Baskara : Liberation

Baskara : Liberation
Chapter 27; Penembak Misterius.


__ADS_3

Kilas balik setahun lalu.


Brumm..


Sebuah mobil melaju memasuki gerbang sekolah. Inilah hari pertama Fara memasuki SMA ELANG EMAS, Ia bisa masuk sekolah unggulan ini karena koneksi keluarganya.


Angel Farasya, seorang cewek yang berambisi menjadi dokter. Oleh sebab itu, Ia ingin memastikan tempat belajar yang baik bagi dirinya. Nama sekolah ini telah membuktikan banyak keberhasilan dari lulusan terbaiknya, reputasi Elang Emas cukup baik.


Wajahnya terpukau saat melihat lingkungan sekolah untuk pertama kali, pepohonan di jalan masuk yang menyejukan kulit, juga warna cerah milik bunganya memanjakan mata. Ia termangu ketika sampai di lobby, yang pada akhirnya akan menjadi tempat terakhirnya menghembuskan napas.


Fara menekan pedal gas pelan, Ia merasa cukup untuk hari ini. Maka dirinya memutar stir berbelok untuk keluar gerbang. Matanya melihat sosok seram dengan luka bakar di pergelangan lengannya menelisik di depan gerbang.


Itu Saga, hari itu dirinya turun langsung untuk berjaga setelah tragedi 'Senja Berdarah' dengan Murai Merah, tak banyak yang selamat dari sana. Saat itu juga, sistem pajak mulai berjalan, dirinya sedang mencari reputasi untuk izin pemungutan pajak secara legal di sekolah.


Brak!


Mobilnya digebrak dari sisi lain Saga berada. Seseorang muncul, mengetuk kaca mobil seolah memerintah untuk dibukakan.


Syut!


Kaca mobil terbuka turun. Itu Rengga masih dengan rambut gondrong, wajahnya memaksa masuk mendekati kursi supir. "Mobil lu bagus. Bagi duit gua. Buat ngerokok." Pintanya.


Fara menautkan alis heran. Dirinya yang mengira sekolah ini akan diisi oleh murid-murid terbaik, ternyata memberikan kesempatan untuk berandalan seperti mereka masuk ke sini. Tangannya telah mengepal, Fara telah dikaruniai bakat, sejak kecil telah rutin mengikuti latihan beladiri.


"Reng, udahlah. Jangan gitu, kita harus jaga mereka." Himbau Saga. "Dari pajak aja cukup kan."


Rengga menatap kecewa memundurkan wajahnya tak meminta apapun lagi. "Jalan lu!" Jemarinya memberi tanda untuk lewat.


Fara yang tak sempat berkata apapun memutar mata sebal. Menarik gas lalu pergi, sebelum pulang ke rumah Ia memutuskan untuk mampir lebih dulu ke minimarket dekat sekolah.


Clak! Cesss


Ia membuka minuman kaleng bersoda, duduk di tepi jalan depan minimarket. Fara menenggaknya pelan, lalu menaruhnya lagi. Dirinya berusaha tenang atas apa yang tadi menimpanya.


"Pemalakan? Udah gila tuh orang." Fara meracau ngasal, menggelengkan kepala seolah tak percaya.


Fara meminum sodanya berpemandangan mobil dan motor yang lalu-lalang di depan matanya. Sedangkan, mobilnya diparkir agak jauh dari tempatnya duduk di meja bundar berpayung.


Samar-samar ada suara benturan dan langkah kaki. Namun tidak terdengar di telinganya karena kebisingan kendaraan lain.


Setelah selesai Fara bergegas kembali ke mobilnya.


"Kyaaaaa.."


Ia berteriak melengking kaget. Lalu segera menutup mulutnya rapat seraya melirik kanan dan kiri, memastikan tidak ada yang melihatnya barusan.


Lantaran matanya melihat seorang cowok putih berperawakan tinggi terkapar di samping mobilnya dengan luka memar dan sedikit berdarah. Fara memiringkan wajah mengamati, berusaha menelaah situasi. "Kenapa ada cowok terkapar di sini? Apa cowok itu baru saja berantem?" Fara berpikir mungkin saja banyak murid berandalan seperti di depan gerbang tadi, dan berusaha memaklumi fenomena di luar ekspektasinya terhadap lingkungan sekolah ini.


Fara mendekatkan telapak tangannya berupaya menepuk pelan untuk membangunkan cowok itu.


Tap!


Sebuah tangan kasar menangkap jemari Fara yang ternyata merupakan milik cowok itu, membuatnya kaget untuk kedua kalinya sampai berteriak melengking.


"Kyaaa-"


Yang kemudian di tutup oleh telapak tangan cowok itu selekasnya.


"Tolong gua." Rintihnya pelan.


Plar!


Fara menampar cowok itu hingga tak sadarkan diri lagi. Ia kembali menutup mulut, setelah menyadari tindakannya tadi bisa saja membunuh orang yang telah sekarat di ambang hidup dan mati. Membuatnya bergidik akan kondisinya.


