Baskara : Liberation

Baskara : Liberation
Chapter 32; Geng Rintisan.


__ADS_3

Tersudut di situasi ini, tidak pernah terbayangkan sekelebat pun di otaknya. Saga beruntung air aki yang disiramkan padanya tidak mengenai wajah atau bagian lain tubuhnya. Setidaknya, hanya tangan kirinya yang merasakan dampak paling parah. Pada awalnya, kulit Saga terasa gatal, sebelum akhirnya timbul rasa terbakar yang membuat kulitnya terus meleleh.


[*Note: Kandungan Air Aki; Asam sulfat H2SO4, Asam mineral kuat yang bersifat korosif, mudah menimbulkan iritasi, dan dapat menimbulkan karat bila terkena logam.]


Anak buah Barlan baru saja sampai di belakang Gigih. Berbarengan langsung melongo, saat melihat ketua mereka menuangkan air aki segar ke tubuh seseorang.


"SAKIT BANGSAT!" Teriak Saga memekik.


Barlan terkekeh. "Iket dia lagi, Gih. Terus seret ke bawah." Titahnya lagi.


"Oke bos." Dengan berat hati Gigih mengikuti perintah ketuanya.


Dibantu dengan anak buah lainnya yang memegangi, Gigih mengikat tangan dan kaki Saga dengan kabel ties lagi, namun kini telah dilapis dua.


"Anak babi lu semua!"


Krek krek


Bunyi kuncian kabel ties membelenggu tubuh Saga. Setelah disiram tadi, dirinya tak sempat membilaskan air atau apapun di lengannya, membuat tangannya merasakan sensasi perih luar biasa. dengan posisi terikat, Ia menggeliat menahan sakit.


Saga diseret kasar ke lantai bawah. Kepalanya terus terbentur sudut siku anak tangga sesekali.


Separuh hati Gigih memandang Saga iba, namun Ia tetap cekatan mengikuti perintah ketuanya. Ia memasukan Saga di dalam sebuah karung dalam posisi terikat. Lalu ujung karung tersebut juga diberi kabel ties sehingga membatasi pergerakan Saga. Ia memberinya sedikit lubang dengan sundutan rokok.


"Kita boleh 'sayurin' sepuasnya bos?"


Barlan menggangguk berlagak pongah.


Setelah itu, anak buahnya memukuli Saga yang berada di dalam karung semalaman. Kemudian, menginggalkannya di gerbang Elang Emas di pagi harinya, masih dengan posisi seperti itu.


***


06.35


Murid Elang Emas mengerubungi benda aneh di depan gerbang sekolah mereka. Beberapa cewek mendekap mulut memasang wajah penasaran, juga para cowok yang tiba-tiba datang dan membolak-balik bagian karung tersebut dangan kaki mencari tau.


Di sebuah jalan menuju sekolah, Asap rokok memecah bau embun pagi, lantaran orang itu menjepitkan rokoknya di antara sela jarinya seraya menarik gas. Seorang cowok gondrong bermotor Honda CB 100 Persis seperti milik Saga. Atensinya teralihkan, pada gerombolan murid sekolahnya yang melihat benda aneh di depan gerbang, membuatnya turun dan memastikan.


"Awas Minggir!" Himbaunya membelah kerumunan dengan paksa.


Semua murid memberi jalan selekasnya, kepada cowok berambut gondrong itu, Rengga Pakuwinoto.


Rengga termangu sesaat. Ia mengerti di dalam karung ini pastilah ada seseorang. Ini adalah cara kuno untuk menunjukan sebuah dominasi. Tak menunggu lama, Ia menyundutkan bara rokoknya ke kabel ties yang mengunci ujung karung. Kemudian membukanya perlahan, dan mendapati Saga yang babak belur tak sadarkan diri dengan tangan terikat.


Pemandangan itu sontak membuat semua mata terbelalak kaget. Ketika seorang murid sekolah mereka dikirim kembali di dalam bungkus karung beras dengan luka lebam.


"Sialan!" Setelah mengumpat, Rengga membopong murid sekolahnya itu ke rumah sakit terdekat.


Rengga paham rasanya. Karena pernah masuk ke dalam karung seperti itu juga di masa kelamnya. Ketika dua orang pernah mengalami hal yang sama, seolah penderitan itu terbagi menjadi penderitaan bersama. Kita tau, hidup di jalanan selalu penuh dengan kejutan.


***


Sepekan kemudian.


Rumah Sakit Umum.


"Gimana luka lu?" Tanya Rengga. Matanya mengawang keluar melihat pemandangan dari jendela lantai tiga.


Saga memperhatikan seluruh tubunnya. "Kemarin cuma memar doang."


"Kalo tangan lu gimana?"


Luka bakar di tangannya sudah kering, namun karena terlambat penanganan, mengakibatkan lukanya terlihat begitu kentara. "Gapapa." Balasnya singkat.


Hening.


Saga masih terjerembab dalam kegemingan. Kondisi psikisnya lumayan terpukul setelah kejadian itu. Tapi Ia tumbuh sebagai seorang yang berbeda. Meski sempat tenggelam, sebagian dirinya berniat untuk membalas perbuatan Barlan seorang diri.


