
"Gimana? Suka nggk filmnya?" Tanya Najwa penasaran.
Rengga mengangguk setuju. "Suka."
"Tapi kamu diem aja pas di dalem bioskop tadi?"
"Ahh.." Rengga menggaruk kepala berupaya memberikan wajah ramah. "Ini pertama kali buat aku. Jadi masih terasa aneh.."
Mendengar itu Najwa langsung memberikan ajakan lagi. "Bulan depan ada film bagus lagi, kita nonton yah?"
Membuat Rengga mengangguk lagi, menuruti peri kecil yang mengkilaukan hatinya.
Mereka berdua kencan di akhir pekan, menonton film yang telah Najwa tunggu-tunggu, katanya. Sedangkan, ini merupakan hal baru bagi Rengga yang biasa hidup dari jalan ke jalan. Sebuah pengalaman yang membuka cakrawala dunia lewat matanya.
***
Najwa melangkah pelan berusaha menyeimbangkan tubuhnya dengan meregangkan kedua tangan ke samping. Di sisi lain, Rengga menjagai di bawahnya apabila Najwa terjatuh.
Menyempatkan diri ke pantai ancol di sore hari, begitu menggairahkan. Angin yang menerpa wajah membuat Rengga merasa hidup. Juga cewek anggun yang berjalan menyusuri tembok setengah meter di tepi laut itu.
"Ayolah, jangan bertingkah.. bahaya tau." Ucap Rengga khawatir. "Ayo turun!"
Maka, Najwa mengembungkan pipi menunjukan raut sebal. "Nggk mau."
Tap!
Ketika salah melangkah, dengan spontan Rengga meraih sebelah tangan Najwa, lalu mata mereka menjadi segaris untuk sesaat.
Najwa menyunggingkan senyum, menyadari sentuhan dari cowok gondrong itu. Lalu kembali berjalan, seolah semua biasa-biasa saja.
Matahari perlahan tenggelam di sudut kaki langit bagian barat, dan menarik semua cahaya pergi bersamanya.
Ketika langit gelap, Lampu kerlap-kerlip masih menyinari pinggiran laut Jakarta itu. Ombaknya tak begitu kuat, karena telah dipecahkan beberapa kilo meter sebelum sampai ke hadapan mereka.
Kaki Najwa berayun-ayun duduk di tepian dermaga kayu mengarah ke cakrawala pembatas laut dan langit. Kedua tangannya menyanggah tubuh dari samping.
Lalu Ia menoleh. "Kenapa rambut kamu gondrong?" Tanyanya sungguh.
Rengga mengerutkan dahi, karena bingung harus menjawab apa. "Ya.. emang dari dulu udah gini."
"Ohh.."
"Emang kenapa?" Sambungnya lagi penasaran.
"Kupikir lebih rapih kalo dipotong pendek deh." Ujar cewek itu seraya meringis.
"Masa?" Saat itu juga Rengga langsung berpikir untuk segera memotongnya, jika itu merupakan keinginan pujaan hatinya.
Najwa mengangguk pelan. "Hmm.."
"Aku malah nggk nyangka.." Sela Rengga.
"Nggk nyangka apa?"
Rengga mencoba menatap mata mengkilap itu. "Aku nggk nyangka kalo ternyata kamu make kacamata." Ia terus memaksa melihat, meski tak sanggup.
"Jelek ya?" Tanya Najwa ragu.
"Eh enggak kok.." Rengga menyahut sambil mengoyahkan telapak tangannya yang terbuka.
"Terus kenapa?" Cewek berkacamata itu mulai merajuk.
"Kamu lebih cantik dari yang ku bayangin, ketika pake itu." Ucap Rengga dengan nada pelan, karena ragu akan jawabannya.
Membuat Najwa seketika mengalihkan pandangan. "Ah bohong kamu mah."
