Baskara : Liberation

Baskara : Liberation
Chapter 45; Ikarus.


__ADS_3

[WARNING!! CHAPTER INI BERISI KEKERASAN FISIK, MENTAL, JUGA KRISIS KEYAKINAN. DIMOHON KEPADA PEMBACA UNTUK LEBIH BIJAK, DALAM MENELAAH ISI BACAAN, TERIMAKASIH.]


***


Saat seseorang depresi, merenung bersama diri sendiri merupakan saat paling rentan. Karena menangani tendensi aneh bukanlah hal mudah. Menyadari terpaan kehampaan tak bertepi, juga semua pencapaian tidak berarti lagi.


Alex berdiri di sisi pinggir atap sekolah, membiarkan angin berhembus menerpa wajahnya. Tatapan kosong yang tak melihat kemanapun, seakan Ia tidak peduli lagi, meski dentuman keras terdengar nyaring di lubang telinganya.


"Kupikir aku akan menghilang suatu hari nanti."


Alex melihat dunia dengan cakrawala yang berbeda, setiap sudut dunia seperti terbakar api hitam yang terus menyakiti dirinya. Setelah mengembara tanpa arah, semesta mengecil tak memberinya ruang untuk bernafas lega. Semua pintu kebahagiaan telah direnggut paksa dari genggaman tangannya. Hatinya terasa kosong, sedalam apapun mencoba menggali hanya menemukan serpihan kenangan pahit yang terus ingin dipaksa lupa. Hati yang suci perlahan berubah menjadi kelabu.


Ia merasa meragukan hidup, dan terus bertanya-tanya sambil menunggu mati. Ia juga bingung dengan yang dialami. Ketika kesedihan tak sanggup dirasakan, Alex mulai berpaling pada kebencian yang teramat dalam.


"Kamu hebat, Lex. Bisa bertahan hidup sampe sejauh ini." Seolah suara bisikan yang menyerupai kakaknya membalas kata hatinya. "Kamu nggk perlu lari, kamu boleh jalan, selagi jalan ke depan.. pelan sekalipun gapapa, dan bisa istirahat kalo lagi capek."


Seketika air matanya menetes dipandangan yang tak terarah itu. Tetesan itu menguap terbawa derasnya angin di antara kekosongan malam bertepian langit hitam. Tak disangka, beribu doa dan kebohongan telah diucap untuk bisa hidup hingga selama ini.


"Kakak bangga sama kamu." Suara itu muncul lagi, dan Alex tidak dapat membedakan realita dan delusinya. "Andai kakak bisa dampingin kamu untuk terus hidup, tapi kakak nggk bisa."


Alex merasa, semua yang dilakukannya akan terlupa, termasuk juga dirinya itu sendiri. Pun, dirinya sendiri akan lupa terhadap apa yang telah Ia lakukan di dunia ini. Ia tak menemukan satu alasan pun untuk bertahan di tengah dunia yang penuh kekhawatiran ini, semuanya nihil.


Pikirannya melayang terbawa delusi tak berujung. Membawanya kepada sebuah penglihatan tentang penciptaan dunia. Ketika semua tercipta begitu saja, tanpa ada entitas lain yang menciptakannya. Lalu dunia berjalan sesuai seharusnya. Membuat zat-zat ajaib berevolusi menjadi sesuatu yang lebih besar untuk saling mendominasi satu-satunya dunia yang terbatas akan sumber daya.


Alex kembali lagi dalam renungannya, Ia telah berkelana lewat lautan kelabu, dan merasa dunia ini sungguh indah tetapi terasa tidak adil. Ia meragukan entitas Tuhan Sang Pencipta yang telah lama berpaling meninggalkan dunia. Ataukah Dia memang tidak ada? 'Jika ada, pastilah Tuhan tidak akan membiarkannya jatuh ke dalam lubang yang penuh ular ini,' pikirnya. Kenapa semua cobaan terpaut melebihi batas kemampuannya, bahkan tanpa memberikan satu pertolongan pun?


Dunia tercipta karena kecelakaan kosmik belaka. Bahkan konstelasi bintang tak pernah berniat menjawab tentang ramalan atau apapun. Tak perlu ada yang diharapkan, tentang perlindungan atau takdir yang telah tertulis, Alex menyadari lagi bahwa semuanya nihil, terjebak dalam siklus fana tak bermakna.


Yang Alex tau, semesta telah merenggut satu-satunya penolong sekaligus alasannya untuk bertahan hidup, Nadira Amira.


Apa yang orang sebut sebagai takdir, telah memisahkannya dari cinta untuk selamanya, juga memisahkannya dari kebahagiaan, dan memberinya kesedihan mendalam.


Alex merupakan seorang pendiam yang tak pernah terbuka dan bercerita kepada orang lain tentang masalah atau apapun, antara itu diselesaikan ataupun Ia menjauh dari itu. Hari-harinya terasa panjang, semua tak ada artinya ketika pencapaian telah tak berarti dan semua orang seakan hanya mengharapkan dirinya baik-baik saja.

__ADS_1


Hatinya telah terlanjur berdebu, menunggu tercapainya sebuah harapan.


Ia berjalan sendu, memandang Nadir sebagai sesuatu indah di matanya. Namun semua yang dilihatnya hanyalah kepalsuan sandiwara yang tidak diketahui pemeran utamanya.


Dap dap dap


Kini seakan-akan sesuatu muncul dari sisi lain, dan membawanya pergi. Menuju jurang kekelaman tak berdasar. Alex sungguh masih mencintai Nadir, tetapi separuh hatinya berkata untuk membenci. 'Akankah kisah berakhir seperti ini? Lalu harus dibawa kemana langkah kaki ini?'