***


Sebuah mata terbuka perlahan. Karena merasa bersalah Fara membawa cowok itu ke rumahnya untuk diobati. Ia menyadari cowok itu telah siuman.


"Lu siapa?" Tanya Fara seraya menodongkan sebilah gunting medis.

__ADS_1


"Hansel." Jawab cowok itu lugas. "Alfonsus Hansel." Mata Han menelisik melihat ke segala sudut ruangan. Sekarang dirinya menyadari baru saja tertidur di sebuah sofa ruang tamu seseorang.


"Lu masih hidup kan?" Tanya Fara ngasal.


"Masih lah." Sahutnya langsung. "Ini gua bisa jawab."


"Terus lu ngapain tiduran di samping mobil gua?" Fara menautkan alis dengan sorot mata waspada.


"Gua abis dikeroyok." Sahut Han lagi, seraya berusaha bangun untuk pergi. "Ini diapain dah kaki gua?"


Mata Fara memperhatikan kaki yang ditunjuk oleh Han. "Itu namanya dibidai. Pertolongan pertama buat cidera patah tulang."


Han memasang wajah kebingungan. Memperhatikan apa yang dilakukan cewek itu kepadanya. Lalu setelah beberapa detik, "Makasih ya, udah nolong sejauh ini."


Fara cemberut masam.


"Tapi gua harus pergi." Maka Han mencoba berdiri dari sofa. "Aww.. " Rasa sakit kakinya membuatnya terduduk lagi.


Fara masih diam seolah menanti ucapan cowok di depannya seraya bersidekap dada menautkan alis lagi.


"Kayanya gua harus di sini dulu deh." Han menyeringai memaksa.


Setelah itu, mereka saling berbincang bertanya tentang satu sama lain menjadi pencerita dan pendengar bergantian.


"Oh jadi lu murid Elang Emas juga?" Tanya Fara antusias.


"Iya."


"Gua nggk ngira, lah tapi tadi lu nggk masuk sekolah dong?"


"Gua ada keperluan keluar tadi." Han meringis dengan mengusap kepala. "Jadi lu murid kelas satu? Pantesan lu nggk kenal sama gua."


"Emang lu siapa di sekolah?" Langsung disambar pertanyaan spontan.


"Ah bukan siapa-siapa, cuma anggota organisasi yang baru dibentuk."


"Ohh.." Jawabnya tanpa penasaran.


"Hmm.." Fara berpikir untuk sesaat. "Gua pengen jadi dokter setelah lulus, soal itu gua belajar dari youtube doang. Gua suka ngobatin orang."


Mendengar itu maka Han memperhatikan sekujur tubuhnya yang terobati dengan baik. Kakinya dibidai, juga luka memarnya diberi plester pereda nyeri. Merasa beruntung menemukan cewek yang bisa merawatnya seperti ini.


"Anyway, organisasi perlu orang kayak lu." Tutur Han semangat menyelipkan pujian. "Seorang yang bisa ngobatin luka orang lain. Lu mau.. ikut organisasi?"


Tak banyak berpikir, Fara mengangguk dengan mengangkat sebuah senyum. Melihat wajah cowok yang baru saja Ia obati membuatnya senang bisa melakukan itu. Memunculkan ketertarikan kepada senior berperawakan tinggi itu, Alfonsus Hansel.


"Mau gua masakin?" Ucap Hansel tiba-tiba.


Fara memandang remeh. "Emang bisa?"


Maka, Han memasakan sesuatu di rumah Fara dengan bahan seadanya. Makanan yang berhasil menyunggingkan senyum seorang cewek berparas 'bad girl' itu berkali-kali.


Seorang yang terkena panah cinta sangatlah malang.


Sepekan kemudian, Hansel mempertemukan Fara dengan seorang yang sangat Ia hormati, Sagara Husein. Meski sempat kaget karena sempat menilainya sebagai berandalan pemalak. Tetapi dengan penjelasan Saga, juga perasaan tenang di samping Hansel, akhirnya membuat Fara bergabung organisasi di tahun pertama SMA-nya.


Setelah diketahui kemampuan berkelahinya lumayan, beberapa bulan kemudian Fara diberi gelar petinggi oleh Saga. Berbarengan dengan Aditya Prasetya alias Pras -si bocah pirang- yang juga diangkat menjadi ketua tim pengamanan.


Pras dipilih melalui jalur berbeda, kabar panas menerpa dirinya. Ia dirumorkan dikeroyok oleh murid Murai Merah berjumlah sepuluh orang, lalu bisa bertahan melibas mereka semua hanya dengan tangan kosong. Membuat Saga memilih dirinya karena kemampuan itu.


Keuangan organisasi telah membaik karena pajak telah dipungut secara legal di dalam sekolah, membuat organisasi memfasilitasi Fara membeli peralatan medis. Senyumnya merekah karena bisa selalu berada di samping Hansel, meski tak diungkapkan. Kini dirinya telah menjadi ketua tim medis di bawah naungan organisasi.


