Baskara : Liberation

Baskara : Liberation
Chapter 44; Iblis Hitam.


__ADS_3

Sulit memastikan, apa yang sebenarnya terjadi saat menjelang kematian. Menurut penelitian, saraf pusat melepaskan dopamin dalam kadar tertentu pada otak, lalu terjadi penarikan ingatan secara acak. Mengakibatkan terciptanya sedikit kilasan kenangan tentang kehidupan.


Tapi, itu tidak pernah terjadi pada kematian mendadak.


Atau mungkin bisa saja terjadi, tetapi tidak ada yang pernah benar-benar tau.


DHUAAAARRR!!


Bunyi dentuman keras terdengar hingga radius seratus meter, mengakibatkan separuh kaca sekolah pecah karenanya.


Lampu panggung meredup, seketika seluruh penonton pensi tiarap menutup telinga secara spontan. Lalu mereka menghentikan musik setelahnya.


Hansel terbangun dari pingsannya, setelah mendengar dahsyatnya ledakan itu. Ia tau, bahwa Saga telah menekan tombol detonatornya. Itu berarti, situasinya sangat rumit sekarang.


Dengan setengah sadar Hansel berkata. "Keberuntungan lu udah habis, Saga."


***


Baskara menggeleng seakan tak percaya. "Lu emang biadab, Ga!" Tukasnya.


"Ini semua rencana Rengga." Sahut Saga berdalih.


"Lu berdua sama aja!" Sela Baskara geram. "Sama-sama bajingan nggk tau malu!"


"Cuih!" Saga meludah tak tergoyah. "Lu pikir gua brengsek, Bas?" Ia bertanya retoris, lalu melanjutkan. "Tunggu sampe lu ketemu sama Jeros."


Baskara yang mendengarnya mengerutkan dahi. "Gua nggk tau, dan nggk mau tau siapa dia, yang jelas urusan kita belum-"


Perkataan Baskara terpotong sesaat karena nada dering hapenya. Ia terkejut, dan langsung menerima panggilan itu.


["Bas? Kamu gapapa?"] Tanya suara di ujung telfon.


Lalu, Baskara menjawab. ["Iya, La. Gua gapapa. Gimana kondisi lu? Gimana keadaan yang lainnya?"]


Terdengar suara Lala yang sedang tersedu sebelum akhirnya melanjutkan telfonnya. ["Melody, Bas."] Akan tetapi, Ia tersedu lagi tak sanggup menyelesaikan perkataannya.


["Melody kenapa?"]


["Dia ngorbanin diri bawa bom itu ke gerbang sekolah!"] Imbuh Lala cepat. ["Aku nggk tau keadaan Melody sekarang, tadi bom itu meledak gitu aja."]


Prak! guprakk!


Baskara membeku menunjukan sikap aneh.


["Bas? Jawab aku!"] Panggil Lala berkali-kali. Namun tak kunjung dijawab, karena hape itu telah terjatuh sejak tadi.


NGUNGGG!


Ketika berada di titik terendah, perasaan takut dan ragu terasa berat untuk dihadapi. Akan tetapi, semua akan berlalu secara tidak masuk akal tanpa sebuah upaya penyelesaian.


Telinga Baskara mendengung hebat, membuatnya tiba-tiba menutup inderanya.

__ADS_1


"Lu anak yang nggk diinginkan sama dunia."


Ingatan tentang kutukan itu, berbicara lagi kepadanya. Berusaha menarik semua ingatan buruk yang telah dilaluinya.


"Lu akan jadi kutukan buat semua orang sekitar lu!"


Sepintas memori terlintas dalam benaknya, itu ialah ayah Baskara yang terus menggenggam botol alkohol di setiap hari kematian ibu Baskara yang sekaligus merupakan hati lahirnya.


Iya benar, ibu Baskara mati saat melahirkannya.


Sesungguhnya, ayahnya menyayangkan kematian ibu Baskara. Sosok yang Ia cintai lebih dari apapun, seolah tak siap untuk terluka lagi dengan harus kehilangan cintanya. Jika Ia melihat anaknya, Baskara. Hanya ada kebencian, dan amarah hebat akan suatu penyesalan.


