Baskara : Liberation

Baskara : Liberation
Chapter 22; Karma.


__ADS_3

Wijaya mengatur rencana dari Lab. Komputer bersama Lala mendampinginya. Pasukan bayangan yang terdiri dari Melody, Alvin, dan Baskara telah turun menyusup berpencar di medan perang. Sedangkan, pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Haikal, hanya tersisa sedikit di depan gerbang.


Bagaikan dua pemain yang saling menyembunyikan kartu. Jika begitu, maka Wijaya ialah pemain kartu ulung yang berhasil mengumpulkan Jack, Queen, dan King berpola sama, juga menyimpan salah satu kartu As yang memimipin kartu berpola lainnya. Dengan kondisi, tidak mengetahui kartu andalan ditangan musuh. Siapakah yang lebih unggul?


Nasi kotak berserakan ditaman sekolah. Beberapa penonton Pensi yang tersisa termangu melihat mobil catering yang menabrak pagar besi. Memancing mereka melihat ke sisi luar gerbang sekolah.


Sontak mereka terbelalak melihat apa yang terjadi di depan mereka. Murid berkemeja putih bergelimpangan disisi jalan karena tertabrak pagar, di sisi kanan gerbang juga ada yang lebih mengagetkan.


"Itu Pras ketua tim pengamanan?" Celetuk seorang murid yang juga penonton konser.


"Iya bener. Liat aja rambut pirangnya, cuma dia yang kaya gitu disini." Sahut seorang lagi. "Kondisinya kayanya nggk baik karena mobil aneh tadi."


"Apa sekolah kita lagi diserang? Kita harus keluar dari sini selagi bisa." Ucapnya cemas.


"Tunggu dulu."


"Kenapa?"


"Liat di depan Pras."


Murid lainnya menoleh. "Itu Haikal pemimpin orasi sebulan lalu." Katanya menebak. "Kayaknya mereka bakal berduel."


"Kita harus liat kemampuan dari 'Monster Pirang' yang dirumorin itu."


"Oke, sepukul dua pukul boleh lah. Kalo situasi mulai panas kita harus pergi."


Mata mereka berdua menyimak aksi dua orang yang akan berduel layaknya sebuah hiburan dikala Pensi malam ini.


Di sisi pejalan kaki yang dibatasi trotoar didekat aspal. Kaki Pras terus melangkah maju perlahan.


"Mobil catering itu rencana kalian, kan? Jujur gua lengah." Puji Pras kepada Haikal. "Gua nggk nyangka kalian mainin kartu sebagus itu."


Haikal meringis. "Itu emang kekurangan organisasi kan? Nggk berempati sama hal-hal kecil yang terjadi."


"Maksud lu?"


"Kalian cuma lintah darat yang sok berlaku adil di sekolah ini. Itu alasan gua menolak bergabung tahun lalu. Nggk seperti lu yang makan duit murid lain."


"Lu cuma rese, karena nggk dapet 'kue'-nya aja. Kalo lu narik kata-kata lu, dan berpihak sama organisasi gua bakalan rekomendasiin lu jadi petinggi. Haikal Farezki."


Haikal meludah ke sembarang arah. "Cuiih.. gua nggk sudi."


"Ternyata harga diri lu lebih tinggi dari otak lu. Kalo gitu, ini nggk bisa dicegah lagi kan? Lu tau itu?"


"Bos, gua akan bantu lu." Ujar seorang berbaju hitam di belakang Haikal.


"Iya, Bos. Kita hajar bareng-bareng." Sahut seorang pasukan pemberontak yang lain.


Haikal mengangkat tangan memberi isyarat untuk menahan semua yang mereka bicarakan tadi. "Tinggalin gua sendiri. Gua pengen satu lawan satu."


"Tapi, Bos-"


"Sttt.. jangan ganggu gua."


Lalu mereka bertatap-tatapan saling mengangguk mengiyakan intruksi itu. "Gua akan masuk. Bantu Baskara sampe atas."


Haikal tak menjawab apapun. Mereka berlalu menerobos masuk kedalam sekolah, berpapasan dengan dua orang penonton yang menyimak dari gerbang. Pras membiarkan mereka. Karena Ia sedang terfokus dengan seorang didepannya terlebih dulu.


"Ayo kita mulai." Ucap Haikal.


"Lu harus gabung organisasi kalau kalah, Kal." Sahut Pras mengintimidasi. "Harga yang harus lu bayar atas kekalahan lu."


"Mulut lu!" Haikal menghampiri Pras memberikan salam dengan ujung kakinya.


Tangan Pras bersiap menghalau salam pertemuan itu.


***


"Dilobby gedung D ada Keni sama beberapa anggota, Bas. Kalian muter balik bisa naik lewat gedung B."


"Tadi lu bilang aman, Jay?" Tanya Alvin.


"Maaf, Vin." Lala menyela mic milik Wijaya. "Tadi aku baru liat dia turun lagi setelah hampirin Rengga diatas."


Mendengar Lala menjawab, amarah Alvin yang sempat terbakar dipaksa padam. "Ohh Gapapa ko, La." Sahutnya halus. "Ayo kita muter balik, Bas."

