
Jakarta merupakan kota yang tak pernah mati. Tidak pernah berhenti, bahkan di larut malam. Berbagai macam hal sedang bergerak untuk mencapai sesuatu. Berberapa orang berkeliling untuk mencari identitas, waktu yang tepat untuk merasakan sekitar. Segala sesuatu berubah dengan cepat, bahkan jawaban datang ketika sedang diam.
BLAMM!
Rengga memberikan pukulan dari arah bawah, tepat di perut Jiwo sekuat tenaga. Tapi tidak berdampak apapun, Jiwo masih berdiri tegap. Maka membuat Rengga meragukan kepalan tangannya itu, lalu meloncat mundur. Ia sempat berpikir apa yang salah dengan tinjunya?
"Lu cuma anak cengeng yang dipungut sama gangster, biar gua ajarin gimana gaya bertarung jalanan." Badan Jiwo nampak keras dipenuhi otot. Sebagai orang yang hidup di jalanan, itu bekal wajar yang patut dimilikinya untuk hidup.
Rengga menarik napas menenangkan diri, enggan menggubris hal yang dapat memancing emosinya. Karena jika itu terjadi, Ia sudah benar-benar kalah sebelum bertarung.
"Lu harusnya udah mati dari dulu, Reng."
Sementara itu, Rengga maju lagi memberikan pukulan cepat berkali-kali kemanapun Ia bisa, ke wajah, perut, dan rusuk.
Bakbukbakbukk!
Alih-alih membalas, Jiwo diam mengambil celah, meraih kerah Rengga.
BRAKK!!
Rengga terbanting ke belakang setelah dicengkeram oleh kedua tangan Jiwo. Pukulan pertama Jiwo masih terasa diperutnya, dan kini ditambah lagi punggungnya beradu langsung dengan lantai keramik.
BLAMM!!
Tak diberi waktu merenung, Jiwo langsung memberi sebongkah bogem tepat di wajah Rengga.
Sett
Dengan intuisinya, Rengga berhasil bergulir ke samping sebelum tangan musuhnya tiba. Ia sempat kaget melihat keramik putih itu retak tipis oleh bogem Jiwo. Melihat dampak pukulan itu, Ia berpikir jika terkena sekali lagi mungkin tak ada lagi kesempatan untuk menang.
Srepp
Rengga dengan cepat terbangun seraya meraih kursi lipat besi yang banyak berserakan di luar kelas. Menghantamkannya ke bahu Jiwo yang badannya masih tertunduk setelah meninju tadi.
BREK! BRAKK!
Hantaman kedua tepat mengenai leher Jiwo membuat cowok kebal itu terpelanting ke belakang terbujur lemas.
Srekk Crang
Lalu, Rengga membuang kursi lipat itu bergegas menghampiri Jiwo, berniat memberikan kerusakan sebanyak yang Ia bisa.
Tetapi itu hanya angan saja, nyatanya Jiwo masih terbangun menggelengkan sedikit kepalanya karena hantaman tadi.
Rengga menyesal membuang kursi itu, karena kini, Jiwo justru gantian menghampirinya. Sebelum musuhnya menyerang, Ia berniat menyerang lebih dulu. Rengga memberikan tendangan memotong ke arah pinggang Jiwo.
Grep!
Malahan Jiwo menangkapnya dengan mudah, dan menarik kaki musuhnya yang sedang tak seimbang itu. Lalu, Melemparkannya jauh hingga menabrak tembok kelas.
BRAKK!
Terjatuh sebuah benda saat Rengga terhentak, namun tidak ada yang menyadarinya. Itu merupakan gelang bermotif semanggi berhelai empat daun dengan ikatan tali perak. Mengkilau sesaat, memantulkan cahaya lampu, lalu redup menjadi saksi buta, antara dua cowok superior yang saling mengukur harga diri.
Sebuah benda misterius yang jatuh dari saku seorang cowok perundung.
"Begitu cara berantem jalanan." Ucap Jiwo berbangga diri.
Kini punggung Rengga terasa benar-benar hancur setelah terus beradu. Selagi terduduk, Ia mencoba tetap bangun mendengar langkah kaki musuhnya yang kian mendekat. Ia menyadari sudah lama sekali tidak berkelahi seserius ini.
Setelah berdiri penuh, tak ingin terus mengunggu. Rengga meloncat mengadu lututnya dengan wajah Jiwo dari depan. Jika waktu melambat, maka terlihat darah yang muncrat dari hidung Jiwo menghiasi udara.
__ADS_1
BLAM! Cratt
Rengga tau daya tahan tubuhnya kalah jauh dari lawannya. Maka Ia mensiasati untuk menyerang lebih dulu terus menerus, meski banyak yang gagal, daripada harus terjebak dalam permainan yang lawannya lakukan.
Tes.. tes.. tes..
Jiwo menyeka darah dari hidungnya, kesadarannya juga keseimbangannya menurun sekarang.
PLARR CTAK!
Jiwo juga belum sempat merenung, ujung sapu kayu dihantamkan langsung ke lehernya hingga patah.