"Seharusnya lu yang mati, Bas." Ayahnya yang mabuk mengkoyak kerah Baskara sambil memaki dengan sumpah serapah. Lalu di akhiri dengan sebuah pungkasan. "Kematian akan menyertai sepanjang hidup lu! Lu anak yang nggk diinginkan dunia! Lu akan jadi kutukan bagi semua orang sekitar lu!"


Jegleg! Crieeet!


Pintu kayu berdecit. Saat terbuka, Baskara berteriak memekik karena melihat ayahnya menggantungkan leher di sebuah ikatan tali tambang tebal.


"AYAHHH!!"


Ayahnya mengejang sesaat, sebelum akhirnya melayang-layang mengikuti arah tali berputar.


"Pembawa petaka.. anak kematian!" Suara serak bergema di telinga Baskara.


Kini ingatannya teralihkan. Tergambar jelas makam ibu Baskara, lalu kematian ayahnya yang gantung diri. Kemudian kematian kimon, teman yang pertama Ia kenal di Elang Emas. Lalu yang terakhir, tergambar senyum Melody, yang tentu saja Ia telah mati karena ledakan bom tadi.


Rongga paru-parunya terasa kosong sejenak. Baskara menarik napas panjang lalu kembali sadar pada realitanya. Tetapi itu tak seperti dirinya, seakan roh setan mengambil paksa kesadarannya. Membangkitkan iblis hitam dari neraka paling dalam. Tangannya mengepal keras, detak jantung meningkat hingga mengalirkan darah sangat deras ke seluruh pembuluh darahnya yang hampir pecah.


"Bas?" Tanya Saga memastikan.


Saga merasa wagu dengan keadaan ini. Dengan perilaku Baskara yang aneh, seharusnya Ia mampu menghajarnya untuk membalik keadaan, lalu kembali dengan sebuah kemenangan.


Manik mata Baskara kembali muncul, juga semua kesadarannya. Namun napasnya terasa begitu terengah-engah bak sehabis lari maraton puluhan kilometer. Ia tertunduk setengah berdiri, memegangi leher belakangnya yang terasa sakit akibat tensi darahnya yang meningkat drastis karena alasan yang tidak diketahui.


BHUAAAAKK!


Baskara terguling melewati beberapa genangan air. Itu merupakan tendangan keras yang diayunkan oleh Saga, tepat mengenai sisi rahangnya.


Dap dap dap


Saga mendekat memastikan kekalahan Baskara, meski Ia harus memakai rencana cadangan milik Rengga itu.


BEG! BEG! BEGG!!


Tubuh Baskara yang merebah diinjak-injak beberapa kali, tepat seperti yang dialami oleh Barlan. Cara terbaik bagi Saga untuk menyalurkan amarahnya yang terus Ia tahan sejak tadi. Namun, tiba-tiba..


GREP!


Setelah beberapa kali terinjak, telapak sepatu Saga berhasil ditangkap oleh Baskara. Oleh sebab itu, Saga menoleh kepada Baskara. Betapa terkejutnya Ia, ketika melihat mata Baskara memutih seperti tadi. Maka Saga menarik kakinya dan mundur dari pandangan Baskara secara perlahan.


Dengan terhuyung, kini Baskara berdiri tegap. Ia memasang kuda-kuda bak beladiri handal, dengan tatapannya kosong memutih. Meski tekanan darahnya naik, akan tetapi tubuhnya terasa dingin bagai orang mati.

__ADS_1


Ia maju selangkah demi selangkah, menghampiri Saga di depan matanya.


Saga mengerutkan dahi, mencoba menelaah apa yang sesungguhnya terjadi pada Baskara saat ini. 'Apa ini iblis yang dimaksud sama Pras?' Batinnya. 'Bisa ngelakuin hal-hal di luar nalar?'


