
Sebelum Pensi dimulai.
Set!
Rengga memberikan alat berbentuk kotak aneh dengan tombol merah di tengahnya.
"Apaan nih?" Tanya Saga.
Melihat hal itu, Pras mengacungkan ibu jari. Malahan membuat Saga semakin bingung.
"Itu rencana cadangan." Balas Rengga. "Kalau terjadi sesuatu di luar kendali lu, itu bisa dipake."
Hanya petinggi organisasi yang mengetahui perihal bom dan hulu ledak itu. Semua itu merupakan siasat licik milik Rengga. Selama itu bukan sebuah janji, baginya melakukan berbagai upaya untuk kemenangan merupakan hal wajar.
Setelah memberikan penjelasan menjelimet tentang bom dan juga dampak yang akan didapat setelah memencet tombolnya. Rengga berpaling pergi bersama Keni untuk mematangkan rencananya.
"Bos, lu harus hati-hati sama bocah itu, Baskara Mahendra." Himbau Pras. "Dia tuh iblis yang bisa ngelakuin hal-hal di luar nalar."
Bukannya menggubris Pras, Saga malah memperingatkan Rengga. "Gua simpen ini karna ngehargain lu, Reng. Tapi gua juga berusaha buat nggk make ini sama sekali." Tegas Saga menjaga harga dirinya. "Gua bakal pake tangan gua sendiri buat ngalahin bocah iblis itu."
Rengga menyahut tanpa menoleh. "Terserah lu.. gua percayain semuanya sama lu."
Tiba-tiba, Saga memiliki ide tambahan untuk rencana ini. "Han?" Panggilnya.
Hansel menoleh menanti ucapan ketua-nya.
"Pas lu mengintai nanti, kalo ada kesempatan.." Saga terhenti sejenak. "Lu coba mendiasi pake dalih tentang bom ini. Gua pengen mereka menyerah, sebelum ngeluarin kekuatan penuhnya. Soal Baskara, biar gua yang urus."
Han mengangguk sambil berpikir. "Oke.. gua paham."
Hansel yang pada awalnya telah diberi tugas untuk mengintai oleh Rengga, kini mendapat tugas tambahan untuk melakukan mediasi. Dengan memaksa semua komplotan Baskara mundur. Agar Saga akan mampu mempertahankan kekuasaan mutlaknya di sekolah ini.
Kita tau, bahwa Saga tak perlu memakai rencana cadangan buatan Rengga. Karena sekarang, Ia siap mencabik tubuh Baskara dengan pisau belati miliknya.
***
Sekarang.
BHLARRRR!
Meski guntur masih bersautan. Tetapi, hujan berangsur reda, menyisakan gerimis kecil yang berterbangan di antara partikel udara.
Dengan tenaga terakhirnya, Baskara berusaha berdiri meski seluruh tubuhnya terasa hancur lebur. Dengan masih memegangi perut, Ia bersandar pada tembok pembatas di belakangnya. Ia sadar harus bangkit melebihi jumlahnya jatuh. Kalau tidak, Ia bisa mati karena telah mencari gara-gara dengan organisasi sekolah yang baru Ia masuki.
Dap dap dap
"Astaga, malem ini buruk banget." Saga melangkah mendekat. "Gua sampe harus ngelakuin hal kotor kayak ini." lalu melakukan gerakan menusuk secara cepat ke arah perut Baskara.
Set!
__ADS_1
Pisau bergerak horizontal, siap menusuk apa saja yang ada di depannya. Akan tetapi, Baskara mengakali dengan memutar seraya mencondongkan badannya ke arah belakang. Ia berupaya untuk memperlambat datangnya pisau ke arah perutnya.
Waktu seakan melambat. Dengan segenap intuisinya, Baskara menangkap sikut Saga. Lalu, mengarahkannya ke sisi lain untuk menjauhkan pisau itu dari dirinya. Alih-alih menghindarinya, Baskara malah mencengkeram lengan Saga dengan tangan lainnya. Ia menarik sambil memelintirnya berlawanan, hingga bahu Saga harus mengikuti putaran tangannya itu. Jika tidak, bahunya bisa terlepas dari tempat seharusnya.
Clang!
Pisau terjatuh, sebab telapak tangan Saga dipaksa terbuka oleh Baskara yang terus memelintir tangan lawannya itu. Tak hanya itu, Baskara juga memberikan penetrasi dengan menekan sikut Saga dari arah belakang.
