
Fara berlari mengibarkan kain berwarna hitam yang diikat di lengannya. Ia mengenakan celana jeans ketat juga sebuah topi yang berbentuk seperti tabung dengan tepian pendek yang mengitari seluruh bagiannya, Bucket Hat. Mendekati posisi Melody sesuai laporan rekannya.
Sedangkan, Melody masih sibuk melibas salah satu anggota di lobby. Ia berlari menerjang, menapakan kakinya ke salah satu paha lawannya dari arah samping, kemudian melompat ke sisi belakang musuh, lalu berusaha memijakan kaki satunya di dekat tengkuk. Setelah sampai atas Melody menyikut ujung kepala tepat di pusaran rambut lawannya tanpa ragu.
BRUK!
Membuat lawannya pingsan sekali serang. Seorang cewek beringas dengan kemampuan bertarung diatas rata-rata. Sekarang, Ia berdiri di tengah lawannya yang telah terkapar tak sadarkan diri, sekitar tujuh orang.
Rombongan pasukan pemberontak tiba di lobby. Mereka berjumlah dua belas orang sisa pertarungan di gerbang sekolah. Sontak membuat mata mereka tertuju kepada Melody dengan orang merebah yang terhampar di sekitarnya.
"Di mana Haikal?"
"Lagi duel sama Pras, bocah Pirang penjaga gerbang." Sahut seorang pasukan pemberontak. "Gimana? Baskara udah naik?"
"Udah."
Pasukan pemberontak mengayunkan sikut dengan wajah berseri.
"Dengerin yang bakal gua ucapin, karena nggk bakal gua ulang lagi." Ucap Melody dengan wajah serius. "Di pinggir lapangan serbaguna, udah disebar bom, jumlahnya delapan dengan hulu ledak (detonator) di tangan salah satu petinggi."
Lantas, kabar itu membuat semua wajah terperangah kaget, tidak siap mencerna perkataan Melody dengan benar, meski telah diperingatkan untuk tidak diulang lagi.
"Ayo kita cari bom itu sebelum meledak. Menurut informasi, letaknya di pot tanaman yang nyebar ngelilingin panggung Pensi." Imbuh Melody. "Putusin kabel pemicu dari bahan peledaknya."
Semua pasukan pemberontak tercengang memasang wajah bodoh yang membuat Melody sebal. "Oh iy-iyaa.."
Permintaan cewek garang itu terasa berat bagi semuanya, jika saja pemegang detonator memencet tombol selagi mereka di dekat bom, maka hidup mereka akan berakhir saat itu juga.
Melody memutar mata sebal. "Yaudah ayo cabut." Dirinya kaget melihat seseorang tiba-tiba muncul. Ketika ingin berlari mengarah ke panggung Pensi yang terletak di belakangnya, membuat langkah kakinya yang sempat ingin berlari, dipaksa terhenti. Begitu pun dengan pasukan pemberontak, mereka termangu menelaah situasi.
"Jadi lu cewek yang mukulin anggota gua? Dan bikin banyak kerjaan gua jadi numpuk?" Seorang cewek bertopi ember bertolak pinggang sebal.
"Dia salah satu petinggi, Mel." Celetuk seorang mengkhawatirkan. "Lu harus hati-hati."
Kedua cewek yang sebal hati bertemu di tengah keadaan kahar. Memicu 'ledakan' yang lebih besar lagi selain bom itu.
"Gua nggk kenal." Timpal Melody. "Bagi gua lu sama aja kaya cewek lemah lainnya." Tambahnya lagi dengan nada remeh.
"Ohh ya?" Tanya Fara menggoda. "Terus lu mau ngeroyok gua sama banyak orang di belakang lu itu?"
Melody meringis. "Cuma pengecut yang main keroyokan. Kita bisa berduel kalo lu mau. Tapi gua harus ngurus sesuatu, jadi lo gausah banyak berharap."
"Lu pikir bakal gua biarin lewar gitu aja?" Fara menautkan alis menunggu balasan.
Pasukan pemberontak menyimak juga menunggu intruksi.
Melody memajukan langkah, lantas membuat cewek bertopi itu bersiap dengan posisi tubuhnya. Pukulan di depan mata Fara mengawali perkelahian antara mereka, yang dengan mudah ditepisnya.
Tsah!
Fara membalas tendangan melengkung ke arah pinggang, juga berhasil tertahan oleh Melody dengan kedua tangan.
BLAM!
Melihat tangan Melody sedang sibuk maka Fara memajukan badan memeluk erat tubuh lawannya memberikan tekanan berkali-kali dengan lututnya ke arah perut Melody.
Sleb! BLAM! BLAM! BLAM!
Melody sedikit mendeham kesakitan. Sekarang berupaya lepas dari keadaan ini. Maka, Ia menyikut punggung Fara sekuat tenaga berkali-kali hingga membuat mereka saling mendorong, menjaga jarak untuk sementara.
