
3 jam lalu.
Wijaya duduk diteras kosan. mengikat tali sepatunya disitu. Ia mengenakan kemeja flannel biru putih kotak-kotak.
"Mau kemana rapi banget?" Tanya Nadir meledek.
"Kedai kopi ka Nadir."
"Wih asik tuh."
"Ka Nadir suka kopi?"
"Aku suka Latte."
"Mau ikut?"
"Gas!"
Nadir lenggang malam ini. Entah perasaan apa itu melihat adik kelasnya pergi keluar, membuatnya tertarik penasaran, lebih baik dari pada menganggur berdiam diri dikosan malam minggu ini.
Tangan Wijaya mengepal pegangan diatasnya, bersama Nadir menaiki kereta yang kini telah melaju perlahan. Lumayan riuh memaksa mereka berdua untuk berdiri. Matanya terfokus pada pakaian yang dikenakan Nadir. Memakai kemeja flannel kotak mirip seperti miliknya hanya saja berbeda warna. Namun Ia memilih tidak menggubrisnya.
"Mau pake earbuds?" Tanya Nadir yang berada disebelahnya.
"Apa itu?"
"Headset tanpa kabel. Aku beli ditoko online luar negeri. Kamu harus coba."
Wijaya meraih satu earbuds. Dan, Nadir mengambil sebelahnya lagi.
Memasangkannya salah satunya pada telinga masing-masing.
Nadir memutar musik lewat hapenya. "Sambil nikmatin pemandangan dari jendela, kita dengerin musik berdua. Asik kan. "
Wijaya mengiyakan dengan anggukan.
Sepanjang perjalanan Ia mengamati selera musik Nadir. Menurutnya berbagi lagu seperti ini membuatnya mengartikan pesan dari setiap lagu lebih menarik. Seperti menyamakan kesukaan. Karena sesekali Nadir menanyainya. Judul lagu atau apakah suka dengan lagu yang Ia putar. Terus seperti itu hingga sampai di stasiun tujuan.
[Stasiun Tebet.]
Berjalan kaki beberapa menit dari situ mereka sampai dikedai kopi. Diberanda depan disebarkan bangku besi bulat. Bergantungan pula lampu hias warna warni, dan juga lampu gantung vintage dengan warna kuning.
Dibagian dalamnya terdapat desain minimalis. Tak banyak interior mewah, hanya beberapa poster yang berisi quotes tentang perkopian.
Wijaya melangkah masuk "Bas!"
"Nyampe juga lu, jay." Baskara menaruh mug berisi susu. Kini Ia berfokus pada kehadiran temannya.
"Kenalin ini Nadir."
"Nadir."
"Baskara."
Mereka bergantian memperkenalkan diri.
"Kalian mau langsung pesan atau mau duduk dulu?"
Wijaya menoleh Nadir.
"Aku mau Vanilla Latte!"
"Iya itu, Bas. Gua Iced Japanese. Kaya biasa ya. Agak pahit."
"Okey."
Baskara melanjutkan pekerjaannya. Menyelesaikan pesanan sebelumnya. Lalu, Mulai memenuhi pesanan Wijaya.
Nadir memilih meja dekat kaca. Agar bisa melihat lampu-lampu diberanda tadi. Matanya berbinar, hatinya tenang memandangi. Seraya menyandarkan wajahnya disatu tangan yang tertahan meja.
Wijaya duduk dikursi kayu berhadapan.
"Aku suka sesuatu yang tertata rapih, bersinar menenangkan hati."
"Apa itu?"
"Aku sering ngabisin waktu buat ngeliat langit." Jelas Nadir. "Entah siang atau malam, itu sama indahnya buat aku."
Diatas kosan Nadir terdapat semacam rooftop untuk meletakan toren air dan terdapat tangga besi menuju kesana.
Ia sering tertidur disana hingga terkadang awan perhatian melindunginya dari sinar terik lewat bayangan. "Seperti langit, perasaan manusia bisa berubah sesuai cuacanya."
Kopi telah sampai dimeja mereka berdua.
