
Sebelumnya, Rengga ialah seorang cowok yang tak pernah menyandarkan hati kepada siapapun. Namun kini, Ia merasa ingin terus lebih lama berada di samping Najwa. Maka dirinya memotong rambut gondrongnya yang sepanjang leher itu, berniat membuatnya lebih rapih, dengan menyisirnya menyamping. Dan sekarang, Ia lebih memperhatikan penampilannya, tak sabar untuk bertemu pujaan hatinya lagi.
Tetapi setelah kejadian malam itu, Najwa menanggapi chat ataupun telfon Rengga hanya seadanya. Menyisakan banyak tanya dibenak Rengga yang telah terlanjur berharap.
Malam itu Najwa berpikir, jika Rengga ialah seorang pengecut yang tak berani mengantar dirinya hingga depan rumah. Tak disangka, Ia harus berbohong soal papa-nya, demi memastikan kesungguhan seorang cowok. Lagipula, Rengga ialah sosok berbahaya yang memiliki banyak musuh. Najwa merasa tidak nyaman, jika harus melihat darah setiap bertemu dengan Rengga. Oleh sebab itu, Ia memilih untuk menjauh secara perlahan.
Bukannya gugur harapan, Rengga malah berniat membelikan kado untuk ulang tahun Najwa, bulan depan. Yang sebelumnya, diberitahukan lewat telfon.
Setelah memikirkannya pagi hingga malam, akhirnya Rengga memutuskan untuk membeli sebuah gelang perak. Ia berjalan seorang diri ke sebuah mall di Kota Jakarta.
Setengah jam berlalu, Rengga mendelik. Ia terus memperhatikan gelang mana yang bagus untuk peri kecilnya, memilah lewat etalase kaca. Sedangkan, seorang cewek penjaga toko perhiasan itu hanya tersenyum memaksa juga menunggu sabar.
"Kalo di antara dua ini, mana yang bagus yak?" Tanya Rengga dengan mengangkat dua ikat gelang perak berkilau.
"Hmm.." Cewek penjaga itu mengira-ngira sesaat. "Yang ini kak." Ujarnya menunjuk tangan kanan Rengga.
"Iya bener juga." Rengga menaruh gelang di tangan kirinya. Lalu membayangkan Najwa mengenakan gelang bermotif semanggi berhelai empat daun dengan ikatan tali perak itu.
Cukup lama baginya untuk mengangkut kado ulang tahun itu. Rengga mempertimbangkan masak-masak pilihan kadonya.
"Jadi apa gelang ini bener-bener cocok?" Rengga bertanya lagi.
"Kalo aku jadi ceweknya kakak, pasti akan seneng banget, karena milihnya udah selama itu." Balas penjaga toko itu gemas.
"Ohh gitu yak?" Rengga bertanya retoris. "Yaudah.. minta dibungkus kotak kado, yang ini."
Seorang cowok yang pertama kalinya jatuh cinta, bertindak alami mengikuti naluri lelakinya. Membuatnya salah mengartikan sebuah tanda yang tersirat dari Najwa.
Sepekan berlalu, Rengga sesekali menelpon meminta untuk bertemu. Namun selalu saja Najwa menolak dengan alasan sibuk dan banyak macam lainnya.
Rengga bukanlah tipe cowok pemaksa. Maka Ia terus bersabar meski hatinya telah menggebu-gebu. Terus memandangi hapenya, menanti sebuah kejutan di setiap helaan napas, agar Najwa mau bertemu.
Dua minggu berlalu, Najwa makin jarang membalas chatnya. Rengga yang telah dibakar rasa rindu, akhirnya memilih untuk memantau di sisi gelap seberang rumah Najwa, bekal satu-satunya yang Ia ketahui.
Semalaman disitu, tapi tak mendapatkan apapun, padahal Ia berniat melihatnya saja, walau hanya dari jauh.
[Kamu lagi di mana?] Tanya Rengga lewat chat.
[Lagi main sama temen, di luar.] Tak lama Najwa menyahut.
[Ohh, yaudah. Lanjut aja dulu. Nanti kabarin lagi yah.]
Kemudian, Rengga pulang dengan segala obsesinya yang tak kunjung terpenuhi. Mempercayai semua yang dikatakan Najwa sepenuh hatinya.
Lalu suatu waktu, Najwa meminta bertemu. Dalam kesempatan itu, Rengga menyempatkan menanyakan kepastian tentang dirinya di hati Najwa.
Alih-alih mendapat 'Lampu hijau', Rengga malah diminta untuk menjauh sementara waktu. Dengan pasrahnya, Ia mengiyakan permintaan Najwa. Menunggunya sampai cewek berkacamata itu membaik dengan masalahnya sendiri yang belum terselesaikan.
Hari ulang tahun Najwa tiba, Rengga mengucapkan selamat dan memanjatkan doa seadanya. Nyatanya, cewek itu tidak membalas apapun, hanya tampak dua ceklis berwarna kelabu. Itu terjadi karena upaya memenuhi ucapannya untuk menjauh sementara waktu.
Kemelut di dalam hati Rengga makin jadi. Obsesinya yang tak kunjung terpenuhi, membuat melakukan tindakan tak terduga.