Keduanya telah menunjukan kemampuan secara imbang di sebuah 'Salam perkenalan', mereka telah saling bisa mengukur kemampuan lawannya. Melody berpikir untuk tidak meremehkan Fara. Tapi dia juga tidak bisa mengabaikan perihal bom yang membahayakan seluruh murid Elang Emas yang sedang menonton Pensi, karena hingga kini konser tetap berjalan seperti tanpa ada yang tau satupun.
__ADS_1
"Kalian nyebar aja, cari barang itu di setiap pot tanaman di lapangan serbaguna." Titah Melody kepada pasukan pemberontak. "Gua akan urus cewek 'sundal' ini dulu. Abis itu gua nyusul."
"Menarik." Sahut Fara pelan.
"Mending kita libas aja barengan, Mel." Ucap seseorang menolak. "Gua takut lu kenapa-napa."
Melody menoleh dengan wajah menyeringai bak musang tak kenal takut. "Lu tau? Gua udah kalah berkali-kali di jalanan.. Dan, nggk pernah ada yang lebih buruk dari itu." Imbuhnya. "Karena gua siap mati, kapan aja. Dan lu masih ngeraguin gua?"
Setelah termangu sejenak, mereka pergi menyebar sesuai intruksi Melody. Fara membiarkan mereka semua lewat, karena targetnya sekarang adalah cewek yang merepotkan dirinya, Melody.
Kini hanya tinggal mereka berdua di lobby. Musik dari panggung terdengar di telinga mereka berdua. Suara intro lagu dari petikan gitar listrik yang melengking, bass yang menggema, juga suara drum yang menggetarkan dada, sampai suara vokalis mulai menyampaikan suaranya, dikemas menjadi musik bergenre pop-punk yang sedang dimainkan. Mengiringi pertarungan yang akan mereka lanjutkan sampai habis.
Fara mengambil poisisi bertarung.
Tsah!
Sementara Melody langsung menerjang dengan tendangan lurus ke arah kepala, membuat Fara harus menghindar ke samping.
Fara memanfaatkan celah dengan menangkap paha Melody. Mendorongnya seraya diberi tekanan hingga cewek di depannya terpelanting sebelum akhirnya..
BRAKK!
Melody terbanting dengan kasar ke lantai keramik. Dirinya memejam sesaat, meresapi pedih punggungnya yang baru saja beradu. Ia sedikit mendeham. Karena kakinya masih tersangkut, maka Melody berusaha mengunci leher Fara dengan jepitan kakinya dari posisi terlentang.
Grep!
Keadaan Fara yang tadi masih setengah berdiri, kini dipaksa tertarik ke bawah untuk ikut ke permainan yang dilakukan Melody di lantai.
Bruk!
Dengan otot pahanya, Melody memutar badan membanting Fara ke arah samping melakukan pembalasan, meski tak sekuat bantingan yang diterima dirinya. Di kala Fara masih lemas, Melody duduk diatas perut lawannya.
Bakbukbakbuk!
Sruk! BLAM!
Fara mengadukan kepalanya, hingga masing-masing mengalami pendarahan ringan.
Mata Melody kosong, terkujur lemas terbaring ke belakang. Fara juga tak mau kalah ingin memberikan pembalasan lagi, maka dirinya memasang posisi terduduk di tubuh Melody, dan siap membalik keadaan seperti tadi.
Tangannya telah siap memberikan tinju ke arah wajah Melody yang sedang terbaring lemas menyamping. Mendekatkan wajahnya ke hadapan lawannya untuk meningkatkan kekuatan pukulannya.
Srep!
Melody menangkap tinju lawannya dengan tangan kiri, mencengkeramnya seraya menarik. Menyikut pelipis Fara dengan tangan kanan, yang sejak tadi berada tepat di depan matanya.
BLAM! BLAMM!
Setelah dua kali tersikut tajam. Fara terkapar tepat di atas Melody, dan kini dirinya telah tak sanggup untuk bangun lagi, meski hanya untuk sekali.
Melody memandang langit-langit lobby sekolah. Memperhatikan serangga yang terus berputar-putar di sekitar lampu panjang berwarna putih. Napasnya agak terengah, malam ini terasa cukup panjang baginya.
Syut.. Bruk!
Tangannya menyingkirkan tubuh Fara ke sampingnya. Matanya memejam, berusaha beristirahat untuk sejenak memulihkan tubuhnya yang terasa rapuh di tengah peperangan.
Setelah cukup waktu, Melody mencoba bangun berupaya membantu pencarian bom bersama pasukan pemberontak. Berjalan menuju panggung konser, meski agak tertatih dirinya tidak menyerah dengan kondisi badannya.
Tanpa sepenglihatannya, Fara bangun kembali berniat memulai pertarungan.
Grep! BLAM!
__ADS_1
Fara menarik kerah Melody menghantamkan kepalan tangannya lagi dari arah belakang. Tak disangka, cewek bertopi itu masih bisa bangkit dari rebahnya.
BLAM BLAM!
Kondisi fisik Melody telah menurun karena telah bermanuver sejak tadi. Sempat terbuai hingga terpukul berkali-kali di bagian kepala, membuat aliran darah di kepalanya tidak berjalan normal.