__ADS_1
Mereka bercakap, memandangi langit gelap dengan serpihan cahaya mengkilap dari lampu hias di sekelilingnya. Selagi berupaya mengulur-ulur waktu, Rengga terus mencuri pandangan dengan melihat Najwa sesekali, takut itu akan jadi hari terindah dalam hidupnya. Membuatnya tak hidup dalam momen ini, karena terfokus akan kecemasannya pada hari esok.
Tiba-tiba, segerombolan orang datang memecah suasana romansa. "Lu anggota Vandal kan?"
Najwa menoleh getir, sedangkan Rengga telah terbiasa dikejar bahaya di setiap detik hidupnya.
Jumlah mereka tiga orang, seragam dengan gaya yang sama yaitu, mengenakan jaket bomber hitam.
"Gua inget muka lu.. sewaktu rebutan lahan di Jaksel." Ucap seorang cowok pertama, yang nampak lebih tua dari yang lainnya.
Rengga bergeming terus berpikir mencari jalur pelarian, di saat Najwa hanya menggenggam erat lengannya yang mengepal.
"Kita ratain aja, bos. Selagi dia sendiri.." Imbuh cowok kedua memprovokasi. "Ceweknya kita ceburin aja ke laut!"
Mereka terus melangkah mendekat bersiap melakukan sesuatu, untuk membalaskan sesuatu yang belum terselesaikan di antara mereka.
Sett
Rengga telah berdiri teguh, menyodorkan pisau belati kepada lawannya. Pisau belati berwujud sama dengan milik Keni. Baginya, itu cukup adil apabila menggunakan bantuan pisau, ketika harus berhadapan tiga lawan satu.
Tsah!
Cowok pertama menendang lurus, yang berhasil dihindari Rengga dengan mulus. Membuatnya lenyap dari pandangan Rengga sementara waktu, karena momentum tendangannya terlewat sampai belakang.
Grep!
Rengga menangkap tinju yang hampir mengenainya, kemudian menusukan pisaunya ke perut cowok kedua sambil memutar perlahan.
JREEB!
"ARGHHH.." Cowok kedua itu mengerang.
BUK!
Tak diberi waktu mengeluh, Rengga Menyikut keras pundak cowok kedua yang sedang membungkuk menahan sakit dari tusukan itu.
Ketika intuisinya berbisik, Rengga memberikan tendangan lurus ke belakang.
Membuat cowok pertama, yang sebelumnya ingin menyerang untuk mengambil celah kesakitan, karena mengenai sela selangkangannya.
"Hyaaaa.." Cowok ketiga berniat ikut berpesta.
Maka, tangan Rengga menarik lengan cowok kedua yang masih di cengkramannya. Mengarahkannya ke pinggir dermaga, memberikan tendangan di perut seraya mencabut pisaunya.
Saat Rengga menggerai rambut gondrongnya, Najwa memandangi dengan rasa takut karena kesadisannya membantai seorang musuh itu.
Byurrr!
Cowok kedua tumbang tercebur.
Tsah! Tsah!
Cowok ketiga tadi, berupaya memukul berkali-kali, namun terus berhasil dihindari oleh Rengga dengan spontan.
Crat!
Rengga menyeringai selagi pisaunya berhasil menggores lengan cowok ketiga yang menyerangnya dengan tinju. Membuatnya melempar pisau memutar beberapa sentimeter dari tangannya sebelum akhirnya menangkapnya lagi, bermanuver seolah ninja bayaran profesional.
Dan lagi, Najwa menyadari jika cowok yang sedang berkencan dengannya merupakan buronan berbahaya yang gemar menyakiti.
Cowok pertama yang berada di belakangnya, berniat menyerang lagi, bersamaan dengan cowok ketiga. Menyadari hal itu, Rengga menunduk membuat kedua cowok itu saling memukul satu sama lain.
BLAAMM!
CRAT CRETT!
__ADS_1
Selagi menunduk, Rengga menggoreskan pisaunya dengan apik ke kedua paha lawannya. Membuat mereka setengah berdiri merasakan pedihnya sayatan.
BUAKK!
Cowok ketiga mendangak tiba-tiba, karena menerima tendangan mengayun dari ujung sepatu Rengga.
