Baskara : Liberation

Baskara : Liberation
Chapter 10; Titik Balik.


__ADS_3

NIT NIT NIT..


Bunyi mesin elektrokardiograf memonitoring detak jantung. Alex belum juga siuman. Nadir memutuskan untuk membolos. Ia mengkhawatirkan keadaan pacarnya, Alex.


Selang infus masih tertanam ditangan Alex, beserta suplai oksigen. Setiap beberapa jam suster mengontrol keadaannya. Buah dan makanan masih tersusun rapi dimeja, belum ada yang memakan. Nadir pun enggan membukanya. Karena Ia pun tau seharusnya makanan itu untuk Alex bukan dirinya.


Nadir membuka jendela kamar juga menghempas gorden ke samping. Membiarkan udara segar masuk kedalam ruangan. Matanya memandang keindahan langit dipagi hari ini sedikit awan, juga belum terlalu terang. Hanya berwarna biru bening. Menyelimuti gedung tinggi dikota Jakarta, perlahan cahaya menyorot dari baliknya.


Hati dipenuhi rasa bersalah meyakini dirinya penyebab hingga terjadi separah ini. Keadaan yang sebelumnya telah rumit, kini semakin kacau. Dengan terlukanya Alex bisa memicu sesuatu yang lebih besar, bila organisasi sampai ikut bergerak. Dulu Alex sering melindunginya ketika terluka, Nadir berpikir ini saatnya untuk membalas budi.


Membawanya terhanyut ke masa lalu disaat semuanya belum menjadi siapapun.


"Lu mau pamer ya kalo lu paling pinter disini!?" Kata seorang cewek memaki.


"Aku kan cuma lakuin yang kubisa." Jawab Nadir.


"Halah lu jangan sok merendah gitu deh." Ujar seorang cewek lainnya. "Makin nyebelin tau ga."


Diawal masuk SMA, Nadir mengalami kesulitan bersosialisasi dengan murid lainnya. Ia penyendiri, setidaknya lebih nyaman seperti itu. Tugas presentasi hari ini. Nilai terbaik diberikan untuk Nadir.


"Lu mau pinter sendirian? Nggk ngajarin yang lain?"


"Nggk suka bagi-bagi contekan lu, cewek pelit!"


Meragukan diri sendiri. Tentang kesalahan yang Ia buat. Memikirkan semua yang mereka katakan membuat otak Nadir ingin meledak setiap saat. Bahkan saat termenung apa yang mereka katakan selalu terngiang dalam sunyi yang tak berarti. Bisikan yang mengganggunya disetiap helaan nafas.


Sampah basah memenuhi tasnya setiap hari. Nadir melenguh dalam tangisan tiap kali merapikannya.


Bangun pagi terasa begitu berat, berharap waktu cepat berlalu disekolah, selalu berpikir agar hari ini cepat selesai, sebelum tidur harus menangis berjam-jam, mimpi buruk yang membangunkan ditengah tidur. Menyiksa batin. Merasa hidup tidak lagi bermakna karena mengganggap dirinya tidak ada, hanya sebuah permulaan.


Nadir cewek berpostur tegap dan tinggi, badannya juga Ideal. Wajahnya tidak berkulit putih namun menarik dan tidak membosankan, oleh sebab itu guru seni memilihnya memerankan seorang putri disalah satu teater musikal.


Ia bergaun putih dengan rok panjang seperti layaknya putri sungguhan dari negeri dongeng. Keningnya bersinar dengan mahkota setengah lingkaran yang dikaitkan diantara sela rambut, sangat cocok untuk Nadir. Menari-nari dengan irama musik yang mengimbangi ada pula beberapa percakapan yang telah Ia hapal siang-malam. Hingga seorang pangeran hadir untuk mengakhiri drama tersebut, ditutup dengan cerita bahagia.


Namun semua tidak seperti yang diharapkan.


Pengakuan, pujian, dan penerimaan.


Semua itu tidak ada.


Mereka bersorak. Tapi bukan untuk penampilan Nadir. Itu cacian, kata-kata kasar yang tidak seharusnya keluar dari mulut seorang cewek.


"Lu ga pantes jadi putri!"


"Lu burik!"


"Suara lu fales!"