Maka, Melody menyadarkan dirinya sekali lagi untuk melupakan semua letihnya. Menguatkan diri memacu kerja jantung untuk yang terakhir. Dirinya menepis, memberikan tendangan lurus di perut Fara untuk menjaga jarak.
"Bagus, ternyata lu masih bangun. Nggk salah sih, mereka milih lu jadi petinggi." Puji Melody memaklumi. "Sekarang lu keliatan lebih berguna."
"Jelas aja, lu bisa bikin pasien gua bertumpuk-tumpuk." Imbuh Fara membalas terbata. "Kita cewek yang sama-sama punya bakat di atas rata-rata kan?"
"Ini bukan bakat." Sahut Melody. "Gua hidup dari jalan ke jalan. Dan, gua ngelatih itu semua dari kepedihan yang gua rasain, buat bertahan hidup sampe sekarang."
Fara meringis memegangi kepalanya yang masih pening karena di sikut tadi. "Dasar anjing liar!" Diiringi tawa mencemoh.
Saat kepala terbentur rasa sakit direalisasikan terlambat. Karena otak pun terlambat menyadari kerusakan syaraf yang terjadi. Seolah kuat, namun saat itu juga dia telah mengalami kerusakan fatal yang berakibat hilangnya konsentrasi secara perlahan.
Mimik wajah Melody berubah seraya mengepalkan tangan. "Lu bakal gua tunjukin, apa yang bisa dilakuin anjing liar."
Mereka berdua sepakat untuk menyelesaikan urusan saat ini juga. Meski keduanya telah di ujung batas, mereka tetap berusaha berdiri untuk yang terakhir.
"Hansel, aku nggk tau setelah ini masih bisa bertahan atau nggk. Andai aja bisa kuberi tau kamu.. kalau aku, selalu pengen di dekat kamu. Tanpa peduli perasaan kamu ke aku." Fara meratapi akhir pertarungannya melirih dalam hati. "Alasan aku berdiri di atas perang ini, ialah karena kamu. Tapi aku sendiri nggk pernah ngerti sama mau kamu, sampai akhir."
Sementara itu , di waktu yang sama Melody melakukannya juga. "Bas, aku udah bertekad untuk percaya sama apa yang kamu perjuangin, dan sekarang aku lagi berusaha tepatin janji aku untuk jadi perisai kamu, sampai akhir."
Setiap cewek memiliki banyak kata yang tak pernah diungkapkan, juga lihai menyembunyikan hal penting yang seharusnya diketahui. Meski diam, mereka mampu memendam rasa yang dalam. Sangat krusial, namun mereka lebih pandai melakukannya daripada seorang cowok kuat manapun.
"Hyaaaaa.."
Keduanya berbarengan berlari pendek saling mendekati dengan pukulan terbaik yang bisa mereka lakukan.
BLAM! BLAM!
Melody meninju wajah Fara dua kali, membuat topi embernya hingga terlepas jatuh. Sedangkan Fara hanya berhasil sekali karena satunya dihindari Melody. Beradu jotos tanpa manuver, mengukur daya tahan tubuh kedua cewek dengan kemampuan tidak wajar itu.
BLAMM!
Keduanya telah terhuyung-huyung. Seharusnya tak mampu lagi saling beradu pukul. Tetapi tidak dengan Melody, Ia memaksa terus kerja jantungnya untuk terus memberi tenaga.
Grep!
Melody menjambak rambut Fara, meremas dekat kepalanya, menarik paksa kepala lawannya beradu dengan tembok di samping mereka berdua.
BRAK BRAKK!
Fara tidak memberontak, karena memang tidak mampu. Dirinya mulai berhalusinasi ringan, tak terasa hidupnya telah di ujung waktu, merasakan badannya semakin melemah.
BRAK BRAK!!
Cipratan darah merayapi dinding kelas berwarna cat putih. Wajah Fara tersandar di sana sebelum akhirnya jatuh ke merebah.
Melody terduduk di dinding juga, di samping Fara yang telah jatuh. Menyandarkan tangannya di salah satu lututnya yang terlipat, kemudian mendongak lagi ke atas untuk kesekian kalinya Ia melihat serangga itu berputar-putar di sekitar lampu putih panjang. Mereka menyaksikan pertarungan sejak tadi, menjadi saksi dua cewek terkuat di sekolah berduel.
"Apa ini udah selesai?" Tanyanya melantur. "Gua capek..,"
Tangannya gemetar tanpa sadar. Membunuh seseorang untuk pertama kalinya bukanlah hal mudah. Masih terbayang bagaimana cara Melody membunuh Fara. Itu masih terus berputar bagai kaset rusak dibagian otaknya.
Separuh tubuh Melody masih ingin berdiri. "Gua harus ke panggung." Ucapnya meneguhkan diri sendiri.
Membunuh orang mendahului malaikat maut bukanlah perkara ringan. Mereka harus menulis ulang cerita hidup yang telah rampung dibuat. Lalu menyampaikan karma secara implisit lewat serpihan nasib buruk.
__ADS_1
***