Baskara : Liberation

Baskara : Liberation
Chapter 46; Berita Duka.


__ADS_3

[Suhu tiba-tiba turun pagi ini. Setelah hujan turun kemarin, peringatan suhu dingin juga diberitakan di area metropolitan. Suhu Jakarta pagi ini minus satu derajat celcius, jauh lebih dingin daripada kemarin.]


[Guncangan bom terjadi lagi di Jakarta, namun kali ini meledak di sebuah Pensi sekolah. Dentuman keras terdengar, satu mayat korban dengan luka mengenaskan ditemukan seratus meter dari lokasi ledakan.]


[Di tempat yang sama, ditemukan puluhan korban luka-luka akibat tawuran internal geng sekolah. Belum diketahui keterkaitan antara ledakan bom dan tawuran, namun yang pasti polisi dan rumah sakit setempat bekerja keras untuk membenahi para korban dan mengamankan pelaku tawuran.]


Suatu peristiwa tidak terjadi secara acak, atau mungkin berdiri sendiri tanpa ada faktor lain yang menyebabkannya. Jika dirunut, dengan kata lain, kejadian-kejadian dalam hidup merupakan rantai konsekuensi dari serangkaian tindakan panjang yang sebelumnya telah berkombinasi. Dan, juga disertai pilihan-pilihan hidup orang sekitar yang tidak dikenal sekalipun, hingga menjadi mata rantai peristiwa yang terus bersambung. Karena setiap manusia memiliki keterkaitan samar yang sulit untuk diselami.


Baskara terus tenggelam dalam penyesalan, matanya seakan tak lagi bernyawa. Tak ada yang berani menanyainya kabarnya, entah itu Alvin, Lala, maupun Wijaya. Baskara sungguh merasa terpukul, karena kematian Melody. Lantaran, Ia juga mengambil peran dalam penyebab ledakan bom itu terjadi.


Andai saja, kala itu, Baskara memilih menyerah, dan mengikuti perintah Saga untuk membunuh dirinya sendiri. Pastilah Melody masih hidup, sebagai ganti kematian Baskara.


Jam bergerak lebih cepat daripada kesadaran, sehingga lebih sulit lagi untuk memperbaiki hal yang benar-benar tak bisa dibenahi lagi. Sedangkan, penyesalan hanya memperlambat waktu, dan tak pernah mampu memutar balikannya lagi seperti sediakala, meski sangat-amat menginginkannya.


[Menurut rumor yang beredar, Melody Kartika -murid kelas satu SMA Elang Emas-, Ia mengorbankan dirinya dengan membawa delapan bom rakitan seorang diri, setelah sebelumnya sempat menghimbau murid lainnya untuk membubarkan diri. Namun, tidak satu pun mempercayainya.]


[Ini berkaitan dengan penemuan mayat wanita sebelumnya. Setelah diidentifikasi, Tim Forensik menyatakan bahwa itu merupakan Melody Kartika, murid kelas satu SMA Elang Emas.]


[Sebagian menyebutnya penyelamat ratusan nyawa, beberapa lagi menyebutnya sebagai pembuat keributan. Manakah yang sebenarnya?]


Untuk tiga hari, Baskara masih belum menampakan batang hidungnya. Itu hanya berita yang silih berganti di saluran televisinya. Membuatnya teringat pada dialog terakhirnya pada 'Pensi Kelabu'. Begitulah orang-orang menyebutnya, karena akan selalu ada yang menamai setiap tragedi di seluruh bumi.


***


Kilasan balik Pensi Kelabu.


Setelah sempat memuntahkan benda aneh dari tenggorokannya, Baskara mengikat Saga, Rengga, dan beberapa anggota organisasi berpengaruh. Ia berniat menyerahkannya, bersamaan di saat polisi datang. Sebelum Ia bersama teman-temannya, pergi meninggalkan medan perang yang telah cerai berai ini.


Beberapa murid tidak mengerti sesuatu yang telah terjadi. Semua berlalu cepat saat mereka menikmati banyak hal menyenangkan, sampai dentuman keras terjadi.