"Jadi ini ulah siapa?" Tanya Rengga lagi memecah lamunnya.


"Emang kalo lu tau, mau apa?" Sambar Saga ketus.

__ADS_1


Sedangkan Rengga menoleh antusias. "Gua pernah dikarungin kaya gitu. Kalo lu mau ngehajar pelakunya. Gua saranin lu ngajak gua juga."


Untuk sesaat, mata mereka bertatap-tatapan. Hanya dengan seperti itu mereka telah saling mengerti. Karena mata punya bahasa lebih dari yang bisa diucapkan, mampu menyampaikan kata-kata yang tak terucap.


"Siapa nama lu?"


"Sagara Husein. Panggil aja Saga." Sahutnya. "Kalo lu?"


"Rengga Pakuwinoto. Lu boleh manggil Rengga."


Begitulah, pertemuan awal Saga dan Rengga. Mereka bergegas menemui pemegang kekuasaan Elang Emas untuk mencari bantuan. Namum, tak ada organisasi atau apapun. Itu hanya satu geng kecil yang berlagak jadi penguasa. Lagi pula, geng senior itu telah lama menggantungkan pedangnya, dan tak memberi sinyal apapun untuk membantu.


Maka Saga berniat membuat geng-nya sendiri, dengan mencari semua murid kelas satu yang pandai berkelahi. Ia mencari anggota dengan melakukan pengembaraan ke setiap kelas.


***


BRAK!


Motor Yamaha R15 biru ditabrak motor lain dari arah sampingnya. Ketika menoleh, terlihatlah motor yang menabraknya. Itu hanya motor jadul Honda GL 100 cc dengan cowok berperawakan tinggi duduk di kursi kemudinya, Alfonsus Hansel.


"Woy anjing!" Membuat seorang bermotor R15 itu mengumpat gusar.


BLAM!


Pukulan keras membuat helm full face yang dikenakannya terlempar. Lalu Han menarik kerah lawannya, memaksanya turun dari motor yang belum disanggahkan standarnya.


"Elang Emas sialan!" Umpatnya lagi.


BLAM BLAMM


Setelah sempat memukuli lagi, Ia menarik kerah lawannya. "Kehidupan SMA emang gini. Lu harus siap, Bangsat!" Ucapnya mengintimidasi.


Bakbukbakbuk!


BRUMM SREEK!


Motor serupa tiba, ketika Hansel memukuli murid sekolah lain itu. Sebelum melihat neraka dunia, Ia terus mencari seribu alasan untuk berkelahi dengan siapapun. Tapi ketika jaket lawannya terbuka, dengan spontan Ia memiringkan kepala dan mengejanya perlahan.


Murid Murai Merah itu terkekeh.


BUAKK!


Tiba-tiba sebuah tendangan menghantam kepala Han hingga tak sadarkan diri.


***


Dengan dibantu Rengga, dalam waktu kurang dari seminggu. Saga telah mengumpulkan sepuluh cowok yang lihai berkelahi.


Raut Wajahnya seolah telah menjelaskan isi hati pemiliknya, raut Saga yang ambisus untuk mendirikan geng sekolahnya. Juga tak kenal takut memimpin sekumpulan orang untuk membalaskan dendam pribadinya.


Setelah mengumpulkan informasi yang cukup tentang Barlan dan geng-nya, Saga berniat melakukan penyergapan ke area pergudangan tempatnya diculik kemarin. Tetapi, di sisi lain separuh hatinya masih meragukan Rengga.


"Apa alasan lu bantu gua?"


Rengga menoleh. "Hmm.. anggap aja lu beruntung." Sahutnya singkat.


"Itu nggk ngejawab pertanyaan gua, Reng." Ucap Saga menyela dengan penasaran.


"Kenapa sih? lu harus nanya alasan orang buat bantuin lu?" Tanya Rengga membalas. "Bukannya, dalam hal apapun.. ngebantu itu nggk pernah salah?"


"Terus kenapa tiba-tiba lu inisiatif bopong gua ke rumah sakit?" Tanya Saga tak mau kalah. "Saat yang lainnya cuma ngeliatin penasaran?"


Slep!


"Lu belum ngucapin terimakasih. Malah ngeraguin gua?" Rengga menarik kerah Saga sebelum berbicara. "Gua bakal pergi kalo mau lu gitu." Imbuhnya. "Gua cuma ada buat orang-orang yang bisa hargain gua." Di akhir percakapan Ia mendorong tubuh Saga geram.


Hubungan di antara mereka berdua tidak mudah begitu saja. Kemudian, Rengga berlalu pergi meninggalkan Saga yang termangu, dan membiarkannya mengemis menyesal suatu saat nanti.


***


Malam minggu, Saga memulai rencana balas dendamnya. Membawa motor Honda CB 100 cc-nya yang masih lecet, ditemani sepuluh orang motor jadul juga yang beragam. Membelah jalan sepi di pinggiran kota Jakarta.

