
Setahun lalu.
12.03
"Kamu berubah berapa hari ini?" Rengga bertanya seraya menautkan kedua alis.
"Aku ga berubah."
"Yang aku rasain, kamu menjauh.. Dan bates yang kamu kasih bikin aku nggk bisa berbuat banyak." Matanya menatap serius. "Aku pengen lebih mengenal kamu lagi."
"Aku lagi nggk baik. Nggk pengen diganggu."
"Aku bisa bantu apa, Najwa?"
"Gausah." Jawab cewek itu datar. "Aku nggk perlu dibantu sekarang."
"Aku pengen bantu kamu lebih baik, Najwa. Tapi disisi lain, Aku juga nggk mau ganggu kamu, kalo emang maunya gitu."
Hening.
Hati Rengga merendah serendah-rendahnya memuja cewek dihadapannya. Baginya, dirinya sungguh tak berarti dan tak layak bagi siapapun. Apa lagi yang bisa membuatnya layak selain berjuang memenuhi keinginan cewek pujaannya.
"Aku nggk perlu dibantu sama orang." Najwa menatap geram. "Emang lagi nggk pengen diganggu aja."
"Apa ada cowok lain yang deketin kamu selain aku?"
"Nggk ada."
Rengga mencari kepastian diantara sikap Najwa yang tidak pasti. "Apa aku masih punya kesempatan untuk yakinin kamu?"
"Masih."
"Okey Aku paham." Tingkah Najwa membingungkan siang ini. Tapi dengan narasi yang diberikan, Rengga memiliki anggapan sendiri.
"Aku hargain kamu kalo kamu emang lagi pengen kaya ini. Aku bakal ngejauh buat sementara waktu."
Bibir Najwa terlipat seolah ingin mengatakan sesuatu yang Ia pendam entah apa itu.
"Aku janji akan nunggu kamu. Sampai keadaan kamu lebih baik. Jangan sungkan ya.. untuk hubungin aku."
***
Sekarang.
"Kamu kemana Najwa? Ketika harapan udah numpuk sebesar ini?" Gumamnya menatap langit-langit lantai dansa. "Ketika aku telah benar-benar rindu sampai hampir nggk bisa tepatin janji."
Rengga sudah mabuk mencapai batas kendali kesadarannya hingga memanggil ingatan setahun lalu.
"Aku pengen ketemu."
Banyak yang ingin Rengga tanyakan, obrolkan, rasa penasarannya pada cewek itu belum padam hingga saat ini. Tapi Ia telah janji kepada Najwa untuk menjauh sementara waktu, yang tak disangka terasa selama ini. Seperti yang kita tau, Rengga adalah seorang yang menghargai sebuah janji. Walau harus meminum berbotol-botol 'racun' untuk melewati masa-masa penantian itu.
BRUKK!!
Seseorang dari arah lantai dansa menabraknya yang sedang terduduk di stool bar. Orang itu menatap sinis lalu pergi.
Kala banyak hasrat yang terpendam, kini memiliki satu alasan untuk berkelahi, Rengga mengejar seorang itu, menarik kerah belakangnya hingga terjungkir, menyeretnya.
SRETT
"Nyari masalah lu?" Seorang asing itu memberontak berdiri, mengarahkan tinjunya ke wajah Rengga.
BLAMM!!
Rengga tidak menghindar. Setelah terkena pukulan itu, Ia hanya menggerakan rahangnya ke kanan-kiri. Baginya biarlah perih ini meresap dirasakannya agar bisa menandingi rasa pedih hatinya saat ini.
BLAMM!!
Rengga masih diam meresapi.
"Sekarang giliran gua." Ucapnya ingin membalas.
Musik terputar tak ada yang peduli. Sedangkan, mereka hanya memikirkan diri masing-masing menikmati malam ini.
BLAMM!!
Rengga melepaskan tinjunya tepat diperut orang asing itu hingga terpental menabrak seorang lainnya.
__ADS_1
"Lu nggk bisa nyantai apa malem ini?" Ujar seorang lainnya merasa terganggu.
Krek-krek
Rengga meregangkan jemari juga persendiannya, meski mabuk Ia masih mampu jika hanya menghajar beberapa orang ini saja, lagi pula hasrat dalam dirinya harus dilepaskan.
Seorang siap meninju wajahnya namun Rengga mengelak, menendang kakinya seraya mendorong membanting.
BRUKK!!
Sesaat seorang mengambil celah menyikut punggungnya yang keras, dan lagi Rengga membiarkannya meresap kedalam badannya. Selama ini Rengga sudah sekeras ini dengan dirinya sendiri. Sekuat apapun orang memukul dirinya itu tidak akan terasa atau bahkan pulih dengan cepat. Tapi kenapa dengan hatinya? Yang selalu lemah dan rapuh.
