
"Seorang yang menumpahkan darah, haruslah membayar dengan darah."
***
Sebelum terjadi ledakan.
"Kita udah ngumpulin semua bom-nya di ruang ganti olahraga." Ucap seorang pasukan pemberontak memberitahu. "Tapi, nggk ada yang tau itu mau diapain, Mel."
Udara terasa dingin malam ini. Hujan telah benar-benar reda. Air menetes pelan dari daun pepohonan yang tumbuh di sekitar lapangan serbaguna.
Melody yang telah pulih dari pertarungannya dihadapkan dengan masalah baru di depan matanya. Lantaran, benda berbahan plastik berbentuk seperti batu bata itu -yang diduga sebagai bom peledak- tak ditemukan cara untuk menjinakannya. Ia merasa pening, karena bingung harus melakukan apa.
"Gua cuma bisa bantu sampe sini, Mel." Ucap seorang lainnya. "Maafin gua."
"Cih." Melody mendengus kesal. Lalu langsung berlari ke arah panggung Pensi. "Ayo bantu gua supaya bisa naik panggung." Ia telah mendapat ide untuk mengurangi korban jika saja bom itu sungguhan meledak.
Bakbukbakbuk!
Melody bersama dua belas orang pasukan pemberontak membelah segala halangan untuk sampai ke atas panggung Pensi.
"What's up-" Sang penampil menghentikan rap-nya saat melihat Melody melangkah mendekat.
NGIINGGG..
Melody seketika merampas mic dari penampil itu. Suara mendengung tiba-tiba terdengar karena pergerakan mic yang mengarah langsung ke pengeras suara. Lalu, Melody membenarkan ke arah yang seharusnya.
"Huuuu..." Melihat hal itu, penonton menyoraki dengan nada kecewa.
Cewek berpenampilan serba hitam itu mulai mengutarakan maksudnya. "Dengerin gua, di sini ada bom yang disebar sama petinggi organisasi."
Pasukan pemberontak yang masih baku hantam ringan terhenti usai mendengar Melody mulai berbicara. Mereka menyimak keberanian Melody mengungkap rencana busuk petinggi organisasi. Cewek itu terlihat garang, namun memiliki maksud baik untuk menyelamatkan semua penonton yang terlibat.
"Itu kan.. cewek yang nyanyi di pembukaan tadi." Ucap seorang penonton mengingat-ingat.
Lalu penonton lainnya menyahut. "Iya bener! Dia cewek yang bohongin kita kalau ada bom tadi."
"Ohh iya.. gua inget!"
Lalu Melody melanjutkan perkataannya. "Kalian harus bubarin diri sekarang atau-"
Alih-alih mendapat respon bagus, Melody malahan dilempari botol plastik dan juga payung dari arah penonton.
"Dasar pembohong!" Celetuk seorang penonton. "Gua nggk akan percaya lagi sama lu."
"Cewek sundal bersuara sumbang!"
"Mendingan lu turun, biar kita lanjutin lagi malem ini! Bener nggk?" Ucap seorang lagi.
"Bener! Huuu!!"
Melody menatap sekitar dengan kegetiran. "Bas, semua orang benci gua." Batin Melody. "Cuma lu, orang yang bikin gua merasa bermakna."
Kita tau, bahwa seni banyak tercipta dari ketulusan mengungkapkan sebuah emosi. Banyak lagu milik Melody yang tercipta karena kesedihannya, dan untuk pertama kalinya Ia bisa menciptakan lagu bahagia saat berada di sisi Baskara.
Maka Melody meneteskan air matanya, ketika harus dihujat oleh orang-orang yang tak pernah tau dirinya sebenarnya. Maskaranya semakin luntur karena tangisan itu, kemudian Ia menyekanya dan segera turun panggung menghampiri pasukan pemberontak yang tersisa.
"Mel, lu gapapa?" Tanya seorang anggota khawatir.
"Kawal gua, ke ruang ganti olahraga sekarang!" Titah Melody tanpa menggubris pertayaan konyol itu.
