
[Kebahagiaan.]
Bu Dina memenuhi papan tulis putih dengan sebuah kata. Setelah menulis, matanya menatap seisi kelas satu per satu dengan hangat. Ia mengajar psikologi hari ini.
"Banyak persepsi tentang arti kebahagiaan." Katanya memulai. "Dalam hal ini, saya memiliki persepsi pribadi dengan acuan yang telah saya pelajari, dan kalian boleh untuk tidak setuju."
[Kebahagiaan adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens.]
Ia terdiam sejenak, memberikan jeda.
"Tentu saja makna sesungguhnya lebih kompleks dari penjabaran tadi. Oleh sebab itu, saya coba bercerita sedikit."
Maka, murid yang hadir mengangguk setuju.
[Ada seekor ikan kecil bertanya kepada ikan yang lebih tua.
"Aku mencari tempat yang disebut sebagai lautan." Katanya.
Ikan tua dengan perhatian menjawab. "Kau berada didalamnya, Nak."
"Bukan!" Ucap ikan kecil menyela. "Ini air. Aku ingin lautan!"]
"Ada yang mengerti maksud cerita tersebut?" Tanya bu Dina.
"Ikan itu tersesat di lautan bu." Jawab seorang murid ngasal.
Bu Dina terkekeh. Lantas memecah suasana kelas yang sempat hening.
"Saya curiga obrolan itu terjadi di empang, Bu. Bukan di laut." Saut seorang lagi membuat keadaan semakin riuh.
Setelah memberi waktu untuk tertawa, bu Dina bertanya lagi. "Ada yang lain?"
Lala mengangkat tangan. "Kalau laut dianalogikan sebagai kebahagiaan.. "
Bu Dina mengangguk, meminta dilanjutkan.
"Terjadi perbedaan persepsi tentang laut antara ikan kecil dan ikan tua."
"Tepat sekali!"
Lala tersenyum setelah menjawab puas.
"Kadang kebahagiaan itu dekat. Namun, beberapa orang tidak mensyukuri keadaan hidupnya, untuk menyadari kebahagiaan itu."
Pikiran Melody melayang mendengar pernyataan itu. Ia tidak setuju, karena selama hidupnya tidak pernah mengalami hal itu.
'Apa gua kurang bersyukur?' Terbesit tanya di benaknya.
[Jika boleh saya beri saran. Belajar menghargai hal-hal kecil untuk bisa merasakan kasih dari orang lain. Dan yang terpenting lagi temukan 'purpose of life'.]
Ia berhenti lagi memberi waktu.
[Fakta menarik, nyatanya manusia yang memiliki tujuan dalam hidupnya akan lebih kuat bertahan, jika diterpa sebuah masalah.]
[Karena, aset terbesar yang dimiliki manusia adalah kebebasan memilih. Sesungguhnya kalian sendiri yang memilih untuk merasa sedih atau senang dalam suatu kondisi.]
DEGG!!
Jantung Melody serasa berhenti untuk sesaat karena pernyataan Bu Dina yang di luar batas. Menggoyah keyakinannya tentang sesuatu, lalu membongkar pemikiran yang telah tersusun seadanya.
KNOCK-KNOCK!
Ketukan pintu memecah lamunnya.
Keni dan teman-temannya muncul dengan membawa kertas catatan dan segepok uang kertas ditangannya.
Setelah bu Dina mempersilahkan, siang ini, Keni menarik pajak seperti yang dikatakan Pras saat upacara pembukaan. Beberapa membayarnya karena tidak ingin mendapat masalah. Adapula, yang enggan membayarnya. Perlahan mereka mulai paham situasi sekolah ini seperti apa. Melody salah satu murid yang enggan membayarnya.
Tetapi Keni melewatinya tanpa memaksa. Langkah kakinya terhenti di belakang Lala dan mulai berbisik. "Foto lu masih ada di hape gua."
Lala tertegun, dan tidak mengerti harus menjawab apa. Ia tidak ingin orang lain menyadari keberadaan fotonya itu.
"Gua harap di kelas ini nggk ada masalah." Lanjutnya lagi berbisik.
