
Saat matahari terbenam, banyak orang yang merasa hidup. Sebuah energi keluar dari tubuh, yang hampir merubah karakter banyak orang, seperti memasuki dimensi lain. Seakan-akan di sini lah tempatnya menunjukan siapa dia, dan apa isi hatinya.
Di area pergudangan banyak drum-drum besi, tali tambang, juga pipa air PVC. Barlan terduduk nyaman di sofa, di depannya terdapat drum potongan yang dipakai untuk bakaran api unggun.
Kini, Saga menjadi berdua dengan seorang yang baru saja Ia bebaskan dari belenggu jeratan karung. Kita selalu tau bahwa di dalam realita, satu tambah satu hasilnya tak selalu dua.
"Gua pernah ngalamin yang lebih parah di dalem karung itu." Ujar Saga membandingkan "Gua dipukulin semaleman, terus paginya ditaro di depan gerbang sekolah." Imbuhya bangga.
"Lah, gua udah dua hari." Ucap Hansel berbohong.
Seketika jawaban Hansel langsung membuat Saga habis kata. Maka Ia membuang pandangan ke sudut lain.
"Emang lu sekolah di mana?" Tanya Hansel mengalihkan.
Kemudian Saga membalas singkat. "Elang Emas."
"Hmm.." Hansel meringis setelah mengetahui itu. "Sekarang kita punya alasan buat berantem bareng kan?" Imbuhnya. "Gua juga murid Elang Emas."
Mimik Saga yang sebelumnya meredup, kini kembali bersinar merekah.
Tanpa basa-basi, Bukanya lemas dan mengeluh, Hansel langsung maju menerjang Gigih. Ia meloncat seraya memutar badan, melayangkan dua tendangan bertubi dengan kaki berbeda.
Gigih sempat menangkis sekali, untuk yang kedua Ia memilih menunduk.
BRAK!
Hansel mengambil kesempatan itu dengan membanting kakinya ke arah bawah mengenai tengkuk Gigih sampai membuatnya jatuh tertelungkup. Tak hanya sekali, berkali-kali Han menggentakan kakinya berniat menginjak tubuh Gigih.
Set set set
Gigih terperanjat sejenak. Karena masih konsentrasi, Ia sanggup mengatasinya dengan terus bergulir sampai bisa bangun setengah berdiri. Menahan telapak sepatu Hansel dengan kedua lengan di atas kepala.
Grep!
Sementara itu, Saga mengambil kesempatan itu untuk mendekati Barlan. Malahan membuatnya dikeroyok oleh anak buahnya yang berjumlah delapan orang. Menahan setiap pukulan dari delapan orang tidaklah mudah, maka Ia berlari ke arah tangga untuk memancing.
"Tangkep bocah itu!" Ucap Barlan.
Saga memungut tali tambang sambil berlari. Satu anak buah telah mendekatinya, maka Ia melilitkan tali ke leher orang itu membuat simpul pengunci. Tak hanya satu, Saga mengaitkan tali tambang itu ke tiga anak buah Barlan sebelum akhirnya menarik kuat talinya. Dengan cara itu Ia berhasil melumpuhkan mereka, namun masih ada sekitar lima orang lagi.
Bakbukbakbuk!
Di sisi lain, Gigih berusaha memberikan perlawanan dengan pukulan cepat ke seluruh tubuh Hansel. Membuat Han harus memberikan tendangan lurus ke depan menjaga jarak.
Sreek!
Sepintas Gigih terpental mundur meski telah menangkis, gelang di tangannya bergoyang untuk sesaat.
Tak diberi jeda, Han langsung memberikan dua tendangan sekali ayunan kaki, pertama ke arah rusuk samping.
Bek!
Berhasil ditangkis lagi oleh lengan Gigih.
__ADS_1
BLAM!
Lalu tendangan kedua mengarah langsung ke kepala. Gigih mendapat momentum hingga tertunduk ke samping dari tendangan keras itu.
Di sela-sela posisi keadaan setengah berdiri, Gigih memutar badan sembari memberikan tendangan bawah di kala Han tidak seimbang.
BRUK!
Han terjatuh dengan punggung menghantam lantai kasar. Meski Ia terlihat mendominasi pertarungan dengan gerakan-gerakan tak terduga, tetapi dengan cermat Gigih mampu mengatasinya seolah mereka berdua seimbang.
Tenaga Saga telah terkuras, melawan semua anak buah Barlan membuatnya kewalahan. Seolah merasakan adrenalin yang terus memuncak, karena mereka tiada habisnya.
Slep! Slep! Grep!
Di awali dengan seorang anak buah yang memeluk tiba-tiba dari arah belakang, diikuti dengan yang lainnya serempak. Membuat seluruh tubuh Saga terkunci total dikala tubuhnya telah di ujung batas. Selagi mereka memeluk erat menjagai tubuh Saga agar tidak meloloskan diri kemana pun..
Dap dap dap
Barlan melangkah mendekat, perintahnya untuk menangkap Saga berhasil dipenuhi oleh anak buahnya. Walau banyak yang harus terluka.
Sedangkan, Gigih dan Hansel sibuk melakukan duelnya. Lagi pula, Gigih tidak akan membiarkan Han pergi menolong Saga begitu saja.
"Ngapain luka itu lu tutup manset?" Tanya Barlan.
Saga memilih bergeming tak menjawab, hanya menoleh dengan kebencian.
"Setiap liat luka itu lu merasa malu kan?" Imbuh Barlan.
Srek!
Di saat berduel pun, Han sempat menoleh sesekali. Memperhatikan setiap kata yang diucapkan Barlan tentang luka atau apapun itu. Mencoba menerjemahkan dengan intuisinya sendiri.
