
Baskara masih berdiri tegak. Tidak terengah sedikit pun. Menoleh kearah Alvin yang baru saja datang dengan cara yang tidak terduga, yaitu dengan menabrakan motornya ke orang yang mengeroyok dirinya. Ia merasa sedikit lega, berpikir situasi menjadi lebih baik. Meski lawannya lebih dari dua orang, tapi dalam hal ini kehadiran temannya merubah fakta, bahwa tak selalu satu ditambah satu hasilnya dua.
Pras tercengang melihat kehadiran cowok bermata sipit itu.
"Bocah Tolol! Jangan sok ikut campur lu!" Ucap keni seraya meringis. "Terlalu cepat buat lu melawan gua."
"Pada akhirnya gua sadar kalo lu cuma pengecut!" Sahut Alvin. "Berdiri dibalik punggung orang lain, jadi kecoa yang nggk berarti apa-apa."
"Melek dulu lu, baru ngebacot." Ejek Keni dilanjutkan dengan kekehan panjang.
"Siapa bocah anjing ini?" Tanya Pras.
"Lu harus kena pukul dulu baru tau." Kata Baskara membela.
Pras terkekeh mendengarnya. "Terlalu cepat, bener kata Keni." Masih dengan tawanya. "Mereka masih bisa bertarung kok. Sebelum nantinya kita bisa berbagi pukulan."
Anak buah yang tersisa bangun mengepung Baskara, juga Alvin yang berada dibelakangnya. Sedangkan Keni memperhatikan dari depan Baskara, lalu Pras juga berada agak jauh disampingnya mengintai.
"Ayo kita selesain ini, Bas."
Semua seolah sepakat untuk menyelesaikan semuanya malam ini. Namun sebelum itu beberapa 'cecunguk' yang mengepung ini harus disingkirkan lebih dulu, mereka berjumlah sekitar delapan orang tersisa.
Baskara memutar kakinya 'menyapu' sisi bawah musuh, menjatuhkan salah satunya. Lalu bergegas menghajar yang lainnya tanpa ampun.
Dari sisi belakang Alvin menarik kerah seorang yang sedang mengeroyok Baskara. Menendang perutnya mendorong hingga jatuh kesakitan. Alvin juga bermanuver bertarung disisi Baskara menemani. Kini Ia telah melihat langsung kehebatan orang dari video viral itu dan memiliki keyakinan untuk mengikutinya, Alvin percaya Baskara bisa membawa arus perubahan dan Ia berkenan untuk menemani cowok berambut hitam pekat disampingnya.
Angin malam berdesir, darah menetes dari ujung tangan Baskara, juga Alvin. Badannya sekuyung-kuyung, namun tetap berupaya berdiri tegap. Mereka telah berhasil melumpuhkan halangan kecil itu.
Kini tinggal Keni dan Pras saja memandangi mereka berdua dengan takjub. Fenomena memenangkan pertarungan dua melawan delapan memang sungguh aneh nan ajaib, oleh sebab itu, Pras makin meyakini keberadaan Iblis ditubuh Baskara. Begitu jelas Ia bisa menghabisi anak buahnya dengan mudah. Mentalnya sebagai petinggi diuji untuk melawan iblis disini. Dari matanya, Pras mengukur kemampuan bertarung Baskara bisa dibilang menyetarai Rengga, wakil ketua organisasi.
"Sekarang kita bisa mengukur langsung kan sekuat apa pukulan lu itu ke badan gua." Ucap Pras berbangga diri.
Pras melangkah mendekati Baskara seraya menggertakan jari lengannya siap menghajar.
Jelas kondisi fisik Baskara telah menurun, sejak terhajar balok yang gagal Ia hindari. Setajam apapun sebuah refleks, tubuh manusia tetap ada batasnya. Namun dirinya tetap berusaha menguasai napasnya menyiapkan diri untuk lawan terakhirnya malam ini, Pras.
Kegusaran hati Alvin telah menumpuk kepada Keni. Sejak perundungan yang dilakukan kepada Lala Ia sungguh ingin melaporkan ketidakadilan itu jika saja tidak dihalau oleh Lala. Dan kini, Ia memiliki kesempatan satu lawan satu dengannya. Tentu saja, Ia akan menghajarnya habis-habisan. Tidak ada Rengga yang bisa membela bocah tengik itu sekarang.
Pras berlari menuju arah Baskara dari samping, juga disusul Alvin yang bersiap memberi pelajaran pada Keni.
"Hyaaaa!!"
Bulan meringis melihat pecahnya perkelahian malam ini.
***
Mereka masih mengejar. Lima orang itu mengejar Wijaya berlarian digerbong kereta yang berjalan.