Meski hanya satu tangannya yang dikunci, tetapi Saga merasa seakan mau mati dan dipaksa mengikuti alur gerakan yang diinginkan Baskara. Maka kini, tubuhnya membungkuk setengah berdiri dengan tangan kanan yang dipelintir ke belakang.
"Akhhhhh.." Saga mengerang kepayahan.
"Duel belum selesai, Ga." Baskara mengeraskan rahang. Dirinya yang hampir tertusuk, merasa berada di puncak adrenalinnya. "Karena gua belum menyerah."
Tak seperti pertarung jalanan yang menghalalkan segala cara demi mencapai kemenangan. Baskara justru merasa iba setelah membuat lawannya kalap seperti itu. Ia sungguh tak ingin menyakiti, apalagi sampai harus mematahkan lengan lawannya.
Baskara menghela napas panjang. Kemudian menendang punggung Saga hingga tersungkur ke arah depan. Dengan berat hati, melepaskan bajingan itu begitu saja.
BLAM! SREEK!
Saga berbalik badan, menatap Baskara dengan getir. Sosok iblis mematikan itu menggetarkan hatinya. Alih-alih, menyediakan panggung untuk kekalahan Baskara. Ia malahan merasa, semua yang telah dicapainya perlahan runtuh dalam satu malam.
Grep!
"Lu terus nyoba menolak, bahwa diri lu nggk selicik Rengga. Padahal kalian berdua sama-sama bajingan." Baskara memungut pisau belati milik Saga. Lalu menodongkannya seolah mengintimidasi. "Apa gua harus bunuh lu, buat masukin Rengga ke penjara, hah??"
Dengan begitu, arah angin berubah lagi. Baskara hanya mengintimidasi seraya mengharap Saga menyerahkan Rengga dan segera membubarkan organisasinya secara sukarela.
Dap dap dap
Cowok berambut hitam itu mengayukan langkah perlahan. "Gua pengen bubarin organisasi buatan lu dari sekolah ini selamanya, Ga." Tegas Baskara nyaring.
Saga masih memiliki kartu terakhir yang tak berniat untuk Ia mainkan. Tetapi situasi membuatnya harus mengeluarkannya pada akhirnya. Maka Saga merogoh sakunya lagi. "Jangan mendekat lagi!" Ia mengeluarkan benda berbentuk kotak kecil aneh.
Langkah Baskara terhenti, kemudian alisnya terangkat mencari penjelasan.
"Seluruh panggung Pensi udah gua pasang bom!" Ungkapnya melanjutkan. "Dan, benda yang gua pegang ini adalah hulu ledaknya."
Hujan telah benar-benar berhenti sekarang. Hanya tersisa genangan dangkal di sekitar mereka berdua.
Mimik Baskara terkejut mendengar hal itu. Lantaran, semua teman-temannya sedang berjuang di sekitar panggung sekarang. Ia berpikir, jika saja bom yang dikatakan Saga sungguhan. Maka ini adalah keadaan "checkmate" bagi dirinya. Sebuah alasan besar untuk menyerah.
"Gua nggk akan ketipu lagi!" Umpat Saga. "Kalo lu mendekat selangkah aja, gua bakal mencet tombol ini dan bunuh semua orang di sekitar panggung!"
Hal itu membuat Baskara bertanya dengan tatapan kosong. "Termasuk anggota lu?"
Saga yang tak siap dengan rencana ini, menjawab dengan terbata. "Iy-iyaa.."
Baskara menggeleng, berusaha menyadari situasi dengan lebih realistis. "Apa mau lu sekarang?"
__ADS_1
Kini, Saga bergantian mengeraskan rahang seraya menatap Baskara lekat-lekat. "Bunuh diri lu sendiri, pake pisau itu!" Titah Saga.
Baskara terpaku ketika harus diberi dilema untuk menyelesaikan konflik rumitnya malam ini. Ia tak mampu berpikir cukup jernih, dan mencoba menyangkal bahwa bom dan hulu ledak itu hanya gertakan saja.
"Bom itu, cuma gertakan doang kan, Ga?" Tukas Baskara. "Lu cuma nggk mau ngelepas sesuatu yang udah lu genggam terlalu erat?"
