Baskara : Liberation

Baskara : Liberation
Chapter 8; Siasat.


__ADS_3

Club.


"Gimana ken lu bawa duit nggk?"


"Abis, Bos. Tadikan udah buat beli rokok."


Bunyi bising musik EDM membuat mereka harus mengobrol berdekatan. Rengga mabuk, sudah menghabiskan banyak botol mencoba menghapus pelik. Padahal hari masih belum larut.


"Gua masih mau minum."


"Gua ada perlu jam sebelas. Jadi nggk bisa nemenin lu, Bos." Ujar Keni.


"Mau kemana sih lu?" Tanya Rengga dengan nada melantur.


"Biasa, Bos. Cewek." Jawabnya singkat.


Rengga mengangguk mengerti. "Ohh yaudah. Telfon 'ATM' suruh dia bayar, sama beliin gua minum sebotol lagi."


Sebelum akan pergi Keni menelpon Steven. Seorang anak dari orang kaya, yang mengenakan motor Royal Enfield untuk pulang-pergi sekolah setiap hari.


"Saya lagi dimall daerah Jaksel, Bang." Jawab suara diujung telfon.


"Wah kebetulan deket sini. Gua tunggu lu dateng kesini sebelum jam sepuluh. Bawa duit."


Steven mengiyakan intruksi dari Keni untuk hadir disalah satu club didaerah Jakarta Selatan. Meski berat hati selama ini Ia tidak berani mengadu kepada siapapun. Steven tidak ingin motor pemberian ayahnya dibakar sia-sia oleh Keni. Ancaman itu membuatnya harus menuruti perintah seorang benalu itu.


"Udah gua telfon, Bos. Kita tunggu dia dateng."


"Yaudah pesenin minum lagi. Temenin gua minum dulu bentaran."


"Siap, Bos."


Mereka menambah minuman untuk sesaat. Menikmati malam dengan beat musik yang enak dengan minuman beralkohol. Menunggu 'mesin ATM' mereka datang.


Steven datang ke club itu mencari Keni. Setelah bertemu langsung disuguhi nota dengan total jutaan rupiah. Ia menghela nafas, lalu membayar semuanya tanpa mengeluh.


Keni mengelus rambut Steven.


"Eh ATM thanks ya udah bayarin." Ujar Rengga.


"Iy-iya, Bang." Steven ketakutan.


"Yaudah sekarang balik sono lu."


Steven merasa wagu juga kikuk pergi meninggalkan tempat itu.


***


Setelah berbelanja kopi dan bahan lainnya tadi pagi. Baskara meminta libur dari pekerjaan paruh waktunya malam ini. Ia merasa butuh waktu untuk menenangkan diri. Rehat ialah cara yang paling baik. Namun Ia memutuskan untuk mengunjungi temannya lebih dulu. Yaitu;


Wijaya.


Baskara membawa beberapa cemilan untuk Wijaya. Mengingat Ia sempat dipukuli kemarin. Sepukul dua pukul pastilah menyakitinya. Melihat keadaannya, semoga sekarang sudah membaik.


"Gimana keadaan lu?"


"Sejauh ini baik, Bas. Cuman memar biasa kok."


"Syukur deh kalo gitu." Baskara agak canggung karena sejak kejadian itu mereka lepas kontak. "Maaf ya, Jay."


"Soal apa?"


"Pasti lu takut ngeliat gua malem itu."


"Gua justru lega lu dateng nyelametin gua."


"Tapikan-"


"Gua seneng punya temen kuat seperti lu."


Hening.


"Biasanya gua cuman bisa menahan diri. Tapi-" Baskara tercekat sejenak. "Meski begitu. Ketika gua terpojok. Gua nggk bisa nahan lagi. Ini kutukan."


"Itu karunia dari Tuhan, Bas. Lu diberi kekuatan melebihi kewajaran. Lu bisa taklukin sekolah kita dengan kekuatan lu."


