Baskara : Liberation

Baskara : Liberation
Chapter 35; Najwa.


__ADS_3

Setelah tragedi 'Senja berdarah', nama Elang Emas kembali mencuat naik karena secara eksplisit menunjukan kekuatan mutlaknya. Yang juga, membuat orang luar terus bertanya-tanya pada luka di tangan pemimpin sekolah itu -Sagara Husein-, tetapi tidak ada satu pun saksi hidup yang sudi menjawabnya.


Alhasil, banyak dari mereka mengarang cerita untuk memuaskan pertanyaan yang tak pernah terjawab itu. Dan yang paling popuper ialah Saga mendapat luka bakar itu dari tragedi 'Senja berdarah', yang faktanya bukan seperti itu. Semua memegang teguh janji yang terucap dari Saga, karena kesakralannya sampai menumpahkan darah salah satu pilar Murai Merah.


Jika biasanya, berita pagi hari menyajikan prakiraan cuaca, harga saham, atau kabar baik lainnya. Maka pagi ini mereka harus merubah semuanya, bahkan berita utama mereka. Karena ada berita yang lebih layak untuk dimuat di halaman depan suatu surat kabar.


["Di daerah Jakarta Timur, telah terjadi tawuran antar sekolah yang dibantu oleh gangster. Warga setempat melapor polisi, setelah beberapa jam jalan diblokir paksa oleh gangster bermobil Jeep Wranger."]


Audio dari media televisi sedang membacakan berita terbaru pagi hari.


["Diduga karena motif balas dendam, sekolah Elang Emas melakukan penyerangan terhadap sekolah Murai Merah. Tidak diketahui pasti, bagaimana gangster bisa ikut campur dalam tawuran ini, tapi yang jelas karena ulah mereka banyak korban yang tewas di tempat kejadian."]


["Polisi menyatakan menolak aksi tawuran dan akan terus mencari semua penyebab tawuran ini. Hingga kini, pelaku pembunuhan masih dalam pencarian. Hanya beberapa murid dan anggota gangster yang sempat diamankan, mereka akan terus dimintai keterangan."]


Ucap Jurnalis mengakhiri sesi beritanya.


Karena perkembangan teknologi, mempercepat persebaran informasi, bukan hanya dimuat dalam pintasan berita di televisi, tetapi juga dalam berita utama koran, juga artikel media online.


["Dampak cahaya dari sekolah Elang Emas, membuat bayangan gelap di sekolah sekitarnya."]


["Bangkit dari keterpurukan, inilah dia sejarah sekolah Elang Emas."]


["Luka misterius milik pemimpin tertinggi Elang Emas."]


Begitulah, beberapa judul aneh artikel media online.


Sungguh tak ada yang membuka mulut, mereka yang tertangkap polisi hanya diam dan menjalani hukuman selayaknya. Untuk alasan yang tidak di ketahui, polisi juga menghentikan penyelidikan terhadap kasus tawuran ini.


Sebulan berlalu, Saga mulai membentuk organisasi di sekolahnya, mendeklarasikan diri sebagai ketua yang berkuasa, juga mengangkat Rengga sebagai wakil ketua untuk tanda kepercayaan juga terimakasihnya. Sedangkan Hansel, Ia dijadikan ketua tim pengintai sekaligus tim keamanan pada awalnya. Mereka terus dimasuki banyak anggota setelah tragedi 'Senja berdarah' itu.


Setelah anggotanya mencapai seratus, Saga mulai mengajukan diri sebagai organisasi resmi di sekolah, dan mulai menunjukan eksistensinya. Ini juga dalam upayanya mencari ijin memungut pajak secara legal, agar operasional organisasinya bisa bergerak mulus. Sebuah manifestasi dari pemikiran Saga yang di luar nalar murid sebayanya.


Meski sesekali murid baru Murai Merah masih menyerang Elang Emas, Saga tidak pernah ambil pusing. Ia hanya menyuruh Hansel untuk menanganinya, sebagai perantara dirinya dengan Murai Merah.


Tahun ajaran baru dimulai, pajak telah dilegalkan oleh kepala sekolah. Dengan syarat, organisasi menjamin keselamatan seluruh murid Elang Emas dalam radius yang ditentukan. Seketika membuat organisasi yang dibuat Saga, dialiri uang panas yang tidak sedikit.


