Baskara : Liberation

Baskara : Liberation
Chapter 36; Pamungkas.


__ADS_3

Seminggu lalu, Hansel telah bertemu Fara. Lalu hari ini, Ia mengajaknya untuk bertemu seorang yang sangat Ia hormati, Sagara Husein.


Fara mengalihkan pandangannya pada Hansel, ketika harus bertatap muka dengan seorang yang pernah hampir memalaknya. Tetapi rasa nyaman di sisi Hansel meyakinkannya untuk bergabung organisasi.


"Angel Farasya?" Ujar Saga memastikan.


"Iy-iya.." Sahutnya gugup.


"Makasih ya.. udah nolongin Hansel." Ucapnya memulai obrolan. "Sisa insting berantemnya masih ada." Imbuhnya seraya menoleh Hansel yang terkekeh. "Lagian, emang ada masalah yang harus diselesain minggu lalu."


Setelah sesaat saling bertatap-tatapan, lalu Hansel menyarankan sebuah ide. "Ga? Gimana kalo kita sediain ruangan buat Fara ngerjain tugasnya. Semacam klinik di dalem sekolah."


Fara menoleh ke arah Saga menanti tanggapan.


"Ide bagus!" Balas Saga semangat. "Kita bisa obatin anggota kita yang luka-luka akibat pertarungan. Fara gimana?"


"Gua sih setuju.. dan ikutin intruksi dari ketua aja." Sahutnya singkat.


"Oke, Far. Gua akan pertimbangin lagi, dan siapin dana untuk beli peralatannya juga." Pungkasnya


Saga mulai bergerak, mencari setiap kadidat berpotensi sambil mengharap bisa menjaga kedamaian yang telah Ia capai lebih lama.


***


Seorang murid baru, tak gentar sedikit pun ketika di sekelilingnya telah dikepung anggota organisasi di bawah perintah Saga.


Dan lagi, seorang cowok berkulit putih, berjarak beberapa meter, mengamati seraya mengutarakan maksud kedatangannya, Alfonsus Hansel.


"Badan lu keliatan cukup tangguh, buat ngehajar orang?" Tanya Hansel menyapa. "Gua pikir lu bakal suka mukulin orang.. "


Seorang cowok berdada busung juga lengan yang tebal itu, tak menjawab apapun. Malah berupaya membuang pandangan seolah tak peduli, itulah Jiwo saat pertama kali masuk Elang Emas.


"Eh gua ngomong sama lu brengsek!" Seru Hansel berang. "Gua bakal langsung ngomong intinya, lu mau gabung organisasi nggk? Ini semua demi kedamaian sekolah kita."


"Geng kekanak-kanakan di sekolah maksud lu?" Ledeknya. "Ogah." Lalu menjawab singkat.


Hansel menilik sekitarnya, anak buahnya telah mengerti bahwa itu merupakan sebuah aba-aba untuk memberi pelajaran.


"Hyaaa..!" Salah satu anak buah yang mengepung, memberi pukulan tak terduga menuju wajah Jiwo.


Grep!


Jiwo meraih pukulan itu sesaat sebelum mengenainya, lalu menarik lengan itu dengan sentakan cepat.


BHUAAAKK!


Jika waktu melambat, akan terlihat gigi seorang itu perlahan memisahkan diri dari rahang pemiliknya.


Seorang anak buah itu terpental, setelah terkena pukulan balasan tepat di sekitar rahangnya. Tersungkur sambil menyadari separuh giginya rontok memencar di hadapannya dengan cipratan darah.


Semua wajah membeku melihat seorang murid baru yang menunjukan pukulan berdaya rusak tinggi. Tak terkecuali Hansel yang menjadi kesima memandangi calon anggota yang ingin direkrutnya.


"Cuihh.." Seorang itu meludahkan darah kental dari mulutnya yang sudah tak berbentuk, sempat menyekanya, lalu pingsan karena merasa terguncang.


Serentak mereka -anak buah Hansel- menghampiri seorang yang terkapar itu. Menyanggah kepalanya seraya memperhatikan separuh gigi orang itu terpisah dari rumahnya. Sedangkan, Hansel hanya termangu memandangi saja dengan perasaan tak percaya.