Rengga menarik kerah orang itu. Menghempaskan wajahnya ke meja bar, menyeretkan wajahnya hingga gelas-gelas seloki terjatuh.
CRANG! BRUKK!
Belum sempat seorang dibelakang memukulnya, Rengga sudah menendangnya hingga terhempas dikeramaian lantai dansa.
Banyak mata tertuju kepada Rengga. Keributan yang Ia timbulkan sudah tidak memiliki obat penawar saat ini. Tidak ada yang lebih buruk selain dikeroyok orang satu club yang mabuk kan?
Semua orang itu berbarengan menerjang kearahnya didepan meja bar.
"Hahahaha.." Rengga terkekeh puas. Seolah Ia siap menerima semua rasa sakit itu. Menjemput kematian lebih cepat, Ia merasa itu lebih baik, dari pada menjalani kecemasannya selama setahun ini.
SRAKK!
Seorang tiba-tiba muncul. Lengan dengan luka bakar itu menarik stool bar menghempaskannya dari arah datangnya orang-orang itu. Membuat langkah mereka semua terhenti.
"Gua siap bertarung semaleman kalo kalian maju."
Saga menodongkan stool bar itu dihadapan banyak orang didepannya. Disusul dengan Pras dan Keni melindungi Rengga dari belakang Saga. Mereka datang menepati janjinya untuk kembali menjemput Rengga.
"Orang ini ketua organisasi Elang Emas kan?" Celetuk seseorang.
"Menurut ciri-cirinya sih iya."
"Liat tuh lengannya."
"Luka itu bekas pertarungan."
Semua orang menoleh.
PRAKK!
Saga menghantamkan stool bar itu ke kepala Rengga tanpa ragu, yang kini terkapar tak sadarkan diri.
Keni menatap geram melihat perlakuan Saga terhadap Rengga.
"Rengga bisa mati, Bos. kalo sering lu hajar kaya gitu." Ucap Pras ngasal.
"Dia nggk selemah itu." Jawab Saga santai. "Bopong Rengga, Pras. Kita bawa dia ke Markas. Ada yang lebih penting dari ini."
Saga meninggalkan club dengan keadaan semua orang tercengang dengan apa yang telah dilakukannya.
***
[Perusahaan Hoover High-Technologi tbk mengalami penurunan saham sebesar tiga puluh lima persen dalam satu minggu terakhir.]
Sebuah berita pagi ini.
[Penyebab penurunan ini dikarenakan founder sekaligus pemilik utama Perusahaan Hoover High-Technologi tbk Dr. Smith Hoover mengalami sakit parah hingga dirawat di Rs. Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.]
[Pemegang saham dipublik khawatir tentang isu kerjasama dengan perusahaan Reeves Group untuk memonopoli pasar kendaraan listrik di Indonesia.]
Air mata Alvin menetes untuk sesaat. Meski ayahnya begitu keras kepada dirinya, kabar tentang ayahnya yang sedang sakit menggores hatinya.
"Kamu kenapa?" Tanya Lala keheranan melihat Alvin yang menangis seraya menonton sebuah berita di televisi.
Alvin yang menyadari kehadiran lala segera tersentak untuk menyeka air matanya seraya terkekeh memaksakan. "Ahh.. tadi abis liat drama."
Lala Mengamati sorot mata Alvin. "Aku tau kamu bohong." Baru kali ini dirinya melihat Alvin berperilaku beda.
Hening.
Seperti wajarnya seorang cowok yang selalu ingin terlihat kuat. Alvin sesungguhnya enggan membahas hal yang membuatnya lemah.
Lala menghampirinya. Meraih tangan Alvin pelan. "Kamu nggk perlu pura-pura kuat didepan aku. Sama seperti kamu yang ngajarin aku begitu."
__ADS_1
Mata Alvin berbinar seperti kaca, menahan perasaan pelik yang hampir terluap didada.
"Kita bisa saling bergantung saat sedih atau kesepian. Mari jujur dan saling terbuka, Alvin."
Alvin menarik jemari Lala yang sedang bersentuhan hingga kini tak ada jarak diantara mereka. Kini tangannya meraih punggung Lala erat, begitu pun Lala mengelus rambut Alvin menenangkan.
