
[Aku udah lama nggk ketemu kak Nadir. Gimana kabar kak Nadir?]
Pemberitahuan pesan singkat itu mengalihkan pandangan Nadir yang sedang asik menggulirkan beranda sosial media.
[Makasih udah nanyain, Jay. Baik kok.] Jawabnya singkat.
[Syukur kalo gitu. Aku tau kak Nadir bakalan tampil diacara Pensi besok. Dan aku pengen ngasih tau, akan terjadi sesuatu malam nanti.]
Wijaya membalas lagi dengan sesuatu yang Nadir tidak mengerti. [Maksudnya gimana, Jay?]
Tidak semua orang mengetahui tentang deklarasi perang sebulan lalu. Beberapa orang akan hadir dalam Pensi tanpa mengetahui bahwa mereka telah masuk kedalam medan perang tanpa persiapan. Hingga mereka baru menyadari ketika semua telah terlambat.
[Aku akan kasih aba-aba ketika saatnya tiba. Setelah itu aku akan kasih tau tempat aman untuk berlindung ke kak Nadir.]
Nadir berpikir sejenak seraya memegang hape setelah mendapat pesan dari Wijaya. Menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Lantas membuatnya harus bertanya kepada sahabatnya.
[Nggk ada apa-apa kok, Nad. Lu perform aja kaya biasa.] Jawab Fara lewat chat.
Nadir percaya kepada sahabatnya, Ia malas memikirkan sesuatu berlebihan. Tapi peringatan dari Wijaya juga tidak bisa diabaikan begitu saja, dirinya juga berpikir untuk sedikit berjaga-jaga.
[Okey.] Jawabnya singkat kepada Wijaya.
Tak lama setelah itu hapenya berdering dari nomor yang dulu sering menghubunginya.
[Panggilan masuk Alex.]
"Aku didepan kosan." Ucap suara diujung telfon.
Nadir langsung memutuskan telfon dan bergegas menuju pintu.
***
21.00
[Closed]
Earphone tercantol ditelinga Melody seraya bergumam dengan nada. Kabel earphone sebelahnya berada ditelinga Baskara mendengarkan lagu yang sama. Matanya terarah ke sudut lain berusaha merasakan musik itu lebih jelas.
"Gimana lagunya menurut kamu, Bas?"
Senyum Baskara merekah. "Easy listening, Aku suka gaya petikan gitar kamu."
"Makasih. Itu lagu yang baru kutulis. Dan kamu yang pertama dengerin."
"Wah bener aku yang pertama dengerin?" Mata Baskara bersinar mendengar itu.
"Hmm.." Melody mengangguk meyakinkan.
"Kuharap kamu siap bawainnya dipanggung. Karena memang bagus banget menurut aku."
"Aku masih lancarin petikannya dulu, Bas." Jawabnya seraya terkekeh.
"By the way, aku mau berberes kedai dulu yah. Makasih buat malem ini, Mel."
"Aku mau bantu."
"Gausah, Mel. Kamu pulang duluan aja."
"Tapi aku mau bantu, Bas." Katanya memaksa.
Baskara menghela napas malas berdebat. "Yaudah.. ayo masuk. Bantu cuci alat."
***
Nadir membuka pintu kosannya.
Alex sudah didepan kosan melihat dengan wajah memelas. Bagian atasnya tubuhnya sedikit basah karena menerabas hujan untuk bisa sampai sini.
Nadir kaget melihat keadaan itu. Tetapi Ia berusaha tetap mengendalikan diri sekarang dia bukan siapa-siapa bagi cowok didepannya.
"Aku boleh masuk?"
"Mau ngapain?" Tanya Nadir memastikan. "Disini aja kalo nggk penting."
DEG!
Alex tidak siap dengan perubahan sikap Nadir secepat ini. Menyadari bahwa dirinya memang iblis bedebah yang telah melukai bidadari pemberian Tuhan.
