Baskara : Liberation

Baskara : Liberation
Chapter 20; Gerbang Sekolah.


__ADS_3

17.46


Cowok berambut pirang berdiri mengamati setiap murid yang masuk gerbang sekolah, bersama pasukannya Ia menyortir penonton Pensi yang telah memiliki tiket. Sedangkan itu hanya dijual oleh Panitia acara Pensi, yaitu para petinggi organisasi.


"Bos, penonton ada yang tiketnya hilang, boleh masuk nggk?" Tanya seorang anak buah.


"Jangan! Suruh balik!" Seru Pras.


Pras enggan mengambil resiko dengan memasukan penonton tanpa tiket, meski telah beli dan hilang. Masalahnya ini menyangkut eksistensi organisasi yang telah diancam oleh seorang bocah yang tidak bisa diremehkan, Basakara.


"Gua udah beli mahal-mahal, malah nggk boleh masuk, emang tai lu semua!" Calon penonton meracau, ketika tidak diperkenankan masuk karena kehilangan tiket.


Sedangkan penonton yang akan berada didalam juga bagian dari rencana organisasi untuk sesuatu yang tidak diketahui.


"Kita tutup gerbang jam berapa, Bos?" Tanya seorang anak buah lagi.


"Jam 19.00"


Semua tiket telah dimonopoli, memastikan bahwa pembelinya bukanlah salah satu dari teman Baskara ataupun pasukan pemberontak. Pras telah mengatur semuanya agar berjalan dengan lancar, Ia sangat yakin dengan semua yang telah direncanakan.


"Jangan ada yang lengah." Himbau Pras. "Kalau ada yang mencurigakan langsung lapor gua, apapun itu."


"Siap, Bos." Sahut seorang cowok berbadan besar.


"Tepat Jam 19.00 tutup gerbang. Jangan ada yang boleh masuk lagi abis itu."


"Siap, Bos!"


***


18.34


Mobil catering yang sedang berjalan memaksa supir menekan pedal rem karena seorang berbaju serba hitam tiba-tiba muncul didepannya menghalangi jalan.


TIN TINN


Srakk..


Roda berdecit beradu dengan serpihan aspal karena pengereman mendadak.


"Tolol! Udah gila lu!" Umpat supir.


Seorang bermasker dengan hoodie meraih kerah supir itu membuka pintu dari dalam menariknya keluar setelah sedikit memukulnya.


[Kernet; pembantu supir.]


Kernet disebelahnya tidak tinggal diam setelah melihat itu. Ia berniat mengeluarkan senjata tajam berbentuk seperti celurit yang disembunyikan di sela-sela dasboard mobil. Sebelum sempat menyabet..


Srett..


Leher kernet tersebut tertarik lilitan tali nilon dari sisi lain pintu yang kaca jendelanya terbuka. Napasnya tercekat, tercekek ke arah belakang, terpojok ke arah pintu tak sempat melawan hingga akhirnya mengejang, lalu pingsan karena kehabisan napas.


Seorang bermasker, berpakaian serba hitam -juga berhoodie- berdiri dibalik sisi lain pintu masih memegang kedua ujung tali nilon tadi erat-erat sembari memejamkan mata tak mau tau.


"Udah, Jay." Ujar seorang bermasker pertama tadi memberitau.


Akhirnya Wijaya melepaskan ujung talinya, melakukan hal seperti ini sungguh memacu adrenalinnya lebih dari biasanya. Ini pertama kalinya bagi mereka melakukan pelumpuhan seperti itu.


Setelah kedua pengantar catering itu dilumpuhkan. Mereka berdua merampas seragamnya dan menyuruh dua orang pasukan pemberontak untuk mengenakannya, menggantikan supir dan kernetnya.


"Keren lu, Vin. Bisa tau jalur pengantaran catering." Puji Wijaya.


"Kebetulan Event Organizer Pensi pesen makanan di hotel tempat gua kerja." Jelas Alvin berbangga diri. "Gua manfaatin ini untuk sempurnain rencana lu, kita nerobos acara Pensi dari belakang."


Plarr


Tos dilemparkan untuk keberhasilan direncana awal mereka.


Lalu, memberi aba-aba kedua pasukan pemberontak itu untuk menyetir mobil menuju sekolah.


***


19.07


Acara Pensi telah dimulai. Lampu sorot bergerak kesana kemari dari atas panggung memeriahkan pentas seni malam ini. Seseorang mulai bernyanyi dipanggungnya. Baju kemeja putih menjadi dresscode malam ini. Semua penonton yang hadir mengenakannya.


Panggung terletak ditengah sekolah dihimpit diantara semua gedung disemua sisi yaitu dilapangan berbentuk kotak.


