Baskara : Liberation

Baskara : Liberation
Chapter 15; Ambisi.


__ADS_3

"Reng, saran gua lu jangan cari gara-gara terus dah." Himbau Saga. "Gua tau semua yang lu lakuin bareng Keni."


"Lu tau apa bangsat!"


"Lu pelakunya kan."


Hening.


"Lu yang ngebunuh murid sekolah kita." Lanjutnya. "Demi kesenangan lu pribadi yang nggk masuk akal itu."


"Gua nggk bunuh bocah itu, Ga." Sanggah Rengga membela diri. "Salah dia yang nggk kuat gua 'bully'."


"Terus gimana lu bisa lolos penyelidikan polisi?"


Rengga menggaruk kepala bingung mencari alasan. "Udahlah lu ga perlu tau."


"Gua tanya gimana?"


Rengga tak menjawab.


"Gua tanya gimana?" Kini Saga bertanya dengan sedikit penekanan.


"Gua suap!" Jawabnya lantang. "Puas lu?"


"Hah?"


"Gua suap polisi penyelidik, pake uang hasil pajak. Makanya gua sempet kehabisan bulan kemarin."


"Tolol! Udah gila lu, Reng! Kita bisa dipenjara kalo ketauan anjir!"


Rengga menarik kerah Saga. Mungkin hanya dia yang berani melakukan itu. Matanya bulat menatap Saga tajam. "Lu ga inget bisa dapet posisi ini karena siapa?"


Saga terpaku.


"Lu ga inget siapa bantuin lu bales dendam ke Murai Merah!?"


Mata Rengga sungguh tak berkedip menjelaskan itu.


"Mending sekarang lu diem. Kita jaga tahta ini selagi diatas."


Maka Rengga menghempas cengkramannya lalu pergi berpaling.


"Mulai sekarang gua awasin semua yang lu lakuin." Kata Saga.


Rengga menoleh sejenak lalu kembali menjauh.


***


Sekarang.


"Gua udah awasin pergerakan kalian. Juga udah ngerti situasi yang terjadi." Jelas Saga.


Keni yang melihat kehadiran Ketua Organisasi lantas terbirit ke belakangnya mencari perlindungan seraya mengolok dengan sumpah serapah.


"Sekarang arah angin udah berubah. Lu berdua bakal mati malam ini." Ujar Keni mengancam.


Baskara dan Alvin masih tercengang akibat perubahan situasi.


"Gua dateng kesini bukan buat belain lu!" Ucap Saga memperjelas.


"Hah?" (Keni)


"Pras, lu ketua tim pengamanan ngapain rencanain penyergapan ini?"


"Gini Bos, bocah ini ancaman buat keamanan sekolah kita, juga organisasi." Jelas Pras. "Dia orang yang bikin Alex bonyok, Bos." Tambahnya lagi meyakinkan.


"Emang Alex kenapa? Gua nggk dapet kabar."


Pras menepuk kening kelupaan, jika dia berniat mengurus ini semua sendiri tanpa sepengetahuan Saga.


"Udahlah kita bahas nanti. Kalian bubarin diri dan lupain semua ini. Jangan sampe murid lain tau."


Mendengar perintah itu maka Pras, juga Keni mengikuti langkah Saga menjauh kembali ke Markas.

__ADS_1


"Ohh.. jadi lu ketua organisasi?" Tanya Baskara setelah berpapasan dengan Saga yang telah melewatinya.


"Anggota lu ada yang ngebunuh teman gua, Kevin. Dia tewas sekitar dua bulan lalu." Lanjutnya lagi.


Perkataan Baskara menghentikan langkah mereka bertiga. Keni merengus kesal mendengar Baskara membahas itu.


"Juga merundung seorang murid cewek." Tambah Alvin. "Namanya, Lala. Melucuti bajunya di siang hari, Bareng orang disamping lu itu, Keni."


Mata Saga menatap Keni sejenak. Saga mengetahui beberapa hal yang dilakukan Rengga sejak mengawasinya, tapi tidak semuanya.


