
CKLEK KRIEEET!
Pintu yang menuju tujuan akhir berderit sebelum akhirnya terbuka. Baskara disambut air hujan di hadapan matanya. Jika maju selangkah lagi, maka hujan akan menerpa tubuhnya. Oleh sebab itu, Ia menoleh ke samping kiri memicingkan mata memperhatikan sosok yang Ia cari.
Sagara Husein, Ketua Organisasi.
Saga berdiri tegap seraya mengenggam ujung payung yang bersandar di salah satu bahunya. Sedangkan, tangan satunya memegang payung lain, yang masih tertutup dengan posisi vertikal tersanggah ke lantai.
Dap dap dap
Baskara melangkah mendekati sosok itu menerabas hujan ringan. Setelah beberapa langkah, kini mereka berhadap-hadapan. "Ayo kita mulai." Ucap Basakara tanpa ragu.
Syuttt
Alih-alih, memulai sesuatu yang telah mereka janjikan. Saga melemparkan payung yang masih tertutup itu kepada Basakara.
Grep!
Setelah terkesiap untuk sesaat, kemudian Baskara menangkapnya dengan tetap hati. "Apaan nih?"
"Payung."
"Maksud gua, kenapa ngasih ini?"
"Pake aja dulu."
Sett
Maka Baskara membuka payung itu, juga menyanggahkannya di sela bahu. Manik matanya menatap seolah menanti lawannya melakukan sesuatu.
ZHRAASH!
Kedua cowok berpayung hitam berdiri berhadapan di atas atap paling tinggi di sekolah ini. Air hujan terbelah oleh payung mereka yang saling melihat lekat. Hanya berjarak dua meter segaris dengan bayangan Baskara.
"Nggk seperti yang lainnya." Ucap Saga memulai. "Gua tau lu bakal sampe sini, makanya gua siap buat sambut kedatangan lu."
Wajah Baskara yang kuyup menautkan alis mencari jawaban.
"Sederhananya, gua udah menilai lu, sebagaimana harusnya lu dinilai, Bas." Imbuhnya lagi. "Aura lu ngingetin sama diri gua yang dulu." Mata Saga mengarah ke sudut lain berusaha mengingat. "Ambisius, pendendam, nggk kenal takut. Gua pikir masih banyak yang harus lu tau."
"Apa?"
Sementara itu, Saga menggulung kemeja panjang yang menutup lengan kirinya. "Supaya lu jangan mengulang penghakiman yang melahirkan dendam lagi." Ia dengan gagah menunjukan luka bakar di tangan kirinya.
Baskara tertegun. "Lu dapet luka itu dari mana, Ga?"
"Ini cerita lama, Bas. Lu bakalan ngantuk dengernya." Balas Saga singkat.
"Gua mau denger langsung dari lu, Ga. Tentang kenapa sekolah kita musuhan sama Murai Merah? Kenapa lu bikin organisasi? Ceritain semua yang lu tau, dan jangan warisin musuh ketika lu udah nggk berkuasa lagi."
Saga tertawa kecil. "Gua bingung mulai dari mana.. yang pasti harus lu tau adalah.. sekolah ini emang udah banyak musuhnya dari dulu." Ia mendongak, berusaha menceritakan cerita yang bisa diingatnya.
ZHRAASH!
"Semua orang benci didominasi" Tuturnya memulai dongeng. "Sedangkan, sekolah kita -Elang Emas- merupakan sekolah naungan pemerintah dengan murid terbanyak di Jakarta."
Rintik hujan jatuh dari langit hanya untuk mendengar cerita legenda ini.
"Semua pengen musnahin eksistensi murid Elang Emas, sampe suatu waktu terjadi hal yang nggk bakal pernah gua lupain seumur hidup gua."
BHLARRRR
"Gua bakal tarik cerita lebih jauh lagi.."
***
Dua tahun lalu.
__ADS_1
Pinggiran kota Jakarta.
BRUMMM
Suara motor jadul berjenis Honda CB 100 mengarungi malam sepi di sebuah jalan yang sampingnya bersebelahan dengan rel kereta. Seorang cowok memakai seragam Elang Emas menjauh dari pusat ibu kota. Ia menarik gas pelan seraya asik menikmati suasana yang hanya ditemani lampu lalu lintas yang sesekali menerangi.
Drrrr jes jes.. jes jes.. jes jes
Tiba-tiba, desiran angin memecah keheningan cowok itu. Terlihat jelas dari raut wajahnya, Ia adalah Saga. Lalu, Sebuah kereta commuter line berjalan tepat di samping jalan miliknya, hanya dibatasi pagar beton setinggi satu meter.
