Baskara : Liberation

Baskara : Liberation
Chapter 7; Pertemuan.


__ADS_3

Kosan.


"Aww.." Nadir menahan perih.


"Tahan dulu yah." Wijaya memegang kapas yang telah diberi alkohol, menyeka luka lecet dilutut Nadir.


Tentu saja luka memarnya juga mulai terasa sakitnya disekujur badan.


"Kamu gimana?"


"Aku gapapa. Yang penting kita rawat luka kamu dulu ya. Tadi kamu susah jalannya kan."


Wijaya membuka gulungan kain kasa, memotongnya bersama perekat, menempelkannya untuk menutup luka Nadir sementara waktu.


"Kamu boleh nginep sampai pulih."


"It's okay. Aku cuma lecet sedikit aja. Luka memar kamu parah biar aku liat." Ucap Nadir khawatir.


"Tapi kamu berdiri aja susah. Apalagi mau beraktivitas. Aku rawat kamu disini yah."


Nadir merasa sungkan. Merepotkan orang lain untuk merawatnya membuatnya berutang budi. Dan, membalas budi bukanlah perkara mudah. Tetapi, Ia mencoba mengiyakan. "Okey. Tapi aku mau ngerawat kamu juga. Kita bisa saling ngerawat. Buka baju kamu sekarang biar aku liat."


Wijaya membalik badan membuka bajunya.


Nadir memberikan perekat pereda nyeri dibagian yang memar membiru. Ia ingin merawat adik kelasnya juga untuk menebus rasa bersalahnya yang mungkin tidak sepadan dengan sudah yang terjadi.


***


Alex yang tak sadarkan diri dibopong menuju markas Elang Emas. Beberapa bagian persendiannya cedera, beruntung Ia masih hidup. Mengingat setelah jatuh dari ketinggian lima meter bukanlah hal yang bisa disepelekan.


"Alex kenapa?" Pras mengerutkan dahi tidak percaya. Melihat keadaan temannya itu tentu saja Ia merasa prihatin. Meski agak ketus, mereka tetaplah sesama petinggi. Dan juga tanggung jawab Pras sebagai tim keamanan memastikan asalnya ancaman.


"Berantem, Bang. Di Stasiun tadi."


Fara yang sedang asik bermain hape terusik. Membuatnya menghampiri mereka.


"Sama siapa?"


"Murid kelas satu, Bang. Kita nggk tau namanya."


"Kondisinya sampe babak belur begini." Sela Fara khawatir. "Bawa ke ruangan gua. Biar gua rawat."


Mendengar itu, mereka membopong Alex diruangan medis. Memang tidak lengkap peralatannya. Tapi cukup untuk merawat orang yang luka setelah berkelahi.


Sebagai ketua tim medis di organisasi Fara bertugas mengurusi hal seperti ini. Biasanya hanya mengobati murid yang terluka akibat dirundung, ada pula karena dihadang sekolah lain.


Setelah memperhatikan sekujur tubuh Alex. Ia menyeka darah, memplester luka lecet, pertolongan pertama yang bisa diberikan.


"Gimana, Far. Kondisi Alex?" Pras bertanya.


"Lumayan parah, Pras. Beberapa persendian membiru juga punggung, dan kepala. Mungkin ada tulang yang retak, tapi nggk ada dislokasi setau gua. Tapi tetap harus dironsen."


"Kita harus gimana?"


"Pras, lu siapin kayu, kain, sama es batu. Kita harus lakuin sesuatu."


Pras mencari barang yang dibutuhkan Fara digudang. Lalu, membawanya satu per satu.


Setelah dibantu Pras melakukan pembidaian. Fara membungkus es batu dengan handuk lalu, menempelkan ke bagian memar ditulang rusuk dan kedua lengan yang diduganya mengalami peradangan syaraf. Itu dilakukannya untuk mengurangi pembekakan dan meredakan rasa sakit.


"Kita perlu lapor ketua, Pras?"