"Gua nggk nyangka Rengga masih bisa bebas berkeliaran setelah melakukan itu semua." Timpal Baskara memancing.


"Lu tau apa bangsat!?" (Keni)


Pras yang tidak mengerti hanya menyimak percakapan yang terjadi. Ia agak kecewa jika itu yang sebenarnya terjadi, pasalnya Pras pernah diberi tugas oleh ketua untuk mencari tau benang merah antara pembunuhan itu dan Murai Merah. Sebagai ketua tim pengamanan merasa tidak berguna, karena tidak mengetahui masalah sebesar ini.


"Kalo lu nyentuh Rengga. Gua nggk akan tinggal diam." Gertak Saga membela sahabatnya.


Pras termangu tak percaya. Mengapa ketua berniat melindungi Rengga soal pembunuhan itu?


"Petinggi organisasi dan semua anggotanya bakal bergerak kalo lu lakuin itu. Selama organisasi ini ada lu ga bakal bisa sentuh, Rengga." Tambahnya lagi.


Keni menarik napas lega merasa dibela.


"Gua akan lapor semua ini ke polisi." Tegas Alvin.


"Selama ada uang pajak organisasi semua bisa kami beresin. Kalian nggk bisa apa-apa." Sahut Keni keceplosan, lalu kelabakan menutup mulutnya.


Baskara mengerti lewat perkataan Keni. Jika organisasilah yang telah menyuap oknum polisi untuk menutup kasus itu.


"Kalo gitu, Gua akan bubarin Organisasi! Gua akan rebut posisi nomer satu di Elang Emas!"


Semua mata menoleh tak percaya dengan perkataan Baskara barusan. Seorang murid kelas satu malah melantur ingin menantang ketua organisasi yang sudah jelas terbukti kekuatannya.


Keni terkekeh. "Ngelawak ini bocah!"


Mata Baskara tidak berpaling. Ia mengatakan itu sungguh-sungguh, Saga pun mengerti akan hal itu.


Sejenak Pras berbisik sesuatu ke Saga matanya seraya mengarah ke arah Baskara.


"Lu pengen posisi nomer satu Elang Emas?"


Hening.


"Ambilah." Ujar Saga.


Keni menoleh keheranan.


"Gua tunggu lu dirooftop gedung D. Dimalam acara pentas seni bulan depan." Saga mengetes keseriusan Baskara. "Itu juga kalo lu sampe atas."


Baskara terkekeh. "Gua akan ambil semua kekuasaan yang dimilikin organisasi!"


Perkataan Baskara menggelegar disetiap hati orang yang mendengarnya. Seorang yang dijuluki Iblis mulai berambisi ingin menguasai sekolah.


"Satu lagi." Tambah Baskara. "Jangan sentuh semua temen gua sampai Pensi nanti."


Prok-prok-prok-prok!


Kini Saga yang terkekeh. "Gua salut lu udah ngancem gua dua kali. Lu beruntung perasaan gua lagi bagus malem ini."


Setelah itu pergi berlalu diikuti Pras dan Keni dibelakangnya.


Seraya berjalan Keni menoleh ke belakang mengacungkan jari tengah meremehkan.


Disisi lain, Hansel yang diberi tugas mengintai memperhatikan semua percakapan yang terjadi dijalan buntu itu. Lewat sela lubang tembok inderanya bermain, memata-matai memang itu keahliannya, seraya menjaga Saga jika terjadi sesuatu Ia akan menjadi pelindung bagi Ketua Organisasi.


Bulan depan dipertengahan tahun ajaran sekaligus perpindahan semester satu menuju dua. Biasanya, diadakan sebuah pentas seni yang sering dilakukan untuk mengisi waktu sebelum libur, sekaligus menyalurkan bakat seni yang dimiliki murid Elang Emas. Mereka sering menyebut acara itu dengan lebih mudah yaitu, Pensi.


***


Setelah beberapa waktu mereka telah berhasil mengalahkan semua pengejar itu. Tangan Melody yang digunakan memukul membiru, juga Wijaya yang terlihat berantakan.