Fokusnya terdistraksi saat melihat segerombolan murid berseragam mengenakan motor sport. Mereka kira-kira berjumlah sekitar dua belas orang dengan jenis motor sama.
Setelah lampu hijau, maka Saga menginjak persneling juga melepas tuas koplingnya perlahan seraya menarik gas di tangan kanannya. Tidak sebesit pun kekhawatiran muncul di kepalanya kala itu.
BRUMM
Setelah berjalan beberapa meter, cahaya lampu dari belakangnya membuat siluet bayangannya di depan motornya. Memaksa dirinya harus menoleh ke belakang memastikan.
"Wuaanjirr." Teriaknya kaget.
Segerombolan murid bermotor sport tadi mengikutinya, dan sekarang mereka hanya berjarak beberapa meter saja dari Saga. Entah apa yang mereka inginkan, namun fenomena ini tak bisa dianggap remeh olehnya.
CKLEK!
Ia pun menarik gas motor jadul itu seada-adanya. Kemudian menyongkel persneling untuk menaikan kecepatan lebih tinggi. Cowok itu membungkukan badan seolah memeluk tangki, melakukannya bak pembalap yang berjuang di lap terakhirnya.
Namun apa daya, sekuat apapun motornya melaju tetap tak mampu mendongkrak untuk kecepatan yang lebih tinggi lagi. Dan sekarang, dua motor sport itu telah berada di sampingnya seraya menghimpit perlahan. Jelas saja, karena motor sport itu memang diciptakan untuk memiliki kecepatan lebih tinggi.
"Berhenti lu!" Teriak seorang dari motor sport. "Lu bocah Elang Emas kan?"
"Iya gua bocah Elang Emas. Kenapa emang?" Saga menyahut dengan congkak.
Lantas, salah seorang pengejar itu tersulut emosi mendengarnya. "Bangsat!"
BRAK! GUBRAK! SREEK!
Ia menendang motor CB 100 itu hingga oleng, lalu terjatuh setelah sebelumnya sempat terguling beberapa kali.
Ban karet beradu gesek dengan aspal, itu berasal dari motor sport. Ia juga seorang murid berseragam tetapi dari sekolah yang berbeda, Murai Merah. Seorang itu melepas helm full face, lalu menaruh pelan di atas tangki motornya.
JLEG!
Memasangkan standar penyanggah, kemudian turun melangkah menghampiri, disusul dengan yang lainnya. "Siapa nama lu?"
Saga yang terjatuh itu memicingkan mata. "Sagara." Sahutnya. Motornya lecet cukup parah karena tangki motornya sempat terseret beradu dengan aspal sesaat. Namun kondisi tubuhnya cukup baik, meski terhuyung tetap mencoba berdiri. "Mau lu apa, Njing?"
BRUMM BRUMM
Sepuluh motor lainnya tiba, melingkari dari semua sisi tempat Saga berdiri. Juga dua orang yang berdiri di hadapannya mengenakan seragam yang sama, Murai Merah.
"Angkut dia!" Titah salah seorang cowok berhelm full face. Namanya, Barlan.
***
Area Pergudangan, Jakarta timur.
Bakbukbakbuk!
Saga diseret paksa oleh komplotan senior murid Murai Merah. Memperlakukannya bagai tawanan perang, mengikatnya tangannya di atas drum besi berkapasitas dua ratus liter bensin. Menggambarkan situasi dikepung oleh dua belas orang yang berisikan murid Murai Merah.
"Nama gua Barlan.. jadi perasaan gua lagi kaga bagus hari ini." Ucap Barlan memulai. "Jadi gua bakal mukulin lu sebagai balasan." Tuturnya lagi. Seorang cowok superior dengan kharisma berbeda dengan lainnya, memiliki ciri khusus dengan tindik hitam di telinganya. Jelas Ia merupakan pemimpin dalam geng sekolah ini.
[Barlan Wanayasa, Pilar Murai Merah.]
"Balasan apa?" Sambar Saga ketus.
"Gua keinget lagi, setahun lalu, gua dipukulin pas lewat sendirian di depan sekolah lu." Tutur Barlan membalas sambaran Saga. "Dan sekarang, gua udah jadi Pilar Murai Merah." Imbunya lagi sambil berkeliling menenteng botol bir.
__ADS_1
"Persetan! Apa urusannya sama gua anjing?"
"Karena mereka -senior lu- nggk bakal biarin juniornya 'disayurin' sekolah lain gitu aja." Kini Barlan menjambak rambut Saga, juga mengarahkan ke arah mana cowok itu harus menoleh. "Lu bakal ngadu sama senior lu di sana." Wajah Cowok bertindik itu kini hanya berjarak tiga sentimenter menatap bulat-bulat.
"Cuihh.." Saga meludahi muka Barlan tanpa ragu.