Bakbukbakbuk!
__ADS_1
Dan baku hantam terjadi lagi, dua belas pasukan pemberontak membelah kerumunan lagi hingga Melody sampai di tempat tujuannya.
Ketika sampai, Ia memandangi ransel hitam yang berisi delapan benda yang diduga sebagai bom itu.
Sreet!
Ia menutup resleting ransel itu, mengaitkan talinya ke salah satu bahu. Lalu, melangkah keluar.
Melihat hal itu, sebagian pasukan pemberontak menjaga jarak dengan Melody yang membawa benda berbahaya.
"Mau kemana lu, Mel?"
"Gua harus bawa ransel ini ke area lapang, biar nggk ada korban jiwa." Ungkapnya sambil melangkah terburu.
"Tapi, itu bisa meledak kapan aja, Mel."
Ia tak peduli. Dan lagi, Melody berlalu begitu saja menuju gerbang sekolah dalam upaya mencari area terbuka.
Seluruh pasukan pemberontak terpaku melihat keberanian Melody. Meski telah dihujat oleh banyak orang, Ia masih memiliki kebesaran hati untuk menyelamatkan mereka semua.
***
Brak!
Melody menabrak seseorang.
"Melody?" Tanya Lala tersungkur.
Nadir menyimak kebingungan.
"Lu bawa apaan, Mel?" Tanya Alvin yang sedang menggendong Wijaya di atas punggungnya.
"Jangan mendekat!" Ucap Melody memperingatkan. Kemudian, Ia berlari terbirit tak tentu arah menjauhi teman-temannya.
Mereka mengevakuasi diri dengan menyusuri tempat aman, karena perang yang mulai tak terkendali. Akan tetapi, mereka tak terkejut lagi oleh gejolak hal-hal tak terduga, karena telah melihat berbagai hal yang lebih buruk sebelum ini. Hanya saja, merasa terpaku dan hanya berusaha menerka-nerka apa yang terjadi dengan Melody.
***
"Melody mana?" Tanya Jiwo kepada seorang pasukan pemberontak.
Seorang yang ditanya itu sontak membelakan mata, sebab ditanya oleh murid paling misterius di sekolah ini. Seorang yang kuat, dan bisa membuat organisasi tidak menyentuhnya sama sekali.
"Gua tanya, di mana Melody?" Tanyanya lagi mempertegas.
Lalu seorang yang lainnya menjawab. "Dia lari ke arah gerbang. Emangnya ada apa lu nyari, Melody?"
Mendengar itu, Jiwo langsung memasang langkah maju. Akan tetapi, Ia terhenti lagi. "Kalian tau soal bom?"
Semua yang mendengar itu mengangguk berbarengan bak orang bodoh.
"Udah, dikumpulin semua?"
Mereka mengangguk lagi untuk kedua kalinya.
"Sekarang gua tanya, di mana bom-nya?"
Lalu seorang pasukan pemberontak menyahut sigap. "Dibawa Melody, bang. Di dalem ransel item."
Jiwo membawa peralatannya di dalam sebuah ransel, seperti tang potong, palu, gunting, dan masih lainnya. Sebelum ke sini, Ia terlebih dahulu mampir ke ruang gudang, sembari memikirkan cara untuk menjinakan bom itu.
Sekarang, Jiwo lari tergompoh-gompoh mengejar Melody ke arah gerbang depan selekasnya. Namun, di tengah perjalanannya, Ia bertemu dengan orang-orang di dalam Lab. Komputer tadi, yaitu Alvin, Lala, Nadir, juga Wijaya yang belum sadarkan diri.
__ADS_1
"Jiwo?" Tanya Alvin memastikan.
Jiwo malah menyela bertanya balik. "Lu liat Melody nggk?"
"Dia lari ke arah gerbang bawa ransel item, sambil bertingkah aneh." Balas Alvin merangkum apa yang dilihatnya.