Sebuah pertemuan yang membawanya mengikuti lomba lari tak berujung, kemudian mengarahkannya masuk ke jurang terdalam di muka bumi bagi kedua-duanya.


Angel Farasya dan Aditya Prasetya.


Neraka kematian.


***

__ADS_1


Sekarang.


Pras melangkah kembali ke arah Haikal yang masih tersadar. Namun tak sanggup lagi berkelahi. Matanya memandang dengan remeh.


"Gua masih sanggup.. gua belum kalah." Ucap Haikal seraya mencoba berdiri namun tidak sanggup.


Semua perkataan Haikal membuat Pras kembali lagi. Mengingatkannya pada sesuatu, meski Haikal lebih lemah dari yang Ia kira, namun cowok bermata coklat itu memiliki kemampuan untuk menyatukan pikiran banyak orang tanpa mengancam dengan ketakutan.


Grep!


Kepala Haikal dipaksa terangkat karena rambutnya digenggam kuat oleh Pras. "Lu nggk berguna.. karena lu lemah." Ujarnya. "Lu dipandang cuma karena bacot aja."


Haikal menghela napas, menatap tajam dengan perasaan tak terima. Kepalanya pening, tubuhnya lemas meringkih. Memaksakan untuk meringis.


"Gua baru sadar kalo lu itu ancaman." Tukas Pras seraya mengingat. "Dan gua bertugas buat musnahin semua ancaman.. apapun itu." Lanjutnya lagi. "Kalo udah gitu, anak buah lu bakal ngerti.. kalo lu cuma orang lemah yang banyak bacot."


"Setelah ini, semua bakal berubah Pras." Balas Haikal tak mau kalah. "Permusuhan antara pasukan pemberontak sama tim pengamanan bakal terjadi setiap hari." Haikal meringis mengintimidasi. "Kita akan banjirin sekolah ini pake darah. Itu juga kalo organisasi masih ada."


"Nggk akan.." Pras menggeleng. "Kalo lu duluan yang mati sekarang."


Mimik wajah Haikal seketika berubah menjadi getir.


Kemudian Pras meraih kepala Haikal dengan kedua jemari tangannya. Haikal yang masih tersandar di tembok mengikuti ayunan itu.


BLAM! BLAM! KREK!


Lutut Pras beradu langsung dengan wajah Haikal lebih dari sekali, hingga hidungnya patah, banyak mengucurkan darah menodai celana Pras juga pan blok tempat mereka berpijak.


Tes.. tes.. tes.. BLAM!


Mata Haikal tak lagi melihat jelas dengan wajah bercipratkan darah berantakan. Namun Pras tidak berhenti menyodorkan lututnya dengan keras. Terus mengadunya dengan wajah Haikal.


"Ayo kita pergi, udah nggk seru." Ujar seorang penonton yang menyimak sejak tadi. Lalu, bergegas pergi dari gerbang.


BLAM BLAM BLAMM!


Haikal tak berkomentar apapun. Pasrah karena terjebak di situasi yang tak memberinya pilihan lagi. Menikmati setiap hantaman di wajahnya.


Lampu jarak jauh menyilaukan mereka berdua. Sebuah mobil berhenti disamping trotoar tak jauh dari situ. Pras berusaha menghalau cahaya itu dengan telapak tangannya seraya memicingkan mata, berupaya mengetahui apa itu.


Brak!


Lampu itu mati, juga mesin mobilnya. Seseorang keluar dari kursi supir membanting pintunya pelan. Itu sebuah mobil mini cooper berwarna white silver metallic.


Haikal telah di ujung kesadaran tidak mengetahui hal itu, hanya Pras yang menoleh memperhatikan.


Samar-samar seseorang itu melangkah mendekat, mengenakan kemeja putih berlengan panjang berompi hitam dilengkapi dengan celana bahan yang senada dengan rompinya.


Pras terperangah kaget melihat sosok itu. Lantaran menodongkan pistol kepada dirinya yang sedang asik menghajar lawannya di ujung pertarungan.


DOR!


Pras mengerang kesakitan menyadari selongsong peluru mengenai paha kanannya. Maka Ia melepas Haikal dengan kasar seraya berjalan tertatih mendekati sosok itu. "*******! Lu siapa, BANGSAT?"


DOR! DOR! DORR!


Sekarang selongsong peluru telah bersarang menghiasi tubuh Pras. Sosok 'monster pirang' telah tumbang dengan cara yang tidak terduga, yaitu ditembak oleh orang yang tidak diketahui identitasnya.


BRUK!


Darah mulai mengalir di sela-sela pan blok mencari tempat yang lebih rendah. Maka mengalirlah ke sebuah lubang drainase di antara trotoar pembatas jalan.


Mobil mini cooper itu menampilkan plat bernomor aneh.


[R 33 VES]


Tap tap tap


Menghampiri tubuh Haikal yang sudah tak sadar lagi.

__ADS_1


***


__ADS_2