Seketika, tindakannya membuat semua wajah anak buah Barlan terkesima atas keberanian Saga. Termasuk Gigih, tangan kanan Barlan yang identik dengan banyaknya ikatan gelang di lengannya.
[Gigih Prakoso, Tangan Kanan Barlan.]
Raut wajah Barlan seketika jadi masam. Setelah sebelumnya menyeka liur Saga yang bersemayam di wajahnya. Ia menarik kerah Saga mengintimidasi. "Jigong lu bau asep neraka, babi!" Ujar Barlan sambil memelototi. "Urus dia, Gih. Kalo gua emosi bisa mati nih bocah lama-lama."
Kemudian, Gigih menyiapkan karung besar juga kabel ties setebal 3,6 mm dengan panjang 30 cm.
Wush wushh
Gigih menyentakan karung tersebut di udara, membukanya lebar-lebar seolah akan memasukan sesuatu ke dalamnya.
Saga bergeming dengan dirinya sendiri. Firasat buruk melintasi benaknya saat melihat karung itu. Maka, Ia mengumpulkan tenaga di kedua bahunya.
Tetapi Kabel ties belum putus, membuat Saga harus berusaha lebih keras lagi.
Tsahh!
Kabel ties terputus di kali kedua sentakan Saga yang sejak tadi diikat di belakang pinggang. Ia meloncat dari drum besi itu ke arah belakang, mencari jalur pelarian di atas situasi yang tidak menguntungkannya ini.
Dap dap dap
Sontak Gigih dan semua anak buah Barlan berusaha mengejar Saga yang berusaha keluar dari area pergudangan. "Woy jangan kabur anjing!"
PRANG!
Barlan membanting bir-nya gusar. "Bocah sialan!"
Maka Saga berlari sekencang yang dia bisa. Mungkin itu menjadi lari terkencangnya selama hidup. Ia berbelok ke kiri seraya menjatuhkan drum besi kosong yang menggelinding.
Gigih juga yang lainnya kesulitan melompati drum besi yang digelindingkan Saga. Dengan ini Saga mampu menjaga jarak lebih jauh.
Saga melihat dari arah depan ada pengejar lain membuatnya tidak punya pilihan selain naik tangga besi yang berada di sampingnya. Membawanya terjebak semakin dalam di gudang yang tidak diketahui jalan keluarnya itu.
Barlan tak berpikir seperti yang lain, membuatnya mengambil jalan berbeda entah kemana.
Gigih telah melewati drum-drum itu, kemudian dirinya berlari sekencang mungkin membuntuti di belakang Saga.
Setelah di ujung tangga, Saga berbelok ke kiri lagi. Ia sempat terpikir bahwa ini adalah jalan kembali lagi ke arah dalam, dengan logika sederhana setelah belok kiri di bawah tadi, sekarang Ia belok kiri lagi. Tapi Ia tak peduli karena memang tak ada jalan lain lagi selain mengikuti lorong ini.
Barlan meregangkan tangannya, bersanggah di sebuah tembok berbahan spandek. Sedangkan, tangan lainnya memegang botol berisi cairan yang tidak diketahui isinya. Tak menunggu lama, Saga yang sedang berlari kencang terperangah melihat Barlan di depan matanya yang kini hanya berjarak lima meter.
Sreeek!
Saga menghentikan langkahnya, tangannya tergenggam seolah siap melibas Barlan dengan segenap kekuatan yang ada.
Dari arah belakang Saga, Gigih berlari tanpa disadari Saga telah sangat dekat. Dengan tangkas, Gigih melompat ke arah tembok spandek memberikan gaya dorong dengan kakinya. Kemudian mengayunkan tendangan menubruk ke tengkuk Saga.
BRUKK!
Saga tersungkur tak siap menerima tendangan tiba-tiba dari belakang. Sekarang Ia tersudut dikepung dua arah di sebuah lorong pergudangan.
dap dap dap
Barlan melangkah menghampiri Saga. Setelah cukup dekat, Ia menuangkan cairan dari botol itu ke arah tubuh Saga.
Sementara itu, Saga tak hanya diam melihat cairan itu dituangkan, Ia berbalik badan terlentang sambil menutupi wajah dengan kedua lengannya.
"Argggghh.."
Barlan melihat ke arah botol berwarna merah itu dengan wajah kecewa. "Tinggal dikit anjing!" Ia menghentakannya hingga tetes terakhir. "Siapa yang make air aki gua?"
__ADS_1
Dan sekarang terjawab sudah, bagaimana luka bakar itu bisa berada di lengan Saga. Tak disangka luka yang disebabkan Barlan itu akan memicu perang besar yang membuat sekolahnya menjadi neraka merah.
***