Pintu Kereta terbuka ke sisi kanan dan kiri. Melody dan Wijaya sudah bersiap didepan pintu itu sejak tadi. Mereka keluar dengan wajah kelelahan.

__ADS_1


[Stasiun Tebet.]


Tak seutas kata pun terucap. Hanya perasaan lelah karena perkelahian terjadi setelah berlarian disepanjang gerbong yang menguras banyak energi. Mereka melewati riuh toko dan kios yang berjejer dipinggir stasiun, hingga sampai diluar stasiun untuk berpisah menuju kosan masing-masing.


[Halte Integrasi Tebet Pintu Timur.]


Tulisan itu terpampang jelas ditembok pinggir pintu keluar Stasiun Tebet.


Samar-samar terlihat motor Binter Merzy melewati depan mereka.


"Bas!" Seru Wijaya.


Dengan agak kelewat motor itu berhenti diikuti motor serupa dibelakangnya.


"Kalian dari mana?" Tanya Baskara keheranan.


Alvin membuka helmnya.


Mereka saling memperhatikan satu sama lain menerka-nerka sesuatu apa yang telah terjadi.


Motor Alvin terlihat tidak baik. Juga lengan mereka yang terdapat banyak noda darah. Begitu pun Wijaya dan Melody.


"Apa yang terjadi?"


***


Gertakan bunyi keyboard memenuhi kamar Lala yang tenang. Matanya terus memperhatikan monitor dengan banyak foto yang bergulir memeriksa detilnya.


Terlihat hape milik Keni dicolokan dengan kabel USB menuju CPU. Lala masih tidak percaya setelah seharian memeriksa hape Keni Ia tidak menemukan foto yang Ia cari. Lala masih terdiam penasaran.


BRAK!


Lala menggebrak keyboard. Mengusap keningnya dengan kedua tangan. Jika Ia tidak mememukannya mungkin saja memang fotonya sudah dihapus, pikirnya.


Mengingat Keni menyimpan semua foto dan video perundungan di satu folder jika saja Keni masih menyimpan foto dirinya tentu saja ada diantara folder itu.


Setelah mencari ke setiap sudut data dihape Keni, Lala berasumsi Keni telah menghapusnya. Dengan begitu Lala bisa sedikit lega.


Terlintas beberapa hal yang mengganggunya, Ia bisa merasakan setiap hati orang yang diperlakukan sembarangan oleh Keni. Ia berpikir Keni harus mendapat karmanya lewat dirinya.


Tangannya memainkan mouse, memilah beberapa foto dan video. Lala berniat mengekspos semua yang telah Ia temukan, di 'sosmed' dengan akun anonim.


Dengan harapan, kepercayaan terhadap Organisasi menurun, dan bisa memulai penyelidikan dari semua foto dan video itu. Melemparkan dadu yang tidak diketahui jumlahnya.


ENTER!


Lala menekan tombol dengan yakin. Ia berharap semua berjalan seperti rencananya. Tak lama setelah itu hapenya berdering.


[Panggilan masuk Melody.]


"Lu dimana?"


"Kamar."


"Ada yang harus lu tau, La."


"Kenapa, Mel?"


"Gua tunggu lu dikedai Baskara yah."


"Malem-malem gini?"


"Iya." Jawab Melody lugas. "Ada Alvin juga disini."


"Okey wait." Jawabnya sigap.


Telefon berakhir.


Belum sempat mematikan komputer miliknya. Lala langsung bergegas pergi seadanya.


Lala bertanya dalam hati mengapa semua orang disana, juga Alvin. Apa berkaitan dengan Keni yang hapenya Ia ambil? Mengingatkannya pada kejadian malam itu dimana Baskara memukul mundur semua anak buah Keni.


Waktu itu Lala merasa beuntung karena diselamatkan oleh Baskara. Jika tidak, mungkin saja dia tidak akan menemukan foto dan video itu, juga mungkin semua usahanya sia-sia.

__ADS_1


Lala percaya Baskara bukan orang yang bisa disepelekan, Ia yakin Baskara bisa mengubah berat sisi timbangan menjadi lebih 'seimbang'.


***


__ADS_2