-gara itu."
"Nanti kan abis ini selesai bisa, La." Wijaya menahan Lala, membujuknya agar mengurungkan niatnya pergi. "Sekarang yang penting kita bantu Baskara sama yang lain dulu. Okey?"
Alih-alih menurut dan sanggup dibujuk. "Enggak! Aku harus pergi." Lala malahan tidak mau mendengarkan bujukan Wijaya lagi.
CKLEK
Kemudian Lala berlalu pergi membuka pintu Lab. Komputer yang dikunci sejak tadi. Setelah itu pergi keluar seorang diri, menghampiri cowoknya yang tengah berada di medan perang.
BRAKK
Wijaya yang tak sempat menahan Lala menghentakan kepalan tangannya ke meja meracau kesal, banyak hal yang terjadi diluar rencananya. Memicu masalah yang lebih besar. Semua kartunya memiliki ego yang tak bisa Ia kendalikan sepenuhnya.
***
"Far, ada orang ngamuk di lobby." Ucap seorang asisten Fara kepadanya. "Dia pengen nerobos ke arah panggung, tapi ditahan sama panitia Pensi."
"Gua lagi ngurusin pasien!" Bentak Fara disertai jawaban. "Lu tau kan tabrakan di gerbang tadi 'makan' banyak korban!"
Saat ini, Fara sedang memplester kaki seorang korban yang merupakan anggotanya.
"Tapi, Far-"
"Tapi apa?" Sela Fara mempertegas.
"Kalau lu biarin orang itu, dia bakalan bikin banyak pasien buat kita rawat lagi." Tutur cewek itu. "Lima orang panitia dihajar habis sama dia."
"Hah?" Pernyataan asistennya sempat membuatnya tercengang juga heran.
"Lu harus kesana, Far." Ucapnya cemas. "Diantara kita semua, cuma lu yang bisa berantem. Biar gua tanganin yang disini."
Secara kaidah, seharusnya tim medis berada di garis belakang pertahanan bertugas meredam kerusakan akibat pertarungan. Tetapi hal itu berlaku berbeda bagi Fara, alasan dirinya bisa mencapai posisi petinggi adalah.. karena Ia juga mampu bertarung di garis depan dengan baik, sebaik Ia merawat pasien-pasien itu.
Dan, keadaan kali ini mengharuskan dirinya, turun tangan secara langsung untuk mengurangi kerusakan dari sumbernya.
"Emang siapa sih orangnya?" Tanya Fara ketus, mencari tau sosok yang membuatnya harus melakukan perkerjaan lebih banyak dari seharusnya.
"Cewek!" Seru asistennya. "Pake jaket kulit item, rambutnya ikal." Lanjutnya menjelaskan.
"Hah.. Cewek? Yang bener lu?"
BLAMM!
Dilain tempat, Melody memasang wajah garang seraya melibas anggota yang berjaga dilobby dengan sikutnya.
***
__ADS_1
"Lu kira, lu merasa berhak benerin setiap kesalahan di dunia ini, Bas?"
"Gua akan selesain ini, Reng." Ucap Basakara tanpa ragu. "Gua nggk bakal kecewain mereka.. karena jerih payah mereka, gua bisa sampe setinggi ini." Tegasnya. "Gua nggk bakal biarin, ketika lu ngeremehin temen-temen gua."
Rengga meringis. "Masih naif lu bocah! lu pikir bisa penuhin harapan semua orang? Lu bakal lupa rasanya tenang, ketika nggk sengaja kecewain mereka."
Angin berdesir di ketinggian lantai tiga, menyapu debu dari lantai keramik. Mereka berdua bertatapan bak guntur yang hampir saling menyambar. Cicak pun berdecak di sudut dinding kelas menjadi suara latar diantara mereka.
Setelah beberapa saat, mata Rengga terbelalak melihat ke arah Baskara. Tertegun dengan sesuatu didepan matanya. Sesosok di belakang Baskara.
"Ayo kita selesain ini secepatnya." Pungkas Baskara lalu mengambil posisi untuk berlari, bersiap menerjang Rengga dengan semua yang Ia miliki.
Tap!
Tiba-tiba, bahunya dicengkeram oleh seseorang dari belakang. Lantas, membuatnya menoleh dan memikirkan sejak kapan orang tersebut berada disana. Sesaat merasa pesimis, menyangka semua ini jebakan yang sudah direncanakan oleh Rengga.
Seseorang yang cukup tinggi bagi Baskara, Ia berdiri kukuh di hadapannya yang telah menoleh. Baskara menahan diri untuk memulai pukulan karena tidak melihat setitik ancaman pun dari cowok itu.
"Jiwo?" Rengga bertanya tak percaya. Sejak tadi, Ia telah melihatnya dengan ekspresi kaget.
"Dia lawan gua, Bas. Lu naik aja ke atas." Perintah Jiwo dengan masih memegang bahu Baskara yang hendak lari menerjang itu.
Hening.
Baskara bingung dan juga tidak mengenal seorang di hadapannya sekarang ini. Di sisi lain, Ia juga memikirkan mengapa orang ini ingin membantunya. "Lu siapa?"
