
Setiap terjadi perubahan drastis, siapapun pemenangnya, akan selalu berakhir dengan keseimbangan. Kini saatnya, sang 'Joker' menunjukan identitas sesungguhnya.
[Kami akan memproses saudara Rengga dengan dugaan pembunuhan dan juga penyuapan terhadap oknum kepolisian sebagaimana dengan aturan yang tertera di undang-undang.] Tutur pimpinan kepolisian daerah Kota Jakarta dalam konferensi persnya.
[Akhirnya, setelah melalui proses persidangan yang cukup panjang, Rengga Pakuwinata, Wakil Ketua Organisasi sekolah Elang Emas, Dijatuhi hukuman penjara.] Ungkap reporter dalam cuplikan berita lainnya.
BRAK!
Seorang cowok menyelesaikan rubiknya, lalu terbahak ketika mendengar berita tersebut. Ia duduk di sebuah sofa mewah dengan interior elegan, pembatas ruangannya merupakan kaca tebal yang berpemandangan pinggiran laut Kota Jakarta, itu merupakan Steven Reeves.
"Makasih, Bos. Anda udah nyelametin saya malem itu." Ucap cowok bermata coklat membawakan minuman kepada tuannya. "Maafin kegagalan saya buat menculik Lala saat malam Pensi."
Itu merupakan Haikal Farezki, hidungnya yang sempat patah telah dioperasi dan sekarang hanya meninggalkan plester yang tak lama akan dilepasnya juga. Jika diingat-ingat lagi, itu karena wajahnya yang terus beradu berkali-kali dengan lutut Pras saat berduel hebat, mengakibatkan patahan yang lumayan parah.
"Kan udah gua bilang, semua akan berjalan sesuai skenario." Sahut Steven penuh ketenangan. "'Pensi kelabu' harus terjadi, buat sebuah revolusi. Selagi mereka saling hancurin satu sama lain, kita nggk perlu ngotorin tangan kita 'kan?"
Kemudian, Haikal mengangguk setuju.
Kini terjawab, siapa penembak misterius dengan mobil berplat nomor "R 33 VES" yang menghabisi "Monster Pirang" dengan sangat keji. Seorang dalang tau waktu yang tepat untuk keluar, Ia menyelamatkan Haikal disaat-saat terakhir hampir mati, Steven Reeves. Ia merupakan seorang anak yang diberi julukan "ATM", dan kerap kali dipalak oleh penguasa Organisasi, yaitu Rengga dan Keni yang menemaninya.
"Ini berkat kepiawaian lu memainkan peran, Kal." Imbuh Steven. "Lu mampu memprovokasi pemberontakan dengan sangat baik." Dilanjukan dengan kekehan puas.
Haikal Farezki merupakan seorang pengawal tuan muda keluarga Reeves yang telah lama menyusup SMA Elang Emas lebih dulu. Keteguhan hatinya untuk menolak bergabung organisasi merupakan upaya dirinya menunggu kedatangan 'tuannya' yang sesungguhnya, Steven Reeves. Dengan perintah Steven, Haikal menggelar orasi di saat organisasi kehilangan kepercayaan, juga dibarengi mencuatnya nama "Baskara Mahendra" sebagai musuh alami organisasi.
Sedangkan, Haikal tak sabar ingin menyahut. "Meski agak menjijikan kalo diinget, tapi anda lebih pandai bersandiwara di gang buntu sewaktu itu, Bos."
Jika ditelaah secara seksama, Steven merupakan penyebab utama terjadinya 'Pensi Kelabu'. Pasalnya, Ia merupakan aktor handal yang piawai mengatur kejadian di gang buntu agar berjalan sesuai skenarionya. Pada mulanya, Ia menyusun rencana agar Keni dan Pras menyuruhnya menjebak Baskara, juga memanfaatkan kebaikan Baskara untuk membawanya menuju gang buntu sehingga memicu perang yang lebih besar. Nyatanya, tangisan Steven kala itu hanya sandiwara yang membohongi kedua belah pihak.
Raut wajah Steven seketika berubah menjadi masam. "Lain kali, jangan bahas soal itu lagi." Balasnya ketus. Lantaran itu merupakan sandiwara yang memalukan baginya.
Mata coklat itu terbenam menjadi tawa memaksa. "Maaf, Bos. Tidak akan saya ulangi lagi."
Reeves Group merupakan perusahaan investasi yang mendanai banyak perusahaan riset hingga teknologi. Sedangkan Steven, merupakan pewaris tunggal dari 'dinasti' milik keluarganya. Diam-diam menjadi mafia 'low profile' yang memiliki bisnis ilegal dunia bawah di kota-kota besar seluruh Indonesia.