Perkataan orang-orang merasuki pikiran Nadir. Menunjukan siapa dirinya tidak membuatnya bisa diterima. Ia menyesal harus menyelesaikan pentas itu. Maka berlarilah Ia ke ruang ganti belakang panggung dan menangis tanpa bersuara. Hanya air mata, sungguh! Itu hanya air mata yang menetes tanpa suara. Tak terdengar walau hanya sedikit. Menutup mulut begitu rapat. Sesenggukan menahan emosi yang terluap dari sesaknya dada.


"Lu kenapa?"


Nadir menoleh keatas dengan maskara yang luntur oleh air mata.


Itu lah hari pertama bertemu Alex. Seorang yang bisa menerimanya. Matanya yang redup kembali bersinar. Karena Alex mendengar semua keluh kesahnya, membuatnya merasa tidak berjuang sendiri. Karena telah membagi cerita bersama.


She feel much better than before.


"Bisa-bisanya cowok seganteng Alex mau sama cewek ****** itu." Bisik suara ditepi koridor.


Nadir berjalan menuju kantin bersama dengan Alex disampingnya.


"Mugkin cuman buat mainan aja." Jawab temannya menebak.


Langkah Alex terhenti mendengar itu. "Lu ngomong aneh-aneh lagi. Gua bakar mulut lu!"


Nadir menggenggam lengan Alex.


"Yailah biasa aja kali. Beraninya sama cewek." Kata seorang cewek penggosip setelah itu berlalu menjauh.


Nadir tersenyum merasa aman.


Semakin terang sebuah cahaya, semakin gelap pula bayangannya. Semakin menjadi bersinar, semakin banyak yang tidak menyukai. Menjadi populer ialah anugerah, sekaligus kutukan yang datang bersamaan.


Suatu waktu sepulang sekolah hujan turun lebat. Nadir dilobby sekolah ingin melewatinya untuk pulang. Maka Ia merogoh ransel miliknya. Mengambil payung lipat. Ia menariknya untuk membuka lebar payung tersebut.


Ia sedih menyadari payung tersebut telah dilubangi oleh orang yang tidak diketahui. Maka Ia harus menunggu sedikit lebih lama lagi agar hujan reda.


Tiba-tiba hujan berhenti disekitarnya disertai bayangan yang mendekat.


"Mau bareng?" Itu Alex.


Nadir menggangguk senang.


Mereka saling mendekatkan bahu, menggenggam pegangan payung, berlari kecil menerabas hujan dengan tawa.


Namun semua berubah, ketika Kak Laras, kakak Alex, pergi untuk selamanya. Satu-satunya keluarga yang Ia miliki. Seorang yang membiayainya bersekolah telah memberikan luka yang dalam untuk Alex.


Dipemakaman Alex menangis berjalam-jam saat hujan, hingga tertidur disana.


Tidak pernah terpikir hal itu akan menimpanya. Kakaknya dijemput lebih awal oleh Tuhan Pencipta Langit dan Bumi. Tidak sanggup menahan duri tajam yang menghunus dadanya, menjadi duri hidup didalam daging yang mengingatkan luka setiap bergerak kemana pun Ia pergi.


Penyesalan tidak hadir lebih awal. Hanya takut. Rasa takut kehilangan. Tapi tak pernah siap bila itu terjadi. Penyesalan itu selamanya akan terpatri. Keadaan yang tidak bisa diubah selamanya.


Sejak saat itu, Alex seringkali bolos sekolah, mabuk-mabukan, kehabisan uang untuk makan, Nadir pun hanya bisa sedikit membantu.

__ADS_1


Seorang Alex penyayang dimata Nadir, kini berubah menjadi cowok ringan tangan yang tak mampu mengendalikan diri. Nadir cukup kaget mendapati tamparan pertama dipipinya. Namun Ia percaya bahwa Alex penyayang masih ada, Nadir percaya Alex hanya sedang kalut.


Tapi tidak, itu menjadi kebiasaan.


Nadir meyakini bisa merubah Alex seperti semula.


Alex memukuli setiap orang yang menyebalkan menurutnya. Menuntunnya menuju tahta sekolah ini menjadi seorang petinggi. Juga untuk mendapat uang dari sana.