Lala mengerti keadaan yang menimpa dirinya. Kenyataan bahwa Keni sedang memerasnya. Ia terpojok, dan terpaksa menuruti kemauan Keni, karena tidak ingin sesuatu yang lebih buruk terjadi karena foto itu.
Lalu, Keni mengucapkan terimakasih untuk pajak yang telah dibayarkan. Gayanya mengucapkannya sangat tidak cocok dengan gelagat dirinya yang menyebalkan itu. Dan berkata, akan berusaha menjaga sekolah tetap aman.
Yang tentu saja itu omong kosong, dari mulut seorang perundung.
Tanpa sepengetahuan Melody, di luar kelas Lala bertemu Keni untuk membayarkan pajak yang tidak dibayar teman sekelasnya termasuk Melody. Ia merasa sedikit geram, tapi tidak bisa berbuat apapun.
Tentu saja, sebab Ia tidak bisa jujur dengan Melody, ataupun tidak mengikuti saran Alvin adalah keberadaan foto itu.
Meski Lala menyadari satu hal pasti, cepat atau lambat hal yang lebih buruk akan terjadi. Yang Ia lakukan sekarang adalah menunda malapetaka.
***
__ADS_1
Markas Elang Emas, Jakarta.
Hansel sedang membalik barbeque.
Setelah mengumpulkan pajak, tentu saja organisasi bisa menyelenggarakan sebuah pesta kecil-kecilan. Dengan capit, Ia kembali memasukan daging mentah ke atas panggangan. Setelah beberapa saat, daging yang menghitam terbalut bumbu blackpapper tersaji di piring.
"Petinggi udah kumpul semua, Bos." Ujar seorang anggotanya. "Biar gua yang selesain."
"Jangan ganggu gua kalo lagi masak!" Jawab Han ketus.
Mendengar hal itu, anggotanya pun pergi.
Han tidak suka mengerjakan hal yang separuh-separuh. Setidaknya, dalam hal memasak yang amat Ia sukai. Kalau saja masakannya bermasalah, pastilah Ia merasa kecewa. Oleh sebab itu, Han ingin menyelesaikannya sendiri. Tak lama setelah itu, barulah Han menghampiri teman-temannya yang telah berkumpul di rooftop.
Gedung terbengkalai lumayan banyak di Jakarta, kini mereka berada disalah satunya.
Han terduduk di atas kayu palet yang telah dikerjakan hingga bisa diduduki. Tepatnya di samping Fara.
"Lu telat Han." Ujar suara dari ujung. Ia terduduk seraya bersandar. Hanya siluet yang terlihat di balik bayangan.
[Ketua organisasi.]
"Iya.. gua harus selesain perkerjaan di bawah dulu tadi, Bos." Tegas Han menjelaskan situasinya.
Ia menghela nafas. "Udah dateng semua?"
"Alex nggk bisa dihubungin, Bos. Entah kemana, dia belum keliatan malem ini." Jawab Fara.
"Baru diangkat petinggi udah semena-mena tuh bocah." Ujar Keni menggerutu.
"Kita harus mulai tanpa dia." Celetuk Pras menyaut.
"Cepet gua mau denger apa yang terjadi sama lu tadi siang." Titah ketua memulai rapat.
Petinggi Elang Emas berkumpul malam ini, mengitari api unggun yang menyala di dalam sebuah drum kaleng. Paling tidak, hanya Alex yang dikonfirmasi tidak hadir.
"Tadi siang gua mengintai area Stasiun Manggarai. Kami menyebar di setiap sudut tempat itu." Han mulai menjelaskan. "Terus gua liat, murid Murai Merah lagi merundung murid sekolah lain di sana. Setelah sempat gua foto, gua menghampiri mereka buat melerai."
"Lu ngapain ikut campur?" Sela Keni. "Lu tau nggk, tindakan lu bisa memicu perang lagi?"
Hening.
"Sebelum itu gua udah ketemu, Gigih. Salah satu kenalan gua. Dia petinggi Murai Merah. Dengan begitu, dia tahu gua lagi nyelidikin sesuatu. Dan juga, Gigih nggk keberatan kalo emang ada bukti Murai Merah mengacau sekolah lain termasuk Elang Emas."