Melihat Baskara tak menunjukan wajah khawatir, maka Saga menggertak. "Sesuatu yang hancur ketika gua mencet tombol ini, nggk akan bisa kembali lagi, Bas." Tutur Saga mengingatkan. "Jangan sampe lu nyesel karena salah memilih."
Baskara terpaku lagi dengan pisau di genggaman tangannya. Tatapannya kosong tak terarah kemana pun.
"Gua udah sadar, ternyata elu se-berbahaya yang diomongin, Bas." Saga mulai berbicara melantur di situasi terpojoknya. "Dan, diri lu yang masih penuh ambisi itu, pasti nggk akan tau kapan waktunya berhenti." Imbuhnya lagi. "Mungkin lu sama istimewanya kayak Jiwo, jadi orang nggk pernah bisa gua taklukin."
"Gua emang nggk akan berhenti, Ga!" Timpal Baskara. "Kalo malem ini gua kalah, gua bakal balik lagi buat ngehajar lu di malam-malam selanjutnya."
Saga malahan meringis. "Gua kira megang janji sebagai seorang cowok itu keren dan setia." Ia menoleh Baskara. "Ternyata gua salah, itu nggk bermakna apa-apa." Lalu Saga mendangak, berusaha menahan air mata penyesalan. "Harusnya, lu gua hajar habis di jalan buntu waktu itu." Ucap Saga menyesali. "Sama halnya juga Jiwo, harusnya gua habisin dia bareng petinggi-petinggi lainnya. Biar dia nggk bantuin lu sampe sejauh ini!" Tegasnya bergetar.
"Lu jadi nggk waras, Ga?" Ledek Baskara. "Semua wibawa yang gua liat di jalan buntu, hilang saat lu terpojok di sudut kegagalan.."
"Kita cuma debu, di antara kecelakaan kosmik, Bas!" Tutur Saga makin melantur. "Gua cuma berusaha buat bertahan di semesta yang nggk beraturan ini."
Dap dap
Baskara melangkah mendekat, namun Saga belum juga memencet tombolnya. Baskara memilih tidak percaya dengan semua dilema yang diberikan Saga. Ia lebih memilih untuk merebut hulu ledak itu, untuk mencari tau sendiri.
"Brengsek lu, Bas!" Saga makin memundurkan badannya, tak sampai hati untuk memencet tombol merah pada alat itu.
Grep!
Baskara mencengkeram pergelangan Saga, Ia berusaha merebut hulu ledak itu dengan terus menarik dan memberikan guncangan pada tangan Saga yang tak sempurna.
Sebaliknya, Saga berusaha mempertahankan alatnya -yang merupakan rencana terakhirnya- agar tidak direbut oleh Baskara.
Di sela-sela perebutan itu, secara tak sengaja tombol merah terpencet.
Hening.
Pergerakan mereka berdua terhenti setelah menyadarinya, lalu bertatap-tatapan menanti sesuatu yang akan terjadi selanjutnya, juga sambil mengharap, Rengga gagal meracik peledak yang berada di sekitar panggung. Karena sesungguhnya mereka berdua hanya berusaha untuk memenuhi ambisi masing-masing, tanpa bermaksud menyakiti siapapun.
Guprakk! Clanglang!
Setelah beberapa detik, Saga menghentakan tangannya, membuat hulu ledak dan juga pisau itu terpental jauh hingga jatuh di salah satu genangan air dangkal.
"Lu bohong kan?" Tanya Baskara memastikan. "Jelas-jelas itu udah kepencet tadi. Tapi nggk terjadi apa-apa."
Sementara itu, Saga terpaku napasnya kian memburu. Tak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya berharap alat itu rusak secara tiba-tiba karena terkena hujan atau terendam dalam genangan.
DHUAAAARRR!!
Mereka berdua menoleh spontan berbarengan, ke arah datangnya suara ledakan yang cukup besar itu. Ledakan itu bukan dari area panggung, melainkan berasal dari tempat yang agak jauh.
__ADS_1
Semua sudah jelas, jika bom itu bukanlah bualan semata. Itu sungguh meledak, walau terlambat beberapa waktu saja. Tak diketahui berapa korban yang telah tumbang malam ini, tetapi dengan ledakan bom rakitan itu. Semakin menyibukan malaikat maut menjemput setiap jiwa yang telah mati secara bersamaan.
***