
Rengga terbangun dari tidurnya. Ia membolos hari ini karena hari sudah cukup siang. Terdapat cewek setengah telanjang yang tertutup selimut disampingnya, merasakan pergerakan hingga terbangun juga. Namun Ia mengabaikannya, Menyingkap selimut yang menutupinya Ia hanya mengenakan celana pendek, mengangkat kaki pergi ke westafel membasahi wajahnya, lalu menyikat gigi.
Terlihat otot yang melekat kuat ditubuhnya dipantulan kaca.
Cewek itu telah mengenakan piyama menghampiri Rengga. Memeluknya dari belakang.
"Lu cabut aja." Kata Rengga ketus. "Gua udah nggk bergairah."
"Jangan kaya gitu dong kamu." Jawab cewek itu merayu. "Apa masih kepikiran, Najwa?"
Rengga tidak menggubris selagi masih membasuh wajahnya.
"Adrenalinmu berkurang setelah sering main sama aku?" Ia mulai lagi. "Kamu berusaha sejauh ini cuma buat pelarian kan?"
Ia menyeka tetesan air dengan handuk, berlalu pergi keluar kamar. Setelah mendapatkan yang diinginkan dia akan pergi seolah tak terjadi apapun, begitulah cowok.
Cewek itu menghentakan kaki kesal. Sulit merasa baik setelah diabaikan, tidak digubris sama sekali. Apalagi setelah memberika semua yang Ia miliki.
Lagi pula, Rengga malas membicarakan hal itu, karena memang belum siap, Ia masih berharap sepenuh hati, setiap detik cemas menanti kejutan disetiap helaan napas, menunggu Najwa.
Ketika keluar kamar Ia mendapati Keni sedang mengobrol dengan seseorang. Melihat Ia disini adalah hal biasa tapi tidak dengan yang satunya, Pras.
"Lu punya bidak nggk?" Kata Pras.
"Ada satu, nanti kita pake dia aja."
Pembicaaran singkat yang didengar oleh Rengga. Tidak mengerti apa maksud mereka berdua. Tapi melihat mereka berdua akur cukup aneh baginya.
"Ngapain lu disini?"
Mereka berdua menoleh bersamaan. Menyadari kehadiran Rengga.
"Gapapa, Reng. Gua cuma mau mampir aja. Sama mau liat keadaan lu."
"Emang gua kenapa?"
"Gua pikir lu lagi kalut."
Agak kesal mendengar penilaian Pras. Tapi memang benar seperti itu adanya. Rengga tidak ambil pusing.
"Yaudah ntar malem temenin gua ke club. Gua mau mabok banyak."
"Malem ini lagi, Bos?" Tanya Keni
"Iya, lu berdua jagain gua sampe pulang."
Mereka berdua tercengang. Bingung mencari alasan menolak. Tapi tidak bisa, mereka harus melakukannya.
"Jangan lupa minta duit sama 'ATM'. Buat mabok ntar malem."
Keni mendengus malas.
"Gua denger obrolan lu berdua tadi. Gua harap lu berdua nggk bikin masalah" ucap Rengga memperingati.
Setelah itu, Ia berlalu ke dapur mencari sesuatu untuk dimakan.
***
"Jadi seorang didalam sini yang dirundung bareng Kevin? Pada hari itu?"
"Iya, Bas. Gua masih nggk nyangka sekolah kita bisa dirundung sekolah lain."
"Nggk salah lagi. Murai Merah ya kan?"
"Gua juga berpikir gitu. Kalau lu jadi pemimpin sekolah kita semuanya bisa kita cegah kan?"
Baskara tidak menggubris. "Bener disini alamatnya?"
"Menurut alamat, disini tempatnya, Bas."
__ADS_1
Kata Wijaya seraya mencocokan kertas yang Ia pegang.
"Yaudah gas."
Knock-knock!
Baskara mencari tau tentang kematian Kevin beberapa waktu lalu. Tapi karena keterbatasan informasi membuatnya kesulitan. Murai Merah yang selama ini digadang-gadang sebagai pelaku pembunuhan membuat Baskara geram karena kasus penyelidikan dihentikan. Lalu menuntunnya menuju alamat yang didapat oleh Wijaya lewat database sekolah.
Ia masih tidak menerima kebenaran bahwa temannya tewas karena dirundung oleh sekolah lain, seperti yang dicurigai yaitu; Murai Merah.
