
Sekarang,
Kembali ke malam Pensi Elang Emas.
"Jujur, masih banyak yang belum gua ceritain." Ucap Saga mengakhiri alunan dongengnya. "Tapi, semoga aja itu bisa bikin lu ngerti, kenapa gua buat organisasi di sekolah ini."
Baskara menggeleng. "Lu balas dendam sampe numpahin darah sebanyak itu?" Tukasnya.
ZHRAASH!
Mereka berdua masih memegang payung berhadap-hadapan, di tengah situasi hujan yang mengguyur malam ini. Gemuruh masih menjadi suara yang sesekali menggema di antara mereka selagi bercerita.
Sementara Saga menarik napas, lalu menjawab. "itu semua udah masa lalu, Bas. Sedangkan masa depan, harusnya masih ada di tangan kita." Tegasnya. "Gua cuma korban dari masa lalu itu."
"Temen gua juga korban!" Bantah Baskara. "Kimon, Wijaya, Lala, dan masih banyak lainnya.. mereka adalah konsekuensi dari organisasi otoriter yang lu buat itu."
Jika dikilas balik dan diingat-ingat lagi, perang ini merupakan manifestasi Baskara dalam agenda menumbangkan tirani di sekolah Elang Emas. Kematian, pengeroyokan, perundungan, dan semua ketidakadilan yang tak terucap.
"Kita sama-sama korban, Bas! Lu harus terima kondisi itu." Tegas Saga memperjelas. "Emangnya, Apa ide lu? Buat ngatasin kegilaan dunia ini?" Tukasnya tak mau kalah.
Baskara meringis memaksa. "Seharusnya, kita nggk terjebak sama gravitasi.." Sanggahnya menggoda. "Lu terlalu sibuk pengen ngatur isi dunia." Tuturnya. "Sampe lu lupa, kalo semua orang punya kebebasan!"
Mimik Saga berubah. "Gua cuma pengen, mereka nggk ngulang kisah gua di dalam karung dua tahun lalu, Bas." Timpalnya lagi tak terima. "Terus kalo nggk ada organisasi, apa lu bakal jamin keamanan mereka dari musuh-musuh Elang Emas?"
Baskara menggeleng ragu.
Kemudian Saga menghardik. "Lu mau murid Elang Emas mati satu per satu?"
"Biar gua tegasin lagi." Sela Baskara. "Semua orang itu punya kebebasan, dan mereka berhak bertanggung jawab atas keamanan mereka sendiri."
Saga terdiam dalam keheningan.
BHLARRRR!
"Terus masalah Rengga," Imbuh Baskara lagi. "Gua ngerti sih, kenapa lu segitunya ngelindungin sahabat lu itu. Tapi itu nggk ngejawab alasan dia bunuh temen gua, Ga!"
"Rengga punya gangguan kecemasan, Bas." Sahut Saga mencoba menjelaskan. "Depresi, Nggk punya tujuan hidup, juga nggk punya orang tua." Tegasnya. "Kalo aja dia nggk ke psikiater waktu itu, gua nggk tau lagi, dia masih sanggup atau nggk buat jalanin hidup." Saga menggeleng seolah membayangkan. "Rengga itu orang yang udah banyak kalah, juga dikecewain dunia berkali-kali, Bas. Lu harusnya ngerti, kenapa dia bisa kayak gitu."
"Nggk.." Baskara menggeleng lagi. "Gua masih nggk ngerti dan nggk terima alasan lu.. Emang lu pikir dia doang yang nggk punya orang tua?" Tukas Baskara menggema.
Saga tertegun. Jika membahas hal itu, seolah Ia bisa merasakan kepedihan Rengga menghadapi dunia seorang diri, tanpa orang tua. Sama seperti Keni, Saga juga mengerti seberapa berat hidup Rengga.
"Pada akhirnya, semua alasan lu.. nggk pernah bisa bikin kesalahan Rengga jadi bener. Dan gua akan masukin dia ke tempat seharusnya.."
Hening.
"Penjara." Tambahnya.
"Berarti udah nggk bisa dihindarin lagi kan?." Saga bertanya retoris di ujung diskusinya. "Gua bakal hancurin lu pake tangan gua sendiri. Karena gua nggk bakal biarin Rengga masuk penjara gitu aja."
WUSHHHH
Baskara menghempaskan payungnya ke sembarang arah. Membiarkannya terbang sesaat sebelum akhirnya terguling jatuh di lantai. Kini, air hujan langsung menerpa tubuhnya yang tadi sempat kering. Ia terdiam sesaat seolah membiarkannya meresap untuk sementara waktu.
