
Rengga masih terduduk diam di salah satu anak tangga dilantai tiga. Ia memainkan kartu dengan cara berbeda, karena telah mengatur rencananya masak-masak. Dirinya membiarkan kartu perwiranya bermain sesuai kemampuan dan inisiatif.
Dalam diamnya, Ia menelan obat yang berasal dari plastik klip tanpa tenggakan air minum setetes pun.
Hapenya bergetar.
[Panggilan masuk Hansel.]
"Kenapa?"
"Ada peringatan bom, Mereka nyusup lewat mobil catering, gerbang depan udah dijebol, mereka serius, Reng."
"Iya. Terus?"
"Kapan gua boleh turun?"
"Keadaan masih terkendali, Lanjutin Pensi kayak biasa. Terus jalanin aja tugas lu, awasin orang itu"
Hening sesaat.
"Gua andelin lu buat malem ini." Ucap Rengga memperjelas. "Jangan mangkir."
Telfon berakhir.
Pembawa acara pun kembali naik keatas panggung. Ia merupakan bagian dari organisasi juga. Mulai membuka acara Pensi lagi malam ini. Ia mengatakan telah menyisir area panggung, dan semua aman, tidak ada yang perlu dicemaskan.
Penonton bersorak kembali. Merasa harus menikmati malam ini karena telah membeli tiket dengan uang.
Lampu sorot telah dinyalakan. Pesta malam ini dimulai lagi. Mereka yang telah kembali ke lapangan sekali lagi tidak menyadari apa yang telah terjadi malam ini.
***
Mata Wijaya terfokus memperhatikan setiap sudut sekolah lewat monitor laptop miliknya.
"Nyalain komputer lain, La. Gua nggk sanggup merhatiin semuanya sendirian."
"Okey, Jay." Sahut Lala seraya menekan tombol power CPU. "Kita harus cari bantuan buat Melody!" Katanya khawatir
"Layar gua terbatas. Ayo kita bagi layar."
Wijaya memasukan ujung kabel pada salah satu slot dibelakang CPU dari alat penyadapnya. Hingga salah satu layar monitor di Lab. Komputer menampilkan CCTV sekolah.
"Berhasil." Seru Lala berbangga. "Kita bisa liat lebih banyak layar sekarang. Aku bakal bantu cari."
Setelah memperhatikan lebih seksama. "Nggk ada yang bisa kita andelin, La. Semua lagi sibuk sama urusan masing-masing." Kata Wijaya kecewa.
Dengan inisiatifnya Lala memanggil. "Alvin!"
"Iya, La?" Sahut Alvin sigap dari mic earbudsnya.
"Tolong bantu Melody!"
Wijaya tercengang. "Jangan! Mereka dikit lagi sampe puncak. Justru kita rencanain itu biar Baskara sama Alvin sampai atas duluan kan?"
"Kamu mau umpanin Melody biar mati? Dia dikepung dua puluh orang, Jay!"
Dalam permainan catur, mereka menyebutnya 'Gambit'. salah satu pembukaan di mana pemain mengorbankan satu pion untuk keunggulan dilangkah selanjutnya. Dalam hal ini, Wijaya telah melakukannya kepada Melody.
Baskara dan Alvin terhenti di anak tangga yang hampir menuju lantai tiga, menyimak perdebatan antara Wijaya dan Lala.
"Lokasi Melody di mana sekarang?" Tanya Baskara cemas.
"Di kelas, lantai dua, gedung C." Jawab Lala lengkap.
Setelah banyak pertimbangan, Baskara menawarkan dirinya. "Gua bakal turun. Gua nggk bisa biarin Melody gitu aja."
Alvin meraih tangan Baskara yang hampir beranjak. "Gua bakal lindungin Melody. Lu bisa naik ke atas, Gua nanti nyusul bareng Melody."
Mata Baskara menatap lekat.
"Percaya sama gua, Bas."
"Diatas ada Rengga." Sela Wijaya. "Kalau lu nurut gua.. Alvin bisa nahan Rengga disitu, terus lu tinggal naik ke atap buat lawan Saga." Imbuhnya lagi. "Lu udah kalah kalau naik ke atas sendirian sekarang, Bas."
Alvin terdiam sesaat menunggu reaksi temannya.
"Gua sanggup menang lawan Rengga, terus naik ke atap buat ngerebut posisi Saga." Tegas Baskara lugas. "Jangan khawatirin gua, Jay. Percaya aja."
__ADS_1
Wijaya menepuk kening, menghela napas sebal. Lantaran, jerih payah yang telah Ia pikirkan pagi hingga malam akan mengalami kemunduran.
Plarr!
Setelah saling tos, Baskara dan Alvin berpisah. Bertukar posisi.
***
Tsah!
