
KNOCK KNOCK KNOCK!
Jiwo telah selesai melibas anggota organisasi yang menghadang Lala. dan sekarang, matanya menerawang di balik pintu kaca Lab. Komputer yang terkunci, warna kaca itu agak kehitaman. Oleh sebab itu, Ia merasa kesulitan melihatnya. Samar-samar, hanya terlihat cowok yang terbaring, juga laptop, dan potongan kain kasa berserakan.
Alhasil, ketukan yang diberikan Jiwo memecah keadaan Lala dan Nadir yang saling berpelukan. Membuat keduanya menyeka air mata berbarengan, sehingga menyebarkan situasi kecanggungan untuk beberapa detik.
Kemudian, Nadir bertanya mendistraksi. "Kamu nangis juga?"
Lala meringis memaksa. "Tangisan emang gampang nular kan, kak." Sahutnya berbohong, lalu melirik Alvin yang berada di sampingnya. Meski hatinya hancur lebur, Lala masih berusaha terlihat baik-baik saja.
"Ohh gitu..bener juga yah." Nadir tidak curiga sedikit pun akan jawaban Lala. "Aku mau liat dulu yah siapa yang ngetuk.. daritadi orang berbahaya udah silih berganti masuk sini."
KNOCK KNOCK!
Nadir tertegun, saat mendapati Jiwo sedang mengetuk pintu kaca di hadapannya. Firasatnya berkata bahwa cowok itu pasti berkaitan dengan kerusuhan malam ini. Ia berniat untuk tidak membukakan pintu, karena keadaan sudah cukup kalut. Nadir berpikir ingin menjadikan Lab. Komputer sebagai tempat aman untuk berlindung sampai kerusuhan selesai.
KNOCK KNOCK!
"Mel!! Melody!!" Panggil Jiwo menggedor pintu kaca.
Nadir merenung ketakutan, setiap Jiwo mengetuk pintu dengan kasar. Ketika melihatnya, sekilas Nadir tau, nama cowok yang menggedor pintu itu ialah Jiwo, murid seangkatannya. Tetapi, sedikit informasi yang Ia ketahui tentangnya, yang Ia tau hanya Jiwo satu-satunya cowok yang tak pernah diusik oleh organisasi. Baginya, Jiwo merupakan cowok misterius yang tidak diketahui berada di pihak mana.
Di saat bersamaan, mendengar nama sahabatnya dipanggil, maka Lala menoleh, lalu berdiri menghampiri pintu Lab.
"Apa lu ada di dalem, Mel?" Tanya Jiwo memastikan.
Lala kini berada tepat di pintu Lab yang terkunci, Ia mengerutkan dahi ketika seorang cowok tak dikenal mencari-cari sahabatnya itu.
KLEK!
Kemudian dengan spontan, Lala membuka tuas pengunci pintu itu.
Nadir yang menyadari kunci terbuka berkata. "Ehh.. kamu ngapain?"
BRAKK
Seketika Jiwo membuka pintu dengan kasar. Setelah itu, matanya mencari cewek berpenampilan serba hitam, Melody Kartika.
Nadir terperangah, ketika Jiwo menerabas masuk. "Kamu Jiwo kan? Kamu pasti ada kaitannya sama perang ini?"
Alih-alih menjawab, Jiwo malahan tak menggubris Nadir sedikit pun. Ia menerobos lebih dalam, lalu mendapati hal-hal tak terduga di hadapannya matanya. Wijaya yang sedang tergeletak di atas meja, Alvin yang bersandar di tepi tembok, dan satu lagi..
Sebuah mata terbuka ketika suara di sekitarnya mulai berisik, kepalanya pening seperti habis minum anggur botol selusin. Ia memandangi Jiwo ketika pertama kali terbangun. Butuh beberapa detik untuk Hansel menyadarinya.
Nadir, Lala, Alvin.. Semua mata terbelalak menuju Jiwo saat ini.
"Jiwo?" Panggilnya tak percaya.
Grep!
Tiba-tiba, Jiwo mencekik Hansel. "Di mana detonatornya, bangsat!?" Dilanjutkan dengan sebuah tanya mendesak.