Samar-samar, Saga melihat siluet bayangan Jiwo menyatu menjadi satu dengan tubuh Baskara. Mengingatkannya pada duelnya siang itu. Aura mereka, kekukuhan memegang prinsip kebebasan antara Baskara dan Jiwo sekilas sama. Membuatnya terkesima, lalu berusaha untuk bersikap biasa saja.
__ADS_1
Baskara mengambil posisi bertarung, bersiap untuk memenuhi duel yang telah dijanjikan sebulan lalu. Merampas kekuasaan organisasi adalah tujuan utamanya, dalam upaya memasukan Rengga ke dalam penjara.
"Ayo kita mulai."
***
Sreek srekk..
Telapak sepatunya terseret, Alvin berjalan tertatih dituntun oleh Lala di sampingnya. Tangan satunya memegangi luka sayatan dangkal di sekujur tubuhnya, sedangkan tangan satunya merangkul Lala untuk menyeimbangkan diri.
Lala masih tersedu, air matanya juga sesekali menetes. Ketika Alvin tak menggubris perkataannya sama sekali sejak pengakuannya tentang hal tabu itu. Perubahan sikap Alvin, yang selama ini Lala takuti pada akhirnya terjadi lebih buruk dari yang pernah Ia bayangkan.
Separuh diri Alvin berkata, bahwa Ia ingin naik ke atap untuk membantu Baskara. Tetapi karena kondisi tubuhnya pun tak mampu berjalan, rasanya hanya akan menyusahkan Baskara saja. Terlebih lagi, hatinya yang sempat mekar kini mulai gugur secara perlahan. Mengakibatkan kemelut hati yang tidak dimengerti oleh Alvin.
Dap dap dap
"Itu penyusup di Pensi kita!" Celetuk seseorang berbaju putih di ujung lobby, yang sepertinya panitia.
"Ayo kejar!" Sahut temannya.
Lala terbelalak, sedangkan Alvin menatap kosong berserah dengan keadaan. Ia hanya ingin ruang untuk dirinya sendiri malam ini.
"Ayo, Vin. Kita kabur." Ujar Lala.
Kemudian Lala mengarahkan Alvin menjauh ke arah yang lain. Melihat satu ruangan terdekat untuk bersembunyi, membali ke ruangan tempatnya berasal tadi.
Lab. Komputer.
Srekk srekk..
Di sisi lain, Jiwo yang baru saja turun tangga menelisik kejadian itu. Ia memahami bahwa mereka berdua adalah teman Baskara. Maka, Jiwo berlari sekuat tenaga yang tersisa.
Grep! Grep!
Setelah tak ada jarak, Jiwo menarik kerah dua orang itu. Lalu menghempaskannya menjauhi Lala dan Alvin.
SREKKK
Mereka merebah memandangi Jiwo.
Lala tak mengerti kenapa ada seorang cowok yang membantunya, Ia mencoba tak peduli. Ia hanya berusaha memastikan Alvin ke dalam Lab. Komputer untuk mencari jalan keluar bersama Wijaya.
Bakbukbakbuk!
Jiwo menghajar dua orang itu tanpa ampun hingga tak sadarkan diri.
KLEK!
Setelah masuk Lab. Komputer Lala sempat terperangah melihat Wijaya terbaring di atas meja komputer dengan perut diperban. Dan lagi-lagi, Ia mencoba tidak peduli, menyandarkan Alvin di tembok terdekat, lalu bergegas kembali untuk mengunci pintu.
Di sudut lain seorang cewek mencuci tangan di westafel menyadari kehadiran orang lain di Lab. Komputer, membuatnya menghampiri Wijaya di ruang depan.
"Kamu siapa?" Tanya Nadir memandangi Lala dan Alvin yang baru saja masuk.
"Temen Wijaya." Balas Lala ragu.
__ADS_1
Alvin mencoba bangun melihat kondisi temannya. Ia memandangi Wijaya yang tak sadarkan diri dengan perut di perban. Sedangkan, Lala dan Nadir saling bertatap-tatapan. Seolah berkata banyak yang harus dijelaskan di antara mereka.
"Wijaya kenapa?" Tanya Alvin, seorang cowok yang telah lama membisu.
