Baskara : Liberation

Baskara : Liberation
Chapter 18; Rencana.


__ADS_3

Dua minggu kemudian.


07.05


Jam sudah menunjukkan bahwa seharusnya gerbang sekolah telah ditutup. Tapi pagi ini begitu riuh harubiru murid berorasi didepan gerbang sekolah Elang Emas.


"Bubarkan organisasi!" Seru seorang murid seraya membawa karton bertuliskan.


[Kami seluruh murid Elang Emas menolakĀ  membayar pajak!]


"Betul!"


[Organisasi bobrok!]


"Tangkap pelaku perundungan!"


"Betul!"


Jaman telah berubah dengan cepat. dengan internet, semua informasi menyebar dengan cepat. Foto dan video perundungan yang disebarkan Lala dengan akun anonim berdampak melebihi apa yang Ia pikirkan, hingga kericuhan terjadi pagi ini.


Ada sebuah meja didepan pagar sekolah. Beberapa orang berada disana menandatangani petisi pembubaran organisasi, lebih dari seperempat murid telah menyetujuinya.


Seorang berbadan tinggi dengan mata coklat, memperhatikan semua orasi dengan perspektif yang tepat. Tangan kirinya memegang toa pengeras suara, sedangkan tangan kanannya memegang mic yang kabelnya terhubung ke toa tersebut.


"Gua berdiri disini, mau ngumpulin murid Elang Emas yang ingin melawan organisasi!"


Dibalas seru teriakan dari murid lain yang bersemangat melawan kebobrokan organisasi.


"Yang menolak bayar pajak ikut gua!" Lanjutnya lagi. "Kita harus melawan organisasi."


"Betul!"


Orasi ini membentuk kelompok bernama "Pasukan Pemberontak".


***


Sebelumnya dimalam deklarasi perang.


"Gua seneng lu udah deklarasiin perang ke organisasi, Bas." Ujar Wijaya. "Gua akan bantu lu menguasai sekolah ini."


Alvin telah menceritakan semua yang terjadi kepada dirinya juga Baskara dijalan buntu tadi.


"Gua seneng lu baik-baik aja, Jay." Timpal Baskara. "Mel, makasih ya lu udah lindungin Wijaya."


Melody tersipu, pipinya memerah. Berusaha membuang pandangannya juga mengendalikan mimik wajahnya.


Didalam hati Baskara geram, tak sabar ingin menaklukan kekuasaan organisasi. Setelah semua yang menimpa teman-temannya, kematian Kevin, trauma Kimon, perundungan terhadap Lala, juga Wijaya yang selalu diburu.


"Mereka udah lakuin itu lebih dari sekali, Bas." Ucap Lala menambahkan. "Perundungan, pembunuhan, pelecehan, juga pemerko-" Lala keceplosan dan enggan untuk melanjutkan. Mengingatkannya pada kejadian menjijikan di hotel malam itu.


"Pemerko.. apa?"


Melody menginjak keras kaki Wijaya sampai membuatnya berteriak. Matanya memberi isyarat untuk tidak memperjelas hal-hal seperti itu.


"Mereka udah meresahkan. Gua mendukung deklarasi perang yang lu buat tadi." Ucap Alvin optimis. "Gua akan bantu lu untuk acara Pensi nanti."


"Gua juga." Timpal Melody.


"Aku mau bantu." Lala juga tak mau kalah.


"Gua udah jelas." Ucap Wijaya menambahkan.


Semua telah sepakat untuk melawan tirani menegakan keadilan disekolah mereka. Hanya saja, apakah lima orang ini mampu untuk melawan organisasi dengan anggota yang telah menjamur disekolah?


"Tapi Bas, kalo diliat dari jumlah kita.. " perkataan Alvin terputus sesaat. "Apa kita sanggup ngalahin organisasi?"

__ADS_1


***


Sekarang.


Baskara, Wijaya, Alvin, Melody, Lala. Mereka melangkah menuju gerbang sekolah dengan santai mengenakan seragam putih abu-abu, juga jaket berwarna biru yang menenangkan sebagai simbol perdamaian.


Baskara mengenakannya dengan resleting terbuka juga sling bag, Wijaya menggenggamnya dilengan kiri mengenakan tas ransel hitam dengan kacamata, sedangkan Alvin mengenakannya dengan wajar memasukan kedua tangannya disaku jaket. Berjalan dengan gagah disisi depan.


Melody mengikat lengan jaket diperutnya melingkari pinggul disertai sling bag, sedangkan Lala mengenakan jaketnya wajar dengan lengan agak digulung kesisi dalam, juga dengan tas ransel. Menyertai ketiga cowok itu disisi kanan dan kiri, memancing setiap mata yang sedang berorasi digerbang depan sekolah.