__ADS_1
Saat memberontak Hansel menyadari tangannya tidak bisa bergerak karena diikat erat pada sebuah kursi. "Akhhh.. siapa yang ngiket gua, brengsek?" Hansel memberontak seadanya, tetapi memang tak sanggup meloloskan diri.
Nadir menggigit bibir cemas, dirinyalah yang mengikat Hansel di sisi lain ruangan ini. Ia menyadari lebih awal, jika Hansel adalah ancaman jika terbangun dari mimpinya, membuatnya harus berjaga-jaga dengan mengikat pada kursi seperti itu.
Sementar itu, Hansel mengeraskan rahang dan kembali memberontak sebisanya. "Lu ngapain ikut campur sih, Wo? Organisasi bakal ngincer lu mulai sekarang, karena lu yang mulai ikut campur duluan!"
"Jawab pertanyaan gua dulu, Bangsat!" Tegas Jiwo. "Jangan ngomong nggk jelas!"
"Akhhh.." Hansel mulai kesulitan bernapas, karena penekanan yang diberikan Jiwo.
Kesabaran Jiwo telah habis. Karena bom itu, nyawa banyak orang sedang dipertaruhkan setiap detiknya. Tanpa belas kasihan, Jiwo mengangkat batang leher Hansel dengan satu cengkeraman lengannya.
Di tepi tembok, Alvin yang telah banyak luka, hanya membeku ketika harus melihat kekuatan tak wajar dari murid sebayanya.
Hansel terangkat tak berdaya, dengan kursi yang masih terikat di tubuhnya juga ikut melayang di udara.
Meski Hansel musuh, Nadir tidak setuju akan perlakuan kasar Jiwo. Maka Ia berteriak nyaring. "JIWO!!"
Jiwo menoleh, memelototkan mata.
"Lepasin Hansel!" Titahnya. "Aku tau siapa yang megang detonator." Ungkapnya Nadir menyelesaikan perkataannya.
Wush! BRAKK
Jiwo menghempaskan cekikannya tadi ke sembarang arah. Membuat Hansel mendarat dengan posisi menyamping sambil terbatuk-batuk.
Uhuk.. uhuuk..
Nadir menatap lekat lalu menjawab lugas. "Saga."
"Kalo kamu nyari sahabat aku, kamu juga bisa nyari di layar monitor." Timpal Lala memberitau. "Karena isinya seluruh CCTV di sekolah ini."
Tak seperti Nadir, entah mengapa, Lala mempercayai Jiwo. Karena banyak hal yang ingin Ia ketahui tentang keadaan sahabatnya dari cowok itu.
Di sisi lain, Hansel tak berdaya terbelenggu di kursi. "Bangsat lu, Wo!" Umpatnya. "Lu udah terlambat! Saga bakal tetap nguasain sekolah ini.. karena semua keputusan ada di tangannya sekarang! jadi lu-"
Brek!
Jiwo menginjak batang leher Hansel ketika belum sempat menyelesaikan perkataannya.
Dan akhirnya, Jiwo menemukan letak Melody berada, yaitu di depan ruang ganti olahraga.
Senyum Lala merekah, ketika mengetahui Melody masih hidup meski terlihat tidak begitu baik. Karena yang terakhir Lala ingat, Melody dikepung oleh dua puluh orang cowok anggota organisasi. Dan Ia juga bersyukur, sahabatnya bisa meloloskan diri dari situasi buruk itu.
"Kenapa kamu nyariin Melody?" Tanya Lala penasaran.
Jiwo yang sedang bingung berpikir, menjadi teralihkan. Maka Ia menoleh, lalu menarik napas panjang berusaha menjelaskan. "Dia cewek kuat, yang keras kepala." Ucapnya mulai menjelaskan.
Nadir, dan Alvin menyimak. Sedangkan, mata Lala menyala-nyala mendengar tanggapan sahabatnya dari orang lain.
"Secara nggk sengaja, gua ketemu Melody yang situasinya lagi dikepung belasan orang, entah berapa gua nggk ngitung.. karena gua libas mereka semua." Imbuh Jiwo. "Gua tau Melody itu temennya Baskara. Dan, ketika gua pengen pergi.. dia ngotot mau bales budi saat itu juga."
__ADS_1
Wijaya masih terbaring di atas meja tak sadarkan diri.
"Kamu kenal Baskara juga?" Lala bertanya teralihkan.
