Baskara : Liberation

Baskara : Liberation
Chapter 13; Perpisahan.


__ADS_3

Tebet, Jakarta Selatan.


"Masih jauh bro?" Tanya Baskara.


Steven masih diam memfokuskan diri memperhatikan jalan. "Depan belok kiri bro."


Kaki Baskara terasa lelah mendorong motor mahal berbobot besi itu. Namun masih senantiasa membantu orang yang sedang kesulitan, meski tidak searah dengan tujuannya.


Motor Steven mengarah belok ke kiri diikuti dengan Baskara menarik gas motornya. Lalu kembali mendorong dengan kakinya itu. Jalan gelap, lampu malam tidak menyala disini disekitarnya terdapat ruko dan bangunan- bangunan lama yang sepertinya sudah tidak digunakan.


"Rumah lu disekitar sini bro?"


"Iya, Bang. Sedikit lagi didepan."


Karena hari telah larut sehingga tidak menemukan bengkel yang cocok untuk motor seperti milik Steven. Steven meminta tolong untuk diantar ke rumahnya saja jika boleh.


Mata Steven masih mencari-cari sesuatu menoleh ke kanan dan kiri selama memasuki jalan gelap ini. Hingga seseorang nampak disela kegelapan membelakangi tembok, Ia menyadari keberadaan orang itu dan lagi Ia melihat seorang lagi diatap ruko tapi Steven tetap terdiam melaju kedepan.


Steven berhenti diujung jalan buntu. Menyanggahkan standar besi motornya. Badannya yang agak pendek melangkah kedepan lagi matanya mencari.


Baskara ikut turun mengikutinya bertanya-tanya dalam hati apa maksud semua ini. Tindakan orang didepannya terasa sangat mencurigakan sekarang. "Jadi dimana rumah lu?"


Steven menoleh dengan wajah pucat penuh penyesalan. Bibirnya terlipat seperti ingin menangis tapi tertahan. Membuat Baskara semakin tidak mengerti.


WUSHH!


Baskara mendengar sesuatu. Ia peka terhadap sesuatu diatas batas wajar orang lainnya. Seperti sesuatu mendekat dengan cepat dibelakang kepalanya, diwaktu yang melambat itu Ia menunduk lalu menghadap belakang untuk memastikan hal tersebut.


Benar saja matanya melihat seorang memegang balok tebal yang telah terayun menuju kepalanya, beruntung Ia berhasil menghindar.


"Apa maksud lu bawa gua kesini?" Tanya Baskara pada Seorang berbadan pendek itu.


Steven menunduk, badannya tersungkur menahan tangis dalam kepekikan suaranya. Baskara menilai dari penampilannya yang agak culun tidak mungkin Steven akan bermacam-macam dengannya.


Seorang keluar dari belakang Steven, bayangan masih menutupi wajahnya hingga terlihat.


Keni.


Baskara mengerti semua ini jebakan yang dibuat oleh orang brengsek dihadapannya. Juga orang dibelakangnya yang siap menghantamkan balok sekali lagi, termasuk rencananya untuk melumpuhkan dirinya.


Prok-prok-prok-prok!


Suara tepuk tangan terdengar dari arah atap. Memancing semua mata tertuju padanya. Lalu Ia berdiri diatap ruko itu menampakan diri seorang lagi, bagian dari rencana ini.


Pras.


"Hebat juga refleks lu ngehindarin balok itu. Sekarang gua ngerti kenapa Alex bisa kalah sama orang seperti lu."


Hening.


"Lu iblis!" Teriak Pras. "Yang menyamar diantara manusia, kan?"


Baskara tidak menjawab apapun. Ia hanya terfokus mereka bisa kapan saja bergerak menghabisinya. Dan ketika waktu itu datang Ia harus siap menanggung semuanya.


"Orang biasa nggk akan sanggup menghindari serangan yang tak terlihat mata."


Keni menjambak rambut Steven yang masih tersungkur diaspal menyesali perbuatannya. Jelas itu perbuatan Keni, yang membuatnya melakukan hal seperti ini. "Pras, ayo kita mulai." Seru Keni. "Sebelum itu lu harus pergi dulu."


Tangan keni menghentakan jambakan itu hingga membuat Steven terkapar. Lalu Ia terbangun dengan tergesa segera menyalakan motornya, pergi meninggalkan mereka.


Baskara meracau dalam hati sejenak. Menyadari motor itu memang tidak pernah mogok. Itu hanya akal-akalan mereka untuk mengelabuhi dirinya yang teramat baik ini.


Mungkin juga ini adalah alasan beberapa orang mulai berhenti menolong orang lain?


"Keluar lu semua!"