Seorang bermata coklat menghentikan langkah mereka tepat didepan gerbang.


"Gua Haikal, seorang yang memimpin orasi ini." Katanya memperkenalkan diri. "Gua udah kumpulin beberapa murid buat bantu lu lawan organisasi, Bas."


[Haikal Farezki, Kelas dua, pemimpin pasukan pemberontak.]


Haikal seorang murid kelas dua, salah satu yang pernah diminta menjadi petinggi organsasi, bahkan menolak keberadaan organisasi dan selama ini menganggapnya seolah tidak ada. Anehnya Haikal terus dibiarkan, tanpa dipersekusi.


Wijaya dan Lala berkolaborasi menggiring opini murid terhadap organisasi lewat foto dan video yang ditemukan Lala dihape Keni. Lewat akun anonim yang telah dibuat Lala, mereka berdua membuat Baskara menjadi ujung tombak pemberontakan terhadap organisasi disekolah. Rencana mereka berhasil hingga membuat orasi seperti ini tanpa bersusah payah mengumpulkan masa. Membakar semangat mereka lewat ketidakadilan yang terjadi.


"Gua tau tentang Pensi, kurang dari sebulan kedepan lewat Wijaya. Gua akan bantu lu buat ngelawan organisasi malam itu." Tutur Haikal.


Dengan bergabungnya pasukan pemberontak, membuat mereka sedikit tenang tentang jumlah massa yang akan turun dimalam Pensi nanti.


Mereka telah merencakan semuanya, memakai keahlian masing-masing untuk mencapai tujuan bersama, yaitu mengkudeta organisasi.


***


"Bos, Murai Merah mulai bergerak." Himbau Han. "Mereka nggk terima karena tuduhan kecurigaan kita sama mereka sejak dua bulan lalu."


"Tapi tantangan Baskara juga nggk bisa kita abaikan gitu aja, Bos." Tambah Pras. "Itu bocah jelas udah ngerendahin martabat organisasi dengan mengancam posisi lu sebagai ketua."


"Tapi Murai Merah juga mulai menganggap rusak perjanjian damai kita karena isu kecurigaan itu." Jelas Han. "Itu juga Fakta yang nggk bisa kita abaikan. Hampir terjadi sesuatu sama gua karena itu."


"Kondisi Alex gimana?" Saga mengalihkan topik meringankan suasana.


Semua mata tertuju pada Fara, menyadari dirinya yang harus menjawabnya Ia pun segera menjelaskan. "Alex udah pulang dari rumah sakit sejak seminggu kemarin. Tapi belum hadir lagi buat sekolah maupun organisasi."


"Apa Alex bakal ikut dimalam Pensi nanti?" Tanya Pras.


Fara mengangkat bahu tanda Ia pun tidak bisa memastikan kehadiran Alex.


"Okey." Saga memulai intruksinya. "Sekarang kita fokus untuk Pensi aja dulu. Kita harus pastiin posisi kita sebagai organisasi yang berkuasa disekolah ini aman, karena udah berhasil menangani konflik internal."


Semua petinggi yang hadir baik mendengarkan, memperhatikan setiap kata yang keluar dari Saga, ketua organisasi.


"Setelah itu kita bisa urus Murai Merah. Mereka nggk akan berani ngelakuin apapun selama gua masih disekolah ini." Imbuhnya lagi.


Semua ditentukan oleh pertempuran dimalam Pensi nanti. Tidak merubah fakta bahwa posisi Saga sebagai ketua organisasi juga terancam.


"Sesuai Perintah Saga, Gua akan susun rencana untuk memenangkan pertempuran malam saat Pensi." Ujar Rengga menjelaskan. "Gua akan ada disisi terdekat Saga. Sisanya semua petinggi memblokir semua jalan yang mengarah ke rooftop gedung D, kecuali Han."


"Kenapa?"


"Gua ada rencana lain untuk lu, Han."


Han terheran sejenak menautkan alis, lalu mengangguk mengerti.


Rengga terus menyusun semua rencana hingga formasi para petinggi. Meski Baskara hanya memiliki beberapa teman, dibandingkan dengan organisasi yang memiliki banyak anak buah, tetapi Saga bersiap untuk kemungkinan terburuk. Ia jelas sadar banyak orang yang menginginkan posisi di organisasi ini, bahkan murid diluar Elang Emas pun ingin Saga turun dari posisi ketua organisasi karena dirinyalah yang selama ini menjadi simbol perdamaian diantara semua sekolah yang bermusuhan dengan Elang Emas.


"Gua juga punya rencana cadangan kalau saja situasi diluar kendali kita."


***


Tebet Eco Park.

