
"Hahaha.." Keni terbahak seolah tak pernah terlihat sebahagia itu seumur hidupnya. "Ceritain, La. Kita udah ngapain aja malem itu."
Maka Alvin menoleh kepada Lala, melihatnya lekat menanti jawaban. Apapun itu Ia berusaha untuk siap menerima sesuatu yang terjadi tanpa sepengetahuannya. Jujur, dirinya masih berharap agar semua yang dikatakan Keni tentang Lala adalah kebohongan belaka.
Air mata Lala sudah tak terbendung. "Maafin aku, Alvin." Ia menyeka tangisanya sendiri. "Aku nggk pernah ceritain ini sama kamu atau bahkan siapapun." Meski terus berlaga kuat, Lala tetaplah seorang cewek cengeng bagi Alvin.
Alvin juga seorang cowok perasa, tangisan itu mudah menular tapi Ia berusaha menahan, selayaknya seorang cowok yang menjaga maskulinitasnya. Ia telah memahami sesuatu, bahkan sebelum Lala mengungkapkan semuanya. Pikirannya telah melayang jauh melampaui yang Ia ketahui.
"Keni ngancem aku, Vin." Jelas Lala dilanjutkan dengan pecahnya tangis tersedu. Namun, Ia tetap berusaha menjelaskan sebisanya. "Dia punya foto aku, yang nggk patut untuk disebarin ke mana pun."
Keni terbahak lagi mendengar Lala yang sedang berusaha menjelaskan kebenarannya.
"Diem, Setan!" Alvin menggores sedikit leher Keni mengintimidasinya perlahan.
Tes.. tes..
Lala mencoba tenang, dengan mengusap air mata dari pipinya dengan ibu jari. "Kamu inget kan waktu aku dirundung, dan kamu nyelametin aku di gedung belakang sekolah.. Mereka ngelecehin aku, Vin.. dan Keni fotoin tubuh aku pake hapenya. Aku dijebak, aku nggk ngerti harus gimana."
"Kamu nggk pernah ngasih tau aku soal ini, La. Kamu bohongin aku selama ini?" Tukas Alvin bertanya dengan kecewa.
Sedangkan, Lala mennyahuti tak mau kalah. "Aku nggk bohong. Aku cuma belum bisa jujur sama kamu, Vin."
"Kamu bilang kita bisa mulai jujur dan saling terbuka?" Terkadang, Alvin merasa begitu mengenal Lala. Tapi, sering juga tiba-tiba menjadi sosok asing baginya.
"Kamu nggk ngerti.. aku cuma pengen terlihat sempurna di mata kamu, seperti cewek normal lainnya." Lala masih mengelak terus tak mau kalah dalam hal ini. "Aku nggk mau ngerepotin kamu dengan masalah yang nggk ada jalan keluarnya."
"Itu nggk ngerubah apapun, La. Aku nggk masalah kalo kamu belum bisa jujur sama aku atau apapun. Tapi, gimana aku bisa tau kalo kamu ngelakuin itu dengan atau tanpa perasaan? Sedangkan, aku sekarang berdiri di sini sebagai cowok kamu."
Hening.
Pandangan Alvin kosong, pikirannya terlambat menyadari. Menyadari bahwa Ia sungguh orang yang teramat apatis terhadap banyak hal. Dan juga Lala, ialah cewek misterius yang memiliki tembok tebal untuk ditembus. Suatu ketidakcocokan yang telat Ia sadari pada akhirnya.
"Buat sekarang, kamu bebas marah, Vin. Atau benci aku sekalipun gapapa." Imbuhnya pasrah. "Tapi kalo sampe kamu bunuh seseorang karena aku." Lala menggeleng berusaha membayangkan. "Aku nggk akan bisa maafin diri aku sendiri, Vin." Ia kini menoleh, mencoba menatap meski berbinar. "Aku bakal merasa bersalah, seumur hidup aku."
Perkataan Lala benar, karena amarah telah menguasai pikiran Alvin membuat kebenaran menjadi rancu berwarna abu-abu. Jika Lala terlambat, Alvin telah memisahkan kepala Keni dari badannya sejak tadi.