Mendengar hal itu Baskara tak berkata apapun. Tentu itu ide yang bagus. Tapi sejujurnya dirinya tidak ingin menyakiti siapapun.


"Lu bisa ubah semua tirani disekolah kita. Jadi seperti yang kita mau." Katanya lagi menggebu-gebu. "Perundungan, pajak, dan semua tentang organisasi itu lu pasti juga muak 'kan?"


"Entahlah, Jay. Gua cuman mau lindungin orang-orang disekitar gua."


"Orang itu mungkin sekarang sedang sekarat. Tapi ketika dia bangun dan nyeritain semua yang terjadi. Tentang siapa kita. Kita akan dilibas sama mereka, Bas."

__ADS_1


***


Lift terbuka.


Lala berdiri dibalik pintu itu. Melangkah maju perlahan, seraya menggenggam tote bag dibahunya. Lantai keramik mengkilap memantulkan high hells yang Ia kenakan. Wajahnya nampak natural malam ini. Terlihat yakin, entah itu memaksakan tetapi matanya menyusuri setiap nomor pintu. Menyamakan dengan nomor yang terdapat dihapenya.


Kini Ia terhenti didepan pintu.


Kamar 505.


Ia menoleh ke kanan dan kiri hingga ujung lorong. Dibelakangnya terdapat kaca yang langsung mengarah ke hiruk pikuk kota Jakarta. Memandangi dirinya lewat pantulan samar didepan pintu itu.


Ia merasa sedih berada disini. Ingin rasanya menghilang pergi entah kemana tanpa membawa beban yang membuatnya harus melakukan ini.


Tangan yang lentik gemetar membuka daun pintu kedalam. Ia masuk. Lalu, segera menutupnya kembali. Ia berharap tidak ada seorang pun yang tau keberadaannya saat ini. Ia ingin langsung menyelesaikannya, pergi, dan melupakan semua yang telah terjadi.


"Lu emang paham cara membuat masalah nggk jadi besar." Ujar seorang terduduk dikursi depan cermin.


"Cepat selesain ini."


Tangan Keni mengambil seloki yang berisi minuman alkohol, menyeruputnya sekali tenggak. "Kita harus nikmatin malam ini."


Hujan deras mengguyur kota Jakarta malam ini. Anomali cuaca seperti yang dilaporkan diberita televisi. Seakan menggambarkan bahwa langit sedang bersedih akan sesuatu.


Jika langit adalah hati manusia, maka cuaca adalah suasana hatinya tersebut. Terjadi anomali, perubahan cuaca yang drastis dan sulit ditebak. Seperti hati yang mudah berubah jadi tangis ketika tawa sedekat lima menit kebelakang. Karena sedalam apapun kepelikan dikubur didalam hati, sesungguhnya jaraknya hanya lima centimeter dari dada.


Lala mungkin bisa memaafkan apa yang sebelumnya telah diperbuat Keni. Tetapi Ia akan terus mengingat disepanjang hidupnya. Hingga kata maaf yang terlontar hanya bisa melegakan, harus kau tau bahwa melupakan rasanya dilukai itu teramat sulit, seperti luka dikulit yang menginggalkan bekas setelah kering. Itu akan tetap ada selamanya.


Kini Lala telah duduk dikasur berselimut yang amat empuk. Tetapi Ia tidak bisa merasakannya. Karena sesak didada menutup semua rasa yang datang saat ini.


Keni menghampirinya. Mengelus pipi indah Lala, meraba sedikit rambut kecil dekat telinga. Membuat Lala merasa seperti tersengat arus listrik.


"Lu cantik, Lala."


"Gausah ngomong kaya gitu." Lala menghentakan tangan Keni yang tadi masih dipipinya.


Keni gerah. Darahnya sudah mendidih dengan hanya memandangi cewek didepannya.