"Gua harus ngejar dia sekarang." Ucap Jiwo lalu berlalu lagi meninggalkan mereka.
"Emangnya kenapa?"
"Melody bawa delapan bom di dalem tasnya." Sahut Jiwo nyaring dari kejauhan.
Mendengar itu, Lala terpaku sesaat. Kemudian mengikuti Jiwo secara spontan.
"Kamu mau kemana, La?" Tanya Alvin khawatir.
Meski Alvin sempat merasa kecewa kepada Lala. Akan tetapi, Ia masih mengkhawatirkan keamanan Lala di tengah perang ini.
"Aku mau liat keadaan Melody." Balas Lala sambil berlari.
Alvin tak mampu mengejar, karena sedang menggendong Wijaya di atas punggungnya. Maka Ia hanya berjalan pelan mengikuti jejak Lala.
Nadir tak menyangka keadaan akan menjadi seburuk ini, maka dirinya menepuk pundak Alvin. "Tenang, aku akan jagain Lala." Ucapnya. Lalu berlari menyusul.
***
Napas Melody mulai terengah-engah, Ia hampir sampai di taman sekolah. Ransel yang dibawanya cukup berat hingga membuatnya tersungkur kelelahan di atas pan blok pinggir taman.
"Mel!!" Teriakan pekik terdengar di telinganya.
Ketika menoleh, Melody menyadari itu adalah Jiwo. Jarak mereka cukup jauh, karena Jiwo masih di lobby gedung A, yaitu gedung terdekat dari arah gerbang sekolah.
"Udah cukup, Mel! Jauhin bom itu!" Titah Jiwo memperingatkan. "Biar gua yang urus."
NIT NIT NIT
Terdengar bunyi aneh dari dalam tasnya. Yang kemudian, membuat Melody mengangkat dan mendekatkan ke telinganya memastikan.
Langkah Jiwo terhenti, mereka berjarak cukup jauh. Namun seakan Jiwo mengerti hal-hal yang tak perlu dijelaskan, karena telah tergambar jelas dari tingkah laku Melody.
Lala yang tadi menyusul, berhenti di samping Jiwo. Ia menerawang berusaha menelaah situasi di depan matanya. Ia melihat raut wajah Melody sekarang.
Mendengar bunyi aneh dari tas itu, Melody tau bahwa benda ini akan merengut semua hal yang dimilikinya. Maka Melody memasang wajah getir, yang tak pernah Ia tampilkan kepada siapapun termasuk Lala.
Lala membelalakan mata menyadari situasi tidak beres, membuat Ia berlari mendekat mengikuti intuisinya.
Grep!
Jiwo meraih tangan Lala dengan paksa, menariknya kuat. Akan tetapi, Lala terus meronta-ronta ingin mendekati Melody yang sedang terpaku.
Ketika melihat Lala, Melody merasa tidak ingin melihat sahabatnya terluka, apalagi Baskara yang sekarang sedang berjuang di atas gedung D. Meski terlihat masa bodoh, sesungguhnya Ia juga tidak ingin melihat orang-orang sekitarnya terluka.
Melody telah mengkukuhkan hati untuk memikul semuanya sendiri sekarang. Ia berdiri lagi sebisanya, lalu berusaha menjauhi Lala dan Jiwo seraya memeluk bom yang tak lama akan meledak itu.
Srep!
Jiwo sesungguhnya merasa bersalah dengan memberikan tugas berbahaya itu kepada Melody. Tapi, Jiwo juga mengerti maksud Melody, dengan menjauh seperti itu. Maka Ia menarik Lala sekali sentakan, lalu memeluk Lala seraya menjatuhkan diri ke arah berlawanan, berupaya melindungi Lala dengan memasang badan.
Dan benar saja, semua hal terburuk terjadi juga.
DHUAAAARRR!!
__ADS_1
Pada akhirnya, Melody mati untuk memberikan hidup bagi orang-orang yang Ia sayangi. Hatinya suci seputih salju di tengah padang gurun, yang sangat mustahil bisa terjadi.