"Orang yang berantem cuma buat kesenangan, nggk bakal ngerti apa-apa soal kedamaian." Pungkas Jiwo, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan tempat kejadian.


***


"Gua nggk kuat lawan dia, bos." Ucap Hansel yang kehabisan napas, karena berlari kencang untuk mengabari Saga selekasnya.


Ia bersama anak buahnya baru saja kalap, ketika melawan seorang murid baru berbadan kekar yang kemampuannya di luar batas kewajaran.


"Lah itu, lu masih bisa berdiri?" Tanya Saga. "Bukannya lu suka berantem?"


"Nggk perlu sampe mati dulu kan, buat sadar?" Tukas Han menyaut. "Gila aja.. daya tahan tubuhnya beda." Jelasnya. "Sekali pukul, anak buah gua langsung ompong kaya aki-aki."

__ADS_1


Saga menautkan kedua alisnya. "Siapa namanya?"


"Susanto manjiwo."


Ia mengangguk juga berusaha mengingat nama itu. "Buat janji sama dia. Gua akan duel langsung buat rekrut." Pungkas Saga.


Tak hanya Hansel, Rengga sebagai wakil organisasi juga membawa satu kadidat. Seorang murid yang telah ditemui Saga sebelumya.


"Gua yakin lu udah tau dia siapa. Dia orang yang gua percaya." Tegas Rengga. "Keni Andaresta." Imbuhnya.


Keni menunduk sesaat memberi hormat lalu tersenyum seadanya.


Saga tertegun. "Dia tembus masuk sini?"


"Iya. Biarin dia nemenin gua di organisasi."


"Kenapa harus dia?"


Rengga menghela napas, kemudian menjelaskan dengan merengus dingin. "Keni gua pungut dari jalanan." Jelasnya lagi. "Dia satu-satunya orang yang ngerti keadaan gua."


Akhirnya, Saga mengangguk pasrah setelah mendengar keseriusan dari penjelasan Rengga.


***


12.20


Siang hari, sebuah area terbuka di belakang sekolah. Rengga, Hansel, juga beberapa anak buah lainnya berkumpul. Mereka membentuk sebuah lingkaran, dengan Saga dan Jiwo berdiri tegap di tengahnya.


Setelah sebelumnya, Hansel telah membuat janji untuk mempertemukan mereka berdua. Dan ajaibnya, Jiwo menuruti keinginannya untuk bertemu pulang sekolah ini.


"Ayo kita mulai." Ucap Saga. "Kalo lu kalah, lu harus ikutin perintah gua di bawah naungan organisasi." Ia langsung mengambil posisi bertarung, dengan mengepalkan kedua tangannya.


Jika boleh memilih, Saga enggan melakukan kekerasan lagi dalam ekspansi organisasinya. Karena semua saksi hidup 'Senja berdarah' mengganggap, biarlah hanya itu yang menjadi kenangan terburuk mereka. Dan jalan kekerasan hanya upaya bodoh yang tidak harus dilakukan di awal penyelesaian masalah.


"Gua nggk mau." Sahut Jiwo singkat.


Membuat Saga bertanya dengan kecewa. "Terus kenapa lu dateng sekarang?"


Hening.


"Gua nggk mau buang-buang tenaga, buat orang-orang nggk penting kayak kalian." Jelas Jiwo. "Gua maunya gini.."


Maka, semua telinga berupaya mendengarkan dengan seksama untuk setiap perkataan murid baru ini, termasuk Saga yang tadinya sudah siap untuk bertarung, sekarang harus mengendurkan persendiannya lagi. Entah mengapa, keadaan memberikan kesempatan untuk Jiwo mengatakan maunya dengan sangat mudah.


"Gua mukul lu sekali, lu mukul gua sekali." Tutur Jiwo memperagakan. "Siapa yang nggk sanggup berdiri lagi. Dia kalah."


"Kenapa gua harus ikutin mau lu, asu!" Sanggah Saga tak terima, juga menghardik seolah menunjukan kuasanya sebagai ketua.