Melody mengejar lima orang itu dari arah belakang Wijaya. Menarik seorang paling belakang lalu menghajarnya dengan bogem.
Empat orang lainnya tidak menyadarinya dan masih mengejar Wijaya.
Sempat ada sedikit perlawanan dari orang itu namun Melody berhasil melumpuhkannya. Lalu kembali mengejar mereka.
Wijaya menabrak bahu orang yang berdiri memegang pengait digerbong kereta, masih berlari. Setelah sering terjadi, tak ada penyesalan tanpa mengucap maaf lagi. Ia berada diujung gerbong paling depan tidak ada gerbong lagi setelahnya, maupun pintu untuk keluar atau bagaimana.
Ia tersungkur dibawah gerbong tangannya bergeser perlahan kebelakang seraya matanya mengamati orang-orang yang akan menghajarnya disini dari depannya.
Penumpang lainnya mengamati yang terjadi tapi tak berani ikut campur.
Mereka telah sampai dihadapan Wijaya, napasnya terburu karena pengejaran.
Berbaris empat orang yang mengambil posisi untuk menghajarnya.
__ADS_1
BLAMM!!
Hantaman dari arah belakang. Memukul pengejar itu lalu menghampiri dirinya.
"Lu gapapa?" Tanya Melody terengah. "Ayo kita lawan mereka."
Wijaya termangu mengangguk kebingungan.
Lalu terlintas sebuah memori.
"Pagi itu pertama kali ku bertemu denganmu, ketika sedang ku tumpahkan hasrat didalam diriku. Tanpa kusadari kau memperhatikanku, jujur aku terkejut saat itu. Tapi setelah itu, kehangatanmu menenangkanku dengan sebuah pujian dari bibir manismu. Dan lagi aku terkejut tak tau harus menjawab apa.
Kucoba ingat lagi warna bajumu waktu itu.
Kulihat matamu menghargaiku, membuatku merasa berarti. Diriku yang biasa menahan diri berubah kala itu, tembok tebal yang kubuat runtuh sejadi-jadinya.
Lalu kau meraihku untuk terus berada didekatmu, Aku senang bisa menjadi bagian dihidupmu, Baskara.
Hingga tak bisa menahan diri sampai ku menulis ini."
[Catatan harian Melody.]
Matanya menatap Wijaya bulat-bulat. Ia adalah teman terdekat yang dimiliki Baskara saat ini. Melody merasa jika membiarkan Wijaya dikejar seperti ini, akan mati seiring waktu.
Melody menarik napas. Dalam hatinya berkata ingin menjadi perisai bagi Baskara, melindungi orang yang dikasihinya.
Kedua lengannya menutupi wajah dengan kepalan, badannya agak membukuk, berpose bak petarung yang handal. Ia sedikit berteriak lalu mulai mengamuk diantara empat orang itu didalam gerbong.
Suara teriakan itu membuat penumpang menoleh dan berlarian menjauhi gerbong tempat pertarungan itu dibarengi dengan Wijaya yang mulai berdiri, ikut membantu sebisanya.
Wijaya sedikit kikuk walau hanya melawan satu orang, pukulan yang diberikan tampak wagu. Sedangkan Melody melawan tiga orang sisanya.
Melody memberi pukulan keras dari arah samping menuju sisi rusuk. Lalu seraya menghalau serangan lainnya datang. Menunduk dan meninju perut lawannya berkali-kali dari bawah. Satu telah dilumpuhkan lagi.
BRAKK!
Wijaya menghalangi tas itu dengan tubuhnya sendiri hingga kesakitan menghentakan tangan.
"Refleks yang bagus." Puji Melody. "Sekarang jaga punggung gua."
Mereka kini saling membelakangi berputar diantara kepungan tiga orang. Wijaya gugup hingga menteskan keringat. Mengerti karena dirinya tidak mahir berkelahi.
Pengejar itu mulai berjaga setelah melihat gaya bertarung seorang cewek yang tidak masuk akal kemampuannya.
Satu orang terjatuh karena Melody menendang kakinya. Wijaya mengambil kesempatan itu dengan terduduk didadanya, lalu menghajar wajah orang itu sekuat mungkin bertubi-tubi.
"Hyaaa!!"
Selagi itu Melody mengurus dua lagi sisanya dengan pertarungan jarak dekat. Meski terengah kelelahan Ia tetap berusaha mengimbangi keduanya.
Melody sedikit berlari memancing kedua orang itu untuk mengejar menjauh dari Wijaya.
Satu orang mendekat.
Melody mencengkram pipa besi yang memalang horizontal disisi atas gerbong dengan kedua tangan mengangkat tubuhnya hingga dua kakinya menangkap leher seorang itu, menguncinya kuat diantara pahanya.
BRAKK!
