
Suara gemercik air terdengar dari kedua telinga mereka. Saga dan Baskara, telah siap untuk menuntaskan semua konflik di antara mereka sekarang. Dengan kondisi hujan, membuat suasana menjadi semakin kelabu.
Hujan adalah pengingat. Semua momen krusial yang terjadi di bawah hujan, akan terpatri selamanya dalam ingatan. Ketika hujan turun lagi setelah hari ini, mereka berdua akan ingat, sekeras apa upaya yang dilakukan untuk memenangkan malam ini.
"Gua harap lu nggk nyesel, karena udah bikin gua harus ngelawan lu, Bas." Tutur Saga.
ZHRAASH
Baskara berdiri tegap tanpa payung. Maka sekarang, air hujan merembas deras padanya. "Kita udah menunda terlalu lama, mendingan kita mulai. Sebelum hujan semakin deras."
Sedangkan, Saga yang masih berpayung memberi tanda dari telapak tangannya pada Baskara untuk segera maju.
Tak menunggu lama, Baskara bergerak dengan tangkas memberikan serangan pertamanya.
BLAM! SREEK!
Tendangan keras dari Baskara berhasil diblokir spontan oleh Saga menggunakan lengannya kirinya yang terdapat luka bakar bersejarah itu. Namun, Ia harus menerima kuatnya momentum dari tendangan itu, sehingga terpental sedikit ke arah samping.
Saga merasa takjub pada Baskara. Lagi-lagi, Ia melihat aura Jiwo pada tubuh Baskara. Karena kuatnya momentum tendangan itu, mengingatkannya juga pada kuatnya pukulan yang diberikan Jiwo pada duelnya setahun lalu.
Di kala badannya makin kuyup, Baskara masih diam menanti balasan dari Saga.
Saga memicingkan mata, dan napasnya mulai terasa cepat. Kini, Ia juga melemparkan payungnya, mengikuti Baskara untuk hanyut dalam badai hujan malam ini.
'Dengan nunjukin tendangan itu.. Maksud lu, Gua harus menilai lu setara sama Jiwo gitu?' Ucap Saga membatin. Lalu terbesit lagi, bayangan Jiwo yang sedang meringis setelah melancarkan pukulan pertamanya saat duel, kala itu. Membuat Saga tak ingin berlama-lama lagi membeku dalam diam.
BHLARRRR
Melihat Saga ingin membalas, maka Baskara terkesiap untuk apapun yang terjadi.
Set!
Saga memberikan ayunan pukulan dari samping, lalu dengan mudahnya, Baskara mengelak dengan menundukan kepala dicampur badannya yang agak membungkuk.
Baskara terperanjat, alih-alih ingin melancarkan serangan balasan. Dirinya malah mendapati tinju Saga yang terayun dari arah bawah, tepat menuju perutnya.
BLAM!
Tinju Saga terlambat ditangkis oleh Baskara yang salah membaca situasi. Sontak tinju itu membuat Baskara terseret mundur beberapa sentimeter.
ZHRAASH
Berbarengan dengan datangnya kilat, Saga memberikan ayunan kakinya yang membelah dari atas, kepada Baskara yang sedang tertunduk.
Grep!
Tetapi, dengan kukuh, Baskara berhasil membendung tendangan itu, sebelum mengenai tengkuknya.
Terlintas lagi dibenak Saga, kekesalan hatinya masih sangat terasa, ketika harus terus kalah dengan murid di bawah kelasnya.
Pada mulanya, Saga sungguh yakin bisa memenangkan duel melawan Jiwo. Tetapi malah terjebak dalam permainan yang Jiwo buat. Dan kini, bocah di bawah kelasnya dengan congkak menantang, seolah menandangnya sebagai ketua yang lemah.
Saga mengacungkan jemarinya lagi, memberi ruang bagi Baskara untuk menyerang lebih dulu. Saga merupakan tipe petarung yang lebih suka diserang daripada menyerang. Karena, Ia kalah telak, saat terakhir kali menyerang lebih dulu.
"Cih." Baskara merasa berang tiap melihat tingkah Saga, karena seakan memalingkan mata dari kesalahan yang di perbuat oleh temannya, Rengga. Membuat Baskara menyadari, sesungguhnya Saga juga sama saja.
__ADS_1
Dengan secepat kilat, Baskara memberikan berbagai macam pukulan. Bukan dengan sebuah teknik, melainkan hanya pukulan serampangan yang disertai sebuah amarah, bahkan tanpa berusaha mengendalikan irama napasnya yang tangguh itu.