"Yaudah gini.." Sela Jiwo. "Lu tiga kali mukul, dan gua sekali mukul lu." Ia memberi tawaran tersebut tanpa ragu. "Dan, kalo gua kalah.. gua akan jadi anggota yang bergerak di bawah perintah lu. Tapi.." Imbuhnya lagi. "Kalo lu tumbang, lu dan semua geng payah ini.. jangan ganggu gua lagi, selamanya!"


Saga berpikir sejenak, Ia ingat jika Hansel berkata, bahwa anak buahnya tumbang sekali pukulan. Maka, dirinya berasumsi bahwa Jiwo memiliki pukulan sekuat baja. Jika mengukuti aturan ini, kemungkinan kalah akan cukup tinggi baginya.


Untuk sesaat, beberapa anggota berbisik satu sama lain. Memperhatikan ketua mereka dihardik oleh tawaran yang sangat menguntungkan dari mata mereka, yang belum mengetahui kemampuan Jiwo, tak terkecuali Pras. Ketika baru bergabung organisasi, Ia sempat melihat bagaimana Jiwo akan bertarung, sebelum akhirnya tak pernah melihatnya lagi.


Saga berpikir lagi, Ia merasa gelisah. Jika Ia menolak tawaran ini, maka semua organisasi yang dibuatnya akan runtuh melihat ketua mereka menjadi pengecut, dengan menolak tawaran dari seorang murid baru yang belum di ketahui kemampuannya.


"Yaudah terakhir.." Imbuh Jiwo lagi. "Lu boleh mukul gua lima kali, dan gua mukul lu sekali."


Anggota Saga makin berbisik menanggapi tawaran Jiwo yang diberikan dengan amat berani. Pasalnya, lima pukulan sekaligus bukanlah hal yang bisa disepelekan. Jika di telaah, Jiwo akan kalah dalam kelipatan pukulan yang diterimanya. Dan, hanya memiliki kesempatan memukul satu banding lima dari pukulan yang diterimanya.


Di sisi lain, Saga menyadari situasinya makin tersudut untuk menerima tawaran Jiwo. Sejujurnya, Ia pun ragu meski melayangkan lima pukulan dan menerima satu. Tetapi Ia harus segera menjawab tawaran ini sebelum Jiwo berubah pikiran, juga muncul asumsi buruk dari anggotanya.


"Gua terima." Sahut Saga cepat. "Gua harap lu tepatin janji lu, soal jadi anggota yang bergerak di bawah perintah gua."


"Lu juga harus tepatin, buat nggk ngusik gua lagi selamanya. Kalo gua menang." Timpal Jiwo.


Dua pihak sepakat untuk menyelesaikan urusan mereka siang ini juga. Setelah sebelumnya menggulirkan koin secara acak, Saga mendapat giliran memukul lebih dulu.

__ADS_1


Dengan kesepakatan, Jiwo dipaksa untuk tidak menghindar. Begitu juga sebaliknya ketika mendapat giliran memukul.


BLAMM!


Pukulan pertama Saga menghantam rahang Jiwo. Jika dilihat, itu tidak berdampak apapun, Ia hanya menoleh sedikit, lalu kembali ke posisi semula. Tentu saja, hal ini membuat detak jantung Saga bergerak lebih cepat karena khawatir.


BLAM BLAM BLAMM!


Pelipis kanan, pelipis kiri, lalu perut. Saga mengeluarkan pukulan terbaik yang Ia punya, tetapi tetap tak cukup untuk mengoyahkan tubuh itu. Layaknya beton yang dicor rapat dengan semen juga kerangka besi, daya tahannya sungguh luar biasa.


BHUAAAAKK!


Untuk yang terakhir Saga memberikan pukulan di bawah dada busung Jiwo, yaitu bagian ulu hati. Sungguh tubuh itu tak koyak sedikit pun. Membuat semua anggota yang menonton mengigit bibir cemas. Dan lagi, tubuh Jiwo seperti dilapisi zirah tak kasat mata.


"Sekarang giliran gua."


BLAMM!!


Padahal, Saga telah berusaha mengeraskan seluruh tubuhnya, berupaya mengurangi dampak pukulan mematikan milik lawannya. Namun kini, kakinya berada di udara untuk sesaat, karena pukulan perut yang diberikan oleh Jiwo yang memiliki dampak luar biasa. Ia berpikir rasanya seperti dihantam kuat dengan sebuah Gada tebal berduri.