Keni merenung kesal.
"Lanjutin yang di stasiun tadi, Han." Pinta Pras.
"Kayanya semakin jelas, Bos. Kalau pelaku pembunuhan itu murid dari Murai Merah." Tukas Fara berkomentar. "Gua juga denger, mereka sering merundung sekolah lain."
"Oknum murid." Sanggah Ketua. "Jangan sama ratain semua."
Fara mengangguk setuju. "Iya, Bos. maksud gua gitu."
"Semakin jelas kan, kita harus ungkap pelaku pembunuhan itu, atau dia bisa memicu perang lebih besar lagi."
Rengga menoleh sejenak. Ia juga salah satu orang yang mengetahui kelamnya perang itu. Di matanya, perang itu salah satu dari banyak hal buruk yang pernah terjadi dalam hidupnya. Tangannya mengepal keras seolah ingin menghajar seseorang.
***
4 bulan lalu.
"Udah dibilangin kamu harus masuk sekolah swasta pilihan papa!"
"Aku maunya masuk Elang Emas, pah." Sanggah Alvin.
Ayah Alvin ialah seorang pemilik bisnis besar. Ia mendidik anaknya untuk meneruskan bisnis yang telah Ia usahakan selama ini. Dalam padangannya, bekerja untuk orang lain adalah bentuk ketidakbebasan dan simbol seseorang yang jauh dari kesuksesan. Baginya, bekerja mengejar hal yang disuka adalah tindakan bodoh.
"Kamu sekali-sekali dengerin papah, Alvin. Nurut sama orangtua." Ucap Mamanya menenangkan. "Semua kan demi masa depan kamu."
"Kapan aku pernah nolak kemauan Papa-Mama? Aku belajar pagi, siang, malem untuk dapet nilai bagus demi puasin ego kalian doang kan?"
Alvin ialah seorang anak dengan orangtua yang memiliki ekspektasi besar. Karena menjaga sebuah martabat lebih sulit daripada mengejarnya. Dengan membekalinya di sekolah swasta terbaik, tentu saja orangtuanya lebih tenang dari pergunjingan tetangga dan saudara.
"Sekarang berani ngelawan kamu ya!" Bentak ayahnya geram.
"Alvin nggk boleh ngomong gitu sama orangtua."
"Aku selama ini dari kecil sampe sekarang udah ngikutin kemauan Papa-Mama, jadi aku mohon hargain pilihan aku untuk sekarang."
Mendenger itu ayah Alvin tidak bisa menerima. Di matanya seorang anak ini telah tumbuh menjadi pemberontak. "Mau jadi apa kamu sekolah di tempat itu? Kamu bakal mencampur sama orang-orang kampung yang akan meracuni otakmu jadi lebih buruk."
"Jangan remehin temen-temen basket aku!"
"Kalo itu mau kamu, jangan balik lagi kerumah ini!"
"Papah!" Mamanya berusaha menenangkan. "Alvin mama mohon nurut sama papa kamu."
__ADS_1
"Nggk, mah. Untuk sekarang aku mau jalanin pilihan hidupku sendiri." Ucapnya dengan yakin. "Aku akan pergi jika itu yang kalian mau."
"Keluar aja! Jadilah gelandangan yang mengais nasi dan bekerja untuk orang lain!"
"Kalo boleh memilih aku nggk bakal mau dilahirin dari orangtua seperti kalian!"
Hening.
"Alvin nggk akan balik lagi kerumah apapun yang terjadi. Inget itu." Lanjutnya.
Alvin beranjak kekamar. Membanting pintu. Merapikan semua yang Ia butuhkan, lalu pergi mengejar kebebasan.
***
Sekarang.
Seorang berkemeja putih mendorong troli berisi makanan di rak atas dan minuman di rak bawahnya. Serbet putih menggantung pula disampingnya.
Di malam hari, kota Jakarta sibuk dengan kepentingan masing-masing, begitu pun dengan Alvin. Karena pajak yang dipungut di sekolah mengharuskan dirinya untuk mencari tambahan pemasukan, juga mencari biaya hidupnya sendiri karena orangtuanya tidak akan menanggungnya lagi.
