
Semua yang berlalu akan menjadi cerita yang akan diceritakan lain kali, begitupun dengan hari ini. Banyak mata yang melihat setiap tindakan, juga perkataan menjadi jejak dalam getaran yang ditangkap oleh saksi hidup maupun benda-benda di sekitar kita. Tak perlu khawatir akan besok, hanya hari ini yang harus dilewati sejauh ini. Karena pada saatnya, hari ini akan berubah menjadi "kemarin". Dan saat itu tiba, tak ada yang bisa diubah, dan diupayakan ulang atas hasil yang telah terjadi.
Karena kasus yang menimpa Rengga, organisasi buatan Saga telah dibubarkan secara tidak hormat, juga semua aset-asetnya disita oleh pihak sekolah. Tak ada pajak atau apapun lagi, murid telah sepakat untuk menjaga diri mereka sendiri. Dan setelah itu, semua masih baik-baik saja sampai saat ini.
Hari ini Kimon telah mengakhiri masa rehabilitasinya dari Panti Sosial. Setelah mendapat kabar bahwa sekolah telah aman, maka Ia mulai bersekolah kembali dalam pengawasan badan Bimbingan Konseling. Meski canggung, tapi semua kabar tentangnya telah menyebar, dirinya pun mendapat banyak empati dan dukungan dari orang-orang sekitar.
Sedangkan, SMA Elang Emas sendiri telah kehilangan pemangku tahtanya, karena nyatanya Baskara cukup lama menghilang. Beberapa murid percaya bahwa Baskara selalu menjaga sekolah lewat bayang-bayang, namun ada juga yang mengatakan bahwa Baskara telah berhenti bersekolah dan tak akan pernah kembali lagi. Itu hanya kabar burung yang terbang dari mulut pembual, lalu singgah di antara telinga-telinga apatis.
Maka Haikal Farezki yang memiliki banyak massa pendukung, bersikap tegas mengambil alih kekuasaan kosong itu. Meski tak semua murid mendukung, akan tetapi jumlah pasukan pemberontak meningkat secara perlahan di bawah perintahnya. Berlagak congkak dengan membuat tatanan sekolah sesuai keinginan tuannya, Steven Reeves.
Sekali lagi, semua baik-baik saja, selama musuh belum menyerang. Semua masih berteman dalam kedamaian semu tak terukur. Menunggu ego mendorong impian untuk segera terwujud, karena setiap orang memaknai kedamaian dengan cara berbeda. Karena, di era manapun, hanya kedamaian yang tak bertahan cukup lama.
***
__ADS_1
Kedai Kopi.
Jika diartikan, 'Baskara' merupakan sebuah nama yang berarti pemberi terang atau bisa juga matahari. Saat dikandung, Ibunya selalu berharap Ia bisa menjadi terang bagi orang-orang sekitarnya, menjadi solusi atas semua masalah. Mungkin ibu Baskara terdengar agak egois, tapi itu hanyalah sebuah doa yang diserahkan kepada Penulis Takdir sesungguhnya.
Setelah Baskara menekan tombolnya, espresso kembali tertuang dalam cangkir polos. Yang nantinya akan dicampur dengan susu, gula, atau apapun, hingga menjadi minuman lezat yang siap disantap.
Ia menjagai kedainya seperti sediakala, meracik kopi dengan segenap hati dan kemampuannya. Lalu menyajikannya kepada siapapun yang sempat bersinggah di hadapannya, karena memang seperti itulah kaidahnya sebagai seorang barista kopi.
Namun hingga saat ini, matanya masih sangat kosong tak berisi ambisi barang setitik pun.
Tiba-tiba pintu kedai terbuka, maka mata Baskara mencari sosok yang datang. Ia tertegun sesaat setelah melihat seorang itu.
Sosok di pintu itu merekahkan senyum yang seolah mengingatkannya untuk tidak lupa merasa bahagia, setidaknya untuk hari ini.
__ADS_1
"Bas? Lu baik-baik aja kan?" Sapa Wijaya dengan mata menyala. "Sekarang saatnya, lanjutin apa yang udah lu mulai, Bas."
"Jay?"
Dap dap dap
Baskara menahan air matanya yang hampir tumpah. Maka Ia menghampiri sahabatnya itu, lalu memeluk erat tanpa berkata apapun.
Wijaya telah memberi banyak waktu kepada Baskara untuk bersedih dan menerima keadaan. Dan Ia juga yang menjemput sahabatnya untuk kembali kepada kehidupan yang telah Ia mulai di Elang Emas. "Lu hebat, Bas. Ayo kita buat cerita-cerita lainnya lagi."
Di sisi lain, Baskara merasa lega karena merasa hidupnya penting dan kembali bermakna. Ia sadar, harus mensyukuri apa yang masih dimiliki, ketimbang menyesali apa yang telah hilang. Karena yang dimiliki masih sangat banyak, daripada jumlah Ia kehilangan. Dan sangat sulit menyadarinya ketika situasi benar-benar di luar batas.
Tak perlu bahagia setiap hari, mau bagaimana pun kebahagiaan merupakan candu. Seorang yang terbiasa hidup di tengah air berombak, takkan sanggup berlama-lama diam di air yang tenang. Oleh sebab itu, mengertilah untuk membiarkannya mencari ombak selanjutnya.
__ADS_1
"Kuharap kau bisa hidup sepenuhnya hari ini, bukan terjebak di hari kemarin, apalagi mengkhawatirkan hari esok." Ucap Baskara menutup ceritanya.
***