Meski perlakuan Keni membawa trauma tersendiri bagi Lala. Namun Ia merupakan seorang cewek berhati kapas yang mudah memaafkan.
Emosi Alvin telah terlanjur meluap bak ombak besar yang tak mampu dipecahkan. Ia mendeham, meninju lantai keramik sekuatnya bisa.
BLAM BLAM BLAMM!
Keni terkesima sesat, mendapati keramik di sebelah kepalanya dipukuli hingga retak.
Alvin berhenti dengan napas masih tersengal. Tangannya memar berdarah, dadanya sesak karena mengetahui kebenaran bahwa orang yang Ia cintai telah melakukan sesuatu yang tak pernah terbayangkan oleh siapapun. Rasa kecewa yang besar menimpanya menjadi suatu kemalangan di luar kendalinya.
BHLARRRR!
Kilatan petir menyambar di suatu tempat, di mata Lala cahayanya muncul lebih awal tepat di belakang Alvin. Pertanda awal sebelum hujan deras, angin kencang mendesir di antara mereka yang terdiam.
Kini Alvin berdiri, membuang sebilah pisaunya sembarangan ke arah belakang. Jatuh di salah satu anak tangga menuju atas.
CLANGG!
Menyadari Alvin telah melepas ancaman terhadap dirinya. Maka Keni mencoba bangun, berjalan tertatih untuk kabur mencari bantuan menuju lantai atas. Ia paham telah kalah, dan pilihan terbaik adalah kabur meninggalkan mereka berdua. Merasa beruntung, Lala menghentikan niat cowok sipit itu untuk membunuhnya.
Nyatanya, kecoa mampu bertahan. Tak cuma sekali, bahkan sembilan ledakan nuklir pun tak sanggup membunuh kecoa. Seekor serangga tangguh yang telah ada sebelum manusia.
Tes.. tes.. tes..
Sekujur tubuh Alvin terasa lemas, luka-lukanya mulai menggelenyar memeperingatkan bahwa tubuhnya telah di ujung batas. Dirinya membiarkan Keni menjauh pergi, mungkin dengan begitu lebih baik untuk meredakan amarahnya.
ZHRAASH!
__ADS_1
Kilatan petir biru terlihat lagi merobek langit, disusul dengan suara gemuruh setelahnya. Seolah langit mengerti apa yang dirasakan Alvin, mewakilinya menyalurkan semua perasaan kecewa menjadi gemuruh yang menggelegar.
"Alvin tangan kamu." Lala melihat tetesan darah terus keluar dari telapak tangan Alvin. Maka Ia menghampirinya, menangkap tangan yang tergantung itu. Lala merasa sedih saat melihat lukanya, lalu Ia memandangi sekujur tubuh Alvin yang penuh luka. "Luka kamu parah, Alvin"
Alih-alih menjawab, Alvin tetap menatap kosong ke depan. Tak menggubris apapun yang dikatakan Lala.
Srekk.. Sret..
Lala merobek sedikit kemeja putihnya, maka terbentuk kain panjang darinya. Kemudian melilitkannya di telapak tangan Alvin beberapa kali sebelum mengikatnya agak longgar. Seolah merasakan luka yang Alvin derita membuat air mata Lala tak berhenti jatuh.
Kehilangan banyak darah bukanlah perkara mudah, hal ini bahkan bisa menyebabkan kematian. Alvin mulai sekuyung-kuyung, pandangannya mulai samar, membuatnya mendekati tembok kelas, perlahan bersandar, lalu terduduk di sana. Seolah berkata kepada dunia bawa dirinya ingin melepas lelah untuk sesaat.
Lala mendekatinya, memeluk perut Alvin dari samping seraya menangis dalam. "Kamu jangan berubah.., Alvin. Maafin aku buat semuanya."
***
Tsah! tsah! slep!
Rengga berupaya menghindar sebaik mungkin ketika Jiwo menghadiahinya dengan pukulan dan tendangan terus menerus.
BRAKK
Sebuah kursi besi lipat mudah dihancurkan hanya dengan satu tinju ketika Rengga gunakan untuk bertahan.
