Baskara : Liberation

Baskara : Liberation
Chapter 21; Kuda Troya.


__ADS_3

Petikan gitar akustik membuat penonton diam mendengarkan lagu melow yang akan dinyanyikan Melody dari panggung Pensi.


...[Telah lama ku tertidur...


...Disisi lain jurang kecewa...


...Menangisi takdir tersengguk...


...Menyesal karena hidup ini]...


"Mel, kamu nyanyiin itu. Lagu baru kamu." Gumam Baskara dalam hati. Mendengarkannya dari suatu tempat menunggu waktu untuk keluar.


...[Tak pernah kusangka...


...Hadir seorang sepertimu...


...Semua seperti ditakdirkan...


...Aku kagum pesonamu]...


Lampu sorot dipanggung diredupkan terfokus ke satu sudut seorang yang bernyanyi seraya memetik gitar. Ia mengenakan baju serba hitam juga riasannya, dengan stand mic didepannya.


...[Kuingin terus bersamamu...


...Berada disampingmu...


...Walau aku harus luka...


...Memelukmu yang berduri...


...Jangan berpaling pergi...


...Kau hanya perlu bernapas...


...Kan kulakukan untukmu...


...Kujadikan bahagia bagimu]...


Penonton termangu terbuai oleh alunan musik yang Melody mainkan juga suara dan liriknya semua berkombinasi menghipnotis setiap orang yang mendengarnya.


...[Kujadikan bahagia bagimu...]...


[*Note: Penggalan lirik lagu yang tercantum merupakan karya orisinil karangan penulis.]


Melody terhenti. Semua mata tertuju pada dirinya yang berhasil memikat lewat penampilannya.


Hening.


"Haikal kewalahan di gerbang. Mulai tugas lu, Mel. Kita pake rencana cadangan. Bohongin mereka pake detonator itu." Ucap suara ditelinga Melody.


"Hmm.." Melody mengetes suara mic. "Okey semuanya, langsung aja. Perhatiin apa yang akan gua sampein."


Di sisi samping panggung beberapa anggota organisasi mulai berbisik. Menyadari sesuatu bahwa seorang yang bernyanyi barusan adalah seorang teman dari iblis yang memicu perang, Baskara.


"Di bawah panggung udah dipasang bom berdaya ledak rendah di empat titik." Melody mulai menjelaskan. "Kalau meledak mampu ngerobohin panggung ke sisi depan menimpa kalian semua. Berpotensi bikin kebakaran juga ledakan lagi."


Penonton saling berbisik khawatir.


"Ledakan yang kalian dengar diawal tadi itu permulaan." Melody mengeluarkan sebuah alat berbentuk kotak dengan pewaktu. "Detonatornya udah ada ditangan gua." Melody memencetnya. "Gua kasih waktu dua menit buat bubarin diri ke arah gerbang untuk keluar."


Waktu terhitung mundur dua menit.


Penonton, yaitu murid kelas satu sampai kelas tiga yang memiliki tiket berlarian kocar-kacir ke segala arah memicu mereka mengarah ke taman didepan gerbang untuk mengamankan diri.


Wijaya merencanakan ini untuk membuat situasi menjadi kalap menggunakannya sebagai pengalihan. Namun, kenyataannya tidak semudah itu hingga dirinya harus banyak melakukan improvisasi.


Setelah melihat beberapa anggota organisasi mengincarnya dari sisi samping panggung. Maka melody membakar sebuah petasan yang mengeluarkan banyak asap, melemparkannya ke sekitarnya. Hingga dirinya tertutup asap berwarna-warni mencari jalur pelarian.


"Woy jangan kabur lu!" Ucap seorang panitia mengejar.


Wijaya tak mungkin bisa memasang bom karena panggung Pensi terus dijaga ketat oleh panitia, maka Ia berbohong tentang bom itu untuk membuat keributan untuk mengacaukan formasi organisasi selagi ingin menurunkan pasukan bayangan.


Melody menuruni sisi samping panggung menjadi umpan. Berhasil memancing beberapa orang mengejarnya.


Setelah mendengar peringatan peledakan yang diucapkan Melody. Maka anggota organisasi digedung A, B, C turun memastikan untuk melibas penyusup yang berhasil naik keatas panggung Pensi.


Keni terengah menghampiri Rengga ditangga lantai tiga gedung D. "Kita turun nggk bos? Katanya mau ada ledakan dipanggung!"


"Tolol!"


"Hah?"

__ADS_1


"Itu cuma gertakan." Kata Rengga. "Balik ke posisi lu!"


Keni menatap keheranan. "Bener nggk ada ledakan, Bos?"


"Apa muka gua keliatan lagi bercanda?"


***


Gerbang sekolah terkunci oleh sebuah gembok yang kuncinya hanya dipegang Pras. Anggota organisasi yang dipimpin olehnya dipukul mundur hingga terpepet ke pagar geser digerbang sekolah.