Mimik Steven berseri lagi, dan mencoba mengingat. "Nggk gua sangka, organisasi terjebak mesen catering dari brosur yang gua taruh asal di markas mereka."
"Anda hebat, Bos. Sudah memperhitungkan semuanya dengan matang. Sehingga umpan besar itu dipakai pihak Baskara buat rencana 'Kuda Troya'." Imbuh Haikal meninggikan tuannya.
Sekarang kita sama-sama tau bahwa Steven Reeves merupakan dalang utama atas kehancuran organisasi. Ia memiliki cara tersendiri untuk mencapai tujuannya.
"Selagi Baskara masih berkabung. Sebaiknya kita bergerak cepat buat rencana selanjutnya." Tegas Steven.
"Maksud anda, kita akan mulai menculik Lala lagi?" Tukas Haikal.
Steven menggeleng penuh ketenangan, seakan semua situasi mampu Ia kendalikan hanya dengan memikirkannya saja. "Kalo kita pake rencana itu, selagi Baskara masih hidup. 'Dinasti' milik gua akan runtuh pake kekuatannya yang nggk masuk akal itu."
Mendengar itu, maka Haikal menautkan alis. "Terus kita harus gimana, Bos?"
__ADS_1
"Anak seorang mafia nggk berpikir sesederhana itu." Hardik Steven tegas. "Kita harus buat Lala lebih hancur lagi!"
"Saya akui terlambat untuk nanya ini, tapi kenapa kita harus memicu perang di 'Pensi Kelabu' sebulan lalu? Bukannya anda bisa dengan mudah menghilangkan mereka semua?"
"Gua lebih suka diem di belakang layar dan sedikit ninggalin teka-teki." Ucap Steven mulai menjelaskan. "Gua benci Rengga apalagi Keni, bayarin jajan mereka cuma harga murah buat beli kepercayaan mereka."
Sementara itu Haikal mendengarkan dengan seksama.
"Sedangkan saat itu, situasinya terlanjur rumit karena pertemuan Baskara, Lala dan Alvin. Kalo gua pake cara semena-mena, Alvin nggk akan diem aja, bahkan Baskara pun bakal ikut campur." Imbuh Steven memperjelas. "Makanya, perang besar itu harus ada agar mereka saling hancurin. Siapapun pemenangnya, gua-lah yang sesungguhnya menang."
Haikal yang sempat terperangah, kini mengangguk mengerti. Karena selama ini, hanya mengikuti perintah Steven tanpa banyak bertanya.
"Meski hasilnya nggk sepenuhnya seperti yang gua harapin. Tapi setidaknya, situasi ini selangkah lebih maju, bagi gua yang membunuh dua burung dalam satu pukulan."
***
JPO Sudirman.
Biji mata Lala bagai tangkai mawar yang kian layu, ketika Alvin tiba-tiba saja meminta untuk bertemu di sebuah jembatan penyebrangan di tengah kota Jakarta.
Lampu gedung di sekitar terlihat kerlap-kerlip menghias malam, juga pemandangan mobil yang melintas di bawahnya membuat suasana semakin indah.
Alvin menyandarkan kedua sikutnnya di besi pembatas jembatan berwarna merah. Ia melihat langit dengan cara berbeda, tak sempat menikmati berkat yang Tuhan beri untuk hari ini.
Sementara itu, Lala memainkan kakinya memandangi lantai jembatan itu membelakangi pacarnya yang bersebelahan.
Orang lalu-lalang melintasi mereka untuk menyeberangi arus besar di bawahnya. Akan tetapi, mulut Lala seakan terkunci dan kuncinya berada di genggaman Alvin. Dan seakan Ia hanya akan berbicara, jika diminta.
"Meski 'itu' terjadi sebelum kita berkomitmen, jujur aku tetep merasa kecewa. Karena seorang cowok pastilah udah berpikiran cukup jauh, ketika udah memilih serius." Manik mata Alvin menangkap Lala dengan kilauannya.
Setelah sempat bertatapan sesaat, Lala membuang pandangan karena kecanggungan.
"Luka-luka di tubuh aku bahkan nggk ada rasanya, dibanding sakit hati karena kamu. Lala! jawab aku?"
"Hmm.." Untuk kesekian kalinya Lala berusaha menatap mata pacarnya yang tengah berbicara itu. "Luka kamu udah sembuh?" Tanyanya memecah kecanggungan.
"SIAPA YANG PEDULI SAMA LUKA AKU?" Sambar Alvin pekik. "Aku cuma pengen kejujuran kamu.." Ia kembali menurunkan nada bicaranya.
Lala terguncang karena dihardik seperti itu. Jujur Ia pasrah, dan siap menerima apabila hubungannya akan kandas malam ini. Semua itu Ia sadari berada di luar kendalinya.