"Ikut gua, Ken." Titah Rengga.
"Kemana bos?" Tanya Keni polos.
"Udah ikut aja.. Bawa lima orang."
Malam minggu tiba, Rengga memforsir Keni dan semua anak buahnya untuk mendampinginya berjaga di seberang rumah Najwa, demi kepentingan pribadinya. Ia terus melirik dari dalam bayangan, memastikan tak ada satu cowok pun yang mengantar cewek berkacamata itu pulang. Lagipula, janji mereka untuk menonton bioskop lagi pun sudah terlewat.
"Banyak nyamuk, bos." Celetuk Keni.
"Diem anjing!" Sela Rengga menghardik. "Temenin gua dulu ngapa sih"
"Ohh iya, bos." Sahut Keni patuh.
Mendengar Keni dihardik pahit seperti itu, membuat semua keberanian anak buah yang lain menciut, dan mengikuti kemauan bosnya yang sedang jatuh cinta itu.
Rengga sejak tadi menggenggam gelang perak yang belum sempat diberikan kepada pujaan hatinya. Mendelik cemas, berharap tak ada satu cowok pun yang mengantar ataupun menjemput Najwa.
__ADS_1
00.00
"Bos?" Tanya Keni lagi.
Rengga menoleh, menunggu perkataan Keni.
"Lu jangan kaya gini lah." Ucap Keni. "Gua ada tempat asik buat lu nih.. kita ke Bar aja."
Anak buah lainnya menelan ludah. Getir akan kemarahan Bos yang suasana hatinya sedang tidak baik.
"Di mana?"
"Deket sini ada. Ayo gua temenin." Desak Keni. "Yang lain suruh pulang aja."
Anak buah lainnya membuang napas lega.
"Yaudah ayo."
Seperti malam minggu sebelumnya, Rengga tak mendapatkan apapun. Ia memilih mampir ke Bar di daerah Jakarta Pusat ditemani Keni. Mencoba melupakan semua masalah yang menimpanya dengan segelas alkohol seraya mendengarkan konser musik.
Caranya meminum berubah malam ini, bukanlah untuk bersantai ataupun merayakan sebuah pencapaian. Tetapi, untuk meredakan perasaannya yang terlanjur meluap. Mencoba mengalihkan pikirannya yang terus diisi suara, senyum, juga tatapan Najwa.
Keni merasa iba ketika harus melihat Rengga yang terus melamun di Bar. Ia berpikir akan terus menemani bosnya di saat-saat seperti ini.
***
22.00
Malam minggu tiba lagi. Namun kini jelas berbeda, karena seorang cowok bermotor Suzuki GSX R150 berwarna biru kedapatan mengantar pulang Najwa dengan wajah berseri. Baru kali ini, Rengga bisa membenci seorang di kali pertama melihatnya.
"Cegat, Ken." Titah Rengga.
Maka Keni dengan ditemani anak buah lainnya, menunggu di ujung portal kawasan rumah Najwa. Sedangkan, Rengga terus memperhatikan cowok bermotor sport itu. Tak memalingkan wajahnya barang sedetik pun.
Cowok itu meringis pelan, lalu berpamitan dengan Najwa. Keduanya terlihat begitu akrab, membuat Rengga begitu gerah meski kenyataannya malam itu suhu terasa dingin. Cowok itu berlalu menarik tuas motornya
Rengga memperhatikan Najwa masuk rumahnya dengan sedikit berjingkrak pertanda seorang yang sedang bahagia. Terbesit sesaat di benak Rengga, apakah Najwa juga sebahagia itu saat kencan dengannya? Tetapi Rengga merasa bisa menjawabnya sendiri. Karena malam itu kencannya dirusak oleh musuh dari geng Vandal.
Keni mencegat motor sport berwarna biru itu, mengepungnya bersama yang lain. Di belakangnya portal telah tertutup, menandakan bahwa cowok itu tak bisa lolos kemanapun.
"Ada apaan nih?" Tanya cowok itu tak terima.
"Mending matiin motor lu. Terus diem." Balas Keni ringkas.
"Lu begal? Mau ngambil motor gua?"
Keni bertolak pinggang. Lalu memelotot tajam.
Melihat Keni geram, maka anak buah lainnya berkomentar. "Kita hajar aja, bos. Biar cepet kelar malem ini."
"Biarin.. ini bagian Rengga." Timpal Keni.
Dap dap dap
Tak lama setelah itu, semua mata tertuju pada satu sosok yang muncul dari bayangan gelap. Ia berjalan dari arah belakang motor sport biru itu. Keluar perlahan ketika cahaya lampu jalan meneranginya, Rengga memasukan sebelah tangannya ke saku berlagak pongah. Sedangkan, tangan satunya menjepit rokok yang tengah Ia hisap.
"Lu siapanya, Najwa?" Tegas Rengga memulai penyelidikan.
"Temen."
Andai saja cowok itu salah menjawab. Maka, harusnya tanah kuburan digali lebih awal malam ini juga.
"Semua juga awalnya temen, anjing!" Bentak Rengga.