Tiba-tiba, Jiwo hadir dalam jangkauan mata Baskara, dihiasi kepulan asap tipis sebab ledakan tadi. Semua yang menyadari hal itu, seketika menjauh seolah tak mau tau apapun. Termasuk Alvin, Lala, juga Nadir.


Mata mereka bertatapan bak dua inti atom yang siap bereaksi menjadi fusi nuklir. Tak ada yang memulai dialog, mereka hanya saling menunggu untuk siapa yang akan menjelaskan lebih dulu.


Hening.


"Melody udah nyelametin kita semua, Bas." Ungkap Jiwo memecah kecanggungan. "Dia berkorban demi hidup banyak orang."


Sedangkan, Baskara kian menunjukan tatapan tak bersahabat.


"Dan sekarang, lu bakal dapet terpaan angin yang lebih kencang lagi daripada badai malam ini." Jiwo terus berusaha menenangkan Baskara karena tatapannya itu. "Selamat, Bas. Lu udah jadi penguasa di sekolah ini."


Tap


Maka Jiwo menepuk bahu Baskara sebagai tanda keakraban. Alih-alih berterimakasih atau membalas budi karena telah dibantu memenangkan perang. Namun, Baskara menepis dengan sisi luar telapak tangannya. Lalu memberikan kuncian pelumpuhan hanya dengan memutar pergelangan Jiwo.

__ADS_1


Tsah!


Di kala badannya membungkuk, Jiwo tak berusaha mengelak sedikit pun. Tak seperti Saga yang kalap, Jiwo justru tak terlihat kesakitan sama sekali, hanya menunjukan raut pasrah penuh ketenangan.


Baskara memelotot tanpa penjelasan, Ia merasa hancur lebur karena berita duka tentang Melody. Ia sungguh menghormati kesucian hati cewek garang itu untuk berkorban. Namun, Jiwo-lah yang membawa Meldoy terpojok di situasi itu. Baskara sangat-amat yakin, Jika boleh memilih, Melody tidak akan mau berada di situasi yang terlanjut Ia tangani itu.


"Lu mau lanjutin perang yang udah terlanjur keruh ini?" Tanya Jiwo menantang, lalu memberikan tatapan intimidasi tanpa rasa takut.


Jika diperhatikan dan dikira-kira, kondisi Jiwo lebih lemah daripada Baskara. Karena luka tusukan di perutnya yang hanya dibendung oleh kain saja. Sedangkan, Baskara hanya kelelahan karena amukan iblis dalam dirinya itu.


"Keparat!" Umpat Baskara tak tertahan.


KLEK!


Raut Baskara seketika berubah, karena bahu Jiwo patah bukan karena dirinya, melainkan Jiwo sendiri yang melakukannya demi meloloskan diri dari situasi itu, tanpa mengerang kesakitan sedikit pun.


BHUAAAAKK!


Jiwo memberikan satu pukulan pamungkas dengan tangan lainnya. Alhasil, Baskara terjungkir beberapa meter karenanya.


"Cuih." Ketika mendarat, Baskara meludah tak terima, kemudian menyeka mulutnya. Ia bangun lagi, menghampiri Jiwo dengan segenap tenaga yang dipunya. "Hyaaaaa.."


BLAM!


Cukup sulit bagi Baskara untuk menjangkau wajah Jiwo karena tinggi mereka yang berbeda. Oleh sebab itu, Baskara sedikit melompat untuk mencapainya.


BHUAAAAKK!


Darah segar seketika muncrat dari mulut Baskara yang diberikan pukulan langsung ke arah perutnya. Ia terguling-guling di antara reruntuhan. Cukup perih jika dirasakan secara sadar.


Kebencian Baskara tidaklah kandas jika hanya dipukul seperti itu. Baginya, tak apa jika Ia harus mati saat melawan Jiwo, karena itu sepadan, daripada harus hidup kesepian penuh penyesalan. Maka Ia bergegas bangun dan memulai baku hantam lagi.