"Udah gila lu, Wo? Mau bunuh gua lu?"
"Kalo perlu." Meski tak begitu cepat, namun setiap pukulan Jiwo terasa matang untuk dilempar. Menghasilkan sebuah tinju berdaya rusak tinggi.
"Lu kenapa mihak bocah itu?"
Jiwo memikirkan sejenak. "Gua nggk suka sama cara lu. Gua punya anggapan dia lebih cocok daripada lu dan semua cecunguk lainnya."
"Anggapan?" Rengga menautkan alis. "Lu bertindak sejauh ini cuma karena anggapan?"
Mereka bercakap seraya berbagi pukulan.
"Hah? Maksud lu?"
"Gak usah pura-pura bego. Gua udah tau soal bom itu. Selama gua diem, gua selalu ngawasin pergerakan lu semua." Sahutnya lugas. "Udah gila lu? jadiin murid sekolah sebagai sandera, buat pertahanin kekuasaan lu."
Rengga menyeringai, seolah penjahat yang terbongkar kedoknya. "Kita sama-sama berasal dari jalanan kan? Seharusnya lu paham buat nggk ikut campur urusan orang lain."
Jiwo menggertakan gigi geram.
"Karena ketika lu ikut campur, masalah yang ngikutin di belakangnya, bakal jadi urusan lu juga seterusnya." Imbuh Rengga lagi. "Bukannya, kita bisa terus hidup karena berlaga apatis di jalanan?"
"Mending lu batalin rencana soal bom itu." Himbau Jiwo memberi usul. "Dan soal ikut campur, Kalo semua orang yang hidup di jalanan itu apatis. Lu nggk bakal dipungut sama geng berandalan itu kan?"
Raut muka Rengga seketika berubah. "Kalo gitu kita tunjukin aja. Apa yang udah kita dapet dari jalanan selama ini kan?" Tegasnya menantang. "Sambil kita tunggu bom itu meledak, ngeleburin pikiran orang-orang bodoh yang mereka pikir dunia baik-baik aja." Tambahnya lagi menggila.
Ada batasan Rengga dalam membahas sesuatu. Menurutnya, beberapa hal itu tidak patut dibicarakan selagi terbakar emosi. Ia paham, sebelum hal-hal yang belum bisa Ia kendalikan menguasai tubuhnya, dan menghancurkan sesuatu yang tidak bisa Ia perbaiki lagi.
"Gua nggk nyangka, orang tengil kaya lu masih bisa hidup sampe sekarang di jalanan, Reng."
Mereka berdua memiliki cara sendiri untuk bertahan hidup. Tidak seperti orang kebanyakan, yang masa kecilnya terus disokong oleh uang orang tua. Rengga dan Jiwo bertahan hidup hingga sekarang menggunakan tinju mereka, jalan yang mereka pilih untuk bisa tetap 'mengontrak' di bawah langit ini.
"Gua harus selesain ini lebih cepat." Jiwo meregangkan badannya lagi siap menghajar. "Biar gua bisa urus masalah bom itu sendiri."
***
Mereka masih bertatap-tatapan. Hansel dengan wajah pongah, juga Wijaya memasang wajah cemas, sedangkan Nadir terlihat letih merasa bersalah.
Han melangkah berkeliling Lab. Komputer tangannya bermain, menyentuh ujung meja seraya menerawang kepada mereka berdua. "Rengga bener, dengan nyuruh gua mantau Nadir, dan akhirnya ngebawa gua ke sini, tempat semua masalah berasal."
__ADS_1
"Maafin aku, Jay."
Hening.
Kini Ia berada di pintu Lab. "Pras juga bener, karena sebelumnya gua menilai kalian terlalu rendah."
"Mau lu apa?"
Hansel meringis. "Suruh semua orang lu mundur, termasuk Baskara.. Jangan mimpi bisa ngalahin Saga." Tambahnya menyinyir.
"Kalo gua nggk mau. Terus apa?" Jawab Wijaya menantang memberi penekanan, meski sedang tak memiliki rencana cadangan.