Penonton telah riuh berjingkrakan menikmati lagu yang dinyanyikan dengan irama 'ngebeat'. Permainan drum yang baik, juga alunan Bass yang sesekali terpetik, lalu mendengung panjang.


Hanya penonton yang memiliki tiket lah yang bisa masuk. Dihadiri hampir seluruh murid kelas satu hingga kelas tiga. Di gerbang depan dijagai beberapa anggota organisasi yang dipimpin oleh Pras si 'Monster Pirang'. Ia mengenakan baju yang sama, hanya saja memiliki ikatan kain hitam dilengan kiri, juga petinggi yang lain. Tanda mereka memiliki wewenang lebih mengatur acara malam ini. Kini Ia sedang asik menghisap rokok menunggu orang yang ingin benar-benar Ia hajar, Baskara.


Disisi lain sekolah, Fara menyiapkan alat-alat pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), seperti kain kasa, perekat, alkohol, dan lainnya. Ia menatanya disalah satu ruangan yang disediakan, agar Pensi berjalan dengan baik jika terjadi sesuatu. Yang tentu saja tujuan utamanya adalah merawat anggota organisasi yang terluka akibat perang malam nanti. Mengenakan tanda yang sama dilengannya.


Disudut lainnya.


"Lu naik aja keatap." Ujar Rengga.


"Jangan remehin bocah itu, Reng. Pras bilang dia manusia yang punya kemampuan Iblis." Kata Saga menghimbau. "Pras udah susah payah ngehajar dia, tapi belum tumbang juga."


"Gausah remehin gua. Kita udah pernah selamat dari 'neraka' kan, Ga?"

__ADS_1


"Kemampuan kita jelas beda sama dua tahun lalu. Gua cuma khawatir sama lu." Timpal Saga memperjelas.


Rengga mendengus kesal. "Jangan sok jadi orang tua, yang nggk pernah ada dihidup gua."


Saga lemah hati, jika Rengga telah mengatakan itu. Maka dirinya bergegas naik ke atap gedung D, dengan Rengga yang menjaga tangga terakhir yang menuju sana, jalan satu-satunya menuju 'raja terakhir'. Berada dilantai tiga gedung D menelan salah satu obat dari plastik klip miliknya seraya menikmati musik dari arah belakang panggung. Karena panggung menghadap gerbang sekolah membelakanginya.


***


Musik dipanggung berakhir. Lampu sorot mati dan menjadi gelap. Seseorang menata dekorasi diatas panggung. Drama musikal akan dimulai sekarang.


Iringan piano mengawali drama tersebut, maka keluar dari sisi panggung seorang cewek mengenakan gaun putih panjang dengan mahkota setengah lingkaran disela rambutnya. Diikuti satu lampu sorot menyinarinya kemana pun Ia melangkah. Tatap matanya menenangkan hati.


"Lu masih cantik seperti setahun lalu." Ucap Alex, Ia berada dilantai dua gedung A sisi depan panggung.


Cewek itu ialah Nadir, dengan wajah alami tanpa riasan tebal mampu tampil bak bidadari yang turun dari surga. Menari mengayunkan gaunnya seraya bernyanyi untuk penonton.


Membuat sebagian penonton cowok berteriak histeris walau hanya melihat kecantikannya.


"Kalau gua pun nggk bisa milikin lu, maka yang lain pun nggk boleh, Nad." Ucap Alex melantur. "Lu akan tau akibatnya udah campakin gua kaya gini."


Pandangannya terus memperhatikan Nadir menikmati keindahan bidadarinya dari sudut gelap ruangan.


***


Mobil catering sampai didepan gerbang sekolah. Penjaga gerbang suruhan Pras menyisir seluruh sisi mobil itu hingga ke bagian bawah mobil dengan kaca.


"Lewat." Ujar anggota organisasi.


Gerbang terbuka mereka siap memasuki area sekolah tanpa perlawanan sedikit pun memberikan jalan bagi 'kuda troya'. Pasukan pemberontak yang menyelinap merasa senang karena bisa lolos pemeriksaan dengan mudah.


"Tahan."


Pintu belakang mobil tidak tertutup rapat memancing mereka untuk membuka isi didalamnya. Terlihat tumpukan kotak nasi catering, dibaliknya terdapat 'pasukan bayangan', namun tidak terlihat apapun di mata penjaga.


Deg deg deg deg


Intruksi untuk berhenti itu membuat jantung semua pasukan bayangan berdebar, selayaknya menunggu jawaban dari sang pujaan hati.


"Lu nutup pintu kurang rapet." Ujar seorang penjaga gerbang memberitahu.