Bakbukbakbuk!


Jiwo yang penuh luka itu membiarkan tubuhnya dihujani pukulan serampangan tak berarti. Dalam momen ini, Jiwo diam-diam mengamati pergerakan mata Baskara dan mencoba memahaminya. Seolah tatapan itu meresap dan Jiwo mampu merasakan, apa yang Baskara rasakan setelah kehilangan Melody.


Sedangkan, Baskara pun belum mampu mengendalikan iblis hitam yang membantunya melibas Saga tadi. Ia membenci dirinya sendiri, karena harus berupaya keras menembus zirah tak kasat mata milik lawannya. Ia memalingkan fakta, bahwa Jiwo-lah sosok berpengaruh yang membantunya mencapai kemenangan malam ini.


"Hyaaaaaa!!"


Jiwo tetap berdiri tegap, meski satu lengannya telah patah juga perutnya terkena tusuk. Dengan begitu, Ia telah menunjukan perbedaan kemampuan antara mereka. Jika dilihat secara langsung, itu seperti pertarungan Daud melawan Goliat. Bedanya adalah, tidak satupun dari mereka yang disertai oleh Tuhan.


Grep!


Kaki Baskara mengambang di udara, karena celah lehernya dicengkeram erat oleh Jiwo. Napasnya mulai tertahan karena cekikannya, sekuat apapun Ia mengkoyak lengan Jiwo, itu tetap tak mampu untuk menghentikan apa yang ingin dilakukannya.

__ADS_1


"Gua tau, seberapa besar kebencian lu sama gua." Ucap Jiwo memulai. "Tapi pake itu semua pun, tetep nggk bisa menggores gua kan?"


Sementara itu, Baskara tak sanggup menjawab karena napasnya mulai tersenggal-senggal.


"Masa lalu udah nggk bisa diubah lagi, Bas." Tegasnya. "Dan, lu harus mulai terbiasa buat nerima itu!"


BRAKKK!


Baskara yang sedang kehabisan napas itu, dibanting kasar hingga tak sadarkan diri. Tak ada yang diingatnya lagi setelah itu. Yang tersisa hanyalah perasaan benci melebihi kegelapan sebelumnya.


***


...[Melody Kartika]...


...[Hidup dengan pengorbanan,...


...beristirahat dalam kedamaian]...


Begitulah, kutipan yang tertulis di batu nisan Melody.


Setelah pelayat selesai, barulah Baskara menghampiri makam Melody dan menangis di atasnya.


...[Dunia berjalan tanpaku...


...Tak peduli apa yang kurasa...


...Entah aku sedang berjuang...


...Atau terpuruk dalam luka]...


...[Kukira dengan kepergian...


...Semua akan lebih mudah...


...Namun harapan dan impian...


...Terus mengganggu benakku]...


Salah satu sobekan lirik lagu yang ditulis oleh Melody.


[*note: Penggalan lirik lagu yang tercantum merupakan karya orisinil karangan penulis.]


Baskara menyesal karena belum sempat mengatakan yang sejujurnya, bahwa Ia merasa nyaman berada di samping Melody, dan juga mendengarkan semua lagu-lagunya. Ia berpikir, betapa pedih hati cewek yang jarang tersenyum itu -kecuali hanya kepadanya- bila harus terus menunggu hingga akhirnya pergi untuk selamanya. Ia merasa ingin mengutarakan semua, tetapi semua telah terlambat.


Tertunduk seraya merenung di makam seperti ini, mengingatkannya pada kematian-kematian yang datang sebelumnya. Terutama kematian ibu dan ayahnya, Baskara sungguh tak mengerti tentang apa penyebab semua kematian yang terjadi di sekitarnya. Hanya saja, itu semua makin kentara dari hari-hari sebelumnya. Ia tak ingin kehilangan orang terdekatnya lagi, apalagi seorang yang Ia sayangi. Ia merasa tak siap untuk kehilangan lagi.

__ADS_1


***


__ADS_2