Baskara : Liberation

Baskara : Liberation
Chapter 34; Senja Berdarah.


__ADS_3

Manik mata Saga terbuka perlahan, yang pertama dilihatnya ialah atap bangunan yang terjerat jaring laba-laba. Kemudian, matanya memicing berusaha menyerap keadaan sekitar. Banyak orang hiruk-pikuk melakukan pekerjaan masing-masing. Itu seperti sebuah perbengkelan dengan bangunan terbuka beratapkan bondek, sedangkan tembok pembatasnya mengenakan bahan semen fiber bernama asbes.


"Bang, temennya udah bangun tuh." Ucap seorang bocah kepada cowok gondrong yang sedang memperbaiki motor jadulnya, bocah itu ialah Keni, mereka berasal dari tempat yang sama.


Mendengar itu Rengga langsung mencuci tangan kemudian menghampiri temannya. "Nyarap dulu lu. Nih nasi uduk." Ia menyodorkan sebuah bungkus nasi yang masih terikat karet.


"Gua di mana?" Separuh nyawa Saga belum terkumpul lagi. Untuk sesaat, Ia mengusap-usap matanya yang masih lengket.


"Sttt.." Rengga memberi intruksi untuk tidak banyak bertanya. "Lu makan dulu. Abis itu, lu gua ajak keliling."


Seorang cowok menghampiri mereka berdua, dengan ciri badan berperawakan tinggi juga putih. "Makasih.. semalem udah nyelametin gua." Ucap Hansel seraya mengulurkan tangan seperti tos di antara cowok maskulin.


Plarr!


"Lu di sini juga?" Tanya Saga memulai.


"Iya gua habis bantuin Rengga, ngerjain bongkaran motor." Sahut Han singkat.


"Udah lu gausah banyak bacot." Sela Rengga ketus. "Lu sarapan dulu, atau nasi uduk lu berubah jadi gabah lagi."


Alhasil, setelah menyarap nasi uduk, Rengga mulai berkeliling bengkel itu. Bukan hanya motor, adapula yang sedang mengerjakan mobil Jeep Wrangler. Hampir semua mekanik yang berada di sana memiliki wajah garang, minimal memiliki bekas luka di sekujur badan, ada luka bacok, luka bakar, bahkan ada yang jarinya tidak utuh. Melihat itu semua Saga tidak merasa sendiri karena luka bakar di pergelangannya itu.


"Sewaktu bocah gua tinggal di panti deket sini." Ucap Rengga memulai cerita. "Gua nggk punya orang tua, bahkan nggk pernah ngeliat wujud mereka sekalipun." Ia meringis sedikit menertawakan nasibnya.


Saga dan Hansel berkeliling bengkel menyimak Rengga dengan hikmat.


"Lima tahun lalu, gua kabur dari sana." Lanjutnya lagi. "Otak gua penuh sama gejolak, buat nyari jati diri gua sebenernya." Ia menunduk lagi sambil berjalan menendangi kerikil sesekali.


"Terus, gimana lu bisa di sini?"


"Waktu itu hujan, Ga. Dua hari gua nggk punya tempat singgah. Bikin gua jadi neduh di sini." Jelasnya menjawab. "Gua disambut sama mereka. Kayak anjing liar yang baru dipungut dari jalan." Ia terkekeh menceritakan itu seolah telah berdamai dengan semua itu.


"Terus, mereka yang ngepung pergudangan semalem?" Tanya Hansel penasaran.


"Orang yang sama, yang lu temuin di sini." Balasnya. "Emang lu pikir gimana selama ini mereka bisa hidup di jalanan?" Ia mengangkat alis dengan pertanyaan retoris. "Mereka semua gangster." Imbuhnya lugas.


Hening.


Hansel dan Saga sempat tercengang mendengar itu, tetapi mereka mencoba menyesuaikan sampai Rengga melanjutkan lagi.


"Gua dibesarin sama kelompok gangster.. namanya Vandal." Ungkapnya dengan bangga. "Mereka bergerak di dalam bayangan malam kota Jakarta. Dan juga, alasan gua bisa bertahan hidup sampe sekarang."


"Reng?" Panggil Saga memecah dongeng yang terjadi.


"Hmm?" Rengga menoleh.


"Makasih udah bantuin gua." Saga menatap lekat, mengucapkan syukurnya. "Maafin gua karena ngeraguin lu." Imbuhnya lagi.

__ADS_1


Rengga tak membalas apapun, Ia hanya menyunggingkan senyum yang jarang diperlihatkan kepada siapapun.


"Jadi gimana lu bisa di dalem karung itu, Han?" Tanya Saga memecah kecanggungan. "Anyway, kita bertiga pernah ngerasain hal yang sama. Bener kan, Reng?"


"Yang bener? Lu juga Reng?" Sambar Hansel.