"Gausah. Biar gua yang urus."


***


Nadir membuka matanya. Ia terbangun diatas dipan kasur berselimutan. Menerawang seraya mengusap matanya.


Dihempaskannya selimut yang membungkusnya. Melangkah menuju westafel sebisa-bisanya. lalu membasuh wajahnya dengan air.


Pintu berderik. "Aku udah siapin sarapan untuk kamu. Ayo kita makan bareng."


Nadir menoleh. Tersenyum.


Wijaya menghampirinya. "Aku bantu jalan yah."


"Gapapa. Aku bisa jalan sendiri, Jay."


"Tapikan-"


"Aku mau coba dulu." Selanya.


Nadir mencoba berjalan ke meja makan. Meski sedikit memaksa namun sepertinya sudah lebih baik. Wijaya menjagai dibelakangnya kalau saja Nadir terjatuh.


Mereka sarapan pagi bersama dengan nasi omelet dan tempe goreng.


"Aku mau liat keadaan Alex." Kata Nadir tiba-tiba. "Semalem Fara nelfon aku."


Wijaya menatap bingung. "Setelah apa yang dia perbuat. Kamu masih khawatir sama Bang Alex?"


"Kamu nggk ngerti."


"Gimana maksudnya?"


"Pokoknya Aku mau jenguk Alex." Tegasnya. "Makasih kamu udah ngerawat aku."


"Iya tapikan kondisi kamu. Biar aku antar ya."

__ADS_1


"Aku gapapa. Nanti Fara jemput Aku kesini."


Wijaya menghela nafas. Tak mampu menahan Nadir untuk pergi.


***


Rumah sakit.


Kondisi Alex masih juga belum siuman dari tidurnya. Semalam mereka memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit terdekat. Benar saja analisa dari Fara tentang semuanya, beruntung masih sempat diberikan pertolongan pertama dengan benar. Semua tulang dibadan Alex telah di ronsen, tidak ada dislokasi, hanya retakan dibeberapa bagian. Agar Ia membaik kini dirawat di unit gawat darurat. Dengan tambahan suplai oksigen dihidung dan infus ditangan untuk mencukupi cairan tubuh Alex, juga elektrolit.


Pras masih tidak percaya atas apa yang telah menimpa temannya, Alex. Ia tau betul Alex tidak selemah itu. Tak pernah terjadi sekalipun terjadi hingga seperti ini.


Alex selalu dikelilingi anak buah disetiap kepergiannya. Pras membandingkan dengan dirinya yang lebih suka bekerja sendiri. Seberapa kuat murid kelas satu yang berkelahi dengan Alex? Apakah Ia mampu jika harus berhadapan satu lawan satu?


Ia gusar selama menjaga temannya sepanjang malam. Merasa khawatir juga karena belum siuman hingga pagi ini.


Hapenya berdering.


[Panggilan masuk Fara]


"Gua lagi dijalan nih. Bentaran ya." Kata suara diujung telfon.


"Ia kalem aja. Tapi Alex belum juga sadar, Far."


"Yaudah gausah diganggu, jangan dibangunin. Gua jemput Nadir sekalian."


"Ohh oke.. Hati-hati."


"Bye.. gua tutup ya."


Telefon berakhir.


Fara berjanji akan bergantian menjaga Alex pagi ini. Mengingat lukanya yang lumayan parah. Meski kini telah dipasangi infus. Mereka pikir harus ada orang yang menjaganya, apabila perlu sesuatu.


***


"Lo ngapain sih masih bertahan sama cowok kasar kaya gitu?"


"Karena Aku sayang sama Alex."


Fara memutar mata sebal.


"Lu nyia-nyiain waktu hidup lu tau ga."


Blablablabla


Selagi terus mengoceh. Nadir memilih diam tak mendengar ocehan temannya. Ia lebih khawatir akan keadaan pacarnya. Ia juga bersyukur, bahwa Alex masih hidup.