"Salah satu alasan gua dateng malem ini karena Baskara. Gua ada di pihaknya malam ini, dan dia gua percayain buat nguasain sekolah ini." Imbuh Jiwo.
"Tapi kamu belum jawab pertanyaan aku tadi." Tegas Lala. "Kenapa kamu nyariin Melody?"
"Jadi, gua bagi tugas sama dia.. sekarang Melody lagi ngumpulin bom yang dipake organisasi buat nyandera murid Elang Emas." Tambah Jiwo lagi. "Gua harap nggk terjadi sesuatu, setelah gua nyuruh dia ngelakuin pekerjaan dengan resiko setinggi itu."
Lala terpaku kecewa. "Bom?"
"Gua harus pergi." Pungkas Jiwo berlalu.
Sekarang tekad Jiwo sudah bulat, untuk menyelesaikan semuanya sekali jalan. Karena posisi Melody telah diketahui. Sedangkan, posisi Saga pastilah di atap gedung D seperti yang dijanjikan. Ia tak sempat berpikir tentang bagaimana menyelesaikannya atau bagaimana mengatasi ledakannya. Yang jelas Ia sadar, harus menghampiri salah satunya saat ini juga.
Saga atau Melody? Peledak atau hulu ledak?
Jiwo berlalu menuju pintu, tanpa berkata apapun. Namun langkahnya terhenti, ketika seseorang memanggilnya.
"Jiwo!" Itulah suara Alvin. "Biar gua ikut bantu lu." Ucapnya seraya berusaha berdiri.
ZHRAASH!
Kilatan dari langit datang sebelum akhirnya suaranya menyusul.
Namun, Jiwo tak menoleh sederajat pun. "Lu satu-satunya cowok yang bertahan di sini sekarang." Sahutnya. "Mendingan, lu jaga temen-temen lu.. kalo emang masih sanggup berdiri." Tak menunggu jawaban Alvin, Jiwo menghilang begitu saja.
Alvin terpaku. Sesaat terbesit, menyadari dirinya tak berguna malam ini. Karena tak sanggup membantu, ataupun menepati janjinya kepada Baskara. Dan, di saat terburuk cuma bisa terbujur lemas menanti keajaiban menyertai sampai perang selesai. Ia merasa benci pada dirinya sendiri, itu tergambar jelas dari kuatnya kepalan tangan kanannya.
Lala memandangi Alvin yang tak berdaya karena semua luka-lukanya. Ia memahami, bahwa Alvin memiliki hati besar untuk menolong semua orang. Tetapi nyatanya, dirinya tak mampu memenuhi ekspektasinya sendiri. Setelah apa yang mereka lalui berdua Lala merasa iba bercampur empati.
"Alvin? Bisa bantu aku?" Tanya Nadir memecah keheningan. Ia baru menyadari, bahwa tak bisa berlama-lama terjebak di sini. Karena kondisi Wijaya memburuk setiap detiknya. Nadir khawatir, dan ingin memastikan adik kelasnya membaik setelah pertolongan pertamanya.
Maka Alvin menoleh menautkan alis, termasuk juga Lala.
"Ayo kita bawa Wijaya ke rumah sakit." Imbuhnya. "Kamu bisa bopong dia?"
Alvin bangun, berusaha berdiri tegap memaksakan diri. "Wijaya kenapa bisa luka kaya gini?"
Dengan singkat, Nadir berusaha menjelaskan kerumitan yang terjadi. Membuat Alvin mengangguk mengerti, begitu pun Lala.
"Gua udah cukup ngumpulin tenaga." Tegas Alvin berpura-pura kuat. "Gua bakal bopong Wijaya sampe rumah sakit." Imbuhnya memaksakan.
"Alvin, tapi kondisi kamu?" Sela Lala.
Alvin tak menggubris perkataan Lala. Meski luka tubuhnya terus menggelenyar, Ia berusaha untuk tidak merasakan itu semua. Dan mulai konsentrasi untuk melakukan yang terbaik bagi temannya.
Nadir, Lala, Alvin, juga Wijaya mulai meninggalkan Lab. Komputer. Meninggalkan Hansel yang terkunci di dalam dengan posisi masih terikat di kursi kayu.
***
__ADS_1