Beberapa orang keluar dari balik bayang-bayang. Lima, delapan, sepuluh, dua belas orang mengepung Baskara dijalan buntu. Beberapa diantaranya ada yang membawa senjata tumpul ditangannya.


Motor Steven sampai diperempatan jalan menjauhi keributan dan mulai berbelok kiri. Matanya menyadari ada seorang bermotor, matanya sipit berkulit putih, mengintai dari kejauhan sejak tadi menghadap ke tempat dirinya berasal.

__ADS_1


Steven enggan berurusan dengan mereka lagi dan memilih tidak ikut campur berlalu pergi. Tugasnya telah selesai.


Baskara mengambil napas. Sungguh kali ini dirinya harus bersiap untuk kerusakan yang akan terjadi karena pertarungan ini.


Pras melompat turun kebawah mengambil langkah pelan mendekatinya.


"HAJARRR!!"


Semua orang yang mengepungnya, yaitu anak buah Pras dan Keni berlari bersamaan ingin menghajarnya dengan segera. Dengan dua petinggi itu yang mengamati situasi dari jarak dekat.


Baskara mencari cela sesaat lalu memutuskan maju melawan. Ia menunduk menghindar meraih tangan seorang itu.


KREK!


Suara patahan lengan dibarengi dengan teriakan kesakitan dari seorang pemegang balok. Satu telah lumpuh.


Kini dari arah belakang. Baskara memutar badan menghalau balok dengan telapak kaki kirinya. Maju mendekati orang itu memukul wajahnya juga badan dengan pukulan cepat menendang belakang lututnya hingga setengah terduduk melumpuhkan kakinya.


Masih sepuluh orang lagi. Tidak ada orang yang mampu melawan sepuluh orang sekaligus, siapapun itu. Menurutnya ini adalah akhir dari dirinya sebelum nanti Keni dan Pras mencari celah lalu ikut tenggelam dalam pertarungan ini juga.


Pukulan datang satu persatu juga hantaman pemukul kasti. Baskara dengan sigap menghindarinya. Ia lebih memilih menghindari untuk sekarang seraya mencari celah.


Tangkisan demi tangkisan juga digunakan untuk meminimalisir kerusakan pada dirinya.


BUKK!!


Balok tebal mengenai punggungnya. Badannya langsung terasa lemas, konsentrasinya menurun. Namun masih berusaha mengindari serangan yang datang menuju tubuhnya seadanya.


Ini mungkin memang benar-benar akhir. Rencana jebakan ini sungguh akan membunuhnya. Otaknya mulai berpikir memberi pilihan untuk menyerah lalu mati tanpa berusaha, dibarengi dengan lemasnya sekujur badan. Toh, melawan pun akhirnya akan sama. Mungkin mereka akan sedikit menyiksa lalu menggantungnya menuju kematian.


Suara motor berderu dari kejauhan. Dengan cepat menabrakan diri ke beberapa orang yang sedang mengeroyoknya.


BUAKK!!


Ia melompat sebelum akhirnya motornya jatuh menabrak, yang membuat beberapa anak buah Keni cedera.


Alvin berdiri tegar memasang badan untuk menolong temannya.


"Alvin?" Tanya Baskara memastikan.


***


Kosan.


Mata Nadir menatap foto selfie terakhirnya bersama Alex. Bukan terfokus akan foto itu, menurutnya itu hanya kertas yang dibingkai. Membekukan waktu sejenak dalam kenangan yang terpatri dalam hati. Pikirannya melayang ke momen saat foto itu diambil.


Disebuah cafe pinggir pantai dikawasan Pantai Indah Kapuk. Angin berdesir kencang menyejukan suasana sore hari itu.


"Aku suka pemandangan cakrawalanya. Kita harus sering-sering kesini yah."


"Iya." Jawab Alex singkat. "Kamu boleh pandangin sepuasnya lautan itu."


Mereka terkekeh berbarengan. Matahari masih menyinari hati mereka kala itu, menumbuhkan rasa yang tersiram setiap hari.


"Gimana kabar kakak kamu?"


"Baik. Akhir-akhir ini dia sering lembur dikantornya. Tapi sore ini dia akan pulang awal."


"Yeayy.. bagus dong." Seru Nadir ceria.


"Iya aku pilih buat mampir abis ini."


"Okey. Kamu harus semangatin dia. Karena kak Laras sudah berjuang untuk sekolah kamu selama ini."


"Pasti dong. Nggk ada yang bisa gantiin dia dihidupku."


Mereka terkekeh lagi.


"Ayo kita foto." Seru Nadir. "Nanti kita bingkai dikamar masing-masing yah."

__ADS_1


Mereka membekukan kenangan itu dalam sebuah foto yang dibingkai.