Tak seperti Baskara yang dinaungi amarah, Saga berusaha sadar dan menghalau semua serangan Baskara secara perlahan namun pasti. Dengan begitu, Ia bisa mengamati pola pergerakan lawannya untuk mengatasi serangan-serangan yang datang selanjutnya. Melucuti cowok berkemampuan iblis itu satu per satu.
Untuk yang terakhir, Baskara yang berada di posisi setengah berdiri memilih memutar badan seraya 'menyapukan' kakinya kepada Saga. Mengakibatkan timbulnya percikan air setengah lingkaran dari genangan air di bawahnya.
Sementara itu, Saga dengan tangkas meloncat spontan hingga melayang di udara sesaat. Dengan intuisinya, Ia memilih menyerang balik, dengan melemparkan ayunan tinju dibantu dengan berat tubuhnya, menerjang Baskara.
BHUAKKKKK
Tangan Baskara yang bebas, tak sempat menangkis pukulan Saga yang terlanjur menghantamnya begitu saja. Mengakibatkannya terkapar dengan posisi terlentang.
"Ketika lawan Pras, lu keliatan hebat." Ujar Saga. "Tapi sekarang, lu cuma bocah yang nyerang gua asal-asalan."
ZHRAASH
Butiran hujan masih jatuh di antara mereka secara berbarengan, yang tak lupa juga memunculkan kilat yang sesekali menyambar di setiap sudut mata angin.
"Lu bisa diem, dan fokus selesain ini nggk?" Sambar Baskara ketus.
Saga terkekeh. "Kayanya tenaga lu udah habis. Setelah ngalahin Rengga." Imbuh Saga melantur.
Baskara menyapukan tangannya yang kotor, sambil berusaha berdiri. "Gua nggk pernah ngalahin Rengga." Tegasnya. "Cowok berbadan besar, namanya Jiwo. Dia yang ngasih jalan gua buat sampe sini."
Saga tertegun mendengar itu. Jiwo yang tak sanggup Ia taklukan, memberikan bantuan pada bocah polos yang tak pernah melihat neraka dunia. Ia melihat Baskara seperti dirinya dahulu. Ketika ambisi mengalir deras dalam diri manusia, entah mengapa keberuntungan dahsyat juga menyertai di sekitarnya.
Saga mengerti lagi, bahwa separuh petinggi organisasinya pastilah telah tumbang. Ia juga merasa ragu, apakah Rengga bisa menang melawan Jiwo yang memiliki zirah tak kasat mata itu.
Semakin di puncak, Saga mengerti dirinya haruslah semakin banyak berpikir untuk mempertahankan posisinya. Hanya saja, sekarang Ia harus berusaha menumbangkan Baskara dengan pengalaman bertarungnya. Tentu saja harus berpura dengan wajah tenang, yang tak menunjukan keraguan sedikit pun.
Tiba-tiba, Baskara menerjang diawali dengan sebuah tendangan yang berhasil dibendung Saga, lalu dilanjutkan dengan pukulan keras bertubi-tubi.
Bakbukbakbuk!
Namun dengan tangkas, Saga mengolah setiap pukulan yang diberikan Baskara untuk membalas sesekali waktu. Meski tinju dan sikutan itu, amat sangatlah kuat dan menyakitkan jika dirasakan. Namun Ia memilih untuk bertahan.
Dengan begitu, Baskara menganggap bahwa Saga-lah yang mendominasi pertarungan ini. Napasnya yang tangguh itu, terus terkuras habis karena hampir setiap pukulannya mampu dihindari Saga. Maka, kenyataan itu membuatnya makin terbakar amarah.
Pengalaman dan jam terbang, mampu membuat Saga tetap tenang menjalankan sandiwaranya. Meski hatinya terus merasa ketar-ketir terhadap iblis hidup yang ada di depan matanya. Selama Ia mampu membuat Baskara frustasi, maka kemenangan akan diraih cepat atau lambat.
Tak seperti saat di jalan buntu, Baskara secara sadar mengimbangi Pras. Meski, terlihat juga agak menahan diri. Lagipula, tak pernah benar-benar diketahui masa lalu apa yang telah dilewati Baskara hingga mendapat kekuatan iblis seperti itu. Tapi, semua kembali lagi kepada Baskara. Apakah Ia benar-benar mampu menguasai iblis itu? Atau, iblis itu lah yang mengambil alih tubuhnya?