Pras menghindari tendangan dari depan. Badannya mengelak ke sisi kirinya. Menangkap upaya dari Haikal yang kesekian kalinya. Menendang kaki musuhnya itu, lalu membantingnya jatuh seraya mengunci kakinya yang ditangkap tadi.
GREP! BRUK!
"Bangsat!" Haikal mengumpat sembari menyikut punggung Pras yang sedang memeluknya dengan kuncian.
BLAM BLAM BLAMM!
Kedua tangan Pras mencengkaram kuat dengan kunciannya.
Disela terkuncinya tubuh Haikal, dirinya mencoba untuk tenang hingga mendapatkan sebuah ide.
"Lu ada disisi yang salah, Kal. Mendingan lu nyerah!"
Maka tangan Haikal menyusup ke sisi dalam kuncian Pras berusaha melonggarkannya. Seraya memutar badan, menghempaskan Pras ke arah badannya terputar. Membuat cowok pirang itu terpelanting ke tembok.
Haikal terengah karena kuncian yang menimpanya tadi membuatnya kesulitan bernapas. Kini, Ia mencoba mengendalikannya kembali. Bangun. Memulai pertarungan dari awal lagi.
"Bangun lu." Ucap Haikal menantang.
Pras terkekeh. Menendang ke arah tulang kering Haikal selagi masih posisi terlentang.
BAKK!
Kaki mereka beradu, karena Haikal membalasnya dengan tendangan ke kaki Pras.
Menyadari siasatnya telah gagal. Pras bangun mengambil posisi untuk bertarung di atas.
"Gua inget, waktu Ketua ngajak lu buat gabung organisasi. Dia bilang lu 'kadidat berpotensi'."
"Cuihh.. organisasi sampah!"
Hening.
"Setahun abis lu menolak tawaran itu, ternyata lu nggk jadi apa-apa kan? Lu cuma peselancar yang manfaatin ombak besar!"
Kini mata coklatnya menatap Pras dalam. "Kita nggk pernah bisa ngatur ombak, Pras. Tapi bisa manfaatin kekuatan itu buat ngejar tujuan."
Haikal memulainya lagi. Melayangkan tinju hangat ke wajah Pras. Juga perutnya berkali-kali. Membuat Pras terpojok ke sisi tembok.
BRAK!
Bakbukbakbuk!
Pras tidak berusaha menghindar, malahan meringis lagi. "Gua bener, pukulan lu ternyata nggk sekuat itu. Hahaha.." Tawanya meremehkan. "Biar gua ajarin caranya mukul yang bener."
BLAM!
Haikal berupaya menangkap tangan kanan Pras, yang ternyata adalah sebuah gerakan tipuan. Karena tangan kiri Pras masuk dengan cepat juga kuat, mengarah ke rusuk Haikal. Membuat badannya merasa kehilangan keseimbangan, juga napasnya tercekat, karena diafragmanya dihantam kasar.
Dengan tangkas Pras memanfaatkan celah itu lagi. Dengan menyikut leher Haikal dengan tangan kanannya. Membuat musuhnya makin lemas, juga memberikan tendangan dengan lututnya berkali-kali seraya memeluk erat.
SAT! BRUK! BRUK! BRUK!
Pras telah menguasai pertarungan, maka Ia memutar badannya. Menghempaskan Haikal yang telah hampir rubuh ke arah tembok, ditambah tendangan dari telapak sepatunya.
BRAK!
Haikal tersandar ditembok setengah berdiri lalu mulai terduduk ke bawah tak kuat lagi menahan dirinya untuk tetap berdiri. Inilah akibat pukulan di ulu hati, seorang petarung profesional pun akan tumbang jika hatinya dihantam. Merasakan sakit yang luar biasa, tidak berdaya, lalu memaksa tubuh mematikan fungsinya.
"Cuihh.." Pras meludahinya gantian. "Sampah! Bacot lu doang gede, tapi nggk bisa berantem."
"Gila! Cara bertarung petinggi emang beda." Celetuk seorang penonton yang menyimak dibalik gerbang.
"Daya tahan tubuhnya luar biasa."
Setelah melenyapkan halangannya, Pras meninggalkan Haikal yang terkapar tak sadarkan diri terduduk di tembok pinggir jalan.
__ADS_1
"Tunggu gua masih-"
***
Napas Alvin terengah mencari kelas letak Melody berada. Ia berjanji akan melindunginya, untuk temannya. Satu per satu pintu kelas dibukanya diarea gedung C.
Kali ini telah pintu kelima yang dibuka Alvin namun tidak menemukannya. "Dimana kelasnya, Jay? Keadaan Melody gimana?"
"Gua nggk tau! Di kelas itu nggk ada CCTV." Balas Wijaya. "Bentar gua liat blueprint dulu."