Lalu Ia menjatuhkan dirinya, mendaratkan diri dengan mulus seraya menghempaskan seorang itu dengan berat tubuhnya lewat kuncian dileher.
Melody berdiri lagi, siap menerjang seorang terakhir yang masih berdiri. Terjadi sepukul dua pukulan, tetapi Melody masih bisa menangkis diujung batasnya.
BLAMM!!
__ADS_1
Melody memukul perut musuh ketika lengah hingga membungkuk. Ia menerjang kesisi belakangnya lalu mengalungkan lengan kanannya dileher tepat dibawah rahang. Tangan kirinya menekan leher belakang membantu penetrasi pelumpuhan.
***
SRAKK!
Keni tersungkur tak sanggup menyetarai gaya bertarung Alvin. Meski kelelahan setelah menghajar beberapa anak buah terlebih dahulu. Keni tetap bukan tandingan Alvin jika satu lawan satu.
Napas Alvin terengah dan lagi, masih berdiri tegap.
Disisi lain jalan buntu. Baskara menghalau serangan Pras berkali-kali. Pras memukul dengan niat membunuh sekaligus mengetes langsung kemampuan Baskara dimatanya. Tetapi Baskara tidak ada masalah apapun dengan Pras, sehingga dirinya agak menahan diri dan mencari celah untuk melumpuhkannya sesaat.
"Berdiri lu benalu!"
Keni mengerang kesakitan lengannya terasa remuk menahan pukulan Alvin berkali-kali. Ia hanya menatap dengan kebencian karena dirinya tak sanggup melawan. Seperti itu rasanya kalah, badan melemah, namun tetap merasa benar.
"Cuma segini kemampuan lu!?"
Disuatu momen Baskara dan Pras saling memukul sekuat tenaga hingga saling menghempaskan hingga terjadi jarak antara mereka.
"Lu emang iblis, Bas. Jelas sih lu bisa ngalahin Alex." Kata Pras terengah. "Meski udah ngelawan sepuluh orang, badan lu masih sanggup menyetarai gua."
Baskara tak menjawab apapun Ia hanya berusaha mengendalikan napasnya selagi ada kesempatan. Pernapasannya amat baik sehingga bisa melakukan perkelahian jangka panjang.
"Gua tau badan lu tersiksa, tapi lu nggk tunjukin itu sedikit pun, Dasar Iblis!"
Diatas orang-orang yang terkapar karena dihajar Baskara, mereka berdua masih berdiri dan siap untuk saling membunuh.
Dengan yakin Pras menghampiri Baskara lagi untuk menghajarnya. Menurutnya, Baskara adalah orang berbahaya dan akan menjadi ancaman bagi organisasi suatu saat nanti. Membungkamnya sekarang adalah pilihan yang tepat, lagi pula dimata Pras, tubuh Baskara sudah diambang batas yang memaksa tak menunjukan sisi lemahnya.
Pras berlari, melompat, menyasarkan satu tinjunya dengan tangan terkuatnya dibantu dengan ayunan tubuhnya yang sedang diudara.
Baskara pun telah bersiaga menepisnya, dan disiap memberikan serangan balasan.
Sepersekian detik seseorang hadir diantara mereka tanpa disadari sebelumnya.
Tangan orang itu mencengkeram lengan Pras kuat lalu meninju perutnya hingga sedikit terpental karena posisinya sedang diudara.
Juga tangan Baskara yang siap memberikan serangan balasan itu berusaha diredamnya karena perubahan situasi. Namun dengan intuisinya Baskara mengubah gerakannya dengan mengarahkan tendangan ke orang itu.
SETT!
Tendangan Baskara dihalau, lalu ditangkap oleh sosok itu. Dengan posisi seperti itu keseimbangan Baskara terancam. Maka orang itu mencengkeram kuat tulang kering kaki Baskara dan melemparkannya kearah yang sama dengan Pras.
WUSHH!
Ditengah terpentalnya Baskara. Ia berhasil mengendalikan diri mencari keseimbangan diudara, dengan selamat menapakan diri dengan mulus ke aspal.
Disampingnya Pras mengerang kesakitan karena pukulan diperutnya seraya bertanya-tanya tidak percaya dengan kedatangan seseorang ditengah perkelahiannya.
"Ketua?" Dari sudut yang lain Keni bertanya tak percaya juga.
"Lu siapa?"
Lengannya kekar berurat dengan bekas luka bakar dipergelangan tangan kirinya.
Ditengah mereka berdiri tegak orang yang jarang terlihat dipermukaan, orang nomor satu pemegang tahta SMA Elang Emas.
"Saga." Jawabnya lugas. "Ketua Organisasi."
[Sagara Husein, Kelas tiga, Ketua Organisasi.]
***
__ADS_1