Fara mendorong tuas persneling. Mobilnya melaju pelan ditengah kemacetan kota Jakarta.


"Nad, lama-lama lo bisa mati kalo gini terus."


"Setiap orang bisa berubah lo tau itu kan. Dan itu terjadi sama Alex." Lanjut Fara.


"Gimana kalo nggk ada orang yang bisa nerima Alex didunia ini, Far?"


Hening.


"Itu bukan tanggung jawab lu lah!"


"Alex cuma kesal aja sama hidupnya yang berantakan. Sebenarnya dia cowok yang baik. Meski begitu, masih ada diri Alex yang dulu."


"Lo udah setahun lebih pacaran. Dan akhir-akhir ini sering diperlakuin kasar. Setiap kali lu cerita kalo dia abusive gua yang gondok, Nad."


"Aku percaya bisa merubah dia jadi cowok yang baik."


Mobilnya kembali terhenti macet.


"Seperti dulu lagi." Lanjut Nadir.


"Lo harus sadar kalo lo ga bisa ngerubah orang semudah itu."


"Entah itu tiga tahun, atau sepuluh tahun sekalipun. Aku akan sabar nemenin Alex, dan nunggu dia sampai berubah." Kini Nadir serius menatap Fara dalam-dalam.


Fara menoleh sejenak. Lalu, kembali fokus menyetir. "Emang jadi gila ya orang kalo lagi jatuh cinta." Menurutnya berharap kepada seseorang adalah hal merepotkan. Apalagi bila kebahagiaannya ditentukan oleh orang lain.


"Terserah lu, Nad."


Ketika seseorang jatuh cinta sering terpikir bahwa semua yang telah terjadi ialah takdir, dan tidak bisa hidup tanpa salah satunya, melewati batas rasionalitas. Tapi Ia percaya itu hanya persepsi rapuh yang dipaksakan oleh seorang yang berharap dalam kepalsuan.


Karena nyatanya, realita sering berjalan diluar kendali masing-masing penerima takdir. Dan sedikit orang yang sanggup menerima kebenaran itu.


***


Toko kopi.


Baskara memasukan biji kopi kemasan kedalam keranjang bersamaan dengan sirup vanilla. Tak hanya menjual bahan dasar untuk kedai kopi. Disini juga menjual alat-alat kopi dari yang manual hingga mesin otomatis. Adapula kafe disamping toko itu berbentuk kontainer berwarna hitam doff dengan kaca sliding.


Setelah itu Ia menenteng keranjang menuju kasir. Tak lupa meminta nota untuk laporan pembelanjaan bahan.


Merasa kurang semangat hari ini Baskara memutuskan untuk mengopi sejenak seraya menenangkan diri dikedai samping toko.


Ia memesan kopi pahit kesukaannya, yaitu; Iced Americano tanpa gula. Lalu, duduk dikursi bartender. Meski sebagai pembuat kopi Ia pun masih ingin mencobai kopi buatan orang lain.


Sebenarnya Ia masih memikirkan kejadian semalam. Merasa bukan dirinya seperti biasanya. Ia tidak bisa mengendalikan diri ketika kekuatan besar itu muncul. Terbesit pukulan yang Ia lontarkan hingga membuat suara 'KREK!'.


Membuatnya meragukan diri sendiri. Baskara sering memilih untuk tidak berkelahi disetiap kesempatannya. Ia berjanji kepada dirinya sendiri bahwa kejadian itu takkan terulang lagi. Terpikir, dirinya yang sering menahan diri membuatnya seperti itu. hingga ketika suatu waktu benteng penahan itu hancur juga dan sekejap mengalirkan air deras yang sulit untuk dibendung kembali.

__ADS_1


Terlintas lagi 'BLAM!' Tendangan yang membuat lawannya terjatuh itu.


Baskara menggeleng berusaha mengalihkan pikirannya atas hal yang mengganggu benaknya pagi itu.