"Gimana kamu suka?" Tanya Wijaya.
Nadir menggangguk.
Wijaya tersenyum lega.
Mereka bercakap tentang kesukaan masing-masing, keresahan, hingga hal tidak penting lainnya. Nadir menikmati saat mengobrol dengan adik kelasnya. Paling tidak bisa mengalihkannya dari perasaan tidak nyaman karena sikap pacarnya akhir-akhir ini.
***
SRAK!
Kopi kaleng digeser mendekati kasir.
"Ada tambahan lagi mas?"
"Itu aja."
Alex mencongkel bukaan kaleng dan menyeruput kopi dingin itu. Ia merasa kalut, setiap saatnya dipenuhi rasa tidak sabar yang tidak terkendali. Matanya berkantung karena jam tidur berantakan yang disebabkan insomnia.
Kereta melintas didepannya. Salah satu sikunya bersandar pada besi diujung peron. Memegang kopi. Wajahnya terdangak keatas. Pikiran mengganggunya.
__ADS_1
Alex membuka layar hape.
Chatnya yang dikirim ke Nadir masih ceklis satu. Tanda belum belum terkirim.
Panggilan pun sama adanya tidak berdering.
Semakin kesal hatinya melihat kenyataan itu. Ia tidak dapat menghadiri pesta organisasi tanpa pacarnya disampingnya.
Kembali diseruputnya kopi kaleng ditangannya. Untuk meredakan mood yang buruk malam ini, meski membuatnya semakin cemas.
Kereta Listrik berhenti didepannya. Pintu sliding terbuka ke masing-masing sisi. Beberapa orang keluar dari dalamnya.
Tak lama setelah itu kereta berjalan kembali. Disebrang peron matanya terhenti disalah satu orang yang Ia nanti kabarnya sejak tadi, Nadir.
Entah dari mana tetapi Ia sedang mengobrol asik dengan seseorang berjalan keluar dari kereta menjauh dari matanya. Tangan kirinya menutup mulut menahan tawa. Sedangkan tangan lainnya memukul cowok disampingnya.
Darah mendidih memenuhi kepala Alex yang tidak mampu dihentikan hanya dengan kopi kaleng, yang kini dilemparnya ke sembarang arah karena kesal. Lalu, berlari mengejar pacarnya. Tangannya meraih pundak Nadir dari arah belakang.
Nadir kaget hingga tertegun sejenak.
Mata Alex menanti jawaban.
Namun tidak ada sekata pun diantara mereka.
Alex berusaha mengabaikan seorang cowok yang jalan bersama pacarnya. Lantaran Ia pun sadar jika akan wataknya yang tak mampu menahan emosi. Bisa berdampak fatal bagi cowok itu. Ia memang pernah menghempaskan semua kekesalannya pada sembarang orang. Tapi fase itu telah lewat, kini Ia lebih memilih untuk mencoba meredamnya.
Lantas tangannya meraih Nadir untuk pergi menghadiri pesta organisasi yang telah diadakan.
Nadir menyentakan tangan Alex. Dilihatnya tangannya memerah karena cengkraman Alex.
Wijaya resah melihat itu. Mengarahkannya untuk menelfon seseorang.
"Ikut gua!"
Kini Alex menarik paksa.
Nadir terseret namun tetap berusaha memberontak.
PLOK!
Tamparan mengenai pipi Nadir hingga membuatnya terjatuh rambutnya berantakan.
"Lu jangan kasar gitu, bang!" Teriak Wijaya tegas. "Gua nggk akan biarin kalo lu bertindak seenaknya ke kak Nadir."
Kedongkolan hari ini telah berkumpul didasar hati. Dan kini, bocah sok tau ikut campur urusan pribadinya.
Tangannya menarik kerah Wijaya.
"Lu kalo mau cepet mati bilang. Gua akan permudah!"
"Jangan.." Nadir berdiri berusaha melerai, dengan mudahnya Alex menghempasnya kembali terjatuh.
Penumpang yang menunggu diperon beberapa menoleh melihat keributan itu.