Baskara mulai menyerang, dan langsung disambar hangat oleh Saga yang masih tangkas memblokir pukulan tak terarah milik Baskara.


Saga memilih terus menangkis atau menghindar selagi bisa, mengulang siasat taktisnya seperti di awal tadi. Ia membiarkan lawannya menyerang dengan seluruh amarahnya, hingga saatnya tiba untuk menyerang balik.


Alih-alih kelelahan, Baskara malahan semakin mempercepat setiap pukulan, sabetan, juga tendangannya. Ia bergerak seakan menari dengan gerakan terpatah-patah.


BLAM!


Dengan begitu, Saga kewalahan hingga beberapa kali terkena satu hingga dua serangan. Maka Saga berupaya mengatasinya dengan mundur menjaga jarak, dengan begitu serangan Baskara akan lebih mudah dihindarinya. Akan tetapi, cara itu malahan membuatnya semakin terpojok mendekati sisi pinggir atap.


KREK!


Pukulan keras gagal dihalau oleh Saga, langsung mengenai rusuk kirinya. Seketika membuatnya tertunduk setengah berdiri. Bersandar dengan salah satu lututnya menahan sakit. Dipukul di bagian tersebut sangatlah menyiksa, karena otak secara jelas menggambarkan rasa sakitnya.


KRETEK!


Baskara memutar badan menuju sisi samping Saga. Setelah itu, Ia mencengkeram tangan kanan lawannya. Kemudian menghantam bahu belakang Saga hingga membuat persendiannya berpindah dari tempat seharusnya.


"Arghhhhhh.."


KRETEK


Baskara juga melakukan hal yang sama pada tangan lainnya, sehingga kedua lengan Saga menggantung tak berfungsi.


Saga mengerti, bahwa keberuntungannya telah lama habis. Dan sekarang, hanya tersisa kesialan yang akan menyertai sampai mati. Saga seolah bisa merasakan apa yang Barlan rasakan saat tragedi 'Senja Berdarah'.


Kalah tak berdaya, namun masih merasa benar.


Meski Saga telah luka fatal, Baskara tak berhenti sampai di situ. Ia menarik kerah Saga berniat memaksanya untuk berdiri sekali lagi.


Angin berderu di pinggir atap gedung D, Saga terdiam seakan siap menerima ganjaran atas semua yang telah Ia perbuat. Merasa skeptis dengan keadaan yang memojokannya hingga di ambang kematian, Saga tau takkan ada yang datang di saat genting.


Bakbukbakbuk!


Pukulan cepat menghantamnya bertubi-tubi, Saga mundur perlahan hingga sampai di pinggir atap. Momentum serangan Baskara memaksanya terus terdorong hingga akhirnya terjatuh dari ketinggian lima belas meter.


Saga terjatuh dengan Baskara yang masih mencengkeram kerahnya, dan masih sesekali memukulinya di udara.


Sungguh iblis.


BRUAAAAAK!!


Setelah menghancurkan kanopi panggung terlebih dulu, Akhirnya mereka berdua jatuh tepat di tengah panggung. Saga merebah tak berdaya, kesadarannya hampir menuju nol, bahkan sakit tak lagi terasa. Ia hanya terus berhalusinasi. Sedangkan Baskara, mendarat dengan gagah berdiri tegap menghadap penonton Pensi.


Mereka yang menunduk setelah mendengar dentuman keras, menjadi terperangah melihat Baskara yang masih mampu berdiri setelah jatuh dari ketinggian lantai empat.


Termasuk pasukan pemberontak yang berdiri di pinggir lapangan serbaguna, semua mata berdecak kagum terhadap Baskara yang mengakhiri duelnya dengan terjatuh seperti itu.

__ADS_1


Semua seakan sependapat, bahwa Baskara telah berhasil menghajar habis seorang yang menguasai sekolah dengan dalih berorganisasi, Sagara Husein. Alih-alih menjadi tempat kekalahannya. Secara tak sengaja, panggung Pensi malahan menjadi tempat bagi Baskara menunjukan dominasinya.


***


__ADS_2