__ADS_1


Baskara memasang wajah muram memperhatikan tingkah Alvin. Lalu berjalan menyusuri sisi luar antara Gedung D dan B mengikuti Alvin. Setelah beberapa langkah, Ia menarik kerah Alvin.


"Kenapa?"


"Itu kan cuma Keni. Ayo kita lawan. Habis itu naik bareng." Ucap Baskara.


Malahan membuat Wijaya menjawab. "Jangan, Bas. Rencana kita bisa gagal. Lu ikutin aja arahan gua."


"Ayolah, Jay. Itu cuma keni."


"Kita harus jaga diri lu untuk bisa lawan 'raja terakhir'." Wijaya memainkan Baskara bagai 'Kartu King' yang ingin disimpan hingga akhir permainan.


Baskara merengus kesal. "Okey.. Gua percaya sama lu."


"Makasih, Bas. Sekarang lu bisa naik tangga lewat lobby gedung B. Coba pelan menyusuri koridor."


Alvin dan Baskara melakukan sesuai perintah Wijaya.


"Nunduk dibalik tembok." Disisi gedung C sedang ramai beberapa orang berlarian. Mengharuskan mereka harus menunduk sambil berjalan merangkak mendekati tangga gedung D.


"Kenapa kita nggk naik gedung B sampe atas?" Tanya Alvin heran.


"Dimonitor gelap. Gua nggk tau ada siapa disana. Resikonya terlalu besar." Tutur Wijaya berusaha menjelaskan.


Sementara itu, Melody berlarian seraya khawatir karena banyak anggota yang mengejar dirinya. Jika itu tiga, atau lima, mungkin masih sanggup mengalahkan mereka meski butuh waktu, tetapi yang mengejarnya terdapat sekitar dua puluh orang.


"Belok kiri. Arahin mereka, Mel. menjauh dari tangga gedung D." Ucap suara ditelinganya.


Maka Ia berbelok ke ruang kelas mengalihkan dua puluh orang itu dari Baskara, memasuki ruang kelas.


"Aku akan dukung kamu, Bas." Lirihnya didalam hati selagi melakukan pengorbanan diri.


"Sekarang merangkak naik ke tangga gedung D. Lariiii..." Seru Wijaya kepada Baskara.


Mereka berdua berlari sekuat tenaga menaiki tangga menuju lantai tiga. Sebelum bertemu Saga di lantai lebih atas lagi yaitu, Rooftop. Permainan telah sampai dirintangan terakhir.


Melody sungguh bersiap melawan dua puluh orang itu. Meski kalah, setidaknya pengorbanan ini berarti bagi Baskara. Jiwa dan raganya telah Ia persiapkan untuk seorang yang berarti baginya.


Tangannya terkepal. Siap menghalau kerusakan yang terjadi. Sekuat apapun dirinya Ia telah kalah, tak ada seorang pun yang mampu melawan dua puluh orang cowok sekaligus jika mereka serius.


"Sebaiknya lu nyerah dan buka baju lu. Tunjukin sesuatu yang bikin gua iba sama lu." Dilanjutkan dengan tawa memaksa setelahnya.


Mereka mengitari Melody hingga terkepung. Melody makin mundur mendekati jendela kelas. Karena didepannya telah banyak cowok bedebah yang menginginkan tubuh eloknya.


Napas terasa berat, gugup, tangannya gemetar ringan, keringat telah membasahi seluruh baju hitamnya karena lari melunturkan sebagian maskara yang Ia kenakan. Pikiran Melody benar-benar kosong saat ini.


Mereka cekikikan dan semakin mendekat.


"Suara kamu bagus, nyanyiin dong."


"Aku mau digitarin setiap hari. Hahaha.."


"Senyum dong, ******."


Melody pasrah jika sampai akhir hidupnya masih harus direndahkan dan merasa rendah diri seumur hidupnya. Mengiklaskan diri. Ia akhirnya paham alasan dirinya hidup adalah berkorban untuk Baskara.


Kini, tugasnya telah selesai. Tangannya tak lagi terkepal. Tangannya mulai meraba kusen jendela di belakangnya. Ia berniat melompat dari sini daripada harus menyerahkan tubuhnya kepada cowok-cowok brengsek. Ia merasa lega bisa membantu Baskara sejauh ini. Menghela napas panjang mempersiapkan diri untuk bertanggung jawab diperadilan dunia karena perbuatan tercela ini. Melangkahi malaikat maut untuk mencabut nyawanya.


'Bunuh diri'.


Wijaya memasang wajah cemas. "Maafin gua, Mel. Gua nggk tau harus gimana."


Checkmate bagi Melody.


"Kyaaa.."


Klotakk


Earbudsnya terlepas.


***


"Bopong mereka yang terluka dari depan gerbang, bawa kesini." Ucap Fara kesal.


Lantaran mereka yang terluka terus berdatangan sejak tadi. Merasa kewalahan karena harus menbidai korban patah tulang seorang diri. Tapi Fara tidak mengeluh satu kata pun dimulutnya.