Maka Nadir menjelaskan sebisanya. Begitu juga sebaliknya, Lala menjelaskan situasi dari yang dilihatnya. Mereka bertukar informasi atas kekaharan yang terjadi di malam Pensi ini. Dan jugua, berusaha mencari jalur pelarian dalam rangka menyelamatkan teman mereka yang saling terluka.
"Aku bakal coba obatin kamu dulu, Alvin." Ucap Nadir menawari.
Lala terdiam karena tidak mengerti, dan hanya berusaha membantu sebisanya dengan memotongi kain kasa juga perekat.
"Luka kamu banyak banget.. siapa yang ngelakuin ini sama kamu?" Tanya Nadir penasaran.
Lala dan Alvin saling bertatap-tatapan sejenak. Memberi ruang untuk siapapun yang siap menjawab. Karena kecanggungan muncul di antara mereka karena cowok yang melukai Alvin itu.
"Keni." Sahut Alvin lugas, sebelum melirik Lala sesaat, lalu berlalih pandangan lagi.
Lala menunduk malu, tak kuasa menatap Alvin lagi untuk waktu yang lama.
Nadir tertegun sejenak, seolah mengetahui sesuatu tentang Keni. "Ohh.." Lalu mengangguk berusaha bersikap biasa saja. "Bajingan itu kemana sekarang?"
Lala yang terkejut sontak bertanya. "Kakak kenal cowok itu?"
"Aku kenal beberapa orang di organisasi." Tutur Nadir menjelaskan. "Fara bilang dia cowok brengsek yang sering bikin ulah, dan terus berlindung di balik nama Rengga."
Tangan Nadir masih sibuk menutup luka-luka sayatan Alvin. Untuk yang terakhir, Lala membantu memperban telapak tangan Alvin yang dibuatnya menangkap pisau tadi.
Nadir menggerutu di tengah perang. "Kenapa sih cowok selalu bertindak kasar, kalo situasi berjalan di luar kendali mereka?"
Alvin malah terdiam malas menjawab. Lagipula, Ia menyadari itu pertanyaan retoris yang tak harus dijawab.
"Liat kan kamu luka separah ini, sebagian ada yang harus dijahit karena robek terlalu dalam." Imbuh Nadir. "Lala.." Panggil Nadir pelan.
Maka Lala yang sedang termenung menoleh.
"Kamu harus jaga cowok kamu yah, sebisa mungkin jangan biasain berantem dalam hubungan." Ucap Nadir mengajari adik kelasnya. "Jangan seperti aku, malahan bikin Wijaya sampe luka kayak gitu." Pungkasnya.
Secara tersirat, Nadir merasa bertanggung jawab atas tertusuknya Wijaya. Merasa bersalah karena meninggalkan Alex dengan cara tiba-tiba, hingga menghasilkan kebencian di hati mantannya.
"Andai aja aku nggk pergi malem minggu itu, dan jauhin Wijaya lebih awal." Nadir mengatakan itu menahan pekikan hampir menangis.
Lala bisa merasakan, sebagai sesama cewek Ia mengerti apa yang harus dilakukan, maka dengan empati Lala memeluk Nadir yang sedang sedih.
Akhirnya tangisan tak dapat ditahan juga, Nadir menangis di pelukan Lala sejadi-jadinya. Emosinya meluap hingga tertumpah, karena setelah ini Ia tak tau lagi harus menangis di pelukan siapa lagi. Masih terendap di dada, rasanya dikecewakan sahabatnya. Juga kenangan buruk ketika Alex bersikap kasar padanya.
Nadir merasa beruntung bisa menangis di pelukan seorang yang baru saja Ia temui.
Di lain hal, air mata Lala belum habis juga karena tangisan itu menular. Ia mengingat bagaimana kenangan buruk yang diberikan Keni sebagai pelecehan seksual, menjadi ingatan inti yang tak pernah bisa Ia lupakan. Lebih lagi, Alvin mengetahui hal itu dengan cara yang tidak terduga. Dan sekarang, Lala mengerti, Alvin bisa pergi kapan saja. Meninggalkannya terpuruk dalam kenangan buruk, dan kembali menghadapi dunia seorang diri.
Dalam pelukan itu, mereka berbagi rasa sakit. Seolah mengerti perasaan satu sama lain tanpa berkata, hingga saling menepuki pundak demi menenangkan.
Sedangkan Alvin, terpaku memikirkan nasibnya bersama Lala selanjutnya setelah mengetahui setitik kebenaran yang beracun itu.
Apakah Lala masih pantas untuknya?
***
__ADS_1