"Susanto Manjiwo." Jawab cowok itu lugas. "Bukan siapa-siapa." Seorang cowok yang berdiri sendiri di sekolah ini, namun tetap bisa bertahan hidup seolah keteguhan terpancang di mana pun Ia berdiri.
Prok-prok-prok-prok!
"Merendah buat meroket, basi lu!" Rengga yang sejak tadi termangu, kini meringis setelah menelaah situasi. "Seorang yang nggk pernah memihak siapapun sekarang udah memilih suakanya." Ucapnya memcemooh. "Nggk nyangka lu akan mihak ke bocah itu, Wo."
"Gua nggk nyari pelindung." Ucap Jiwo menyangkal "Gua emang nggk punya kekuasaan sebesar lu, Reng. Tapi gua bisa ngejaga itu baik-baik sampai sekarang." Imbuhnya. "Makasih. Karena lu nggk pernah ngusik gua, setelah kejadian itu."
"Ohh.. lu tau terimakasih ternyata." Sambar Rengga mencemooh lagi. "Gua terima ucapan lu kalau gabung organisasi, gimana Wo?"
Baskara menyimak obrolan para seniornya.
Alih-alih menerima tawaran wakil ketua organisasi. "Gua adalah orang yang bebas, dan gua nggk mau kehendak gua diatur sama siapapun, Reng. Termasuk lu!" Lantas, ucapan Jiwo memukau hati setiap orang yang mendengarnya. "Gua nggk mau gabung sama geng kekanak-kanakan lu yang payah itu. Dan, sekarang gua udah milih, pertarungan yang mau gua ikutin."
Rengga memasang wajah masam. "Emang bakal gua biarin gitu aja?" Kemudian Ia bersiap untuk merusak semua hal di hadapannya.
"Mundur.. biar gua urus ini." Tangan Jiwo mengarahkan Baskara untuk berlindung di belakangnya. Dengan gagah, Ia memasang badan untuk apapun yang akan Rengga lakukan.
Srepbrbrbr!
Kain celana Rengga berkibar selagi tendangan yang Ia berikan berhasil dihindari Jiwo dengan menunduk saja. Terlihat dengan tinggi mereka yang sama, secara kasat mata sepertinya bisa menggambarkan kemampuan mereka yang seolah seimbang.
Rengga yang telah berputar penuh karena gerakan tendangannya barusan. Terperanjat melihat tinju yang mengarah kepada dirinya, serangan balasan yang tidak disiapkan obatnya.
BUKKK! SREK!
Tangan kuat Jiwo menghantam perut Rengga yang sedang terbuka pertahanannya. Membuatnya hingga terpental mundur beberapa sentimeter dengan hanya satu pukulan saja. Sepatunya bergesekan dengan lantai keramik mempertahankan posisi.
Sementara itu, Basakara kaget melihat kemampuan orang asing di depannya. Tapi di sisi lain, Ia juga lega karena Jiwo menyatakan diri berpihak padanya.
Rengga memegangi perutnya, menyeka air liur yang keluar dari mulutnya karena serangan tadi. Dirinya merasa kalap seperti dihantam pipa beton pondasi jalan.
"Lu harus ke atas sekarang, Bas. Sebelum itu ada pesen yang harus gua sampein sama lu." Jiwo menarik napas menyiapkan perkataannya. "Melody baik-baik aja. Gua udah beresin dua puluh orang yang kepung dia pake tangan gua." Jelasnya dengan tetap hati. "Sekarang dia lagi ngurus sesuatu di bawah. Jadi lu bisa lebih tenang sekarang."
"Gua nggk tau lu siapa." Sahutnya jujur. "Tapi kayanya, lu tau semuanya tentang malam ini dan, apa alasan gua di sini.. Makasih, Wo. Udah nyelametin Melody. Suatu hari, gua akan bales budi baik lu itu." Senyum Baskara terangkat menyampaikan perasaan senangnya.
"Gua cuma milih pertarungan yang mau gua ikutin, Bas."
Rengga telah pulih dan mulai bersiap untuk bermanuver lagi.
"Sekarang giliran lu milih pertarungan terakhir lu. Jemput dia. Rampas posisi nomer satu." Lanjut Jiwo lagi.
Maka Baskara berlari ke arah tangga menuju rooftop. Menjemput 'Raja terakhir' sebagai lawan yang Ia pilih.
"Lu nggk bisa lewat semudah itu, Bangsat!"
Sementara itu, Jiwo berusaha menahan Rengga yang hampir menghantam Baskara. Jiwo menyerahkan dirinya, untuk berkelahi dengan dalih melindungi Baskara. Memberikan jalur aman di ombak besar yang sedang terjadi.
Baskara berlari menuju 'Raja terakhir'. Beruntung Jiwo datang tepat waktu, menambal kesalahan dipihak Baskara.
Sekarang kita tau bahwa seorang yang menyelamatkan Melody dari kepungan dua puluh orang ialah Jiwo. Sosok misterius yang muncul sebagai kartu As di tengah peperangan. Sekali lagi, dunia penuh kejutan bukan?
__ADS_1
Bahkan, pertolongan pun datang ketika tidak diminta.
***