"Menurutku sih penting. Tapi aku gatau menurut kamu."
"Yaudah apa?"
"Aku sadar Nad, Aku bukan siapa-siapa tanpa kamu, kamu adalah alasan aku hidup."
Nadir terdiam mencermati apa yang Alex katakan saat ini sepertinya teramat penting baginya.
__ADS_1
"Maafin Aku, sering buat kacau hari-hari kamu. Tapi sejujurnya, Aku masih ingin liat senyum kamu esok hari, Nad."
Mata Alex berkaca, dadanya sesak tangannya gemetar. Mengutarakan semua rasa yang tertahan memang teramat sulit bagi yang tidak terbiasa jujur dengan diri sendiri.
"Aku udah buat kesalahan terbesar dalam hidup aku." Lanjutnya lagi. "Aku udah ngancurin lebih dari yang aku usahain untuk kamu. Aku mau kita balik seperti dulu?"
Nadir menggeleng seraya menyeka tangis dari Alex yang mulai menular. Sorot matanya dibuang ke sudut lain menahan tangis. "Nggk bisa, Lex."
"Kenapa? Tolong kasih aku kesempatan, Nad. Untuk buktiin kesungguhan ak-"
"Ini bukan permainan! DAN KAMU UDAH BILANG PUTUS SEMUDAH ITU!"
Bagian hitam mata Alex mengecil mendengar Nadir mengintimidasi.
"Aku udah nggk ada harganya kan dimata kamu, Alexander Leonardo?"
Mereka saling menatap didepan kosan Nadir disaut dengan rintik hujan disekitarnya yang berusaha menyejukan hati ditengah amarah.
Prak!
Alex berusaha meraih tangan Nadir. Sebelum bersentuhan Nadir sudah menyentakan tangan yang sering menyakitinya itu.
"Kamu sadar nggk aku udah bertahan sekeras apa selama ini. Bukan cuma bekas luka ditubuh aku, tapi rasa perih yang nggk terbayangkan rasanya." Ucap Nadir seraya menekan dadanya, menunjukan luka hati yang teramat pahit, yang selalu diberikan Alex.
"Nad, tolong pikirin lagi. Aku mohon.."
Nadir menggeleng lagi. "Jangan berharap lagi, Lex. Kita harus hadapin dunia ini sendirian sekarang."
Alex telah merendah serendah-rendahnya. Tapi tidak juga mendapat membalik keadaan yang telah Ia hancurkan.
Nadir melangkah kedalam kosan. Menutup pintu dengan Alex yang masih tertunduk didepannya.
BRAKK!
"Nadira Amiraa.." Panggil Alex menggedor pintu pelan.
Nadir tidak membukanya lagi. Ia hanya terduduk dibelakang pintu mengevaluasi semua yang telah Ia katakan kepada Alex.
"Nad aku mohon.."
Tangan Alex terhenti dan kini terduduk membelakangi Nadir yang berada dibalik pintu itu. Menyesali apa yang telah Ia perbuat selamanya.
Nadir sesungguhnya tidak ingin menyakiti Alex dengan kata-kata seperti itu. Tapi semua terjadi diluar kendalinya yang dikuasai oleh luapan emosi.
Memang sulit memisahkan kedua akar pohon yang telah lama tumbuh bersebelahan. Ketika beranjak, harus memangkas akar-akar yang tersangkut. Dan membayar semuanya dengan rasa sakit sebanyak akar yang saling mengikat.
Fara benar.
Tidak semudah itu untuk merubah orang lain, dan jatuh cinta telah membuat semua orang menjadi tidak waras hingga ingin melawan dunia.
Untuk saat ini, Alex dan Nadir menyatu menjadi satu bingkai panel beririsan, hanya dibatasi dengan pintu kayu setebal lima sentimeter.
Sama-sama terduduk, menyesali semua yang terjadi. Berusaha menghadapi dunia seorang diri. Melepas jerat rantai yang mengekang keduanya.