"Cobalah sedikit nikmatin malam ini." Ia memegang tangan Lala lagi. "Jujur sama yang lu rasain."


Lala menggigit bibir memandang Keni jijik.


Sungguh sulit mengatasi rasa tidak nyaman. Distorsi waktu terjadi, menjadi lambat hingga kepelikan lebih terasa menusuk-nusuk hati.


Seseorang tidak akan datang. Lebih baik berpikir seperti itu, agar bisa lebih lega menerima keadaan.


Keni memeluknya. Mencoba memberi rasa nyaman. Namun yang jarang diketahui cowok. Bahwa cewek sangatlah pandai berpura-pura, tentang banyak hal.


"Aku ingin lebih." Bisikan dari seorang cewek yang membuat libido Keni diujung batasnya.


Tidak percaya kata itu terucap dari seorang cewek berumur enam belas tahun yang sedang mekar-mekarnya. Cewek cengeng itu telah berubah.


Seketika keni merasa diatas angin. Ia menciumi pipi Lala.


Lala merintih kaget.


Dilanjutkan Keni dengan mencium bibir cewek cantik yang tidak pernah Ia coba sebelumnya. Segala sesuatu didepannya ingin diterjang tak ingin satu hal pun luput dari dirinya.


Lala melepaskan ciuman untuk sejenak.


"Rasanya lebih dari yang gua bayangin." Ucap Keni memuja.


Menatap Keni sayu. Lala tanpa make-up terlihat cantik malam ini. Cewek polos bermata sayu sungguh menggairahkan.


Membuat Keni melepas kancing kemejanya satu per satu. Melemparkannya sembarang arah. Lalu menerjang kearah Lala. Menggerayangi gadis itu. Memulai pertandingan yang sudah diketahui siapa pemenangnya.


Lala pasrah seraya berpura-pura menikmati malam ini hingga akhir.


***


Hujan masih turun perlahan, tidak lagi deras. Namun masih menyulitkan pergerakan. Jakarta masih sibuk.


Lampu lalu lintas pun masih melakukan pekerjaannya. Menyala dari hijau lalu kembali ke merah. Terlihat menetes air dari penutupnya.


Shower mengalirkan air deras bersuhu hangat. Air itu menguap setelah mengenai tubuh Lala. Wajahnya terdangak keatas. Rambutnya disingkap kebelakang punggung.


Air yang mengenai kening wajahnya. Seolah menutup tangis yang bersamaan menetes mengguyur tubuh. Namun Ia sadar, sebanyak apapun air membasahinya. Tidak akan menyucikan tubuhnya yang telah dinodai.


Menurutnya, Apa yang membuat manusia bertahan hidup selain harga diri? Dan kini Lala merasa tidak memilikinya sekarang.


Merasa tidak berarti, seperti dunia berjalan tanpanya. Apa yang Ia miliki tidak ada artinya.


Bu Dina bilang bahwa setiap orang bisa memilih. Tapi realita yang Ia alami tidak. Mungkin sebenarnya kita diberikan kesempatan memilih, tapi disaat yang sama kita juga tidak punya pilihan.

__ADS_1


Lala menangis sejadi-jadinya. Penyesalan yang selamanya akan diingat hingga mati. Ditemani gerimis hujan. Langit mengerti bahwa cewek itu tidak boleh menangis sendiri.


Setelah membasuh seluruh tubuhnya. Lala mengeringkan dengan handuk. Mempuk-puk wajahnya dicermin. Lalu mengenakan pakaiannya kembali.


Lala keluar dari kamar mandi. Dari balik tembok matanya menelisik kearah ranjang. Mendapati Keni tertidur nyenyak setelah mendapat cukup kenikmatan ditubuhnya.


Jelas semua terjadi seperti yang Ia rencanakan. Dengan berhati-hati mencoba melangkah tanpa bersuara. Menuju meja tempat Keni meletakan hapenya. Sumber semua masalah yang ada.


