Baskara : Liberation

Baskara : Liberation
Chapter 12; Viral.


__ADS_3

Sebelum bertemu Steven.


"Apa bener dia bikin malu petinggi organisasi?" Tanya seorang murid ditengah kerumunan kelas.


Tak ada jawaban.


Mata mereka fokus memperhatikan video amatir digrup chat sekolah. Menunjukan seorang petinggi organisasi yang merusuh disalah satu kedai kopi dari seorang yang merekam sengaja dilokasi malam itu, lalu dihentikan oleh murid kelas satu, Baskara.


"Belum sempat mukul udah dilumpuhin?"


"Anjir hebat banget nih bocah kelas satu."


"Petinggi organisasi dibuat kicut sama doi."


"Siapa namanya?"


"Baskara."


Telinga Baskara tiba-tiba gatal. Konon Pertanda ada seorang yang bergunjing tentang dirinya. Setelah sebelumnya telah memarkir motor, kini Ia melangkah menuju kelas pagi ini.


"Ada satu video lagi dari beberapa hari sebelumya." Ujar seorang disisi koridor sekolah.


"Mana liat."


Terlihat dilayar hape murid tersebut. Seorang bertarung melawan lima orang dari sudut pandang cctv mereka menyadari salah satunya adalah petinggi organisasi, Alex.


"Anjir, dia bisa menepis serangan beruntun gitu."


Kini mata mereka terfokus kepada pemeran utama divideo tersebut. "Lha itu bukannya-"


"Kalian nonton apaan fokus banget?"


Mereka menoleh bersamaan.


"Baskara."


Mereka termangu menyadari yang dikeroyok divideo adalah Baskara, teman sekelas mereka, dan kini Dia telah ada dihadapan mereka.


Baskara merengus malas. Ia sadar tidak bisa membendung cepatnya persebaran informasi hingga video perkelahiannya mulai menyebar disatu sekolah, dan kini mereka tengah panas-panasnya membicarakan dirinya.


[Baskara, seorang murid kelas satu menghajar dua petinggi organisasi. Satu masuk Rumah Sakit, satu lagi menyerah mundur.]


[Baskara si Vigilante musuh organisasi?]


Judul mading dilobby sekolah, membakar kabar perkelahian Baskara menjadi kian memanas. Membombardir trending isu disekolah.


Baskara tidak nenggubris pertanyaan dari teman-temannya. Ia lebih memilih berpaling pergi, tanpa menjelaskan. Dirinya telah siap untuk apapun yang akan terjadi hari ini. Jika organisasi bergerak untuk menangkap dirinya hari ini, Ia telah siap meladeni cecunguk-cecunguk itu, meski sendiri.


Tapi tidak terjadi apapun hari ini.


Seseorang bermata coklat berdiri didepan mading membaca judul yang menarik perhatiannya. Juga mengamati fenomena langka yang telah lama Ia tunggu.


Pemberontakan.


[Haikal Farezki, Kelas dua, status tidak diketahui.]


***


Kamar Rumah Sakit.


Alex sudah lama siuman, badannya telah pulih. Besok Ia memutuskan untuk pulang, namun kini Ia termenung untuk waktu yang cukup lama. Beberapa hal mengganggu pikirannya. Bukan soal betapa kuatnya Baskara hingga membuatnya begini, tentang itu Ia bisa mengurusnya nanti bersama organisasi.


Ia tenggelam dalam rasa kecewa yang teramat dalam, dari besarnya harapan kepada seorang pacar yang tidak memenuhi ekpektasinya. Satu-satunya alasan Alex hidup adalah untuk Nadir, setidaknya Ia merasa hidup bila disamping Nadir. Semua keluarganya telah pergi meninggalkannya sendiri dibawah langit ini.


Meski kadang, Alex mengacaukan hari Nadir, tapi Ia masih ingin melihat senyum Nadir diesok hari.


Duri tajam telah menancap, menembus hingga dasar hati. Alex merasa dikelabui oleh Nadir karena mendapatinya jalan santai bersama cowok lain, yaitu Wijaya. Ia kini sungguh merasa jijik terbayang wajah bocah sok jagoan itu. Merasa tak berharga dibandingkan dirinya, seolah seperti Nadir lebih memilih bocah itu.


Alex merasa dirinya memang tidak akan pernah cukup bisa menjadi pasangan yang baik bagi Nadir. Namun disisi lain hatinya pun sedang berdarah-darah selama ini, membutuhkan seorang yang menopangnya apabila terjatuh. Dan juga dirinya berupaya, menjaga segenap harga diri yang ada.