"Iya bener. Tapi bukan sama Barlan. Gua berjam-jam dipukulin anjir."


"Lah gua semaleman." Imbuh Saga tak mau kalah.


Han yang pernah berkata bahwa Ia dipukuli dua hari, hanya diam menyimak, memperhatikan Rengga dan Saga yang sedang membandingkan penderitaan mereka.


Kini mereka memiliki benang merah yang sama. Seolah beban dan rasa malu itu terbagi menjadi tiga, tepatnya menjadi penderitaan bersama.


Selain menghadirkan empati, cerita yang Rengga lantunkan, mempengaruhi algoritma pemikiran Saga dalam cara memecahkan suatu masalah. Saat itu juga, Ia mendapatkan sebuah gagasan yang jauh membentang ke depan.


"Reng? Han?" Panggil Saga bergantian.


Mereka berdua menoleh menunggu perkataan Saga dalam keheningan.


"Gua pengeng kita bikin organisasi di sekolah." Tegasnya tiba-tiba. "Kayak geng Vandal ini." Imbuhnya lagi.


"Ide bagus tuh." Sahut Han setuju. Ia memandang Saga masih dengan hormat, sehingga perkataan Saga terdengar begitu hangat di telinganya.


"Bikin geng kaya gini nggk gampang kalo nggk punya duit buat gerakinnya." Timpal Rengga. "Terus mau buat apaan organisasi itu?"


Sekarang Saga memiliki dua tujuan besar dalam hidupnya. Pertama, membalaskan dendam kepada Barlan, dan kedua membangun organisasi sesuai keinginannya. Percayalah orang yang memiliki tujuan lebih sulit untuk ditumbangkan, meski diterpa badai terkuat sekalipun.


"Han? Reng?" Panggilnya lagi. "Gua minta tolong pinjemin kekuatan kalian buat balesin dendam gua sama Barlan sekali lagi."


Hansel mengangguk yakin, juga Rengga. Tiga cowok yang pernah mengalami penderitaan sama bersatu. Mengencangkan benang merah mereka menjadi senjata hidup yang akan menguasai seluruh Elang Emas.


***


Tawuran antar SMA tidak semudah menghantamkan tinju dan pergi. Sekuat apapun seorang manusia, akan rubuh juga di tengah kemelut pertempuran tanpa arah yang terjadi. Tapi semua berubah, ketika sekumpulan gangster ikut campur.


Jujur, banyak yang tidak terceritakan, tetapi Saga yang sedang penuh ambisi itu terus dikaruniai keberuntungan. Dan lihatlah, Seluruh Geng Vandal akan membantunya meratakan Murai Merah, hanya untuk memenuhi dendamnya saja.


Jika digambarkan, keadaan Murai Merah sore itu sungguh cerai-berai, bergelimang darah merah. Geng Vandal mengepung lalu lintas sekitar sekolah dengan beberapa Jeep Wrangler, juga motor jadul yang berbeda-beda merk. Dengan kejadian ini, akan mendefinisikan arti Murai Merah sesungguhnya, saat Elang Emas membantu mewarnai sekolah itu dengan bercak merah, walau harus dengan darah.


Saga, Rengga, dan Han mereka melangkah anggun di tengah kerumunan. Sedangkan, di pinggir mereka banyak geng Vandal yang membawa bermacam senjatanya untuk membuka jalan bagi mereka.


Beberapa anggota geng rintisan Saga jumlahnya naik drastis, karena terlihat juga ikut meramaikan saat bersejarah itu. Pertama kalinya, tawuran antar sekolah di campuri oleh salah satu gangster di Jakarta. Meski, banyak pula di antara mereka yang harus menjadi korban sore itu.


Singkat cerita, Saga berhasil menginjak muka Barlan dengan telapak sepatunya. Bukan hanya sekali, Ia menginjak kepala musuhnya berkali-kali sampai malaikat maut pun keheranan melihat Barlan harus dijemput secepat itu, di saat Saga harus membinasakan sebuah nyawa dengan sangat biadab.


BEG! BEG! BEG!!

__ADS_1


Melihat itu Gigih hanya melongo, juga semua anak buahnya yang tersisa. Ketua mereka dipermalukan oleh murka seorang junior musuh sekolahnya.


"Terus lu mau apa lagi?" Tanya Raka. "Mau bunuh kita semua?"


[Raka Alcantara, Ketua Pilar Murai Merah.]


Tak seperti Elang Emas di masa depan, yang memiliki organisasi dan barisan petinggi yang tersusun rapi sesuai tugas. Murai Merah membagi kekuasaannya dengan cara berbeda. Mereka memecah orang-orangnya menjadi beberapa geng terpisah yang dipimpin oleh satu pilar. Sedangkan, Raka berperan sebagai pimpinan seluruh pilar yang ada, termasuk Barlan.