Jarinya bergetar, kelopak matanya berkedut terbuka perlahan. Kesadaran memanggilnya dari tidur nyenyak, memaksanya kembali menghadapi realita.


Alex terbangun.


***


"Nih tas lu." Ucap Baskara mengulurkan tas digenggamannya. "Kenapa lu tinggal dijalan?"


Wijaya terdiam sejenak berpikir bagaimana cara menjelaskan kejadian yang telah menimpanya.


"Maafin gua, Jay." Baskara sesungguhnya bingung harus merespon seperti apa setelah Wijaya menjelaskan semuanya. "Karena gua ikut campur urusan lu jadi begini."


"Bukan gitu, Bas. Lagian kan emang gua yang nelfon lu malem itu." Wijaya berusaha menenangkan. "Kita sekarang jadi lebih paham sama keadaan kan."


"Maksud lu?"


"Iya selain was-was karena sekolah kita punya banyak musuh dari sekolah lain." Wijaya menjelaskan lagi. "Sekarang kita pun jadi incaran petinggi sekolah kita sendiri, yang seharusnya melindungi kita."


"Semua salah gua, Jay. Gua harus minta ma-"


"Bas! Dengerin gua." Sela Wijaya. "Lu nggk perlu ngelakuin itu. Lu disisi yang benar."


"Gua harusnya gimana?"


"Tetap yakinin sesuatu yang menurut lu benar. Itu cukup."


"Gua cemas mereka ngejar lu lagi, Jay."


"Lu gausah cemas soal itu." Wijaya menjawab itu dengan lugas. Ia percaya perlindungan dari orang misterius itu sudah cukup membuatnya lega. Bagai perisai tak kasat mata.


***


...[Kulihat lagi matamu...


...Yang melihatku tulus...


...Kehangatannya menyusup...


...Menuju dasar hati yang kering]...


...[Kau menahan semua kebebasan...


...Sanggup berdiri dan melangkah...


...Menghangat bersama diriku]...


...[Matamu seperti lautan biru...


...Yang tidak berujung...


...Seperti kebaikanmu...


...Yang bisa menerimaku]...


...[Tinggalkan belenggu itu...


...Raihlah kebebasanmu...


...Bersamaku kau boleh...


...Memilih yang kau suka]...


Riuh tepuk tangan pecah untuk penampilan malam ini. Suara merdu melody diiringi petikan gitarnya merebut hati banyak orang. Baskara tak salah memilih orang untuk tampil dikedainya. Membuatnya menjadi semakin ramai, dibawah lampu kerlap-kerlip itu.


[*Note: Penggalan lirik lagu yang tercantum merupakan karya orisinil karangan penulis.]


Ia telah menyelesaikan penampilannya, bergegas untuk menyapa teman-temannya.


Sudah ada Lala dimeja, Ia hadir bersama Alvin yang mengantarnya. Sedangkan, Baskara masih terfokus membuat pesanan yang kian menumpuk.


"Kenalin, Mel. Ini Alvin." Lala bergantian memperkenalkan  "Alvin, ini temanku Melody."


"Kita pernah ketemu sekali kan waktu upacara penerimaan."


"Iy-ya sebenernya dua kali sih sama waktu lu bonyok."


"Hah? Kok tau?"


Hening.


"Sebenernya yang bopong kamu kemobil aku itu Melody." Lala menjelaskan seraya tertawa.


"Udahlah jangan dibahas."


Alvin kikuk tak mengerti.


"By the way, gimana kamu bisa mulai kerja disini? Katanya barista kedai ini juga murid sekolah kita yah?" Tanya Lala mengalihkan topik.

__ADS_1


"Iya namanya, Baskara. Satu angkatan kita dilain kelas." Melody lanjut menjelaskan singkat bagaimana Ia bertemu Baskara hingga bisa bekerja disini.


Alvin hanya menyimak tanpa berkomentar.


"Itu orangnya pake apron hitam." Matanya menoleh ke seseorang yang meracik kopi dibalik mesin espresso.


"Kamu kenal?" Tanya Lala.


"Dia murid yang videonya viral itu kan?"


"Maksudnya?"


Melody dan Lala tidak mengerti.


Alvin memeriksa hapenya. lalu menunjukan sebuah rekaman cctv yang viral dimedia sosial.


