Baskara : Liberation

Baskara : Liberation
Chapter 17; Kebenaran.


__ADS_3

Tiga bulan lalu.


Depan kelas setelah bel pulang.


"Vin, kita harus gimana? Didepan gerbang pasti udah ada mereka." Ucap Kimon khawatir. "Gua nggk mau disuruh aneh-aneh lagi."


"Tenang aja." Sanggah Kevin. "Kita lewat aja kayak biasa." Ia menepuk-nepuk bahu Kimon menenangkan.


"Gua sering terlambat kerja, Vin. Karena tertahan mereka."


Kevin terdiam menyimak perkataan temannya.


"Kalo gini terus gua bisa dipecat dari minimarket tempat gua kerja." Kimon mengeluhkan perbuatan orang-orang tak beradab itu. "Kita harus mulai melawan mereka, Vin. Kita tunjukin bahwa kita nggk selemah itu, untuk nurut sama mereka terus."


"Gua paham." Kevin mengangguk.


Seperti biasa, Rengga menghisap rokok diseberang gerbang sekolah mencari mangsa untuk uang sakunya hari itu. Jika tidak mendapatkannya pun tak apa, menurutnya paling tidak dirinya bisa melewati hari ini dengan lebih cepat. Maka Rengga suka mencari 'hiburan' untuk kesenangan semu bagi dirinya.


Pikirannya sering gusar tak karuan terhadap hal-hal yang tidak bisa Ia kendalikan, juga cemas terhadap sesuatu yang tidak pasti saat bergeming dalam sepi. Oleh sebab itu, hisapan rokok membantu napasnya lebih teratur dan jantungnya tak berdetak seakan mau meledak.


"Bos, bocah 'cunguk' baru keluar." Ucap Keni menawarkan sebuah hiburan. "Mau nggk?"


"Pras lagi jaga nggk hari ini?"


Keni 'celingak-celinguk' memastikan. "Nggk ada bos. Kayanya Pras tidur lagi."


"Cegat tuh bocah!"


Kevin dan Kimon yang berjalan tenang ditrotoar berusaha membaur dengan sekitar agar tidak kentara oleh Keni.


Sesungguhnya Kevin seorang yang manja juga cengeng, Ia terus menyembunyikan itu dibalik senyumnya. Meski begitu, Kevin merupakan seorang yang hangat.


Selama ini Kimon mengagumi kedewasaan Kevin dalam menanggapi keluhan tentang dirinya. Menenangkan Kimon adalah upaya Kevin melupakan ketakutan dalam dirinya, dengan begitu mereka bisa terus berteman.


Srep!


Lengan Keni memalang dihadapan mereka berdua. Dengan telapak tangan tersanggah ditembok. Matanya menatap dengan senyum meringis meremehkan. "Ikut gua."


Kevin memasang wajah masam. "Kenapa gua harus ikut?"


"Udah berani pake kata 'Lu-gua'." Keni meringis mencemooh. "Lu kayak baru sekali aja ketemu gua, Bocah!"


"Gua nggk mau!"


Kimon menoleh khawatir. Permintaannya untuk memberi perlawanan benar-benar dikabulkan oleh Kevin dengan lugas. Meski takut, Ia pun ingin membantu perlawanan temannya.


"Gu-guaa nggk takut lagi sama lu." Tegas Kimon terbata.


Keni menggertakan gigi kesal. Tangannya mencengkeram kerah Kevin. Tinju tebal mengarah ke wajah Kevin.


BLAMM!!


***


Mereka diseret paksa oleh Keni ke suatu tempat.


Kini Keni hampir selesai meluapkan amarahnya kepada Kevin yang terlihat sok berani dimatanya. Tangannya telah membiru karena terus beradu dengan tengkorak kepala Kevin secara langsung.

__ADS_1


Mereka berada dibangunan tak terpakai yang tak jauh dari sekolah, tembok rapuh yang berlumut, juga banyak sulur dari tanaman rambat yang menghiasinya. Terdapat pula bata merah, tumpukan sak semen, dan pipa besi bekas proyek mangkrak yang tak kunjung dikerjakan.


"Gua akan rekam ini buat peringatan bagi orang-orang seperti lu!" Keni meraih hape miliknya dari saku, mengarahkan kamera tepat didepan wajah Kevin yang telah babak belur.


"Lu keliatan kesel banget sama tuh bocah, Ken?" Tanya Rengga dari sudut ruangan gelap.


"Digerbang tadi dia ngelawan, Bos. Gua harus lakuin sesuatu biar mereka jera."


Rengga memicingkan mata seraya menghisap rokoknya. "Bocah satu lagi mau lu apain?" Tangannya lalu sibuk membuka plastik klip berisi obat yang tidak diketahui apa itu.


"Gantian, Bos. Satu ini dulu gua kelarin. Nggk cukup tenaga mukulin dua-duanya barengan."