Alvin khawatir terlambat datang. Dan apa yang harus dia katakan bila itu terjadi, janji yang cukup sulit untuk ditepati. Namun, Ia telah mengkukuhkan hati untuk mengucapkan janji itu.
"Belok kiri!"
Kemudian, Alvin pun berbelok mengikuti perintah Wijaya. Memasuki ruang kelas tersebut. Membuatnya tertegun melihat keadaan kelas yang di arahkan kepadanya.
Pemandangan tak terduga menyambutnya. Meja kayu patah, kursi berserakan, beberapa noda darah di tembok. Membuat Alvin berpikir ke arah yang tidak wajar. "Mana Melody, Jay?"
"Terakhir gua liat tadi disitu." Wijaya terheran dengan pertanyaan Alvin, menandakan ada sesuatu yang tidak beres disana. Matanya mengamati setiap sudut monitor. "Emang gimana keadaan di dalem?"
"Kacau."
Hening.
"Ada apa disana, Vin?"
"Gua harus bilang apa sama Baskara, Jay?" Sesuatu yang buruk telah terjadi di kelas itu. Keadaan di sana telah menjelaskan semuanya. "Melody nggk ada disini. Kelas berantakan kayak abis ada yang berantem."
"Lu jangan berasumsi gitu." Sangkal Wijaya. "Gua bakal coba cari lagi. Nanti gua kabarin lagi."
"Bentar, Jay. Ada yang aneh." Pandangan Alvin menelisik kebelakang kelas. "Hah apaan nih?" Lalu, Ia membungkam mulutnya, seolah tak percaya dengan yang dilihatnya.
"Kenapa, Vin?"
"Anggota yang ngejar tadi.." Alvin masih sulit menjelaskan apa yang Ia lihat, dan mencoba menelaah lebih seksama.
"Hah?"
"Mereka semua pingsan di belakang kelas. Lukanya juga nggk wajar, darah di tembok tadi kayaknya milik mereka."
"Ini gimana, Jay?" Pertanyaan Lala membuat situasi makin panas. "Kita nggk tau keadaan Melody abis dikepung tadi. Aku coba hubungin juga nggk bisa.."
"Bentar, La. Kita harus tetep tenang!" Pungkasnya mencoba melihat hal baik ditengah situasi yang buruk ini. "Tinggalin kelas itu! abis itu coba turun ke bawah, cari disana, Vin."
"Turun ke lantai satu?"
"Iya."
Setelah itu, Alvin bergegas lagi mengikuti arahan Wijaya. Meski sudah terengah dan mulai berkeringat, kini keinginannya lebih kuat dari pada keadaan fisiknya. Kemudian Ia berlari menuruni tangga menuju lantai satu.
Malahan membuatnya membuatnya bertemu seorang yang sangat Ia benci.
Keni si kecoak.
***
Tap! Tap! Tap!
Rengga menoleh ketika suara jejak kaki mendekati dari arah tangga di sampingnya, karena dirinya masih duduk di tangga terakhir di gedung itu.
Matanya mendapati padangan yang mengintimidasi hanya dari melihatnya saja. Seorang itu mengeluarkan aura yang berbeda. Seorang bocah penyebab perang yang dibicarakan Saga, yaitu; Baskara.
Baskara telah sampai lantai tiga, selangkah lagi menuju 'Raja terakhir'. Sebelum itu, Kini Ia berdiri di hadapan Rengga, 'Sang pengawal Raja'.
Rengga menghisap kuat rokoknya menikmati sebisanya, seolah itu adalah rokok terakhir yang akan dinikmatinya. Lalu, menyundutkannya ke lantai tangga tempatnya duduk, padahal masih setengah batang. Ia membuangnya tanpa ragu.
"Lu udah kalah, Baskara Mahendra." Ucap Rengga memulai. "Lu nggk akan bisa lawan Saga. Karena gua nggk akan pernah ngasih kesempatan itu."
Baskara menautkan alis seolah bertanya.
"Setidaknya gua bakal bikin lu nyesel udah ngelakuin kebodohan sejauh ini." Tambah Rengga menjelaskan. "Sekarang lu cuma sendirian. Harapan rapuh dari orang-orang bodoh yang nggk mau ikutin aturan organisasi."
"Lu nggk pantes sesumbar, Reng." Manik matanya menangkap sosok di hadapannya, seolah menunjukan kesungguhannya mengatakannya. "Sebelum kena pukulan gua."
Dua orang perwira bertemu lagi, siap beradu pukul bak petir hebat yang saling memotong kubah langit. Mengharuskan Baskara melawan Sang Pengawal Raja, sebelum sampai tujuan akhir.
"Lu kira? lu merasa berhak benerin setiap kesalahan di dunia ini, Bas?"
__ADS_1
Apakah Baskara bisa sampai atap dengan selamat setelah melawan Rengga?
***