__ADS_1


"Minta bawain kain kasa sama alkohol lagi."


"Siap, Kak."


Tangannya melilitkan kain kasa dikaki seorang anggota yang berdarah.


"Darahnya merembes deras. Lukanya terlalu besar. Tolong bawain alatnya."


"Kyaaaaa.."


Fara mulai menjahit luka tersebut tanpa menunggu reaksi obat bius yang sebelumya disuntikan.


"Tutup mulutnya. Kita nggk ada waktu nunggu bius bereaksi. Pelan-pelan dia juga bakalan menyesuaikan."


Setelah diawalnya memberontak. Karena biusnya mulai meresap dan bereaksi memberikan efek mati rasa di area yang disuntikan. Maka pasien mulai tenang, kala benang menarik kulit, juga sedikit daging.


Pasien bergelimpangan diruangan Fara. Banyak yang belum mendapatkan perawatannya. Ia berusaha secepat mungkin menangani satu per satu pasien. Ia senang merawat seseorang, tapi kenapa harus terjadi perang?


***


Seorang bergaun putih, berlari pelan seraya menjinjing roknya yang panjang dan tebal. Ia kesulitan karena mengenakan high heels, meski begitu Nadir terus memaksakan telapak kakinya untuk berlari menyusuri lorong kelas.


GEDEBUGG!


"Aww.." Nadir memegangi kaki yang mengganggu keseimbangannya. Kini Ia terduduk dilantai keramik. Melihat penyanggah heels kaki kanannya patah.


Nadir memutar mata sebal. "Kenapa harus patah sekarang?" Maka Nadir melepas kedua high heels miliknya. Menjinjingnya bersamaan dengan roknya. Lalu berlari lagi berbelok ke sisi luar gedung C. Sorot matanya terarah ke suatu ruangan.


Seorang didalamnya juga menoleh menyadarinya.


Itu Fara.


Mata mereka menjadi segaris dalam beberapa detik. Namun tak ada kata-kata apapun.


Fara masih mengurusi anggota yang terluka dibantu oleh yang lainnya. Sedangkan, Nadir berlalu didepan pintu ruangannya.


Teringat sahabat terdekat yang Ia miliki telah berbohong. Karena memang sesungguhnya terjadi sesuatu yang tidak wajar malam ini. Tetapi Fara menutupi semua darinya. Nadir merasa dikelabuhi oleh sahabatnya sendiri. Perasaan yang sama, seperti saat dianggap tak ada oleh orang-orang yang merundungnya dulu.


Terlintas sejenak diingatan Fara. Disaat Rengga dan semua petinggi, menyusun formasi juga rencana pengamanan.


"Jangan kasih tau, Nadir." Himbau Pras pada Fara. "Rahasiain semua yang kita bicarain disini dari dia."


"Kenapa?" Tanya Fara.


Sedangkan yang lainnya hanya menyimak apa yang akan Pras katakan tentang ini. Menghargai setiap pendapat yang diucapkan anggota lain.


"Sekarang kita bener-bener nggk tau, Far. Nadir memihak kemana?"


"Udah gila lo, Pras. Dia sahabat gua. Lu suruh gua bohong? Nutupin semuanya?"


"Cuma sampe ini semua selesai. Setelah itu lu bisa minta maaf ke dia kan."


"Basi lo! Nyuruh jual persahabatan gua demi perang yang nggk penting ini?"


"Demi kelangsungan organisasi, Far. Juga keamanan disekolah kita." Ucap Pras merayu. "Iya kan, Han?"


"Pras bener, Far. Bisa aja Nadir jadi tokoh kunci yang nggk kita duga di Pensi nanti."


Hening.


"Tolong kerjasamanya ya, Far." Imbuh Hansel lagi.


Fara memutar mata sebal. Terpaksa mengiyakan saran milik Pras karena yang memintanya sekarang ialah Hansel. Fara memandang hormat seniornya yang pandai memasak itu, seraya memendam kekaguman yang tidak pernah diungkapkan. Seorang yang membawanya masuk ke dalam putaran roda tak berujung.


Kembali malam Pensi.


Disaat mereka berpapasan. Ia mengetahui rasa kecewa dari sorot mata Nadir dikala memandangnya. Fara sungguh telah siap jika saja sahabatnya pergi dan tak kembali. Rela dengan akar konsekuensi atas kebohongannya.


Siapa yang tau Fara lebih memilih menurut Han dan membohongi sahabatnya? Dunia penuh kejutan bukan?


Karma datang lebih awal bagi Nadir. Setelah apa yang Ia lakukan kepada Alex. Sekarang dirinya pun ikut mengerti betapa pedih dikhianati oleh orang yang paling memahaminya. Memberikan rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Karena memang, tidak ada kata yang sanggup menggambarkannya.


Disela pertemuan singkat itu. Pandangan mata mereka yang beririsan telah menjelaskan semuanya, mempertanyakan pertanyaan yang tidak harus diucap, dan menjawab pertanyaan yang tidak harus dijelaskan.


Karma.

__ADS_1


***


__ADS_2