Dan lagi, Baskara terus berupaya menghajar Saga sekuat tenaga yang Ia miliki. Namun di matanya, Saga seperti meremehkan setiap pukulannya. Bahkan, usahanya untuk melakukan kuncian selalu berhasil ditepis oleh Saga. Seakan-akan, Saga bertarung tanpa menunjukan celah sedikit pun untuk ditembus.
Baskara mulai terengah-engah, karena tak mampu mengendalikan diri. Seluruh tenaganya terkuras habis, sebab bergerak maju secara serampangan.
Dan, saat ini lah yang dinantikan oleh Saga, meski harus mengorbankan tangannya yang penuh memar biru, guna menangkis semua pukulan Baskara. Kini, Saga memulai pergerakan berbeda.
Saga maju menyerang lebih dulu, dengan napasnya yang dirawat untuk bisa tetap bertahan di akhir pertarungan.
BLAM!
Tinju Saga mengenai wajah Baskara begitu saja.
BLAM BLAMM!
__ADS_1
Kedua sisi wajah Baskara telah berhasil dikenai Saga. Namun, Baskara berhasil mencengkeram pukulan terakhir Saga.
GREP!
Baskara memutar lengan Saga untuk melakukan kuncian pamungkasnya.
Akan tetapi, Saga yang masih bugar mampu berpikir lebih cermat dibanding Baskara. Saga memeluk Baskara untuk menghilangkan jarak antara mereka, sekaligus mengagalkan upaya kunciannya.
BLAM BLAM BLAMM!
Lutut Saga terus menghantam perut Baskara ketika sedekat itu. Membuat tubuh Baskara terasa lemas karena dihantam keras di bagian rawan berkali-kali.
BLAM! Bakbukbakbuk!
Saga memberikan sikutan ke wajah Baskara, Lalu mengayunkan pukulannya dari berbagai sisi yang terlanjur tak sempat diblokir oleh Baskara.
BHUAAAAKK! SREEKK!
Untuk yang terakhir, Saga memiringkan badan lalu memberikan tendangan lurus mendorong ke arah depan.
Baskara yang lengah mendadak terpelanting ke belakang, juga sempat terguling beberapa kali di antara genangan air hujan, hingga akhirnya terhenti di tembok pembatas tepian atap.
Dap dap dap
"Duel udah berakhir, Bas. Lu kalah karena nggk bisa nahan amarah, dan bikin kacau semuanya." Ucap Saga memulai. "Gua bisa liat dari tatapan lu, setiap ngincer bagian tubuh gua. Makanya gua manfaatin itu, buat nyiapin serangan kejutan di akhir."
Setiap organ bergantung pada jantung untuk berfungsi. Otak tak bisa berfungsi tanpa jantung yang berdetak. Begitu juga tanpa oksigen, otak menjadi sulit berpikir. Itulah alasan, mengapa napas terengah, bisa membuat orang tak mampu berpikir jernih.
"Lu nggk belajar dari cerita gua, Bas." Ucap Saga melanjutkan. "Lu jadi sombong setelah dibantuin Jiwo."
Napas Baskara tercekat, kerena tubuhnya diserang habis secara tiba-tiba.
ZHRAASH
Dap dap dap
"Gua mulai muak sama ini semua." Saga melangkah mendekat. "Lu pikir bisa ngalahin gua.. pake serangan lu yang asal-asalan itu?"
Sedangkan, Baskara menatap sinis kepada Saga. Ia memegangi perutnya yang masih terasa sakit akibat dihantam lutut musuhnya berkali-kali.
BHLARRRR
Saga merogoh sakunya. Mengeluarkan benda sepanjang lima belas sentimeter yang masih terbungkus kain.
Set!
Ketika dikupas, maka mulai terlihat, itu merupakan pisau belati seperti milik petinggi organisasi lainnya, kini mulai ditodongkan kepada Baskara yang tak mampu untuk bertarung lagi.
"Gua nggk nyangka harus berbuat sejauh ini." Mata Saga memelotot penuh intimidasi. "Biar gua ajarin caranya balas dendam, untuk menuhin ambisi lu yang lagi mengalir deras itu."
Ketika melihat pisau itu, Baskara merasa gemetaran. Karena jika benda itu sampai menghunus tubuhnya, semua akan sia-sia.
"Panggung malam ini udah berakhir.. tapi, lu tetep nggk mau tunduk 'kan, Bas?."
Saga kian mendekat, siap mencabik tubuh Baskara yang tak mungkin menghindar lagi.
__ADS_1
***