__ADS_1


Semua mata tertuju pada laptop milik Wijaya siang ini. Layarnya menunjukan 'blueprint' bangunan sekolah Elang Emas. Jelas Wijaya meretas data sekolah lagi untuk mendapatkan cetakan aslinya.


Satu pintu masuk juga keluar, yaitu gerbang sekolah. Dikelilingi tembok tinggi berbentuk menyerupai kotak, diarea depan terdapat jalan dengan kiri kanannya taman. Jalan ini mengarah langsung ke gedung lobby gedung A gedung paling dekat dengan sisi gerbang, disisi kirinya gedung C, sedangkan kanannya gedung B, yang terjauh adalah gedung D. Masing-masing gedung memiliki lobby sendiri juga tangga untuk naik.


Ditengahnya terdapat lapangan yang cukup luas, letak panggung untuk Pensi berada disana. Diluar sisi gedung itu, terdapat kantin, Lab. Komputer, Lab. Sains, dan lain-lain.


Wijaya menoleh kepada Baskara, lalu kepada yang lainya satu persatu. Mereka semua mengangguk mempercayakan rencana kepada seorang Wijaya.


"Gua udah analisa denah ini semalaman. Banyak jalan menuju rooftop gedung D." Ujar Wijaya menjelaskan. "Seperti yang kita lihat. Gedung A adalah sisi terdekat dari gerbang sekolah."


Wijaya berhenti sejenak. Hatinya ragu jika saja rencananya gagal. Semua harapan berada dipundaknya sekarang, memberatkan mulutnya untuk berbicara.


"Gapapa, Jay. Lu fokus jadi mata dan otak kita semua." Kata Alvin menenangkan. "Gua akan bantu Baskara libas semua halangan digaris depan."


"Karena cara berantem lo payah banget. Gua yakin pasti otak lu tumbuh dengan bagus deh buat rencanain ini." Tambah Melody ketus. Entah itu ejekan atau pujian.


Lala menepuk bahu Melody. "Jangan ngomong gitu, Mel. Sekarang Wijaya lagi gugup dan butuh dukungan."


"Ayo lanjut, Jay. Gua percaya sama lu." Ujar Baskara menenangkan juga.


Wijaya menghela napas. "Gua yakin dilantai dasar gedung D pasti dijaga orang terkuat kedua diorganisasi yaitu, Rengga."


Hening.


"Ini adalah kunci kemenangan kita. Gua akan berusaha arahin kalian langsung ke 'raja terakhir'. Tanpa harus lawan petinggi yang lain. Biar lebih efisien, kita kepung Rengga. Setelah itu kita naik ke rooftop gedung D, kita hajar Saga."


Semua tercengang mendenger rencana itu. Karena itu adalah ide bagus jika tidak harus melawan petinggi organisasi dan bidak-bidak lainnya. Tapi pertanyaan adalah..


"Gimana caranya?" Tanya Alvin keheranan.


"Jadi caranya gini-"


***


"Lu adalah kutukan buat orang-orang disekitar lu." Sebuah suara menggema disebuah tempat. "Pembawa petaka untuk dunia..." Suara melengking yang menyakiti telinga.


Jeglegg! Creeett..


Pintu kayu berdecit terbuka saat sebuah tangan memutar daun pintu lalu mendorongnya. Melihat sebuah kaki melayang didepannya, maka membuat dirinya menoleh ke atas.


Baskara kecil berteriak memekik. "Ayaaah..." Wajahnya terdongak keatas seraya menutup mulut setelahnya.


Mendapati seorang pria paruh baya menggantungkan leher disebuah tali tambang tebal dengan kaki tak menapak lantai. Hanya menampilkan kursi yang telah terguling.


Baskara melihat jelas dengan bola matanya, dan tak akan pernah lupa sepanjang hidupnya. Sebuah memori yang ingin Ia lupakan, tetapi tidak pernah mengerti maknanya. Terus menghantuinya didalam gelap.


Pria itu masih mengejang untuk sesaat sebelum pada akhirnya berhenti dan melayang-layang mengikuti arah tali berputar.


"Lu nggk seharusnya lahir didunia ini, Baskara." Bisikan bersuara serak berhembus didaun telinganya.


"AYAHHH.."


Baskara menarik napas panjang dengan terengah-engah terbangun dari tidurnya, wajahnya dipenuhi butiran keringat menetes. Butuh waktu sesaat untuk menyadari semua bayangan itu hanya mimpi.


NIT NIT NITT


06.00


Jam weker digital berbunyi, disamping sebuah pot kecil berisi kaktus mini. Lantas membuatnya menoleh ke meja disebelah kasurnya.


Brak!


Baskara mematikannya dengan kasar. Lalu mengusap keningnya, menutup matanya dengan kedua telapak tangan merenung.


***

__ADS_1


__ADS_2