Tak ada jawaban.
Knock-knock!
Wijaya meragukan keberadaan orang didalam rumah susun ini. Karena tampak depannya seperti tidak terurus, seperti tidak ada yang membersihkan. Daun berserakan diberanda, debu didaun pintu, jendela yang kusam.
Baskara memutar daun pintu lalu menariknya.
Terbuka.
Wijaya menganggukan kepala, lalu dibalas dengan Baskara. Bahwa mereka sepakat akan masuk bersamaan.
Bau apek pengap dicampur bau busuk dari sisa makanan tercium dikala baru memasuki ruangan. Berantakan tak terurus disisi bawahnya, Baskara terhenti di dinding ruangan diatas meja belajar.
Terdapat tempelan berita tentang penemuan mayat beberapa minggu lalu yang digunting dari sebuah surat kabar. Berita yang sama, berita yang ingin Baskara cari tau kebenarannya.
"Apa ini benar?" Tanya Wijaya yang ikut melihatnya. "Jadi selama ini kita salah mengira?"
"Wakil ketua organisasi?"
"Rengga?"
SRAK! GEDEBUG!
Tubuh Baskara menghantam tembok. Seseorang berbadan kurus mencekiknya dengan wajah yang ketakutan.
"JANGAN GANGGU GUA LAGI!"
Kimon.
Tangan Kimon masih mencengkeram kuat. Baskara bingung enggan melawan, tapi jika seperti ini terus dirinya pun bisa terluka. Maka Ia pun menghempaskan tangan yang rapuh itu dari lehernya.
Kimon tersungkur berusaha bangun lagi menyerang Baskara histeris.
"PERGI!"
Wijaya menghadangnya. Kini bergantian malah dirinya yang dipukuk asal-asalan. Ia hanya menahan dengan kedua lengan menutupi wajah.
Baskara menyadari ini sebuah ancaman, meski enggan menyakiti orang lain. Tapi hanya ini yang bisa Ia lakukan untuk keselamatan mereka bedua. Ia mengambil posisi, berusaha untuk membuat sekali pukulan pingsan.
Tiba-tiba Kimon berhenti. Meringkuk ke kaki Wijaya seraya meraungkan tangisan.
Baskara tidak jadi melakukannya.
"Gua janji akan lakuin apa aja, Bang. Yang penting jangan pukulin gua lagi." Pinta Kimon dengan masih menangis sungguhan.
Wijaya termangu dengan perilaku Kimon.
"Setiap pulang sekolah lu boleh suruh gua apa pun. Asal jangan bunuh gua kaya Kevin."
Perkataan Kimon menjelaskan semuanya. Ia nampak seolah tak waras, rasa traumatis kejadian beberpaa minggu lalu itu membekas di dirinya. Namun entah bagaimana Ia bisa bertahan selama itu dirusun ini tanpa keluar sama sekali. Tidak heran badannya yang hancur karena kekurangan nutrisi, bisa saja dia sudah tidak makan berhari-hari.
Bungkus mie instan cepat saji berserakan diatas meja makan, cucian piring menumpuk dengan noda yang mengeras bagai semen, Ia didalam sini selama ini. Tidak berinteraksi dengan siapapun, dan tak seorang pun datang mencarinya sampai saat ini.
Disela tangisan Kimon. Wijaya menghubungi seseorang yang bisa membenahi hal ini. Agar bisa mengurusi teman satu sekolahnya, yaitu; Bu Dina.
Sedari tadi Baskara mengajukan beberapa pertanyaan namun tidak dijawab oleh Kimon. Sepertinya masih berat untuk membuatnya menceritakan semuanya. Yang jelas Kimon butuh perawatan dari tenaga ahli psikologi.
Sebelum membawa Kimon Bu Dina memberikan kaos untuk dikenakan Kimon. Meski agak kesulitan membujuknya karena masih histeris, namun dengan caranya Bu Dina mampu membujuk Kimon untuk pergi.
__ADS_1
Bu Dina mengatakan akan membawanya ke suatu tempat dan meminta merahasiakan semua yang terjadi kepada muridnya saat ini. Dan berjanji akan memberikan kabar selanjutnya tentang Kimon dilain kesempatan.
Baskara berkeliling rusun milik Kimon. Karena menyadari Kimon telah mengetahui segalanya. Bahwa yang merundung Kevin bukanlah sekolah lain seperti yang mereka kira, bukan Murai Merah seperti yang dirumorkan. Itu adalah orang dalam sekolah mereka sendiri, yaitu wakil ketua organisasi, Rengga.