Anggota yang berjaga di gedung A, B, dan C telah berkumpul ditaman sekolah menahan penonton Pensi yang memaksa untuk keluar sekolah.


BLAM! SRAKK!


Haikal melibas semua musuh yang berada dihadapannya. Seratus orang yang Ia bawa banyak yang telah tumbang, Anggota organisasi jelas lebih kuat karena mereka telah memang dilatih untuk melakukan hal seperti ini.


"Tahan digerbang! Jangan sampai pager dirubuhin!" Seru Pras seraya menghajar.


BLAM!


Situasi semakin kalap. Seratus pasukan pemberontak melawan empat puluh anggota organisasi terlatih memakan banyak korban disisi pasukan pemberontak namun berhasil mendorong massa hingga mendekati gerbang.


"Pepet terus sampai ke pager! Kita pasti bisa!" Seru Haikal membakar semangat tak mau kalah.


***


Mata Wijaya memperhatikan layar monitor. "Lu bisa keluar sekarang, Bas. Nggk ada yang jaga gedung B. Lu bisa melipir lewat sisi luar ke lobby gedung D."


"Siap kawan." Balas Baskara.


"Ayo, Bas!" Ucap Alvin


Maka mereka keluar dari balik kotak nasi mobil catering. Mata Alvin celingukan memastikan, tangannya mengarahkan bahwa keadaan aman dan siap mengarah gedung D. Mereka mengenakan pakaian serba hitam bermasker.


"Semua pasukan bayangan udah masuk ke dalam pertahanan musuh. Saatnya jalanin tugas terakhir kalian." Ucap suara ditelinga supir mobil catering.


"Siap, Dan."


***


Kilas balik di tengah riuh peperangan.


Saat malam, setiap orang punya lagu di hati mereka. Banyak karya Melody dikerjakan di malam hari. Bernyanyi di malam hari jauh lebih sejuk daripada di bawah matahari. Lebih tenang, lebih sunyi, seperti binatang di malam hari. Begitulah cara kerjanya. Dengan pemandangan malam, memicunya membuat nada-nada ajaib yang mampu memukau pendengarnya.


Melody bergeming ketika tak bisa mengerti kenapa Ia begitu mendamba Baskara. Baginya, Basakara merupakan cowok yang mampu membuatnya tenang. Semua ingatan pahit seolah hilang ketika berada di dekatnya. Dan waktu merasa iri hingga berlalu lebih cepat dari biasanya.


Menulis lagi setelah memetik gitar pelan, memikirkan sejenak betapa Ia menyayangi gitar akustiknya. Meski kosong dan berlubang, benda itu mampu memenuhi isi hatinya. Tempat untuk meluapkan emosinya menjadi sebuah karya untuk didengar cowok idamannya, Baskara Mahendra.


***


Sekarang.


BRAKK!


Melody mengayunkan gitar kayu miliknya ke wajah berandalan yang menghalangi jalannya.


Waktu seolah melambat.


"Ini semua demi kamu, Bas. Aku akan bantu kamu untuk tegakin keadilan di sini." Gumamnya lagi.


Senarnya telah terputus menyabet, juga serpihan kayunya terpental tak karuan. Ia sungguh melakukannya tanpa ragu, menghancurkan gitar peninggalan ayahnya yang telah menemani dikala sepi. Melemparnya ke arah seorang yang sedang menuju dirinya seraya menuruni tangga panggung Melody berlari kearah gedung C yang saling berhadapan dengan gedung B tempat Baskara dan Alvin sedang menyusup.


Ia sengaja menjauh, mengalihkan perhatian. Berlari kencang dan sesekali menoleh memastikan mereka tetap mengejar dirinya juga tetap menjaga jarak agar tetap aman.


***


"Nggk ada bom! Udah dua menit lewat." Celetuk seseorang ditaman sekolah.


"Kita udah ditipu!" Balas seorang lagi.


"Panggung aman, kita bisa lanjutin acara." Tegas salah satu anggota organisasi menenangkan.


"Iya bener. Ayo kita balik ke lapangan."


Beberapa penonton bersorak melantur kesal karena kebohongan tentang peringatan bom tadi.


Tak ada lagi massa yang berhimpitan didepan gerbang sekolah. Mereka perlahan berjalan kembali ke lapangan yang masih dipenuhi asap berwarna-warni berbau sangit.


***


"Jay. Ini udah beberapa menit tapi gua belum sanggup jebolin pager." Haikal memencet tombol earbus ditelinganya seraya berbicara.

__ADS_1


"Gimana kondisi disana?"


"Setengah pasukan gua tumbang. Sedangkan, Pras sudah terlatih untuk situasi ini. Gua butuh waktu dikit lagi."


"Gausah, Kal. Tarik mundur pasukan lu ke arah samping seolah nyerah."


"Maksud lu?"


"Haikal monitor!" Ucap Wijaya lugas. "Kita pake 'kuda troya'."