Lalu, penjaga gerbang memberikan aba-aba bahwa mobil tersebut aman untuk lewat.


Pasukan pemberontak yang menyamar menjadi supir dan juga kernet menarik napas lega, dibarengi dengan semua pasukan bayangan.


Mobil sampai disisi luar gedung C didepan Lab. Komputer menurunkan dua orang bermasker hitam. Memberikan waktu dengan menghalanginya sejenak.


Seorang salah satunya mengeluarkan dua kawat kecil berkelok untuk mengakali lubang kunci pintu Lab. Komputer. Sedangkan, seorang lagi memegang tas kotak berbentuk tipis, juga pemukul kasti berbahan kayu padat untuk berjaga.


"Kasih gua waktu, La. Lu amatin sekitar." Ucapnya sambil membobol gemetar.


"Gua sering liat ini di film-film, semalem juga gua udah liat tutorialnya di youtube."


KLEK!


Tuas pengunci berhasil diakali. Mereka masuk dengan hati-hati. Menguncinya dari dalam. Lalu mobil kembali melaju, karena tugasnya disini telah selesai, mendekati sisi luar gedung D menuju Lobby.


Wijaya membuka maskernya ketika didalam Lab. Komputer. "Pengap gua. Kita bisa lepas penyamaran disini."


Lala mengangguk seraya mengulurkan tas kotak itu. "Ayo kita mulai, yang lain udah menunggu."


Wijaya meraih tas itu yang berisi laptop yang telah Ia modifikasi. Sambil menunggu laptop menyala, Ia mencari sebuah aliran kabel disisi tembok lalu menempelkan sebuah alat dikabel berniat meretasnya.


Lala membuka masker, wajahnya berkeringat tipis. "Udah muncul, Jay." Lalu cewek bermata sayu itu berkeliling sejenak memeriksa sudut ruangan seraya menodongkan pemukul kasti.


Wijaya mengayunkan siku senang.


Layar laptop menunjukan gambaran CCTV disetiap sudut sekolah, juga disetiap gedung.


Sebuah mata yang bisa melihat semuanya. Matanya telah melihat semua posisi petinggi yang memblokade semua jalan menuju gedung D.


***


Mobil telah sampai dilobby gedung D. Bersiap menurunkan pasukan bayangan. Berniat langsung menuju Saga yang telah menunggu dirooftop gedung D.


"Bukanya nurunin catering digedung B?" Tanya seorang yang sedang berjaga dilobby Gedung D.


Pasukan pemberontakan yang masih menyamar meneteskan keringat tak tau harus menjawab apa, mereka berpikir akan ketauan dan pertarungan akan pecah disini. Lagi pula, mereka telah masuk cukup dalam.


"Bilang, kalo kita tersesat mencari gedung B." Tiba-tiba terdengar suara aneh di telinga supir.


"Iya bang, kita tersesat. Gedung B yang mana yak?" Katanya menirukan intruksi.


Setelah melangkah mendekat barulah diketahui. Seorang yang berjaga itu ialah Keni. "Jangan bohong lu!"


Wijaya menatap layar monitor seraya menggigit bibir cemas. Suara intruksi di telinga supir tadi berasal darinya. Ia berpikir terlalu awal untuk membuka penyamaran mereka disini


"Ini cuma mobil catering, Bos." Ujar seorang anggota yang berjaga. "Kita bisa nggk makan kalo lu bikin takut kaya gitu."


"Gua juga tau bangsat!" Keni memukul anak buahnya merasa direndahkan.


Mata supir diam menunggu jawaban.

__ADS_1


"Lu lurus lagi sana terus belok kiri. Turunin aja dilobby gedung B." Kata Keni, lalu berlalu kembali berjaga ditangga lobby Gedung D.


"Makasih, Bang." Mobil berlalu penyamaran belum terungkap.


Wijaya yang memperhatikan dari arah monitor menarik napas lega. Lalu siap menyusun strategi lagi memperhatikan keadaan lobby gedung B.


"Dua orang turun ngalihin situasi. Sisanya bisa pura-pura nurunin catering sambil nyusupin pasukan bayangan."


"Siap, Komandan."


Dalam rantai hirarki penyerangan ini Wijaya diberi gelar 'komandan perang' karena memegang kendali semua bidak yang dibawa malam ini. Semua mempercayakannya untuk menyusun rencana sedangkan si tokoh kunci -Baskara Mahendra- menjadi ujung tombak yang akan menghunus dada ketua organisasi di garis depan.


"Haikal monitor!" Wijaya menghubungi Haikal lewat earbus yang telah Ia sebarkan sebelumnya.


"Siap, Dan!"


"Mulai pimpin penyerangan di gerbang depan. Di sana cuma ada Pras dan beberapa cecunguk."