"Menurut laporannya dia dikeroyok sekitar lima orang. Tapi berhasil lolos. Kejadiannya di Stasiun Manggarai."


Mereka berdua termangu melihat video itu. Mengamati pertarungan yang terjadi disana.


"Menurut gua dia cukup kuat bisa melawan lima orang sekaligus."


Langkah kaki mendekat ditengah riuh pelanggan, tak hanya satu orang.


Menghampiri meja Lala.


"Balikin hape gua." Kata seorang dibelakang Melody. "Lu yang ngambil kan?"


Mereka yang tadinya terfokus melihat tayangan video kini menoleh bersamaan kearah Keni.


"Maksud lu apa?" Tanya Melody ketus.


"Gua nggk mau banyak ngomong. Gua cuman perlu hape gua balik."


Keni beserta anak buahnya mengepung meja Lala, yang berada diarea outdoor dibawah lampu hias.


Melody bertanya-tanya mengapa petinggi organisasi sekolah berada disini.


"Eh bocah sok jagoan juga ada disini." Sapa Keni mengejek. "Gua saranin kali ini lu gausah ikut campur."


Alvin terdiam kesal. Mengingatkannya dengan perundungan yang Ia lakukan kepada Lala beberapa waktu lalu. Andai saja Keni berbuat macam-macam Ia tidak akan segan menghajarnya disini, meski dikawal banyak anak buah. Ia juga mulai menerka, apa hal ini ada kaitannya dengan yang terjadi dihotel kemarin.


Lala menjauh pergi dari meja tanpa mengatakan apapun.


Keni berusaha mengejar, namun Melody dan Alvin memasang badan untuk Lala.


Anak buah Keni menarik masing-masing mereka untuk membuka jalan membuat Alvin bertindak. Lagi-lagi dihalau oleh anak buah Keni. Terjadi perkelahian diantara Melody maupun Alvin melawan anak buah Keni.


Keni meraih tangan Lala.


SETT!! BRUK!!


Dengan seketika seseorang membanting tubuh Keni sebelum menyentuh Lala. Karena suara itu membuat semua mata menoleh kepadanya, Baskara.


Bahkan sampai membuat Alvin menghentikan pertarungannya.


Melody takjub melihat punggung Baskara tegap menyelamatkan sahabatnya. Terpikir sebuah keyakinan bahwa orang didepannya ini mampu merubah hidup orang-orang disekitarnya, memancarkan aura yang berbeda.


Baskara memelintir tangan Keni sebelum akhirnya membantingnya. Kini tangannya berada dibelakang badan dengan posisi tertelungkup tertekan oleh gencetan tubuh Baskara yang berada diatasnya mengunci.


"Lu kalau buat kacau disini, gua nggk segan buat hajar lu."


"Sakit Bangsat!"


"Sekarang lu bilang semua temen lu buat pergi. Atau gua patahin tangan lu."


Semua mata masih terpaku. Setelah melihat itu membuat Alvin yakin bahwa Baskara bukanlah orang yang bisa disepelekan.


Melihat situasi yang tidak menguntungkan Keni menarik mundur semua anak buahnya. Karena Ia tidak pergi bersama Rengga. Ia harus lebih berhati-hati. Menyadari diri bisa menjadi petinggi organisasi bukan karena Ia kuat. Tapi karena Rengga.


"Cabut!"


***


[Biodata murid Elang Emas


Nama : Kemal Putra alias Kimon


Umur : 16 tahun


Tinggi : 166 cm


Berat Badan : 74 kilogram


Alamat : *disamarkan*


Dst.]


Foto dan keterangan lainnya terdapat dalam kertas milik Wijaya, yang Ia dapat setelah meretas data sekolah.


Matanya masih tertuju pada layar komputernya. Dilayar menunjukkan artikel tentang berita terbunuhnya murid Elang Emas beberapa waktu lalu.


Wijaya juga memperhatikan foto dihapenya dari tkp yang diberikan oleh Baskara. Ia menarik garis dari data-data yang didapatkan menjadi sebuah informasi yang masuk akal.


Beberapa hal yang bisa membawa kasus ini ke titik terang.

__ADS_1


***


__ADS_2