Grep!
Rengga berbalik arah ke belakang, menarik kerah cowok pertama. "Lu jangan gangguin gua lagi, anjing!"
JREEBB!
Lehernya dihunus ujung pisau sambil menunjukan wajah terperangah. Darah menyembur keluar dengan deras, tetapi Rengga tak mencabutnya. Membiarkannya mati perlahan karena kecerobohan merusak harinya.
BRUK
Setelah sempat termangu setengah berdiri, cowok pertama tumbang tertelungkup ke depan.
Rengga melirih ceweknya, Najwa. "Kamu gapapa?"
Najwa mengangguk ragu, membalas pandangan Rengga dengan ngeri.
Grep!
Tiba-tiba, Rengga meraih tangan Najwa, menariknya pergi menuju bibir pantai. "Ayo pergi.."
Najwa yang masih membeku mengikuti langkah cepat cowok gondrong itu. Ia menyadari lagi, ketika tanpa sengaja melihat tangannya bersentuhan dengan tangan yang penuh darah. Bahwa Rengga bukanlah cowok yang layak bagi dirinya. Namun seperti biasanya, cewek selalu mampu untuk bersandiwara sampai akhir.
***
BRUMM!!
Rengga mengayun motornya cepat, seraya menoleh sesekali. Memastikan tidak ada yang menguntitnya hingga sampai. Honda CB 100 itu cukup tangguh baginya, karena bisa bertahan selama ini dari kejaran musuh-musuh geng Vandal.
Najwa yang mencengkeram kemeja Rengga berkomentar. "Pelan-pelan kenapa sih."
Seketika hati Rengga runtuh, dan menurunkan kecepatan motornya perlahan. "Maafin aku yah, udah ngerusak kencan pertama kita."
"Gapapa kok." Ia tertawa kecil memaklumi. Entah iba atau memulai sandiwaranya, tetapi Najwa merubah arah anginnya lagi.
Rengga merasa masih punya harapan di kencan pertamanya, itu bukan sebuah bentakan. Tetapi hanya perkataan yang muncul dari rasa takut, pikirnya.
"Ini udah jam sebelas malem, Rengga. Aku mau pulang." Pintanya.
"Ohh ya?" Rengga merasa waktu berlalu cepat ketika berada di dekat Najwa. "Okey deh. Ayo kita pulang."
Rencananya untuk mengulur waktu, malah membawa mereka menuju waktu tengah malam. Setelah sempat berputar-putar Jakarta untuk mengalihkan. Maka dengan pasrah Rengga mengarahkan motornya menuju daerah Menteng, Jakarta Pusat.
"Nanti turunin aku sebelum sampe rumah ya, Reng." Pintanya lagi. "Di pinggir jalan deket situ aja."
"Kenapa?"
"Papa aku udah pulang jam segini." Jelas Najwa. "Kamu bisa masuk daftar hitam, kalo mulangin aku jam segini."
"Ohh yaudah kalo gitu maunya kamu." Sahut Rengga pasrah. Ia berpikir, setidaknya telah mengetahui letak rumah Najwa, saat menjemput tadi.
Untuk kencan awal, Najwa sudah memastikan sebuah jebakan yang tidak disadari Rengga, sebuah pengakuan. Karena keinginannya untuk diturunkan di pinggir jalan hanyalah siasat, untuk memastikan kesungguhan Rengga mengenalnya.
Rengga telah gagal total dalam kencan pertamanya. Tanpa disadari, anggapan bahwa Najwa masih merasa nyaman pada dirinya, akan menjadi duri dalam daging yang terus melukainya.
Dan benar saja, cewek berkacamata itu diturunkan berjarak beberapa lampu dari rumahnya. Lalu Rengga menarik tuasnya melaju pergi dengan Najwa melambai pelan seraya memasang senyum memaksa.
"Nanti aku kabarin, kalo aku udah sampe rumah."
Semua yang terlihat baik-baik saja, selalu menyembunyikan banyak sesuatu yang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
***