"Gua baru kenalan dari aplikasi dating." Balas cowok itu tak menghiraukan nyawa.
Rengga menghisap rokoknya kuat. Kemudian membuangnya ketika masih panjang.
Grep!
__ADS_1
Kerah cowok itu ditarik Rengga sampai menjatuhkan motor sport yang belum sempat disanggah.
Bruk!
Rengga menghempaskannya ke lantai aspal. Lalu duduk di atas dada cowok itu. Cowok itu memberontak sesekali, namun anak buah Rengga membantu memegangi kedua tangannya.
"Mau lu apa bangsat?"
Slep!
Dengan memaksa Rengga melepaskan helm full facenya. Jika dilihat desain juga merknya, itu merupakan sebuah helm mahal berharga jutaan rupiah.
BRAK!
Kemudian, membantingnya dengan tenaga penuh.
Bakbukbakbuk!
"Hyaaaaaaa.." Rengga berusaha mengeluarkan semua amarah dalam hatinya. Berniat mengubahnya menjadi tinju yang mengarah ke sosok cowok yang tidak Ia kenal, tetapi sangat Ia benci.
Rengga bangun, menendang cowok itu sekali. Lalu berlalu menuju motor sport yang terguling.
Swing!
Kunci motor yang tadinya masih tercantol, terbang tanpa arah menuju semak-semak karena lemparan Rengga.
"Kalo gua liat lu ke rumah Najwa lagi." Rengga menoleh ke belakang. "Lu bakal mati."
Malam itu Rengga ke club lagi, Ia menghabiskan semua 'Uang jajan' yang diberikan organisasi. Ia terus menghamburkan uangnya untuk membeli 'obat' dari kesakitan hatinya karena dikecewakan oleh seorang cewek. Minum-minum kali ini agak berbeda, karena kehadiran Saga.
Rengga merogoh sakunya, lalu membeku sejenak, memandangi gelang perak yang hingga kini belum sampai ke pemiliknya. Gelang itu berkilau, sebelum akhirnya Ia menggenggam kuat seraya mengeraskan rahang. Sejujurnya, Rengga masih mengharap keajaiban terjadi di akhir harinya.
Keni memandangi Rengga, ketika bosnya itu menuangkan minumanmya ke seloki berkali-kali dalam tempo cepat tanpa jeda.
Grep!
Keni menahan tangan Rengga. "Biar gua bantuin, kita tek-tokan."
Rengga yang masih bergeming merengus dingin. Sementara Keni menuangkan minuman pada satu seloki, lalu menenggaknya.
"Gua bakal temenin lu." Keni tersenyum, kemudian menuangkan minuman di seloki yang sama, memberikannya pada Rengga, karena sekarang gilirannya.
Rengga mencoba untuk tetap menjaga maskulinitasnya, tetapi separuh dirinya menyadari bahwa Keni merupakan seorang yang tulus menemani. Mungkin salah satu yang mengerti seberapa dalam kepelikan hati Rengga. Untuk malam ini, Keni seperti bisa merasakan penolakan halus yang diberikan Najwa memberi dampak yang luar biasa bagi cowok yang jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Tiba-tiba, Saga meraih seloki alkohol itu. Kemudian menenggak semuanya. Sedangkan, Rengga dan Keni hanya memandangi saja dengan kikuk.
"Gua ikutan ngapa sih." Imbuh Saga.
Maka Keni menjawab. "Iya, Ga. Minum aja."
Saga menoleh gusar, lalu Ia membuang pandangan memaklumi.
Rengga masih membisu, tak menggubris canda Saga untuk memecah keheningan tadi.
"Yailah malem ini kaku banget sih lu, Reng." Ucap Saga memecah keheningan lagi. "Dia kenapa lagi, Ken?"
"Najwa jalan bareng cowok lain, Bos." Jelas Keni. "Kayanya nggk ada harapan lagi."
"Tuh dengerin.. nggk ada harapan lagi." Eja Saga mengulang perkataan Keni. "Coba lu telaah, udah berapa kali dia nyakitin lu." Timpalnya. "Ingkar janji, minta menjauh, dan sekarang liat gimana akhirnya."
Rengga mengepal keras lengannya, mencoba menahan amarah yang terus mencabik-cabik dirinya dari dalam.
"Lagian udahlah.. Reng." Imbuh Saga. "Ngapain sih lu masih mikirin Najwa? Dia udah matahin hati lu berkali-kali tau nggk."
BRAK!
Rengga menggebrak mejanya. "Gua nggk pernah patah!" Sanggahnya. "Gua cuma bengkok sebentar, dan nggk lama akan lurus lagi." Pungkasnya dengan gahar.
Saga dan Keni mengangkat senyum untuk pungkasan Rengga. Mereka menjadi teman minum untuk Rengga yang sedang berusaha menyembuhkan hatinya. Dua orang yang dianggap Rengga benar-benar berarti baginya.
__ADS_1
Tapi itu hanya pungkasan yang penuh kiasan saja. Nyatanya, Rengga belum mampu untuk berpaling. Selama memandangi gelang perak itu, Ia sulit mencari kebahagiaan di tengah dunia yang penuh kecemasan ini.
***