Menggambarkan betapa egoisnya manusia. karena ingin mengenang sesuatu yang indah lebih lama, dan melupakan semua kenangan pahit selamanya.


Tapi realitanya lebih sering sebaliknya bukan? Sesuatu yang ingin dilupakan malahan menempel erat didinding hati. Sedangkan kenangan indah berlalu lebih cepat dari yang kita duga.


Air mata Nadir menetes dikaca pelindung foto. Ia merindukan kenangan bersama Alex kala itu, tetapi manusia mudah berubah.


Nadir menyadari, bahwa Ia tidak merindukan Alex, ataupun tempat mereka berfoto. Tapi hanya merindukan hasil kombinasi semua keadaan dalam situasi itu. Ia juga sadar itu tidak akan terulang lagi, hanya bisa dikenang sejauh memorinya mengingat.


Alex menggosok rambut kepanya dengan handuknya agar mengering. Memar biru masih terlihat disekujur tubuh Alex, lukanya dari malam itu belum sembuh sepenuhnya. Ia baru saja menyelesaikan mandinya. Matanya terpaku sejenak melihat Nadir memandangi foto mereka berdua diranjangnya. Lalu berlalu tanpa berkomentar menuju lemari pakaiannya.


"Lex?"


Alex tidak menggubris, tangannya tetap mencari-cari kaos yang ingin Ia kenakan.


"Maafin aku yang selalu maksain kehendakku untuk merubah kamu seperti dulu."


Tangan Alex berhenti sejenak berusaha mendengar yang Nadir sampaikan meski tanpa menoleh.


"Jujur aku terlalu banyak berharap sama kamu. Aku sadar nggk bisa merubah kamu seperti mau aku." Jelas Nadir. "Tapi sekarang ini keadaan kita lagi sama-sama terlalu berharap kan?"


Alex telah mengenakan kaos yang Ia cari dilemari tadi. "Sebenernya lu mau ngomong apa?"


"Aku pengen kita nggk bertemu dulu, beberapa waktu."


DEG!


Hati Alex seperti dipukul gada besar. Terpaku disatu momen, seolah waktu terhenti setelah mendengar kalimat itu. Darahnya mengalir deras dari leher menuju kepala.


"Mungkin dengan begitu kita bisa saling mengerti mau kita seperti apa." Lanjut Nadir lagi. "Iya kan?"


"Maksud lu kita mau putus?"  Tanya Alex menantang.


"Bukan gi-"


"Halah udahlah." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya sudah disela habis oleh Alex.


"Kalau mau putus yaudah gua nggk keberatan. Gua bisa hidup tanpa lu!"


Air mata Nadir mengalir deras seraya menatap Alex dalam-dalam. Seolah ingin berkata bukan seperti ini yang dia mau.


Itu hanya ego Alex saja, ego sesaat untuk menjaga harga dirinya tetap utuh walau hatinya hancur lebur dihunus pedang.


"Setelah semua yang terjadi diantara kita. Pasti nggk mudah. Aku nggk tau bisa bertahan tanpa kamu atau nggk. Tolong pikirin lagi, Lex." Pintanya.


"Kalau lu sedang bimbang memilih gua atau dia. Gua saranin lu milih dia." Kata Alex tegas. "Gua bukan pilihan."


"Bukan gi-"


"Lebih baik gua putusin lu dengan lantang kan. Daripada harus memohon untuk dipilih sama lu." Kata Alex lagi. "Gua lebih berharga dari yang lu tau."


Nadir kehabisan kata-kata karena selalu disela oleh Alex. Merasa pendapatnya tidak lagi dihargai dalam hubungan ini.


Walau berat mengatakan ini. Nadir mengerti harus membawa hubungannya kearah yang jelas.


"Kalau memang gitu. Okey kita putus."


"Iya memang harusnya gitu. Gua juga siap kita putus." Jawab Alex juga mendeklarasikan perpisahannya dengan lantang.


Nadir menatap Alex dengan mata berkaca. "Apa kamu sadar?"


Hening.


"Kamu udah menghancurkan sesuatu, lebih dari yang kamu usahakan?"


Seperti yang kita tau jika cinta adalah seni menyakiti diri sendiri. Kau mengorbankan diri dalam lautan rasa sakit demi kebahagiaan orang yang kau cintai, dan mengharap dia juga mencintaimu sebesar dirimu mencintainya.


Semakin jauh tenggelam dalam rasa cinta bukannya semakin membebaskan, tetapi malah saling mengekang dan takut kehilangan.

__ADS_1


Salah satu hal bodoh yang sering dilakukan manusia adalah mengatakan sesuatu yang berlawanan dengan keinginan hati untuk menjaga harga dirinya, dan membuat segala sesuatu menjadi lebih sulit dari yang seharusnya.


***


__ADS_2