Setelah cukup lama berdekapan. Alvin menjelaskan semampu yang Ia bisa ceritanya. Fakta bahwa dirinya telah diusir dari rumah oleh ayahnya, dan kini ayahnya sedang jatuh sakit, dan juga Ia telah berjanji kepada diri sendiri untuk tak kembali apapun yang terjadi. Sumpah serapah dari ayahnya pun memperkuat tembok yang telah Ia buat. Namun, dirinya pun merasa bingung dari mana asalnya tangis yang menderunya malam ini.
"Kamu hebat. Kamu menahan semuanya sendirian." Ucap Lala memuji. "Kamu berani ninggalin 'surga' demi kebebasan."
"Kalo aku nggk ninggalin 'surga' itu. Aku nggk akan ketemu kamu kan, Lala."
Hati Lala yang beku meleleh. Malam ini Lala sadar bahwa ternyata dirinya belum mengenal Alvin sepenuhnya. Ia sadar juga, selama ini dirinya lah yang lebih banyak bicara dari pada cowok sipit itu.
"Aku nggk menyesal dengan pilihanku. Cuman, ada perasaan yang aku nggk mengerti, muncul dihati."
Lala tersenyum menyimak. Dirinya kini sadar lagi, bahwa mulai sekarang akan mulai mendengarkan Alvin bila bersedih, mengimbangi apa yang Alvin telah berikan selama ini. Menyediakan diri untuk saling bergantung.
"Dan aku sekarang bersyukur." Lanjutnya lagi. "Tuhan telah gantikan semua pelik aku, dengan bertemu malaikat indah seperti kamu."
Kutub utara menyusul lelehan dihati Lala yang airnya telah membanjiri ruang diantara mereka berdua.
"Makasih, Alvin. Aku juga bersyukur bisa jadi bagian cerita dihidup kamu."
Senyum Alvin merekah. "Aku janji akan lindungin kamu. Memastikan kamu aman selamanya."
***
Matanya terbuka perlahan. Mendapati wajah Saga didepan sorot matanya. Kepalanya pusing terasa berat, perasaan pengar masih menguasai diri.
"Wey bocah nggk sayang nyawa!" Ucap Saga menggoda.
Rengga memicingkan matanya berusaha fokus. Menyadari itu Saga. Maka dirinya kembali menutup mata.
"Gua tau lu udah sadar." Kata Saga memulai. "Lu udah banyak bikin urutan masalah, dan sekarang semuanya udah menggulung jadi besar."
Pras dan Keni disampingnya menyimak.
"Kita akan perang bulan depan."
Rengga menoleh dari sofa tempatnya tertidur. Kini Ia mulai serius mendengarkan.
"Itu ulah seorang bocah, namanya.." Saga berusaha mengingat. "Siapa Pras?"
"Baskara Mahendra. Seorang murid kelas satu yang bikin Alex masuk rumah sakit dengan luka cukup parah."
"Bocah anjing!" Timpal Keni tak mau kalah. "Bikin gua malu di video yang tersebar itu."
Rengga menyela bertanya. "Lu kasih kesempatan ke bocah itu?"
"Bocah gitu nggk bisa dibiarin, Reng. Kalo didiemin juga bahaya. Cukup 'Jiwo' yang nggk bisa kita taklukin." Saga memberi jeda. "Kita kasih panggung untuk kekalahannya sendiri."
"Biarin gua yang ngatur rencana." Ucap Rengga lugas.
Semua diantara mereka sepakat untuk menyelesaikan semuanya saat perang dimalam Pensi nanti.
***
Rekaman CCTV terputar dihape seseorang. Tergambar Lala memasuki ruangan hotel menghampiri Keni yang sedang terduduk didepan cermin lalu meminum seloki minuman sekali tenggak.
CCTV berpindah ke area ranjang. Keni mencium pipi Lala dan bermain dengan rambut dipipinya. Seorang itu mendekatkan lagi videonya.
Entah bagaimana orang ini bisa mendapat video rekaman CCTV dimalam yang kelam bagi Lala.
Ia terkekeh. Seraya bermain dengan dirinya sendiri, menikmati apa yang terjadi disana hingga habis. Fantasi liar dari seorang pengagum rahasia.
Ia mengamati sesuatu yang terjadi. Menikmati setiap jarahan perang disekitarnya.
Merangkai semua alur cerita untuk mendapatkan hal yang Ia inginkan.
Perlahan tapi pasti pada akhirnya skenario akan mencapai puncaknya.
"Gua akan dapetin lu, Lala." Ucapnya dengan suara tersamarkan. "Semua hati lu atau pun tubuh lu. Dan gua akan singkirkan semua yang menghalangi gua."
Ia melanjutkannya dengan terkekeh seolah semua dibawah kendali keinginannya. Seorang badut, memainkan kartu di atas seorang yang sedang bermain kartu.
***
__ADS_1