Ia berjanji kepada dirinya sendiri bahwa kejadian itu takkan terulang lagi. Ia hanya ingin melindungi tanpa melukai siapa pun. Meski itu terdengar mustahil.


Terdengar petikan melodi gitar seraya menggeming mencari nada. Ia menoleh kebelakang dari sumber suara itu berasal.


Seorang gadis terduduk dikursi memainkan gitar, dengan meja bundar didepannya juga dengan kopi.


Pandangan Baskara tak membuatnya berhenti bermain. Kini Ia mulai memasukan liriknya mengikuti nada.


^^^Kulihat lagi matamu^^^


^^^Yang melihatku tulus^^^


^^^Kehangatannya menyusup^^^


^^^Menuju dasar hati yang kering^^^


^^^Kau menahan semua kebebasan^^^


^^^Memeluk duri kepahitan sendiri^^^


^^^Sanggup berdiri dan melangkah^^^


^^^Menghangat bersama diriku^^^


^^^Ohh bersama diriku..^^^


^^^Bersamaku..^^^


Kini kepalanya dipenuhi dengan resonasi suara petikan gitar juga lirik yang mudah untuk diikuti. Teralihkan dari pikiran yang menghantuinya sejak semalam.


Kedai sedang sepi pagi ini. Pelanggan hanya mereka berdua. Jelas saja karena memang masih pagi.


Ketika membuka mata Melody terkejut seorang cowok sedang memperhatikannya. Sontak langsung memalingkan wajah salah tingkah.


Baskara masih terkagum karena permainan gitar itu. Karena melihat Melody menyadari kehadirannya. Ia pun menghampiri meja cewek itu.


"Suara kamu merdu, juga liriknya bagus."


Melody yang tak terbiasa dengan pujian bingung harus merespon seperti apa. "Makasih." Jawabnya acak.


"Kamu sendirian disini?"


"Iya."


Baskara melihat kopi diatas meja milik Melody. "Suka Americano juga?"


"Hmm.. suka. Karena menurut gua dasarnya kopi emang rasanya emang kaya gini."


"Setuju banget!"


"Selera kita sama dong."


"Iya Americano terbaik menurutku."


Mereka terkekeh berbarengan.


Sedikit mengobrol mengenai kesukaan terhadap perkopian. Melody menilai baik cowok dihadapannya, jarang Ia bisa tenang seperti ini berinteraksi. Menurutnya seorang cowok didepannya memiliki aura yang berbeda, aura yang seolah membuat nyaman orang disekitarnya.


"Gua cabut dulu ya." Kata Melody seraya berdiri.


"Kemana?"


"Gua kerja part time dikedai ini sebagai pemusik. Gua harus prepare dulu buat perform sebentar lagi."


"Ohh gitu." Mendengar itu Baskara terpikirkan ide yang bagus. "Gimana kalo lu perform juga dikedai gua?" Ia memulai untuk berbicara santai.


"Ide bagus!" Tentu saja itu membuat Melody senang. Ia membutuhkan tempat untuk mengekspresikan diri. Aura itu telah menariknya menjadi lebih dekat dengan Baskara.


"Gua minta kontak lu ya."


Melody mengiyakan lalu mengejakan nomor hapenya.


"Siapa nama lu?"


"Melody."


"Oke, Melody. See you.. "


Entah mengapa didepan Baskara. Melody merasa tenang. Mengingat Ia seorang yang ketus dan sulit berteman. Mungkin karena pujian yang tidak pernah Ia dapat dari orang lain. Membuatnya merasa bermakna.


"Eh kalo nama lu siapa?"


"Baskara.."


Baskara menyesap sedikit kopinya. Dan segera bergegas seraya menenteng bawaannya.


Pulang.


***


Pesan singkat muncul dihape Lala. Dari nomor asal yang tidak disimpan namanya.


[Gua tunggu lu dihotel jam 11 malam ini.]

__ADS_1


***


__ADS_2