Kini Alex melepaskan cengkramannya. Menarik napas mengambil langkah, mencoba untuk tenang.
Disela terdiamnya Alex, Wijaya menghampiri Nadir.
"Kamu gapapa?"
Nadir menahan sakit memegangi lututnya yang terluka.
"Ayo kita pergi!"
Beberapa orang mendatangi mereka. Mencoba memahami situasi yang terjadi. "Kenapa, Lex?"
Alex menoleh menyadari kedatangan teman organisasinya sekaligus seorang yang bekerja dibawah perintahnya, yang sepakat untuk bertemu disini.
"Nggk penting!"
Tidak ingin lebih kacau lagi Ia memutuskan untuk membawa paksa Nadir dengan kaki yang terluka sehingga kesulitan berjalan.
Wijaya menghalau didepannya.
"Lu gausah ikut campur!"
Ancaman itu tidak membuat Wijaya memberi jalan.
Alex gusar melihat tingkah bocah sok jagoan ini.
Anak buahnya mengepung sudah siap untuk menghajar Wijaya. Hanya saja menunggu intruksi Alex.
"Lepasin kak Nadir!" Wijaya menggeretak meski hati dipenuhi ketakutan.
Hening.
Alex mengangguk mengerti. "Libas bocah ini." Perintahnya lalu membawa Nadir pergi menjauh.
Sepukul dua pukul telah mengenai tubuh Wijaya dengan perlahan anak buah Alex menyiksanya. Seorang memegangi, sisanya menghajar bergantian. Sebisa-bisanya Ia menahan rasa sakit dari pukulan yang diterima.
Nadir meronta-ronta ingin menolong adik kelasnya. Ia sadar ini semua karena dirinya, karena saat ini sedang berusaha mengalihkan pikiran dari pacarnya itu. Malah membuat keadaan seperti ini, membuatnya merasa bersalah karena telah melibatkan Wijaya. Namun lengan Alex mencengkeramnya kuat, seraya melangkah.
Pukul 22.03
Dibalik kegelapan terdengar langkah kaki menuruni tangga. Kakinya mulai terlihat, namun separuh badannya masih tertutup bayangan.
Alex terdiam menerka-nerka sosok dihadapannya. Begitu pun Nadir.
Sosok itu melangkah lagi. Cowok dengan jaket hodie dengan tas selempang. Memperlihatkan wajah garang tidak kenal ampun.
"Lepasin temen gua." Ujar Baskara.
Alex menghempaskan Nadir. Menghampiri satu bocah sok jagoan lagi. Sungguh Alex tidak mengenal sosok yang Ia lawan, yang Ia rasakan hanyalan perasaan ingin menghajar yang sudah tidak bisa dibendung.
Anak buahnya yang tengah mengeroyok Wijaya menyadari kehadiran sosok lain.
__ADS_1
Pukulan menuju wajah Baskara.
Dengan sigap Baskara menghalau dengan tangan kiri memelintir tangan kanan Alex memaksanya harus berputar badan. Kalau saja tidak, bahunya terancam bisa lepas dari ligamen persendiannya.
Baskara menaklukannya dengan satu teknik kuncian, yang tidak diduga Alex.
Anak buah Alex jengah melihat bosnya diperlakukan seperti itu. Mereka berlarian bersiap menyerang sekitar lima orang.
Baskara sejujurnya enggan mematahkan tangan orang lain. Ia berniat mengintimidasi saja. Agar tidak terjadi situasi yang lebih buruk.
Ia melepas kunciannya. Melepaskan sling bag ke sembarang arah.
Menghela nafas sejenak. Lalu, menangkis pukulan dan tendangan satu per satu dari berbagai arah. Membuatnya terus mundur dan mencapai tangga. Melihat peluang disitu maka Ia berusaha menaiki tangga.
Alex masih kesakitan karena tangannya.
Baskara terus berpikir cara melumpuhkan lawannya satu per satu ditengah perkelahian.