Nadir menangis tertunduk didalam kosan, sedangkan Alex terduduk mendangak ke langit-langit beranda kosan dengan mata berkaca.
***
23.00
Keringat menetes dari kening dan seluruh tubuh Baskara, hingga membasahi matras dibawahnya. Cowok berambut hitam itu melatih otot perutnya dengan menggantungkan kedua kakinya ke sebuah pipa besi diketinggian satu meter, mengangkat setengah tubuhnya berulang kali.
BLAM! BLAMM!! BLAMMM!!!
Samsak tinju berisi pasir juga menemani latihannya malam ini. Jemarinya dilindungi bantalan tipis untuk meminimalkan lecet dikulitnya. Berusaha tetap menjaga napasnya setelah melakukan pukulan cepat ke arah samsak.
Baskara menyempatkan diri meregangkan tubuhnya untuk beraksi besok. Menyambut hari yang menentukan nasib sekolah Elang Emas.
Matanya menengadah, memantapkan diri bahwa keputusan yang Ia ambil adalah yang terbaik untuk semuanya. Ia berharap agar dunia yang telah rusak ini perlahan membaik, Ia percaya lagi bahwa dirinya adalah pemeran utama dalam cerita ini, pemegang kunci penentu nasib orang-orang disekitarnya.
WUSH WUSHH WUSSHH!
Tangan Alvin mengoyak tali tambang besar yang tersangkut ditembok melatih kekuatan bahunya juga cengkeramannya.
Ia memilih ke tempat gym disela-sela istirahat pekerjaannya. Karena memang ada fasilitas gym dihotel tempatnya bekerja. Dilantai dua berpemandangan kerlipan lampu kendaraan dikota Jakarta.
Alvin mengangkat barbel dengan beban ringan dipunggungnya melakukan gerakan squat turun naik. Melatih otot kaki juga punggungnya untuk besok, semua menantikan hari itu. Mengharapkan yang terbaik disetiap detik berlalu tanpa kesia-siaan.
Disisi lain Jakarta.
Sunyi tenang tanpa suara.
Gitar kayu berlubang tergantung disisi tembok. Melody terduduk sila beralaskan matras, tangannya disandarkan dipaha menenangkan diri, berusaha mengenal diri lebih baik lagi untuk sesuatu yang akan terjadi besok.
***
__ADS_1
Malam-malam menjadi panjang, setiap helaan nafas jadi lebih terasa, menyadari kehidupan ini sudah tidak ada artinya. Kini sungguh terasa, akar yang sudah saling merambat-mengikat dipisahkan paksa oleh sebuah monster bernama ego.
Alex menghisap rokoknya dalam. Matanya memejam, mendangak keatas, kearah langit gelap yang tidak pernah menurunkan kebahagiaan untuknya.
Awan hitam bergeser menutup cahaya bulan, mengubah langit menjadi gelap.
Rasa kehilangan cukup menyakitkan, perasaan hampa hati yang kosong tidak bertepi, tak ada tempat bersandar untuk tenang.
Alex menyadari beberapa hal untuk sekarang, jika sebuah kesedihan yang kini menimpanya sedang berusaha mengundang kesedihan lain dimasa lalu yang pernah terjadi. Ia masih ingat semua kesedihan yang pernah dirasa, dan sekarang semua menyatu memenuhi hati yang hampa merapuh.
Sekeras apapu Ia berusaha mengingat semua kebahagiaan bersama Nadir, tapi rasa itu tidak bisa dipanggil kembali, hanya terbakar menjadi sebuah rasa bernama rindu.
Dan Ia sadar lagi, Ia sadar tidak merindukan Nadir, tidak merindukan tempat mereka berdua dulu, tetapi hanya merindukan kenangan yang telah terjadi dari kombinasi semua keadaan yang tidak bisa diulang lagi.