Jiwo meringis meremehkan, itu merupakan sebuah ringisan yang akan diingat Saga seumur hidupnya.


Di pinggiran, Rengga terperangah, melihat Jiwo bermanuver dengan gaya memukul yang tidak asing baginya. Sempat terpikir, mereka berasal dari tempat yang sama, Jalanan.


Keduanya masih berusaha berdiri, meski Saga yang terlihat sangat memaksakan. Setelah membeku sesaat, ketika menerima pukulan Jiwo.


Jika Saga lebih peka terhadap tubuhnya, maka sesungguhnya, kepalanya akan terasa berkunang juga badannya kian melemas.


Bakbukbakbuk!


Lima pukulan Saga diberikan sekali waktu ke arah rusuk Jiwo dan bagian sekitarnya.


Srakk!


"Gila.. badannya kuat banget." Celetuk seorang anggota.


Pukulan itu membuat Jiwo mundur dari posisi semulanya. Meskipun merasa sedikit kalap karena serangan beruntun tersebut. Namun kini, Jiwo siap mengambil giliran untuk melumpuhkan lawannya.


"Sekarang giliran gua." Ucap Jiwo memberitau Saga agar bersiap. "Gua harap lu tepatin janji, reputasi lu dipertaruhin di depan anak buah lu sekarang." Pungkasnya."


Tetapi Saga bergeming, berusaha mengeraskan badannya seraya menggertakan rahang, menahan kerusakan yang akan diterimanya.


Sementara itu, Jiwo mengeraskan punggungnya, otot bahu, juga kepalan tangannya. Ia mengayungkan tangan, yang sebelumnya meregang ke atas, kini dengan cepat menuju sela antara leher dan bahu Saga. Jiwo melemparkan sebuah pukulan pamungkas miliknya.


BLAMM!!


Waktu membeku, mata Saga memutih, sekuyung-kuyung menjatuhkan diri ke arah Jiwo. Berupaya memeluk Jiwo sesaat, untuk mempertahankan posisi berdirinya. Tetapi Saga telah tumbang dengan pukulan brutal itu. Tersungkur seolah terlihat bersujud di hadapan Jiwo.


Semua mata takjub melihat pukulan brutal tak beradab itu. Semua orang berkemungkinan pingsan jika dipukul di bagian itu. Tetapi Jiwo memukulnya dengan sentakan kuat dan tak menahan diri. Mengakibatkan Saga, seorang ketua organisasi sekolahnya tumbang begitu saja.


Kemudian Jiwo mundur selangkah, sekarang Saga terbaring tertelungkup di depannya. Mata Jiwo menilik sekitar, memperhatikan setiap mata yang menjadi saksi siang ini.


Pras membelalak tak berkedip ketika melihat betapa kuatnya ayunan pukulan itu, menyiutkan nyalinya untuk berhadapan dengan Jiwo secara langsung. Jika saja, Ia dipaksa untuk berurusan dengan Jiwo, Pras akan memilih menyerah.


"Kita ratain aja barengan, bos." Bisik Keni pelan.


Jiwo melirik ke arah Rengga untuk beberapa detik, memperhatikan Keni yang sedang berbisik.


Jika saja Rengga -si pemangku jabatan wakil organisasi itu-, memerintahkan untuk menyerang Jiwo bersamaan. Maka, semua akan menurut dan Jiwo dapat ditaklukan saat ini juga. Tetapi seperti yang kita tau, Rengga adalah cowok sejati yang memegang teguh sebuah janji.


Dengan congkak, Jiwo berbalik arah, dan lagi, Ia pergi begitu saja meninggalkan semua mata yang menyimak tak percaya.


Di sisi lain Rengga berpikir, Jiwo beruntung suasana hatinya sedang baik karena bermekaran oleh Najwa. Jika Ia diberi kesempatan untuk bertarung dengan Jiwo, maka dirinya sangat yakin bisa menang, tentu saja dengan cara bertarung jalanannya.


"Jangan sekarang." Sahut Rengga kepada Keni setelah beberapa saat.


***

__ADS_1


__ADS_2