Ia memutar badan memberikan tendangan, membuat salah satunya terpental ke arah bawah tangga. Sisanya masih mengejar, begitu pun Alex. Masih tidak menerima apa yang dilakukannya tadi, harga dirinya sebagai petinggi Elang Emas merasa terusik.
Menyadari semakin terpojok Baskara terus naik lebih tinggi. Keatas penyeberangan rel kereta.
Tendangan keras mengenai leher Baskara. Sungguh sulit menghadang banyak pukulan dalam satu waktu. Tubuhnya langsung lemas seketika.
Alex baru saja sampai atas. Ia melangkah pelan menggertakan beberapa jarinya sebelum bermanuver.
Pukulan lain mengenai sekitar telinga Baskara. Membuatnya berdengung panjang, mengurangi kesadarannya perlahan.
Melihat Baskara seperti itu Alex mengambil kesempatan.
Mengambil langkah.
berlari.
Melompat seraya menarik lengannya kebelakang.
BLAMM!!
Pukulan keras tepat diwajah Baskara.
Alex mendarat dihadapan Baskara yang kini telah tumbang tak berdaya.
Baskara mengerti dirinya seorang perasa. Menyakiti orang lain adalah salah satu yang tidak ingin dia lakukan. Karena Ia tau rasanya disakiti. Pemahaman melahirkan pemakluman dalam hatinya. Sejak tadi berusaha untuk tidak menyakiti seseorang. Membuatnya berada disituasi ini.
Wijaya membopong Nadir ikut menuju atas.
"BASKARAA!!" Teriak Wijaya melihat temannya tumbang dihadapannya.
Alex dan lainnya menoleh.
NGUNGGG!
Telinga Baskara masih berdengung dalam rebahnya.
"Lu adalah anak yang nggk diinginkan oleh dunia."
Dalam dengungnya Baskara mendengar sesuatu berbicara kepada dirinya melalui ingatan yang pernah Ia lalui.
"Lu akan menjadi kutukan bagi orang-orang sekitar lu!"
"Kematian akan menyertai sepanjang lu hidup." Entah suara siapa itu. Membuatnya terprovokasi terbakar emosi yang tak terkendali.
Iblis dalam tubuhnya bangkit. Seolah ada roh setan yang merasuki tubuhnya.
Baskara terbangun, berdiri mengepal tangannya kuat. Darah mengalir deras disetiap otot miliknya. Sorot matanya tertutup bayangan rambut.
Alex yang berada dihadapannya bersiap untuk kembali bertarung.
Baskara memulainya, melaju memberikan pembalasan 'menari dengan gerakan terpatah-patah' terus bermanuver tanpa memperdulikan perlawanan Alex.
Alex kewalahan untuk setiap pukulan yang tidak bisa diduganya. Bukan kuncian, bukan patahan, gairah Baskara terbakar untuk membuat luka fatal.
KREK!
Retakan terdengar dirusuk Alex.
Baskara masih belum berhenti.
Beberapa pukulan masih sanggup ditepis Alex meski kepayahan.
SATT!
Tangan Baskara menyabet pundak Alex. Kini posisi bertukar, tubuh Alex lemas kesulitan menepis.
Alex memegang besi dipinggir penyebrangan. Berusaha untuk tetap berdiri.
BLAMM!!
Tendangan kilat memotong langsung mengenai wajah Alex hingga terdangak. Terpental dari atas jembatan penyebrangan.
BRUK.
Mendarat tepat diatas rel kereta tak sadarkan diri.
Tubuhnya babak belur, dipastikan jatuh dari ketinggian sekitar lima meter bukanlah luka ringan.
Wijaya tertegun melihat temannya bisa seberingas itu.
Anak buah Alex yang sedari tadi memperhatikan perkelahian itu kocar-kacir.
Baskara masih mengepal keras tangannya diatas jembatan penyebrangan menatap tajam ke arah rel.
Petugas mulai menyusuri area stasiun karena ada laporan keributan. Tidak ingin mendapat masalah yang lebih keruh. Wijaya tak berani berbicara pada temannya. Ia memutus untuk pergi lebih awal dengan Nadir.
Iblis yang tidur telah bangun.
__ADS_1