Saga tak mengambil langkah terburu-buru, untuk sesaat Ia butuh rehat dari ambisi yang terus menggebu. Maka dirinya mengajak pendiri organisasi untuk berpesta kecil di salah satu club di Jakarta Selatan, hanya mereka bertiga, Saga, Rengga, dan Hansel.


Di saat awal masuk, Rengga langsung menikmati tempat itu seolah Ia yang memilikinya. Ia menari di atas lantai dansa dengan luwes, ditemani lampu kerlap-kerlip juga musik EDM.


Sedangkan, Saga dan Hansel hanya meminum segelas alkohol di meja bartender. Mereka berdua sesekali melirik memperhatikan cowok gondrong itu bermanuver di lantai dansa.


"Ayolah.. masih kaku aja lu!" Cemooh Rengga seraya bergoyang.


Saga hanya memberi isyarat penolakan dan memilih untuk minum dengan tenang di tempatnya. Kemudian Rengga berpaling kembali ke lantai dansanya.


Dua orang cewek sedang mengobrol di sudut lain lantai dansa. Berparas jelita dengan anggun melipat kaki yang terduduk di stool bar.


Hansel terus menerawang ke sekitar, melihat germerlap setiap sudut club tersebut. Ini pertama kali baginya berada di club, sangat cocok berdua dengan Saga yang nampak cukup wagu.


"Ga, kita kerjain Rengga yok." Ujarnya berbisik.


Hansel cukup kesal melihat gelagat Rengga yang berlagak menguasai lantai dansa malam ini. Oleh sebab itu, Ia berniat mengerjainya sebagai seorang teman.


"Hah? Gimana?"

__ADS_1


"Lu liat cewek di bar sebelah?" Tanya Han seraya mengarahkan matanya kesana.


"Yang rambutnya panjang?" Sahut Saga.


Hansel mengangguk yakin. "Lu ikutin permainan gua aja. Oke?"


Lalu, Saga mengangguk ragu.


Setelah beberapa menit bergoyang, Rengga kembali lagi ke meja bar, niatnya untuk menenggak seloki minuman lalu melanjutkan goyangan lagi.


"Reng?" Panggil Hansel tiba-tiba.


Malam itu Rengga masih sadar, hanya beberapa seloki alkohol tidak akan merenggut kesadarannya dengan mudah. Yang kemudian menyaut. "Kenapa?"


Hansel melihat Saga sesaat, setelah menerima anggukannya, Ia melanjutkan perkataannya. "Lu liat cewek, di bar sebelah?"


Mata Rengga mencari-cari sosok cewek yang diberi tau Han. Ia mendapati cewek berambut panjang belah tengah, yang digerai apik di samping bahunya. "Itu?" Ucapnya seraya mengarahkan mata.


"Iya.. dia ngeliatin lu terus daritadi. Kayanya penasaran sama lu deh." Ucap Han memulai keisengannya. "Bener kan, Ga?"


Saga mengangguk meyakinkan seraya menahan raut tawa dengan susah payah.


Rengga terus memandangi cewek jelita itu. Rambutnya indah, ditambah tatapannya yang mengkilap. Menurutnya itu sangat cocok dengan seleranya.


"Tapi kalo lu nggk berani sih.. nggk usah di deketin, gapapa." Tambah Han lagi memancing.


"Lu berdua tunggu sini aja, terus liat gua bakalan dapetin nomer hapenya." Kata Rengga dengan wajah yakin.


Tap!


Hansel menghalau langkah Rengga, "Kalo nggk dapet nomernya. Mending lu bayarin kita satu minuman. Biar nggk sia-sia lu udah jalan ke sana, sekalian." Han tersenyum memaksa, tampak begitu menyebalkan.


Hansel tertawa geli, ketika Rengga dengan sungguh menghampiri meja cewek itu. Ia menyembunyikan wajahnya mendekap ke sisi meja ditutupi tangannya yang sesekali memukul karena terpingkal.


"Lu jahat, bego.." Ledek Saga.


"Wajar gitu mah.. Udah lu tenang aja. Kita jadi dapet tambahan minuman gratis kan?"


Saga hanya menggelengkan kepala, karena kelakuan aneh temannya.


Di sisi lain, Rengga mulai duduk di samping stool bar cewek itu yang sedang mengobrol dengan temannya.


Setelah sekali menoleh karena kehadiran Rengga, lalu cewek itu melanjutkan obrolannya, kembali membelakangi Rengga.


"Malem ini suasananya asik ya.. gimana menurut lu?" Tanya Rengga memulai.