Air matanya tidak lagi menetes, tapi mengalir deras bagai curug setelah hujan.
Alex menghisap rokoknya lagi, Ia melihat rokoknya yang baru setengah terbakar, lalu menyundutkannya kesisi tembok membuangnya kesembarang arah. Kini kepalanya tertunduk ke sela dengkul dengan tangan memeluk kedua lututnya.
Ia menyadari ego telah merusak segalanya. Dirinya yang ringan tangan telah membuat bidadari paling indah dalam hidupnya pergi, karena perlakuan seorang iblis seperti dirinya.
Kenangan dimasa kecil terpanggil kembali. Menguak semua alasan yang telah merubahnya menjadi cowok ringan tangan.
PLOK!
Tamparan keras mengenai pipi Alex kecil.
"Anak tolol!" Ayahnya mengumpat pada dirinya, sedangkan Alex pun pada saat itu tidak mengerti arti dari kata itu. Yang Ia rasakan kini dirinya terpojok merasa terancam.
"Gua suruh beli rokok malah beli yang lain." Lanjutnya lagi. "Anak bangsat! Itu duit terakhir gua hari ini."
BUKK!!
Telapak kaki ayahnya kini telah sampai dipundak Alex. Ia melenguh kesakitan, tapi ayahnya tidak peduli. Satu-satunya yang dipedulikan ayahnya hanyalah rokoknya.
"Jangan ayah." Pinta Alex menangis. "Maafin aku."
Ayahnya mengisap rokok terakhirnya dalam-dalam. Lalu menyundutkannya ditelapak tangan Alex. Tangan kiri ayahnya mencengkeramnya kuat, tangan lainnya menyundutkanya hingga rokok itu mati.
CUSS!
"Sakit ayah.."
"Diem anjing!"
Ayahnya menyalakan rokoknya lagi, lalu menyundut berkali-kali.
CUS! CUS! CUSSS!
"Lu bukan anak gua!"
"Ampun ayah."
Kenangan yang melukai Alex kecil.
Seorang Alex berumur sepuluh tahun dalam masa pertumbuhannya memiliki ingatan sangat kuat. Kenangan itu memberikan rasa sakit yang luar biasa, yang tak tertinggal bekasnya dimata. Membuatnya tumbuh menjadi seorang cowok berhati iblis. Melihat dunia dengan cara berbeda tanpa rasa syukur.
Makian dari ayahnya membuatnya yakin kata-kata itu Ialah nyata dan benar adanya. Meyakini dirinya rendah, tolol, dan bukan anak dari siapapun.
Ayahnya menghempasnya ke sudut tembok. Dan membuang putung rokoknya yang telah mati ke sembarang arah.
"Lu malem ini gausah makan!"
Alex diseret keluar ketika hujan. Kursi buatan ayahnya terdapat diberanda rumah dibasahi air hujan.
"Ayah dingin."
"Berdiri dikursi itu."
Telapak tangan Alex menyeka air hujan dimatanya.
"Ayah.. aku mau dikamar aja."
"Angkat tangan lu." Perintah ayahnya tegas. "Jangan masuk sampe gua suruh."
BRAKK
Ayahnya masuk membanting pintu.
"Ayah.." Alex melenguh pada ayahnya. Namun ayahnya tidak kembali. "Ayahh.."
Alex tidak pernah tau seorang ayah yang baik seperti apa. Baginya yang diperlakukan padanya adalah wajar, sampai realita datang memberitahunya bahwa ini adalah suatu hinaan bagi karunia yang diberikan Tuhan.
Tangannya masih terangkat seraya berdiri, kantuk menyerangnya sampai melakukan tidur berdiri. Hingga kak Laras datang memeluknya, lalu menggendongnya masuk kedalam kamar seraya menangisi hal yang telah menimpa adiknya.
Setiap mengingatnya, memunculkan perasaan Alex yang marah terhadap dunia.
__ADS_1
***