__ADS_1


BRUMM


Tanpa siasat apapun, Saga hanya berpikir untuk menerobos masuk secara serampangan lewat depan gudang. Dengan mudahnya mereka memasuki gerbang, lalu memarkir motornya di depan sebuah pintu besi.


Ketika masuk di gudang itu, Saga dibuat tercengang melihat buntalan karung sedang dihajar habis-habisan, yang tentu saja pastilah ada orang di dalamnya. Persis seperti apa yang diperlakukan padanya malam itu, hal itu membuatnya geram sampai menggertakan gigi.


"Kita langsung masuk nih, Bos?" Tanya seorang anak buah.


Alih-alih menjawab pertanyaan itu. Saga malah menarik perhatian dengan teriakannya. "Woy lepasin!" Titahnya. "Dasar anak babi lu semua!" Ditambahkan dengan sedikit umpatan.


Seketika semua mata yang berada di gudang tertuju pada Saga. Termasuk Barlan yang duduk di sofa di ujung ruangan.


"Dia bocah yang kemaren bos." Ucap Gigih memberitau. "Liat tuh tangannya."


Saga membenarkan manset ketika Gigih menyinggung. Kini tangan kiri Saga ditutupi manset berwarna hitam, Ia berniat menutup luka bakar yang terasa memalukan baginya.


"Ini pertarungan yang nggk bisa kita menangin, bos." Ucap seorang anak buah Saga. "Lu seharusnya lebih mikirin kita semua."


Mental anak buah Saga belum terasah oleh waktu, sehingga mereka semua ketar-ketir dengan keadaan. Masalahnya mereka hanya berjumlah sepuluh orang, pun jika ditambah Saga jadi sebelas. Sedangkan, musuh mereka berjumlah dua puluh orang lebih.


"Lepasin gua anjing!" Teriak suara dari dalam karung sambil terguling-guling memberontak.


Gigih menendang karung itu. "Diem tai!"


"Sialan!" Balasnya lagi.


Saga menatap semua lawan di hadapnnya tanpa rasa takut. "Gua minta tolong, pinjemin kekuatan kalian." Pintanya sungguh. "Ayo kita libas mereka semua." Lanjutnya lagi. "Sasaran gua Barlan."


"Hyaaaa..."


Dengan terpaksa -juga karena terlanjur terjebak di situasi ini- maka mereka serempak saling manghampiri satu sama lain, mengakibatkan kemelut yang sulit untuk dijelaskan oleh kata-kata. Pada akhirnya, mereka semua terkapar pingsan tanpa bisa menyentuh Barlan sedikit pun. Geng rintisan yang Saga bawa belum mampu membawa mukjizat untuk membalaskan dendamnya.


"Lu belum pantes lawan Barlan." Ucap Gigih mencemooh. "Tapi kalo lu maksa, lu bisa lawan gua."


Saga berdiri di tengah teman-temannya yang telah merebah. Di depannya berdiri seorang tangan kanan dari Pilar Murai Merah, Gigih Prakoso. Dikelilingi anak buahnya yang tersisa. Sedangkan, Barlan masih belum berdiri selangkah pun dari sofanya.


"Kasih paham, Gih. Kayanya lu berdua seumuran." Perintah Barlan pada Gigih.


Saat pertarungan, karung yang terikat terus menggeliat mencari pelarian yang tidak bisa dilihatnya. Mengantarnya sampai ke posisi di belakang Saga.


Maka Saga mengambil posisi bertarung, entah apa yang ada di dalam pikirannya. Tapi jika dilihat dari situasinya, tak ada secercah kesempatan pun untuk Saga.


Dep!


Karung tadi terguling hingga mengenai kaki Saga. "Woy lepasin gua, tai!"


Saga yang sejak tadi sibuk dengan pertarungan, teralihkan dari niatnya untuk membebaskan orang di dalam karung itu. Dan sekarang karung itu telah ada di belakangnya.


"Murai Merah emang anjing!" Seorang di dalam karung itu terus mengumpat dengan sumpah serapah.


Srek!


Maka Saga merobek karung itu dari luar dengan jemarinya. Ia mendapati seorang cowok dengan tangan terikat kabel ties sama seperti yang dialaminya malam itu.


Cowok itu menoleh. "Lepasin iketan gua juga."


Kemudian Saga menyentakan tangannya hingga kabel itu putus. Cowok berperawakan tinggi itu telah bebas sepenuhnya.


Ketika melihat itu, Barlan juga Gigih mendiamkan tindakan yang Saga lakukan. Karena bagaimana pun juga, Ia telah terkepung dan tersudut dalam situasi yang tidak menguntungkan.


Tak ada harapan menang.


"Siapa nama lu?" Tanya cowok itu penasaran.


"Saga." Balasnya singkat. "Kalo lu?"


"Alfonsus Hansel."


Kala itu, Hansel melihat Saga berkilau penuh kehormatan. Seorang cowok yang gemar mencari alasan untuk berkelahi, kini menaruh hormat kepada seorang pemimpin geng yang ingin membalaskan dendam pribadinya.


***

__ADS_1


__ADS_2