"Ehh.." Cewek itu berpikir sejenak, merespon dengan spontan. "Iya sama.. menurut gua juga, nikmatin aja." Balasnya singkat. Kemudian kembali melanjutkan obrolan dengan temannya.


Tak disangkanya akan mendapat respon seperti itu. Rengga mulai sadar telah dikerjai oleh Hansel dan Saga. Maka Ia berdiri dan berniat pergi. Sebelum itu, Ia menoleh ke arah Hansel.


Hansel meringis seraya menunjukan selokinya yang kosong. Memberi isyarat untuk segera membawakan botol berisi alkohol.


Untuk sejenak, Rengga membatin karena tak membawa cukup uang untuk membeli sebotol minuman di club. Lalu, Ia duduk lagi setelah mendapatkan sebuah ide.


"Hmm.. kayanya gua di kerjain temen gua." Tuturnya pada cewek itu. "Boleh nggk, gua minta nomer lu?"

__ADS_1


Cewek itu berpikir sesaat, setelah teralihkan dari obrolan bersama temannya.


"Hah? Gimana maksudnya?"


Rengga menelan ludah, sebelum akhirnya berkata. "Jadi gini.. gua dikerjain temen gua.. ya lu tau lah." Ia terus menjelaskan dengan menahan malu. "Boleh nggk gua minta nomer lu?"


Cewek jelita itu menilai Rengga dari tatapan lekat, dan mencoba mengerti situasi Rengga. lalu menjawab. "Kalo nomer bohongan gimana?"


"Iya gapapa." Sahut Rengga cepat.


Cewek itu menuliskan nomor karangannya pada secarik kertas yang sebelumnya diminta dari barista bar-nya. Kemudian memberikannya kepada Rengga.


Syut!


Rengga menangkap lihai potongan kertas itu. Lalu mengejakan sebuah nama di atas barisan nomor. "Naj-wa?"


Cewek berambut panjang itu mengangguk, menyahut panggilan dari Rengga.


Dengan gagah Ia mengulurkan tangan. "Rengga." Tegasnya dengan senyum merekah.


Semua seperti telah ditakdirkan oleh semesta. Itulah kali pertama, Rengga bertemu seorang cewek yang akan mematahkan hatinya lebih dari sekali, Najwa Haniya.


Hansel dan Saga terperangah saat melihat Rengga memamerkan barisan nomor yang Ia dapat. Niat mereka untuk mengerjai Rengga, malahan diwujudkan menjadi kenyataan dengan apik.


Ketika Hansel ingin merebut, Rengga segera menariknya, kemudian menyimpan di sakunya dengan aman. Tak lupa mengangkat senyum untuk kesekian kalinya.


Ketika pulang, dan sampai kamar, Ia dengan tanggap menyalin nomor itu menuju hapenya. Lalu menelfon..


Tuuut.. tuuut..


Memastikan keaslian nomor itu, meski Najwa berdalih bahwa itu nomor bohongan hasil karangannya. Rengga masih mengharap serpihan keajaiban di penghujung harinya.


"Hallo?" Kata pertama yang Ia ucap ketika terhubung.


"Iyah.." Sahut suara lembut dari ujung telfon.


"Najwa?" Tanya Rengga tanpa basa-basi.


"Iya, betul."


"Ini aku Rengga." Balasnya cepat, juga disertai semangat.


"Aku nggk nyangka, kamu bakal nelfon." Lalu Najwa tertawa kecil, ketika suaranya mencapai telinga Rengga, itu begitu terasa bergetar menuju hatinya.


"Aku juga nggk nyangka, ini nomer asli." Ucap Rengga tak mau kalah. Mereka terkekeh berbarengan. Menyatu dalam satu panel beririsan, memegang hape di samping pipi mereka seolah saling melihat. Menyatu dalam satu tawa yang hanya di hubungkan oleh resonasi suara.


Begitu saja, Najwa berhasil melumpuhkan hati petarung hebat yang dibesarkan oleh gangster.


Mereka telfonan sepanjang malam hingga pagi, waktu berlalu lebih cepat bagi mereka yang sedang nyaman, juga dihiasi rasa saling penasaran.


"Kamu ngapain kalo ngisi waktu senggang?"


"Nonton series."


"Ohh gitu.. series tentang apa?" Tanya Rengga memperpanjang obrolannya. "Jelasin dong gimana jalan ceritanya.."

__ADS_1


"Jadi tuh, gini ceritanya.."


***


__ADS_2