"Setelah bunuh Barlan udah puas lu?" Tanya Raka lagi dengan nada menantang. "Apa bales dendam terasa nikmat menurut lu?"


Di akhir perang ini, mereka yang tersisa berkumpul di lapangan serbaguna milik Murai Merah. Raka terpaksa diam dengan tangan terangkat, di sekitarnya banyak gangster yang membawa celurit juga katana, yang siap menghunus lehernya kapan saja jika Saga memberi perintah.


Gigih dan anak buah didikannya terpaku di sudut lain, menyimak bersama pilar lainnya. Karena penyergapan ini hanya untuk kepala Barlan, mereka yang memberikan jalan tak perlu mengusap noda darah di kerah bajunya.


Saga, Han, Rengga, perintis organisasi Elang Emas, mereka menjadi pusat dari pertumpahan darah yang terjadi. Jika diingat lagi, itu hanya karena luka bakar di lengan Saga.


"Okey, gua bakal mulai." Ujar Saga bergetar. "Setelah ini Elang Emas bakal bikin organisasi yang isinya orang-orang kuat pilihan. Gua akan bikin permintaan yang nggk bisa dibatalin sama siapapun."


Semua wajah yang hadir menampilkan keseriusan setelah kematian Barlan yang telah menjadi bukti kekuatan mutlak Elang Emas. Seolah berkata untuk tidak diremehkan lagi, karena tahun ini mereka akan bangkit kembali menyilaukan sinar dari sayap emasnya.


"Dengan kematian Barlan, darah yang udah tumpah bakalan jadi kesakralan janji antara sekolah kita buat nggk saling mengusik." Ucapan Saga yang sedang terbakar ambisi itu, dalam hitungan detik menggelegar di setiap telinga yang mendengarnya. "Kalo itu terjadi, harus ada tumpahan darah lagi buat bikin janji baru." Imbuhnya.


Sementara itu, Raka sebagai ketua pilar Murai Merah mengangkat tangan memberi isyarat untuk bicara.


Melihat hal itu, Saga lekas mengulurkan telapak tangan, juga memberi isyarat untuk bicara.


"Kalo kalian yang mulai duluan gimana?" Tukasnya mengukuhkan keadilan bagi sekolahnya juga.


"Gua jamin itu nggk bakal terjadi, Ka." Balas Saga menghardik. "Kalo pun terjadi.." Perkataannya terhenti sejenak.


Hening.


".. anggap aja perjanjian kita udah batal. Dan lu boleh nyerang Elang Emas kapan aja." Tegasnya memungkas keraguan Raka.


Raka terdiam setengah puas mendengar jawaban Saga yang masih memancarkan sinarnya di tengah medan perang. Dirinya sadar tak sanggup menghalau cahaya yang terlampau terang itu, sehingga menghasilkan sebuah bayangan yang teramat pekat.


Saga memandangi khalayak yang hadir satu per satu memutari sudut lapangan. "Dan lagi, terakhir.."


Rengga dan Han sebagai sesama perintis organisasi Elang Emas, juga terus menyimak dalam kegemingan, tak sampai hati untuk merusak panggung yang sengaja dibuat hanya untuk Saga.


"Jangan ada yang bahas luka ini lagi." Dengan keteguhan Saga menunjukan luka bakar di lengan kirinya. "Luka ini adalah pemicu perang. Tanda memalukan yang ditinggalin Barlan. Cuih.." Ia meludahi kepala Barlan yang sudah tak bulat lagi. "Jangan bahas 'kenapa' dan 'gimana', tentang luka ini sama siapapun dengan alasan apapun." Satu syarat mutlak terucap lagi dari Saga.


Angin berdesir sore itu, awan putih dengan tepi kehitaman jadi saksi penghakiman atas seseorang yang berniat mewariskan dendam. Kemudian seluruh perang ini dinamai, 'Senja berdarah'.


Hansel, ialah seorang cowok yang terus mencari alasan untuk berkelahi. Ekspektasinya yang dipenuhi oleh Saga dalam satu hari pertempuran terbesar antar sekolah tahun ini.


Kini Ia bergidik memandangi sekitarnya. Kepala Barlan yang terus mengeluarkan darah, juga sayatan parang pada pundak seorang murid yang mengaga begitu lebar. Membuat Hansel menyadari lambat laun kemalangan akan terus mendekatinya. Ia sekilas membayangkan hal di sekitarnya itu terjadi padanya juga. Setelah mengetahui seluk-beluk dunia gelap, pandangannya pada sesuatu berubah dalam sekejap. Ia memilih menikmati masa damai, yang telah susah payah di capai Saga, juga mengatasi setiap ancaman lewat bayang-bayang.

__ADS_1


***


__ADS_2