Nadir menyimak, mencoba menelaah perkataan kedua cowok di hadapannya.
"Lu bakalan jalan di atas darah kental pas keluar dari sini. Dan, nyesalin semua yang terjadi seumur hidup lu."
"Ngomong pake bahasa manusia apa. Gua nggk ngerti." Tegas Wijaya.
Hansel menghela napas sebal. "Tolol!" Umpatnya. "Di panggung udah dipasang bom. Pas Saga mencet tombolnya.."
Mereka berdua menunggu kata selanjutnya.
"BUMMM.. Hahahaha." Hansel memperagakan ledakan itu seperti orang bodoh, lalu terbahak memaksa. "Semua penonton di lapangan bakalan mati karena kalian."
Nadir dan Wijaya bertatap-tatapan.
"Kamu bohong kan, Han? Itu cuma akal-akalan kamu kan?" Tanya Nadir tak percaya.
"Terserah lu, mau percaya apa kaga. Pas Saga udah hilang kesabaran, dia bakal mencet tombolnya." Imbuh Han lagi. "Makanya sebelum itu terjadi, tarik mundur semua pasukan lu."
"Jay, sebenernya apa yang terjadi? Ada apa malam ini? Dan soal bom itu?"
Wijaya menggaruk kepalanya, bingung harus mulai menjelaskan dari mana. Jelas Nadir tidak tau apapun, karena pada awalnya Ia pikir semua akan tetap baik-baik saja. "Eee.. Baskara deklarasiin perang sebulan lalu, sebabnya rumit. Tapi intinya, dia pengen ngubah tatanan sekolah ini, kak." Jelasnya singkat.
"Kenapa kalian mulai bertindak kasar sih, saat keadaan nggk berjalan sesuai keinginan kalian?" Nadir merengus kesal. "Semua bisa dibicarain baik-baik kan?" Nadir menyinggung sekaligus mengutarakan perasaannya secara tersirat.
Setelah sempat terdiam meresapi perkataan Nadir, Wijaya terdistraksi oleh pikirannya. "Kita harus kabarin Baskara soal bom itu." Maka dirinya bergegas ke arah laptop.
"Ett.. mau kemana lu?" Han menarik kerah Wijaya. "Sekarang gua tanya sama lu. Mau lu bawa ke arah mana perang malam ini?"
"Gua mau kabarin Baskara du-"
"Lu jangan pergi pas urusan sama gua belum selesai, Bangsat!" Sela Han cepat.
Kini mereka berdua bertatap-tatapan, Wijaya memiliki aura berbeda dari sebelumnya, mentalitasnya kukuh sebagai komandan perang sekarang.
"Kalo gua bisa berantem, udah gua pukul lu daritadi." Wijaya mengeluh kesal. "Gua mau kabarin Baskara dulu, habis itu kita bisa-" Belum sempat Ia menyelesaikan.
PLANGG!
Itu bunyi tongkat kasti padat yang beradu langsung dengan tengorak seseorang.
BRUK!
Wijaya dan Nadir terkejut melihat Han tersungkur tak berdaya. Dan semakin jadi, setelah melihat seorang yang muncul di balik Hansel, raut muka cowok yang marah terhadap dunia.
"Alex?" Ucap Nadir tak percaya.
Alex berdiri seraya memainkan tongkat kasti itu di telapak tangan lainnya. Jelas, tongkat itu milik Wijaya, cowok itu memungutnya dari pintu. Setelah berdiri terlalu lama, Ia meludah sembarang.
"Cuih.."
Alex merasa jijik, sungguh kebencian yang tak mampu terbendung. Meski tak secara langsung berniat menyakitinya, tetapi setiap melihat Wijaya, dirinya selalu ingat bagaimana Nadir mengelabuinya. Alex merasa tak berarti begitu mengingatnya kembali. Ditambah lagi, hubungannya dengan Nadir sudah terlampau kandas. Membuat Alex semakin terjerembab dalam kebencian tak terukur.
__ADS_1
Kini Alex menyeringai menatapi mereka berdua satu per satu, seolah siap melakukan hal-hal tak terduga.
***