"Brengsek!" Umpat Saga kesal. "Apa urusannya sama gua njing? Gua pernah bikin salah apa sama lu? SAMPE LU NUANGIN AIR AKI KE BADAN GUA BANGSAT!" Dilanjutkan dengan teriakan pekik.
Barlan menaikan kedua alisnya. "Itu namanya warisan." Balasnya. "Dendam.. karena gua percaya dendam itu bisa diwariskan." Tambahnya.
Jawaban itu membuat Saga memelotot tak terima. "Udah gila lu?"
"Karena lu murid Elang Emas, dan gua pernah dipukulin sekolah lu. Terus sekarang gua bales ke elu." Tuturnya. "Impas kan?
"Lu emang udah nggk waras. Seharusnya gua tau lebih awal." Ucap Saga mencemooh remeh.
Sobtak perkataan Saga, membuat Barlan naik pitam sehingga menjambak rambutnya. "Kalo lu nggk terima, lu bisa ngadu sama senior sekolah lu." Katanya menyarankan. "Bukan ke sini bawa geng goblok lu itu!"
"Jujur gua pengen banget nginjek-nginjek muka lu, Lan. Tapi semua senior gua udah gantung pedang." Sahut Saga serius. "Terus buat apa lu bikin luka kaya gini, Lan?" Ia mengangkat alis dengan kesungguhan bertanya.
"Akhhh.." Cowok bertindik itu menendangi drum besi hingga terguling karena kesal. Ia sungguh ingin menghajar senior Elang Emas, untuk membalaskan dendamnya.
"Lu udah nuang racun itu ke tangan gua. Dan sekarang, gua yang nggk bakalan berhenti ngejar lu. Sampe gua bisa injek-injek muka lu pake kaki gua sendiri." Tegas Saga sungguh-sungguh.
Barlan yang telah mundur berbalik arah. "Lu berani ngancem gua, bocah?"
BLAM!
__ADS_1
Pukulan tiba di tubuh Saga yang telah letih. Tepatnya langsung ke perutnya.
BLAM! BLAMM!
Sekarang Barlan berganti haluan mengincar pelipis Saga berkali-kali. "Pegangin yang bener tai!" Ucapnya pada anak buah gusar.
Grep!
Untuk alasan yang tidak diketahui siku Barlan tertahan ketika ingin memberi pukulan lagi. Sontak membuatnya menoleh ke samping kanan, memastikan dari arah datangnya penghalang itu.
"Lepasin dia." Ujar cowok berambut gondrong.
"Siapa lu?" Tanya Barlan dengan raut congkak.
Situasi itu membuat Saga bertanya memastikan. "Reng?"
Itu Rengga yang sedang menghalau Barlan, Mereka bersamping-sampingan namun arah berdirinya berlawanan. Beririsan dengan siku yang saling menahan.
Set!
Barlan menyentakan tangannya untuk lepas dari kondisi tadi.
BLAMM!
Malahan Rengga memberikan tendangan memotong ke arah perut Barlan tanpa ragu. Barlan yang sedang tidak siap tentu saja merasa kalap menerima tendangan itu mentah-mentah.
Barlan yang masih menahan diri untuk berdiri. Berniat untuk menghantam langsung kepala Rengga dengan kepalan tangannya. Tetapi tiba-tiba Ia terhenti ketika memandangi sekitar.
Apa yang dilihat Barlan, membuat semua mata yang sedang sibuk dengan urusannya juga ikut memandangi sekitar.
Terlihat tempat itu telah dikepung oleh dua puluh orang lebih. Tidak hanya itu, mereka juga membawa senjata beraneka ragam, dari pemukul kasti, balok kotak panjang, celurit, parang, dan paling mengerikan juga ada katana.
"Kalo lu masih mau lanjutin ini, bakal gua ladenin sama semua temen-temen gua." Ucap Rengga mengintimidasi seraya menatap Barlan yang hampir memukulnya.
Perkelahian antara Hansel dan Gigih pun terhenti. Mereka melongo melihat area pergudangan itu telah dikepung oleh banyak orang seperti gangster.
Sadar dirinya dalam situasi terdesak, Barlan memilih berjalan pulang. "Bubar!! lepasin bocah itu." Titahnya.
Maka anak buahnya yang sedang memegangi Saga segera melepaskannya setelah mendengar itu.
"Ayo, Gih. Kita cabut." Titahnya lagi. "Cukup buat malem ini."
Saga terkesima melihat cara Rengga datang. Butuh waktu cukup lama untuknya memahami situasi yang telah terjadi. Ia masih terpaku dalam satu waktu, seolah semua membeku untuk sesaat. Tapi momen itu telah terlewat begitu saja.
Barlan, Gigih, juga semua anak buahnya telah berlalu pergi. Menyisakan Rengga, Hansel, dan sekumpulan orang bersenjata yang tidak diketahui asalnya.
Saga telah gagal dengan penyergapannya, hingga Rengga juga harus turun menggenggam pedangnya. Tetapi bisa dibayangkan jika cowok gondrong itu tidak datang tepat waktu. Mungkin karung akan menjadi tempat pulang Saga lagi.
Hansel, Saga, dan Rengga bertatap-tatapan menelaah situasi.
Rengga menghela napas. "Sok-sok an nyoba bales dendam sendiri. Liat badan lu sekarang."
Sekuyung-kuyung tubuh Saga layu. Lukanya di tubuhnya menggelenyar menyampaikan pedih. Lalu, menutup mata tak sadarkan diri.
__ADS_1
***