"Alex?" Terlintas suara Nadir bersandingan dengan suara pekik tangisan. "Kamu mau bunuh diri? Kalo kamu gagal, kamu bisa cacat selamanya. Dan kalo berhasil, aku akan sedih karena kehilangan kamu."


Kali ini Alex sadar itu hanya delusinya, Nadir takkan mungkin mengatakan hal seperti itu. Karena sejauh yang Ia ingat, Nadir sangat membenci dirinya melebihi apapun. Maka, Ia berusaha membenamkan wajah Nadir ke relung hatinya paling dalam.


Ia sadar harus mulai berpamitan dengan semua mimpi-mimpinya. Mengikhlaskan diri, untuk apapun yang akan terjadi setelah ini. Jika ada akhirat setelah kematian, maka Ia siap memekikan tangis di tengah monster-monster penyiksa labirin neraka.


"Jagalah aku selamanya."


Dan, Jika reinkarnasi itu ada, Ia berharap bisa memulai hidup dari tempat seharusnya, lalu mengupayakan hidup lebih keras dari sebelumnya.


"Ambilah hatiku, dan semua yang kumiliki."


Alex ingat bahwa tidak memiliki banyak waktu, kemudian Ia memejamkan matanya. Melangkah menuju tepian dengan pasti, lalu berharap terjebak dalam celah realitas sampai Ia berhenti berpikir sepenuhnya.


Dap


Akan tetapi, setitik keraguan membuat Alex terhenti. Ia berniat memastikan, seberapa sakit rasa yang akan Ia terima. Maka, Ia mengeluarkan pisau belati miliknya.


CRETTTT!!


Ia menahan diri untuk tidak berteriak, sayatan di lengannya sungguh terasa perih. Namun, rasa sakit di relung hatinya masih jauh melampaui itu.


Tes tes tes


"Pftttt.." Alex menahan tawa tak terduga. "Hahahahaha.." lalu terkekeh hingga memukuli lantai atap.

__ADS_1


Pikiran berlebihan telah menyita sebagian kewarasannya. Ia tak mampu membedakan, caranya mengekspresikan kesedihan ataupun kebahagiaan.


JRREEEB!


Alex menusukan belati ke bagian perutnya, persis seperti yang Ia lakukan pada Wijaya. Alih-alih memekik kesakitan, Ia malah terbahak tak terkendali. Iri hati beserta dengki, memenuhi kantung hati jika mengingatnya.


Ia melangkah tertatih, seraya menusukan pisau itu berkali-kali di bagian yang sama. Darah menetes deras mengiringi langkahnya.


JRREB! JRREBB!


Terpikir sesaat oleh Alex, jika Tuhan tidak muncul menyelamatkannya saat ini. Maka diri-Nya memang tak pernah mengamatinya, atau bahkan tidak ada. Ia berteguh untuk menguji keberadaan Tuhan. Lagipula, jika Tuhan sedang bersemayam di tempat terindah, untuk apa Dia turun ke dunia yang fana ini?


Kota ini disesaki gedung tinggi congkak yang ingin mencapai Tuhan. Meski telah setinggi itu, tetapi tak mampu mewujudkan utopia nyaris sempurna yang pantas didamba. Lidah kering penuh bualan ini tak lagi memohon. Bahkan, tangan lunglai penuh iritasi ini juga tak dapat mengais sampah lagi di tepiannya. Berpura berlagak kuat, lalu lenyap menjadi ilusi yang terdistraksi. Tak satupun yang mencapai tujuannya.


'Untuk apa kupertahankan tubuh yang perlahan memudar dan bisa hancur kapan saja?' Pikirnya.


Alex membayangkan semua gambar di benaknya dari sekarang sampai selamanya. Tak seperti badut yang ingin dicintai semuanya. Justru Alex ingin ditinggalkan sendiri, jika memang tak satu pun yang bisa menerimanya. Meski Ia sadar, tak seutas janji pun yang bisa dipenuhinya lagi setelah ini. Tak ada yang lebih buruk, selain membasahi malam dengan sebuah tangisan tak berbalas.


"Kak Laras, maafin aku karena nggk bisa hidup seperti yang kakak mau."


Maka, Alex melompat dengan wajah berseri tanpa beban ataupun hambatan. Ia terasa memiliki sayap dikala memeluk udara, kemudian berusaha mengepakannya. Akan tetapi, sayap itu perlahan meleleh karena keinginannya yang tinggi hingga mencapai matahari.


BRUUAKKKK!


Malaikat maut pun keheranan melihat seorang manusia yang diberi kehendak bebas dan banyak pilihan. Namun merelakan hidup untuk berjalan diterowongan penyesalan yang amat panjang. Meski mendadak, namun Ia tetap menjemputnya dengan penuh sukacita.


Mereka bilang, bisa hidup tanpa perasaan, mungkin karena belum pernah merasakan yang namanya penderitaan, hidup terkekang, dan tanpa kebebasan. Meski semua orang memiliki takdir yang berbeda, namun semua juga memiliki hak yang sama untuk merasa bahagia.


Alex seakan tertawa melihat mayat yang tak bisa menjadi siapa-siapa lagi. Meski Ia telajang, dan orang-orang bergunjing melalui perkataan dangkal menyedihkan, Alex takkan merasa malu lagi.


***


"Seseorang harus mati dengan bangga, ketika tidak mungkin lagi hidup dengan bangga." Friedrich Nietzsche.

__ADS_1


__ADS_2