Jam berdetak pelan dan menjadi semakin cepat, menunggu kabar tak terduga yang telah terlanjur diduga. Ketidakrelaan terus memaksa keikhlasan untuk mengalah demi ego seorang manusia. Lambat laun mendekati perkataan yang sebentar lagi akan terucap.
Grep!
Alvin menggenggam lembut tangan Lala yang gemetar itu. Lalu menatap matanya, seolah takkan membiarkannya lari kemanapun. "Aku pengen kita bisa terus bareng, walau cuma jadi pilihan nggk terduga kamu pun gapapa." Ucap Alvin bergetar penuh penekanan.
Mata Lala yang kembali menyala, menatap cowok perkasa yang bisa menerima dia apa adanya.
__ADS_1
"Aku mohon, kasih kesempatan aku untuk mahamin isi hati kamu." Alvin mengucapkan kalimat tak terduga berkali-kali. "Hidup nggk berakhir karena satu atau dua kesalahan, La. Kita masih punya waktu!"
Grep!
Cewek cengeng itu memeluk erat, mencairkan semua rasa dalam hatinya. Hingga menghujani bahu Alvin dengan tangisan pilu. "Alvin jangan tinggalin aku!"
Sementara itu, Alvin mengusapi rambut Lala berupaya menenangkannya yang sedang terguncang sembari membalas pelukan.
Lala mencengkeram kemeja Alvin, lalu memukuli pacarnya itu, sebisanya menumpahkan rasa dalam dirinya. "Jangan tinggalin aku.. jangan tinggalin aku.."
Grep!
Alih-alih menjawab, Alvin malahan membenamkan wajah Lala di dekapan dadanya dalam-dalam. "Setelah ini, kamu perlu bukti apa lagi? Kalo aku nggk bakal ninggalin kamu, bahkan di situasi paling buruk sekalipun."
Lala menangis sejadi-jadinya, Ia yang merasa hubungannya akan berakhir malam ini. Ia merasa keliru dengan intuisinya sendiri. Namun di sisi lain, ada ketenangan yang tiba-tiba muncul di saat-saat paling buruk.
Waktu seakan berhenti, lalu melambat menjadi butiran waktu yang perlahan bergulir menuju arah seharusnya. Dunia pun terasa milik mereka berdua, tak menghiraukan makhluk lain yang menghuninya juga.
Alvin memegang pipi Lala dengan kedua telapaknya, mata mereka menjadi segaris saling melihat dalam lensa ajaib tak terbatas. Kemudian, Alvin menyeka air mata pacarnya dengan ibu jari.
"Aku kira ini mimpi." Ucap Lala tak percaya. "Ternyata kamu emang ada di sisi aku."
Ketika memandang Alvin, Lala terpikir untuk melukis Alvin. Karena itu merupakan hal terindah yang Ia miliki, bahkan melebihi semua lukisan yang pernah Ia buat. Jauh lebih berharga daripada lukisan bersejarah yang tak mampu diduplikasi oleh pelukis manapun.
DARRRRR!
Mata Alvin memelotot di pandangan Lala, mengeluarkan secerca darah, kemudian lunglai menjatuhkan diri mengikuti berat tubuhnya. Itu merupakan tembakan jarak jauh yang tepat mengenai pelipis kirinya.
"Alvin kamu kenapa? Alviin!"
NGUNGGGG!
Akan tetapi itu tak terdengar, karena telinga Alvin berdenung panjang. Sebelum akhirnya kesadarannya memudar setiap detiknya. Tak sempat mengatakan apapun, karena itu merupakan luka fatal. Sebuah pusat kendali bagi semua organ tubuh lainnya.
BRUK!
Lala memangku kepala Alvin, rembesan darah mulai mengalir deras melalui sisi belakangnya kepalanya. Kemudian, Lala menelisik mencari tau di setiap sisi gedung yang berada di tepian jalan itu. Ia ingin tau dari mana arahnya peluru yang bersarang di kepala Alvin.
Sedikit kilauan di sebuah gedung nan jauh mengganggu benak Lala. Akan tetapi, tak ada yang bisa Ia perbuat. Lala menangis memekik hingga pertolongan datang mengantarkan Alvin ke tempat seharusnya.
Di saat merasa bahagia, sering kali terpikir untuk ingin lebih bahagia lagi. Perasaan lega yang kian memudar, menjadi bias dan bahagia terasa semu juga perlahan berkarat. Tak disangka, di ujung kebahagiaan menyisakan malapetaka yang harus di lalui tanpa banyak bertanya.
Lala merasa semakin hancur, sandaran hati tempatnya bertumpu, runtuh hanya dengan satu peluru liar tak terduga.
Musuh tak terlihat, Ia sedang tertawa di ujung bayangan sambil menunggu waktu yang tepat untuk memberi pertolongan.
***
__ADS_1