Ia menekan tombol bel. Lalu menempelkan kartu akses untuk mengantarkan hidangan makanan ke salah satu kamar.
Tak banyak interaksi, karena terkadang pengunjung lebih suka yang seperti itu. Alvin pun memilih untuk tidak mengganggunya.
Ia hanya menaruh hidangan di meja makan, lalu bergegas pergi. Mendorong troli kembali ke lantai bawah.
Lift terbuka.
Di depannya sudah ada seorang pengunjung yang baru saja datang, juga seorang seniornya yang sama-sama mengenakan kemeja putih.
"Alvin, kebetulan." Ujar senior Alvin. "Lu antar bapak ini ya ke atas. Tunjukan letak kamarnya."
Bapak itu memberi salam menyapa dengan senyuman. "Tolong dibantu ya.."
Alvin menghela nafas. Jelas saja, seniornya tidak ingin lelah mengantarkan bapak ini. Hirarki di tempat kerja memaksanya untuk mematuhi perintah senior. Ia sadar bekerja untuk orang lain memanglah sulit, namun Ia teguhkan hati karena telah memilih jalan ini.
"Lewat sini pak silahkan." Ujarnya mengarahkan ke dalam lift.
Seniornya memberikan barang bawaan pengunjung berupa koper yang teramat berat, bertukar dengan Alvin yang memberikan troli makanan.
"Nanti gua yang balikin ke dapur. Makasih ya."
Lift tertutup. Alvin memastikan nomor kamar di kartu akses. Lalu memencet tombol lantai letak kamar itu berada.
Alvin memilih diusir dari surga untuk sebuah kebebasan, mensyukuri semua kepedihan yang terus menerpanya di bumi. Melakukan sesuatu yang Ia pikir mustahil untuk diubah.
Takdir.
***
Basakara hampir menyelesaikan pekerjaan paruh waktunya, Ia bekerja beberapa hari saja dalam seminggu, ada kalanya juga libur. Sebagai Barista kedai kopi hal yang paling menyebalkan ialah kegiatan penutupan menjelang malam. Karena Ia harus mencuci semua alat, memastikannya tersimpan aman, dan menghitung stok dan penghasilan hari itu.
Meski sebenarnya senang melakukan pekerjaan ini. Karena bisa berinteraksi dengan banyak orang dalam satu hari.
Tidak mengubah fakta bahwa rutinitas itu membosankan.
Ia harus mengurus seluk-beluk kedai ini, karena kepergian pakdenya untuk beberapa minggu.
"Haduh sirup vanilla habis malem ini. Pesanan dua hari yang lalu masa belum sampe."
Ia meracau seraya menghitung stok bahan yang tersisa. Matanya menoleh cepat ke arah gudang memastikan stok bahan untuk besok tersedia aman.
"Apa besok beli ke toko langsung ya. Rasa Vanilla lumayan laku soalnya."
Baskara sudah merasa lelah ingin mengakhiri pekerjaan hari itu. Kadang lelah menghampiri saat bosan, dan semangat pun bisa datang saat tubuh telah sampai batasnya.
Sat set sat set.
Waktunya pulang, Ia mengecek hape sebelum pergi. Memastikan lagi tidak ada yang terlewatkan. Namun yang Ia dapati malahan hal lain.
[Panggilan tak terjawab dari Wijaya.]
[Wijaya membagikan lokasi terkini.]
Baskara menyadari lokasi Wijaya masih di dekat sini.
Tulisan itu tertera di layar hapenya.
Jam menunjukan pukul 21.46
Ia keheranan untuk sementara. Biasanya Wijaya hanya mengobrol lewat chat terlewat seberapa pentingnya itu. Baru kali ini Wijaya menelfon. Ia mengetahui betul seperti apa temannya itu.
Khawatir terjadi sesuatu kepada temannya. Ia segera bergegas.
Beruntung pekerjaannya sudah beres. Baskara mengenakan jaket hodie, lalu meraih tas selempangnya beserta helm.
Setelah lampu kedai dimatikan. Ia menyalakan motor klasiknya. Menggebernya sekali waktu.
__ADS_1
BRUMMM
Motornya melesat membelah jalan malam.