Lala mengangkatnya. Layar hape menyala menunjukan [pukul 03.33]. Ia menoleh memastikan Keni belum sadar. Bajingan itu masih tidur nyenyak mengejar mimpi.


Ia mengusap layar. Ia ingin menghapus foto setengah telanjang miliknya, yang berada dihape Keni. Dengan begitu Keni tidak bisa mengancam lagi.


Pin unlock muncul. Beberapa kali mencoba namun selalu salah. Ia sadar tidak bisa membobol ini. Dan semua pengorbanan yang Ia lakukan malam ini akan sia-sia.


Simbol sidik jari terdapat dibawah layar.


[Fingerprint.]


Lala meyakinkan dirinya sekali lagi. Ia harus mencobanya dengan jari Keni satu per satu. Sekarang atau tidak sama sekali.


Menghela nafas. Ia kini telah yakin dan mengarahkan jari telunjuk Keni ke layar hape.


Hape bergetar karena itu jari yang salah.


Lantas itu membuat Keni terpanggil dari tidur yang dalam.


Lala bingung harus seperti apa.


Menyadari lagi bahwa usahanya sia-sia.


Harga diri yang telah Ia pertaruhkan malam ini tidak ada artinya.


Nasib baik masih memihak Lala. Keni hanya memutar badan. Lalu menarik selimut.


Tadi sungguh adrenaline yang mengalir deras. Ia lagi-lagi paham tidak bisa melakukan cara fingerprint lagi.


Tidak berpikir panjang lagi. Ia tidak boleh gagal. Setidaknya bisa menyingkirkan hape terkutuk ini. Diraihnya, lalu pergi meninggalkan kamar hotel.


Ia membuka daun pintu dengan tergesa. Namun pintu tertahan.


Kartu akses tertinggal dimeja.


Lala meracau didalam hati. Keteledoran sering terjadi disaat-saat penting dalam hidup. Ia kembali masih tergesa.


Mendapati dimeja tidak ada apapun.


Ia membuka tote bag nya. Merogoh isinya.


Tidak ada.


Ia memutar bola mata kesal.


Tak berhenti disitu Ia berusaha memeriksa bawah ranjang. Menyusuri setiap sudut ruangan.


Mengarahkannya untuk mengecek kemeja Keni yang terlempar ditepi ruangan.


Lala kembali tenang mendapati kartu akses dikantung kemeja. Membuatnya langsung melesat keluar kamar pada dini hari. Ia menutup pintu perlahan.


Lala berlari dikoridor menuju lift.


Memencet tombol buka. Namun Ia harus menunggu untuk sesaat. Karena lift masih turun dari arah lantai atas. Tak sabar terus memencetnya terus menerus. Ia khawatir Keni menyadari kepergiannya membawa hape miliknya.


Setelah beberapa detik terjeda. Lift terbuka. Lala menoleh ke belakang memastikan seraya menerobos masuk lift setengah terbuka.


BRAKK!


Badan berdada bidang menabrak dirinya. Bukan, tetapi dirinya yang menabrak. Sontak membuatnya menoleh keatas.


"Alvin."


"Lala."


Mereka menyebut nama bergantian.


Tidak menyangka seorang yang saling kenal bertemu ditempat seperti ini. Membuat mereka saling menerka apa yang terjadi.


Alvin mengenakan kemaja putih dengan rompi hitam rapi. Membawa serbet putih dilengannya. Lala menebak mungkinkah Alvin bekerja disini?


Tapi sebaliknya jika melihat kondisi Lala yang agak berantakan. Apa yang sedang Ia lakukan disini?


Harapan Lala agar tidak ada seorang pun yang tau dirinya pernah datang kesini telah sirna. Karena dunia bekerja dengan cara yang tidak diketahui membuat kita menemui seseorang disaat-saat tidak terduga.


***

__ADS_1


__ADS_2