CLANG
Rengga membuang sapu kayu itu. Lalu, memberikan pukulan berkali-kali selagi lawannya lengah.
Bakbukbakbuk!
Untuk yang terakhir, Ia memasukan tinju lewat sisi bawah, mengincar dagu Jiwo dengan tangkas, mungkin akan menjadi pukulan paling sempurna miliknya malam ini.
BLAMM!
Setelah sempat sedikit melayang di udara, Jiwo yang telah kehilangan keseimbangan tumbang lagi merebah ke belakang.
BRAK!
"Gua keinget sewaktu Saga secara langsung ngajak lu gabung ke organisasi.. Kalian berduel sama-sama pake tangan kosong beradu bogem." Ucap Rengga memulai. "Di tahun pertama lu masuk udah bisa kalahin ketua organisasi." Kini Rengga bertepuk tangan mengapresiasi.
Prok-prok-prok-prok!
"Kekalahan memalukan yang nggk banyak orang liat, karena Saga bertarung nggk pake ini." Imbuh Rengga seraya menunjuk pelipisnya. "Gua liatin cara mukul lu saat itu, gua langsung sadar kita berasal dari tempat yang sama. Kalo gua jadi Saga, gua nggk mau duel pake syarat yang lu kasih. Dan, sekarang liat. Gua bisa ngalahin lu pake cara gua kan."
Uhuuk.. uhuk..
"Begini cara berantem jalanan." Ucap Rengga sesumbar. Ia terduduk di perut Jiwo, berupaya menyikut leher musuhnya berkali-kali.
BLAM BLAM BLAMM
Alih-alih terkalahkan, dengan posisi seperti itu, Jiwo meraih leher Rengga dengan cengkeraman erat. Satu-satunya celah yang Ia temukan, Jiwo mencekik dengan satu tangannya.
Grep!
Rengga memberontak dengan memukul-mukuli tangan Jiwo seadanya. Tetapi tidak menumbangkan lengan kekar itu.
"Lu bilang berantem jalanan kan?" Sahut Jiwo tak mau kalah. "Biar gua tunjukin juga cara gua."
Napas Rengga mulai tercekat, membuatnya menjatuhkan diri ke samping. Kini, Jiwo yang memegang kendali.
Dengan lututnya, Jiwo menekan dada cowok sombong itu, dengan memanfaatkan berat tubuhnya. Rengga terus mengoyak sebuah tangan yang bisa membuatnya mati sebentar lagi, memukulinya dengan semua tenaga yang tersisa. Sedangkan, Jiwo mengangkat senyum memaksa, berlagak seperti malaikat maut.
"Kalo boleh, gua pengen liat lu sekali lagi, Najwa.." Lirih Rengga dalam hati. Sekilas terputar, kenangan terindah saat bersama pujaan hatinya itu. Hari terbahagia dalam hidup Rengga.
Ia berada di ambang kesadaran, karena otaknya tak mendapat suplai darah, juga oksigen. Badannya kian melemas tetapi belum mengejang.
Srep CRAT!
Raut wajah Jiwo seketika berubah menjadi gusar. Menyadari kehadiran seseorang yang mencampuri duel-nya. Sekebal apapun tubuh Jiwo terhadap benda tumpul, tetap tak bisa dipungkiri bahwa masih bisa tertembus dengan benda tajam. Kemudian, membuatnya menoleh ke belakang dengan berhati-hati.
Mendapati Keni menyeringai, setelah menyelinap dengan menusukan pisau belati ke tubuh Jiwo. Tangannya gemetar, napasnya terengah merasa wagu setelah melakukan tusukan itu. Tak lain, karena Jiwo merupakan orang yang tidak bisa ditaklukan organisasi sejauh ini. Keni berpikir Jiwo bisa saja melakukan hal tak terduga setelah ditusuk seperti itu.
Cekikan Jiwo mengendur, Ia terfokus membendung pendarahan pada perut kirinya. Karena Ia berniat bertahan lebih lama malam ini. Maka dirinya melangkah mundur mengambil posisi berdiri, namun tubuhnya juga di ujung batas. Maka Ia bersandar, lalu terduduk di tembok kelas terdekat. Menyisakan noda darah kental di tembok belakangnya.
__ADS_1
Rengga menarik napas panjang setelah paru-parunya benar-benar kosong oksigen karena cekikan itu. Butiran keringat muncul karena kepanikan. Sempat terbatuk beberapa kali, kemudian mencoba menelaah situasi di hadapannya.
"Gua dateng tepat waktu kan, Bos?" Tanya Keni menanti pujian.
Jika waktu ditarik mundur, setelah kalah dari Alvin, Keni berjalan tertatih ke lantai atas. Sebelum itu, Ia memungut pisau belati miliknya yang dibuang oleh Alvin. Lalu mendapati Bosnya terpojok di situasi genting, maka Ia memutuskan untuk membantu dengan harapan mendapat tanggapan baik dari wakil ketua organisasi sekaligus bosnya itu.