Rasa sesak ini sungguh menyiksa, dan kini Nadir selalu disampingnya sejak siuman. Alex belum berbicara sepatah kata pun kepada pacarnya, tidak menjawab pertanyaan Nadir tentang apapun.

__ADS_1


Ia hanya menatap dalam, lalu diam.


Alex ingin menunjukan betapa hancur dirinya atas apa yang telah diperbuat Nadir malam itu. Dikhianati oleh orang paling memahami dirinya, menurutnya tidak ada yang lebih menyakitkan dari itu dibawah langit ini.


"Nih kamu makan dulu. Aku bawa bubur." Kata Nadir.


Seperti biasanya, Alex diam. Tapi Nadir memaklumi diperlakukan apatis seperti itu. Baginya kesembuhan Alex lebih penting. Tak perlu mempermasalahkan hal-hal kecil.


"Kamu buka mulut ya." Pinta Nadir seraya menyodorkan sesendok bubur. "Aku suapin kamu."


CRANGG!


Bunyi nampan dan mangkuk mengenai lantai keramik. Bubur dan semua yang ada diatasnya berceceran mengotori lantai.


Tangan Alex menyentak sendok yang disodorkan tadi.


Hati Nadir bergidik takut akan perilaku Alex yang kian hari makin jadi. Sungguh merasa tidak nyaman dengan perilaku Alex sekarang.


Alex yang tadinya termenung menghadap jendela. Kini menarik selimut ingin mengistirahatkan diri, merasa tak bersalah sama sekali. Dan lagi, Ia ingin Nadir tau betapa hancur dirinya karena perilaku Nadir.


Tapi malah menjadi bumerang yang membuat Nadir ketakutan.


Lebih besar rasa tidak nyaman atau rasa sayang? Nadir tidak tau. Ia pun tidak mengatakan apapun, hanya membersihkan bubur yang berceceran dilantai seraya menangis melenguh pelan. Ia merasa layak diperlakukan lebih baik dari ini.


Hatinya yang teguh ingin merubah Alex mulai bergetar.


Nadir menyeka air matanya dengan telapak tangan, sesekali Ia sesenggukan dalam tangisnya.


Suara pintu kamar terbuka.


"Apaan tuh tadi?" Tanya Fara.


Mata Fara mencari sumber suara gaduh tadi. Mendapati Nadir sedang membersihkan Bubur yang berceceran, dan Alex yang membelakangi Nadir berselimutan. Dengan hanya melihat itu Fara mengerti situasi yang terjadi.


"Brengsek ya lu, Lex!"


Menyadari kehadiran Fara, Nadir berlari kearahnya sambil melenguh tak mampu menahan tangis. Memeluk Fara, lalu keluar dari kamar.


Ia membanting pintu sekeras mungkin lalu berlalu pergi berusaha menenangkan Nadir, sahabatnya. Menghibur mungkin berat, setidaknya Fara berusaha membuat Nadir membagi beban yang dimiliki. Mengelus rambut panjang Nadir.


***


Musik EDM mengiringi club didaerah Jakarta Selatan dengan lantang DJ memutar piringan kasetnya, tangan sebelahnya lagi memegangi headset untuk memastikan musik berirama dengan baik.


Rengga berjingkrak dilantai dansa mengikuti alunan musik itu, melepaskan hasrat memutar badan, sesekali mengangguk menggoyang jemarinya. Benaknya telah melayang dibawah minuman alkohol.


Pras hanya memperhatikan Rengga sejak tadi diujung lantai dansa duduk dimeja depan bar. Apabila Rengga sudah melewati batas atau ada yang mengganggunya Ia akan segera bergerak.


Disisi lain Keni mengawasi pintu toilet cewek. Didalamnya terdapat cewek yang sedang diincar oleh Rengga untuk pelarian, memastikan cewek itu baik-baik saja dan kembali ke lantai dansa dengan bosnya. Apabila ada yang mendekatinya Keni tak akan menahan diri.


"Ceweknya belum keluar." Ujar suara diujung telfon.


"Gausah peduliin cewek itu. Bilang Rengga, Ken. Ayo kita cabut."


"Cewek ini udah diincer Rengga seminggu, Pras."


"Ini udah kelewat malem anjir. Kita udah pindah-pindah club dari sore."


"Yaudah. Kasih gua waktu. Nanti gua ngomong Rengga."


Telfon terputus.