"Siap gua ngerti."


Haikal melangkah mundur mengambil posisi. Mengamati situasi dari kejauhan. Sepuluh orang berbadan kekar masih berdiri tegap di depan pagar sekolah, sedangkan pasukan miliknya terus berusaha menerobos.


"MUNDURR!!!" Seru Haikal berbohong mengalihkan. "KITA NYERAH! SEMUA MUNDUR."


"Hah? Kita udah sejauh ini." Celetuk seorang pasukannya. "Masa kita mundur?"


"KITA UDAH KALAH! SEMUA MUNDUR ATAU KALIAN MATI DISINI!" Seru Haikal lagi.


Sebagian pasukannya menuruti perintahnya. Membubarkan diri mendekatinya ke arah samping gerbang. Namun sebagian lagi masih tertahan oleh pasukan berbadan kekar.


TIN TIN TIN TIN!


"MUNDURRR!!!" Seru Haikal lagi tak menyerah memperingatkan.


Mobil catering yang menyusup telah mendekati gerbang sekolah dari sisi dalam.


TIN TIN TIN TIN!!!!


Beberapa orang penonton yang tersisa ditaman sekolah kocar-kacir melihat mobil catering melaju kencang ke arah gerbang sekolah.


Pras menoleh ke belakang. "Bajingan!" Melontarkan sedikit umpatan lalu menjatuhkan diri ke sisi samping. Berupaya keras menghindari supir gila yang menabrakan diri ke arahnya.


BRAKK!! SRAKKK!!!


Pagar besi berkarat berwarna hitam yang menjadi pelindung gerbang sekolah rubuh tertabrak mobil catering, sedikit terseret hingga mobil terhenti dengan sendirinya.


Supir juga kernet berguling ditaman, sempat menjatuhkan diri sebelum mobil menghantam gerbang sekolah.


Anggota organisasi berbadan kekar jatuh bergelimpangan terkena pagar besi yang terpental akibat ditabrak mobil. Lalu, Asap mulai keluar dari kap mobil.


Mata Haikal menoleh kearah gerbang sekolah. Menanti pemandangan dibalik kepulan asap mobil. Memastikan jalur terbuka sesuai rencananya. Seraya menunggu apakah mobil akan meledak atau tidak.


"Lu nyuruh kita mundur karena akan ada itu, Bos?" Tanya seorang penasaran.


"Iya. Ini bagian dari rencana." Jawab Haikal singkat. "Makasih udah percaya sama gua."


Wajah pasukan pemberontak yang selamat merasa terpukau oleh permainan kartu komandan mereka.


Pras terbangun menyeka debu di lengannya. Matanya menelisik mengamati situasi disekitarnya. Merasa kalap, dikala menghirup aroma asap yang menyesakan. Sebuah tanda bahwa, Ia kalah telak dengan keadaan buruk yang tidak bisa Ia cegah seorang diri. Hampir semua penjaganya terkapar di depannya.


"Ini udah cukup waktu. Mobilnya nggk akan meledak." Tegas Haikal yakin. "Kita terobos masuk."


"Haikal monitor!" Panggil Wijaya lagi.


"Hadir, situasi sesuai rencana."


"Terobos masuk kedalam sekolah! Abaikan Pras kalau bisa. Melody dalam bahaya." Perintah Wijaya lugas lewat earbuds.


Pras berdiri menoleh ke arah Haikal. Lengannya tergenggam kuat, menandakan Ia akan mulai serius sekarang.


"Kayanya nggk bisa, Jay." Sejenak mata Haikal bertatapan dengan Pras. "Gua akan singkirin Pras dulu. Setelah itu nyusul kesana."


Sementara itu Pras merogoh saku celananya. Meraih hape miliknya digenggaman tangan. Menunggu seseorang menerima telfonnya.


BLAM BLAM BRAK!


Beberapa pasukan pemberontak berlari mengarah Pras. Dengan mudah Pras melibas juga membanting kasar semuanya seraya berjalan pelan mendekati Haikal.


"Mereka nggk main-main, Han. Kita salah menilai mereka. Tolong bantu gua amanin keadaan sekolah." Tanpa menunggu jawaban Hansel, Pras menutup telfonnya. Melempar hapenya ke sembarang arah. Sorot matanya kini fokus ke depan.


"Pertarungan ini akan serius, Jay. Gua nggk bisa ikutin perintah lu sementara." Maka tangan Haikal menyingkirkan earbuds dari telinganya, juga melemparnya ke sembarang arah, hingga menyelesaikan masalah didepan matanya.


"Kal.. Haikal.." Wijaya berteriak diearbuds namun tak lagi terdengar.


Haikal menggertakan jemarinya. Juga meregangkan otot lehernya.


"Gua akan mulai serius dari sini." Ucap Pras mengintimidasi.


Sebuah awal yang mencengangkan. Kedua pihak mulai serius memainkan kartunya.

__ADS_1


***


__ADS_2