"Laksanakan!"


"Dan lagi, Jangan berusaha nerobos dulu sekarang. Fokus alihin perhatian dengan buat suara-suara, selagi masih nurunin pasukan bayangan."


"Laksanakan."


Haikal telah menunggu intruksi penyerangan sejak tadi. Setelah menjadi pemimpin orasi, kini sudah memiliki banyak massa untuk memberontak melawan organisasi sekarang.


[Haikal Farezki, kelas dua, pemimpin pasukan pemberontak.]


Ia berjalan dengan wajah tidak kenal ampun, diikuti pasukan berjumlah sekitar seratus orang dibelakangnya. Telah lama Ia menantikan saat ini hingga terwujud, menantikan kedatangan seorang seperti iblis dari neraka itu, Baskara.


Pandangan Pras terganggu saat sedang duduk ditembok dekat gerbang sekolah. Saat yang Ia tunggu akhirnya tiba. Banyak pasukan telah muncul untuk perang yang dijanjikan malam ini.


Haikal berhenti didepan gerbang memasang badan yang kini hanya berjarak beberapa meter dengan Pras.


"Mana Iblis itu? Baskara Mahendra! Gua mau ngelawan dia." Ucap Pras menantang.


"Lu nggk pantes lawan dia." Sahut Haikal. "Sebelum ngalahin gua."


"Bajingan!?"


Haikal mengeluarkan lima puntung petasan korek berukuran jumbo membakarnya dengan korek. Mengambil posisi, lalu melemparnya kuat menyebar memasuki gerbang sekolah.


Mata Pras terbelalak tak siap menerima serangan itu, membuatnya melompat dari atas ke sisi tembok luar mendekati Haikal. Sedangkan yang lainnya kocar-kacir menghindari ledakan yang terjadi.


DAR DARR DARR DARRR!!


Formasi digerbang kacau harubiru.


"Yang meledak cuma empat, taii!" Haikal mengeluh kesal seperti bocah yang kecewa membakar petasan terakhirnya.


Disisi lain, panggung menyadari ledakan yang terjadi didepan gerbang mereka menoleh sejenak dan musik juga sempat terhenti.


Mata Nadir memelotot dan bergumam. "Wijaya? Kamu sudah mulai yah?"


Musik kembali bermain dan penonton yang sempat teralihkan kembali menikmati konser Pensi malam ini.


Nadir berlari menuruni panggung.


Pembawa acara bingung karena kehilangan bidadarinya. Lalu mengalihkan dengan memanggil penyanyi selanjutnya untuk tampil.


Seorang cewek itu naik keatas panggung dengan gitar dipunggungnya tersangkut siap untuk dimainkan. Berpakaian hitam dengan gaya yang berbeda, maskaranya tebal juga eye shadow yang hitam pekat dengan bibir diwarnai hitam juga.


Melody.


***


Kembali lagi kesisi Gerbang.


Paska ledakan petasan korek itu. Pras yang tersungkur setelah memaksa loncat, kini berusaha mengambil kendali gerbang sekolah lagi.


"FORMASII!!!"


"Lu bisa mulai menerobos pelan." Perintah suara ditelinga Haikal. "Target lu adalah harus bisa bertahan nerobos sampe panggung, memancing semua petinggi disisi samping gedung B dan C untuk berkumpul."


Haikal menghela napas tanpa membalas. Mengangkat tangan mengaba-aba penyerangan disisi depan.


Juga Pras setelah menata formasi pertahanan disisi gerbang. Sepuluh orang berbadan besar berdiri tegap didepannya menjaga.


"Hantam mereka!"


"Hyaaaaaa!!"


Maka semua massa yang berhasil Ia kumpulkan itu berlari kencang bernama 'pasukan pemberontak', membombardir sisi gerbang. Sekitar seratus orang itu berlari bersamaan ke arah gerbang.


"Lindungin gerbang dengan nyawa kalian!"


Jumlah pasukan Pras sekitar empat puluh orang saja menjaga gerbang.


Pertarungan pertama kali pecah didepan gerbang dengan pasukan penjaga yang dipimpin Aditya Prasetya melawan Haikal Farezki yang dikawal oleh pasukan pemberontak.


"Permainan baru aja dimulai." Ucap Wijaya berbangga diri seraya mengamati semua yang terjadi dilayar monitor ditemani Lala.

__ADS_1


Wijaya mensiasati rencana malam ini dengan menyebarkan earbuds ke setiap bidaknya. Dan mengambil perannya sebagai 'komandan perang' dari Lab. Komputer menatap layar monitor yang menampilkan CCTV setiap sudut sekolah.


***


__ADS_2