Mendengar itu Kimon gemetar. Ia sungguh menyesal meminta Kevin untuk memberontak tadi. Jika tidak, mungkin Keni tidak akan segusar itu sekarang. Dan seperti hari biasanya mereka hanya akan jadi 'hiburan' saja.


Keni telah memulainya. Rekaman video yang akan Ia sembunyikan difolder hapenya paling dalam, menjadi kesenangan semu yang tak berarti.


"Jangan bang."


BLAM!!


Diri Kevin yang penakut muncul tak bisa disembunyikan lagi. Tak ada kata menolak lagi untuk setiap kata, yang dikatakan Keni maka Kevin akan melakukannya. Tapi kini dirinya telah memohon ampun dari seorang beringas dihadapannya, namun tidak dapat.


"Lepasin saya bang."


BLAMM!


Kevin tersungkur menepis pukulan sebisanya. Baginya dunia tak berarti lagi, pengalaman terburuk dalam hidupnya terjadi disini.


Keni berhenti merekam video miliknya.


Kevin meronta meminta dilepaskan, dirinya sadar tak seharusnya bersikap sok berani seperti itu demi terlihat kuat didepan temannya. Pelipisnya membengkak biru, Kini merasa tak sanggup berdiri.


"Ampun bang."


BLAMM!


Kimon gemetar lagi, melihat Kevin dipukul sekeras itu. Darah hangat mengalir pelan disebuah tembok rapuh dari kepala belakang Kevin. Membuat Kimon terbelalak meraih sisi tembok dibelakangnya.


"Bangun bangsat!" Keni menjambak rambut Kevin memaksanya untuk berdiri. Kevin hanya menampakan matanya yang memutih.


BRUK!


Keni tertegun dengan wajah memelas, melepaskan cengkraman tangannya terhadap rambut Kevin, dan mendapati tangannya dinodai darah hangat yang baru saja mengalir keluar disela-sela rambut Kevin.


Plok!


"TOLOL!" Rengga mengeplak kepala belakang Keni. Matanya terfokus kepada keadaan bocah yang telah dirundungnya sampai terlampau batas. Mereka berdua menyadari bahwa Kevin tak lagi bernyawa.


"Bos maafin gua. Bikin masalah jadi sebesar ini." Ucap Keni meminta pengampunan.


Rengga menghela napas seraya merengus. "Pindahin jasadnya. Nanti gua yang urus."


Kimon menjadi saksi petaka yang menimpa teman dekatnya. Keadaannya sungguh tak baik setelah melihat Kevin sudah tak bernyawa. Ketakutan meresap kedalam dirinya, nasib yang sama akan menimpanya. Kimon meraba tembok kasar mencari jalur pelarian untuk kabur dari situasi ini namun lututnya telah lemas hanya dengan melihat semua itu.


PRANGG!


Tidak sengaja tangannya menjatuhkan pipa besi yang berada disampingnya. Mengalihkan pandangan mata kedua orang didepannya.

__ADS_1


"Bocah ini harus kita apain, Bos? Dia udah ngeliat semuanya." Keni memajukan langkah memastikan Kimon tidak akan kabur kemana pun.


Matanya terbelalak lagi. "Jangan, Bang. Saya akan tutup mulut. Saya janji nggk akan bilang siapapun." Kimon berdalih meminta ampunan.


"Lu jangan kabur bangsat."


Kimon bersujud memohon juga dengan tangisan memaksa. "Saya akan lakuin apa aja, Bang. Tolong lepasin saya. Setiap pulang sekolah boleh suruh saya apa aja, asal jangan bunuh saya kayak Kevin."


Sementara itu sebuah tangan menahan bahu Keni. "Udah, Ken. Jangan memperkeruh situasi. Kita lepasin aja dia. Kalau informasi sampe dibocorin, kita akan bocorin juga kepalanya kayak temennya."


Keni menghela napas. "Pergi lu! Seterusnya jangan lagi keliatan sama mata gua!"


Maka Kimon berlari sekuat mungkin serasa dirinya hampir mati. Tak peduli menginjak air yang menggenang diantara pan blok, menjauh dari tempat orang gila tadi merundungnya. Napasnya tercekat sejenak namun tidak menghentikan langkah kakinya menuju rusun tempatnya tinggal.


Setelah itu Rengga mensiasati kejadian tak terduga itu dengan menyuap salah seorang polisi penyelidik untuk melaporkan kasus kurang bukti. Lalu meminta agar segera ditutup. Membungkam semua kebenaran.


***


Panti sosial, Dinas sosial, Jakarta.


"Kondisi Kimon gimana sekarang, bu Dina?"


"Tubuhnya udah meresahkan kondisinya, karena kekurangan nutrisi. Psikisnya juga sama parahnya, Kimon susah memulai komunikasi sama orang lain." Tutur bu Dina.