Setelah cukup tenaga untuk bangun, meski punggungnya telah hancur lebur Rengga berupaya melangkah mendekati Keni. Telapak tangannya terbuka meminta pisau itu.
Keni menyeringai lagi, berpikir bahwa Ia telah benar-benar menolong bosnya dan Rengga telah berniat menghabisi Jiwo dengan pisau itu.
Melihat hal itu, Jiwo merasa khawatir tapi kini cukup sulit untuk berlari kabur. Maka Ia memilih menunggu keajaiban, dan biarlah kematian datang selagi mengadu harga diri.
Sett
Keni memberikan pisau miliknya satu-satunya, kepada seorang yang sangat Ia hormati.
Setelah itu Rengga memeluk sahabatnya itu erat-erat, karena jika Keni tidak datang, mungkin Ia tidak akan bisa lolos dari situasi itu. Membuat Keni menangis haru, merasa berharga bisa mendapat pelukan dari orang yang sangat Ia hormati.
JRREB CRATT CRETT CRET!
Sekarang raut muka Keni meredup, seolah kecewa dan tak percaya dengan apa yang terjadi. Darah menetes lewat kakinya, mewarnai lantai keramik yang putih menjadi merah pekat.
"Jangan gangguin gua, Bangsat!" Bisiknya kepada Keni. "Harga diri gua lagi dipertaruhin sekarang.. Meskipun gua hidup, tapi gua merasa kalah. Dan, itu lebih nyiksa daripada gua mati. Karena sekarang, menang atau kalah lebih penting bagi gua."
Pandangan Keni kosong. Badannya melemas karena kehilangan banyak darah. Mati dalam pelukan sahabat tak begitu buruk pikirnya. Sayatan juga tusukan di punggungnya biarlah menjadi tato yang memiliki arti filosofis baginya. Tetapi Ia tersadar lagi, Ia tidak akan bisa memamerkan tato itu kepada siapapun. Karena kini Ia mulai berhalusinasi, melihat puluhan makaikat berada di sekitarnya sekarang. Keni Masih sempat meringis menertawakan dunia, yang selalu punya kejutan di setiap waktu hidupnya.
Mata Jiwo mendelik, melihat seorang penyelamat musuhnya yang dicincang tanpa ampun. Membuatnya termangu hingga menelan ludah.
Srekk BRUK
Keni tersungkur lemas, Rengga mengambil selangkah mundur. Membuat Keni tertelungkup dengan darah merah yang membanjiri bawahnya. Keberuntungan cowok menyebalkan itu berakhir sampai di sini.
"Udah gila! lu bunuh temen sendiri, Reng!" Seru Jiwo tak percaya. "Lu lebih hina daripada anjing jalanan tau ga.." Matanya melihat dengan jijik. "Selama gua hidup di jalan, nggk pernah gua ketemu orang kaya lu. Hati lu udah bener-bener mati ya?"
Clang!
Mendengar perkataan itu Rengga menjatuhkan pisaunya. Seolah terlambat menyadari sesuatu. Melewatkan hal yang tidak bisa Ia kembalikan lagi. Sampai sebuah isakan terdengar dari hidung Rengga.
Jiwo menyimak tak mengerti.
"Ken, maafin gua.. kenapa gua bisa ngelakuin hal bodoh kaya gini?" Ucap Rengga menangisi kematian sahabatnya. "Gua nggk punya siapa-siapa lagi. Dan lu sekarang udah pergi.."
Jiwo menautkan alis. Mengamati perubahan sikap Rengga yang tak wajar. Seperti yang kita tau, psikis Rengga memang terganggu, ketidakstabilan itu mengakibatkan guncangan dan mempengaruhinya dalam pengambilan keputusan.
Rengga menangis tersedu-sedu. Mungkin juga, sebuah tangisan yang tidak pernah dilihat oleh siapapun. Keni merupakan orang terdekat yang paling memahaminya. Serangan panik yang menghampirinya hingga membuatnya membunuh sahabatnya sendiri dengan tangannya.
Sebuah ironi, untuk dunia yang selalu berjalan acak di luar kendali penikmatnya.
Sementara itu, Jiwo sejak tadi telah mengikat perutnya dengan sobekan kain kemejanya untuk membendung pendarahan.
Rengga masih tertunduk setengah berdiri di depan jasad sahabatnya merenung tak berdaya.
BLAM BRUKK
Tendangan kuat menghantam tepat di kepala Rengga membuatnya jatuh ke samping tak sadarkan diri. Wajah Rengga dan Keni beririsan sesat mereka merebah di tempat yang sama meski Keni tertelungkup dan Rengga terlentang.
Jiwo mengambil kesempatan itu untuk melumpuhkan lawannya. "Maaf..,Reng. tapi, Gua harus urus masalah yang lu bikin sekarang."
Setelah cukup mengumpulkan sisa tenaganya lagi, Jiwo berlalu pergi entah kemana. Mengurangi kerusakan yang telah terjadi malam ini.
Mereka bilang, ketika bencana nuklir menghancurkan dunia, hanya kecoa yang akan selamat.
__ADS_1
Dan, ternyata mereka salah.
***