Hatinya geram karena perundungan yang dilakukan kepada Kevin hingga tewas.
Namun mengapa sampai kini mereka belum juga diselidiki dan sejauh ini masih aman. Seperti yang kita tau, bahkan juga kabar kasusnya segera ditutup.
Didinding kamar Kimon terdapat papan dengan garis-garis diujung garis terdapat foto juga berita dari surat kabar. Benar Kimon mengetahui semuanya, hingga bagaimana Kevin terbunuh dan oleh siapa. Dan kini Baskara merasa benar-benar gusar. Jika bertemu orang tersebut tentu saja dia tidak akan menahan diri, seperti waktu di Stasiun.
***
"Bisa, koh?" Tanya Lala terburu-buru.
"Agak susah karena ini hape tipe baru."
"Yahh.. tapi bisa kan?"
"Butuh waktu dua hari ngerjain baru bisa ke buka."
Koko ahli handphone memberikan hape Keni yang telah dioprek untuk membuka pin unlock yang terdapat didepan layar.
"Syukur deh kalo bisa." Matanya menerawang ke kanan dan kiri memastikan tak ada yang menguntitnya.
Setelah membayar. Dengan berhati-hati Lala pergi pulang berlindung payung hitam. Memang hujan sore ini, namun tidak cukup lebat. Ia mengenakan Jaket hodie dengan kupluk yang dipasangkan dikepalanya, berupaya tidak ada yang mengenali dirinya hingga mengenakan masker ketat.
Sesampainya dikamar rumah, Ia bergegas memeriksa file pada hape Keni. Membuka setiap album foto, maupun folder tersembunyi hingga ke yang paling dalam.
Tidak menemukan foto miliknya, apa yang Ia cari sampai mengorbankan harga diri. Tidak Ia dapatkan.
Lala menghela napas.
Tapi Ia memeriksa lebih banyak lagi folder, dan menemukan hal mengejutkan.
Disalah satu folder ditempat yang tidak Ia duga. Terdapat foto perundungan selain dirinya, penelanjangan dilakukan kepada lebih dari dua cewek, terlebih lagi wajah difoto itu nampak familiar dimata Lala. Semuanya adalah orang-orang yang Ia kenal. Ia tidak menyangka mereka semua juga korban, mereka tetap diam memendam yang telah terjadi.
Menyembunyikan luka yang teramat pahit.
Lala menyadari, betapa banyak orang yang mengalami kejadian serupa, tetapi yang membedakan adalah mereka yang mampu menyembunyikan dan yang tidak. Apa yang Keni lakukan kepada dirinya, ternyata juga telah dilakukan kepada banyak cewek.
Dilain folder lagi, hal mengejutkan lainnya menampakan dirinya. Video perundungan kepada seorang cowok.
Lala hingga memiringkan kepala ketika menontonnya, karena video amatir yang kameranya bergerak bebas tak menentu.
"Jangan, Bang."
Dari arah kamera pukulan menghantam wajahnya. Wajahnya telah berlumuran darah meminta ampun, meminta dilepaskan.
"Lepasin saya, Bang." Pintanya sendu.
Seorang yang nampak familiar juga dimatanya. Seorang teman yang telah meninggal beberapa bulan lalu, Kevin.
Mata Lala memeriksa tanggal pengambilan video tersebut. Memastikan sesuatu, mendapatkan sesuatu yang tidak Ia cari, tanggal sehari sebelum mayat Kevin ditemukan.
***
Suatu waktu, malam hari dipersimpangan jalan didaerah Manggarai, Jakarta Selatan. Steven mendorong motornya yang seharga rumah, karena mogok. Keringat mulai menetes dari dahi hingga ke leher membasahi kaos putih miliknya, yang dibalut dengan jaket kulit hitam.
Terdengar suara motor cruiser jadul dari arah belakangnya mendekati.
"Kenapa bro?" Tanya seorang berhenti disampingnya.
Steven menoleh.
"Mogok bro."
"Sini gua bantu 'stepin'."
Seorang cowok itu menyanggahkan kakinya ke knalpot Steven, mendorong dengan motornya untuk sampai ke bengkel, dengan ramah juga mata berbinar, Baskara.
__ADS_1
***