Pras menghela nafas tak sabar.


Tak lama setelah itu hapenya bergetar untuk sebuah pesan.


[Semua berjalan sesuai rencana]


Berasal dari nomer yang tidak diketahui.


Menyadari itu Pras langsung mengambil langkah meninggalkan kursi bar. Matanya menelisik mencari Keni, ditengah gemerlap riuh lantai dansa club. Tangan Pras membuka jalan seraya memandangi ke arah toilet.

__ADS_1


"Ayo cabut." Ujarnya kepada Keni diujung lorong tepi pintu toilet.


Keni mengangguk mengerti mengikuti arahan Pras.


Rengga masih bergoyang dengan lepas sedang tinggi-tingginya. Keni menghampiri bosnya itu.


"Bos. Ayo balik." Bisik Keni.


Rengga mencengkeram kerah Keni. Melihat hal itu Pras ketakutan.


"Lu udah janji mau nemenin gua bangsat!"


Kata Rengga dengan nada mabuk.


"Bukan gitu, Bos. Gua ada janji lain malem ini."


Mata Rengga menatap kecewa. "Bangsat!"


Hening sesaat. Hanya musik dan lampu yang bergerak.


"Reng," Sela Pras melerai mereka.


Mata Rengga menatap tak fokus. Keni menarik nafas lega.


"Gua pinjem Keni dulu malem ini. Masih ada bocah lain buat nemenin lu malem ini. Mereka akan jagain lu sampe pagi."


"Lu berdua 'main api' dibelakang gua kan?"


Pras dan Keni bertatap-tatapan sejenak. Lalu saling mengangguk sepakat untuk menjelaskan.


"Ada bocah yang mau gua kasih pelajaran, Bos." Keni Menjelaskan. "Setelah itu selesai gua akan balik lagi buat lu."


"Lu mau ngehajar bocah?"


"Iya, Reng."


"Lu tau kan gua ngehargain janji."


Setelah itu Rengga langsung berlalu pergi kembali menuju lantai dansa menikmati malam ini seutuhnya. Ia orang yang sangat menghargai janji. Tentu saja Rengga menunggu mereka berdua kembali setelah selesai.


Juga Keni dan Pras mengerti bahwa Rengga mengizinkan mereka untuk pergi sekarang. Mereka juga mulai untuk menikmati suasana malam ini dengan melepas emosi disebuah genggaman tangan.


***


Seseorang berlari menembus angin dingin malam ini, dengan sepatu running, bercelana joger, juga jaket. Bukan sedang berolahraga atau joging malam. Ia berlari lebih kencang dari seorang pesepeda. Dibelakangnya terdapat lima orang mengejar ke arah yang sama.


Wijaya.


[Stasiun Manggarai.]


Sebuah plang tertanda jelas didepan sebuah bangunan yang sudah lama sekali berada disini.


Wijaya menabrak bahu pejalan kaki sesekali. Ia sungguh menyesalinya karena belum sempat meminta maaf. Dari arah trotoar tempat pejalan kaki berlantaikan pan blok, kakinya berlari memasuki area Stasiun.


Wijaya memasangkan kartu akses dengan tergesa hingga warna hijau menyala lalu Ia melewati gerbang pembatas pengantaran.


Tak lama mereka, orang-orang yang mengerjarnya melompati gerbang itu sontak memicu mata tertuju kepada mereka termasuk, Melody.


Melody menyadari untuk sesaat bahwa orang yang dikejar itu ialah teman Baskara, seorang yang terdapat divideo viral kemarin. Ia bergegas mengejarnya.


Langkah Wijaya menuntunnya menyeberangi rel lewat atas peron lalu turun kembali kebawah. Cukup lelah kakinya menuruni tangga meskipun bergerak, eskalator.


[Kereta diperon tiga tujuan Bogor akan segera berangkat.]


Suara peringatan jalan dari pengeras suara Stasiun.


Wijaya turun tepat diperon tiga. Memasuki pintu sliding dari arah gerbong wanita masih berlari melewati tiap sambungan gerbong hingga paling belakang. berpikir pelariannya akan berakhir disini. Semoga pintu kereta lebih cepat tertutup.


Semua tidak berjalan semudah itu, lima orang pengejar itu berhasil memasuki gerbong setelah menahan pintu sliding hingga membuatnya terbuka lagi disemua gerbong, juga seorang dibelakang mereka berhasil masuk didetik akhir keberangkatan kereta, Melody.


***

__ADS_1


__ADS_2