Kini Kimon tengah menjalani masa rehabilitasi disalah satu dari tiga Panti Sosial di Jakarta yang menampung orang dengan gangguan jiwa dibawah naungan Dinas Sosial DKI Jakarta. Semuanya ditampung berdasarkan tingkat gangguan kejiwaan, mulai dari yang ringan hingga berat. Setiap Panti Sosial tadi memiliki tingkatan yang berbeda-beda sesuai kebutuhan pasien.


"Kira-kira Kimon sudah mengurung diri hampir tiga bulan tanpa keluar rusun. Ketika pertama sampai, kami tau bahwa dirinya sedang dehidrasi parah." Lanjutnya lagi. "Maka saya dan pak Jajang memberikan minum berkala selama setengah jam sekali."


Pak Jajang yang berada disebelahnya mengangguk. Ia ikut menemani ketika penjemputan dirusun Kimon hari itu.


"Kondisi psikisnya gimana, bu?" Tanya Wijaya penasaran.


"Ibu nggk bisa ngomong banyak soal itu. Tapi akan saya coba jelasin dengan sederhana." Ucapnya tak ingin membuat kedua muridnya kecewa. "Secara garis besar, karena Kimon mengurung diri selama itu. Mentalnya jelas terganggu, yang pertama dirinya kesulitan kembali menjalin hubungan dengan orang lain, makanya dia bersikap histeris dengan kedatangan kalian, karena 'overprotective' dengan 'zona aman'-nya." Bu Dina memberi jeda sejenak. "Kedua merasa gagal sebagai manusia, secara psikis merasa terasing dari lingkungan sosial. Dalam tiga bulan terakhir Kimon hidup trauma sendirian dengan rasa sepi."


Hening. Semua telinga berusaha mendengar ucapan bu Dina dan meresapinya.


"Di Panti Sosial ini mereka akan diajarkan kembali bersosialisasi dengan sesamanya, tak ada hape, Internet, atau video game. Mereka dibiasakan kembali berkomunikasi lisan dengan orang lain, juga menjalani perkerjaan ringan agar fisiknya tetap sehat."


"Ngomong-ngomong.. gimana caranya Kimon bisa bertahan nggk keluar rusun selama tiga bulan, bu?"


Bu Dina menggenggam kedua tangannya menyondongkan badannya agak kedepan berusaha menjelaskan lagi. "Seperti yang kita lihat dilokasi, dia hanya mengandalkan stok makanan instan cepat saji yang didapat dari minimarket tempatnya bekerja dulu. Juga ada televisi dan permainan konsol untuk dirinya bertahan lebih lama."


Wijaya dan Baskara mengangguk berbarengan antusias menyimak.


"Terimakasih. Baskara, Wijaya." Ucap pak Jajang. "Kalian sudah melaporkan kepada kami. Sehingga bisa cepat ditangani. Kalau saja lebih lama.."


"Kenapa pak?" (Baskara)


"Di Jepang, fenomena seperti ini sudah menjadi salah satu masalah sosial yang besar. Semakin lama seseorang mengurung diri seperti itu. Maka akan semakin sulit untuk mereka bisa kembali ke lingkungan masyarakat." Tutur pak Jajang. "Mereka adalah orang-orang yang sudah tidak kuat menghadapi tekanan hidup, tidak mampu lagi menghadapi kerasnya dunia, sehingga memilih untuk mengurung diri. Di kasus yang ekstrem bahkan bisa mengurung diri selama berpuluh-puluh tahun atau mungkin sampai tidak bisa dilacak kematiannya."


Mereka berdua mengerutkan dahi keheranan. Mendengar betapa berbahayanya perilaku yang telah Kimon lakukan, andai saja mereka tidak menemukannya mungkin saja bisa berakibat fatal bagi Kimon dan lebih sulit untuk pemulihan.


"Berapa lama bisa pulih, pak?"


Pak Jajang menghela napas mendongak ke atas seraya memikirkan jawaban. "Nggk ada yang tau pasti, Bas. Semua tergantung diri Kimon sendiri. Kami akan pantau terus sampai dia bisa kembali ke lingkungan masyarakat."


Setelah melihat keadaan Kimon mereka berdua pun bergegas kembali menjalani hari. Wijaya mengatakan memiliki rencana untuk malam Pensi nanti, tapi ingin mempelajari lebih dalam lagi tentang itu. Sedangkan Baskara memilih untuk mempercayakan semua itu kepada temannya untuk menyusun strategi, sehingga dirinya bisa melibas semua halangan untuk bisa sampai kepada 'raja terakhir', melumpuhkannya, demi menegakan keadilan yang telah dibengkokan oleh Rengga. Menyeretnya ke tempat seharusnya dia berada.

__ADS_1


Penjara.


***


__ADS_2