
Keiji yang masih berada di atas kuda masih terlihat kebingungan dengan kening yang berkerut. Seakan sedang ada yang sedang ingin dia pecahkan.
Jika sejarah tidak bisa berubah dan akan tetap sama, itu berarti ... akulah yang sebenarnya memenangkan kompetisi berburu kali ini bukan? Apakah itu artinya Azai sudah melakukan sesuatu? Apakah Azai sudah melakukan sebuah kecurangan? Hhm ... dimana ketiga prajurit yang sudah aku tugaskan untuk selalu mengawasi Azai itu? Apakah mereka ketahuan hingga Azai menghukum mereka?
Batin Keiji mulai celingukan untuk mencari ketiga prajurit yang sudah Keiji tugaskan untuk selalu mengawasi Azai selama beberapa saat yang lalu.
"Bagaimana, Keiji? Apakah kamu sudah mengaku kalah dariku kali ini? Sesuai dengan kesepakatan yang telah kita buat bersama, maka serahkan semua padaku untuk memimpin penyerangan selanjutnya. Aku akan memimpin penyerangan untuk membantu wilayah Shingen lusa!" ucap Azai kembali menandaskan dengan lebih tegas.
"Azai ... tapi ... akulah yang seharusnya ..." ucap Keiji belum menyelesaikan ucapannya dengan sempurna, karena tiba-tiba ada beberapa prajurit yang datang.
Mereka segera turun dari kuda lalu segera berlari kecil dan mendatangi Keiji dengan langkah yang terburu. Dan rupanya mereka adalah ketiga prajurit yang sudah mendapat tugas khusus dari Keiji untuk mengawasi Azai beberapa saat yang lalu.
"Pangeran Keiji! Kami kami ingin melaporkan sesuatu!" ucap salah satu prajurit itu dengan nafas yang sudah naik turun.
"Ya! Laporkan dengan cepat!" titah Keiji menatap tajam prajurit itu.
"Begini, Tuan ... uhm ... itu ... anu ..." ucap prajurit itu terlihat begitu ragu-ragu dan sesekali melirik Azai dengan tatapan penuh dengan ketakutan.
"Ada apa? Katakan saja! Aku akan menjamin keselamatanmu jika kamu melakukan hal jujur dan benar!" ucap Keiji meyakinkan prajurit itu.
Azai yang sudah merasa malas untuk berada disini, kini memutuskan untuk segera meninggalkan tempat ini untuk segera mandi dan membersihkan dirinya karena baru saja pulang dari berburu.
"Aku akan mandi dan berendam dulu!" ucap Azai mulai berbalik dan sudah melenggang beberapa langkah.
Namun tiba-tiba saja langkah Azai terhenti kembali karena mendengar ucapan dari prajurit yang baru saja datang itu.
"Itu, Tuan ... pa-pangeran Azai telah berbuat curang. Pa-pangeran Azai tidak berburu ... ru-rusa itu dia dapatkan dari membelinya di pasar ... ka-kami melihat semua itu ..." ucap prajurit itu melaporkan dengan begitu ketar-ketir dan terbata.
__ADS_1
Bahkan prajurit itu mengatakannya dengan menunduk saking ketakutannya dan tak memiliki keberanian untuk menatap Azai.
"Apa kau bilang? Beraninya kamu menuduhku berbuat curang!! Mau mati kamu ya?!" tandas Azai menatap tajam prajurit itu seakan sudah begitu emosi dan ingin melenyapkannya begitu saja.
Sementara nyali prajurit itu kini semakin menciut dan dia juga mulai bersembunyi di belakang tubuh Keiji.
"Tu-tuan Keiji ... to-tolong lindungi aku ..." ucap prajurit itu semakin ketakutan saat melihat jika Azai sudah mulai melenggang semakin mendekatinya dan sudah terlihat begitu dipenuhi amarah.
"Beraninya kau menuduhku seperti itu! Aku akan menghukummu!!" tandas Azai dengan suaranya yang begitu melengking.
"Berhenti, Azai!!" ucap Keiji dengan tegas. "Jika memang kamu merasa benar dan tidak melakukan semua itu, harusnya kamu akan tetap tenang dan tidak menjadi kacau seperti ini."
Mendengar ucapan dari Keiji, membuat Azai menghentikan niat dan langkahnya seketika. Namun Azai masih berusaha untuk membela dirinya.
"Tapi sikap dia sudah sangat keterlaluan! Prajurit yang tidak memiliki sopan santun dan etika sepeti dia pantas untuk dihukum!" ucap Azai dengan tegas.
Meskipun Azai masih merasa kesal dan tak terima, namun akhirnya Azai memutukan untuk diam saja, namun sepasang matanya masih menatap tajam.prajurit itu.
"Masamume! Periksa rusa hasil buruan Azai" titah Keiji.
"Baik, Pamgeran Keiji." sahut panglima Masamune dengan begitu patuh dan segera mendatangi seekor rusa hasil buruan dari Azai yang masih tergeletak di atas lantai dengan sebuah panah yang menancap pada lehernya.
Semua orang yang berada di tempat ini terdiam saking tegangnya dan hanya bisa menunggu panglima Masamune untuk menyampaikan sesuatu.
Hingga akhirnya panglima Masamune mulai datamg dan menghadap pangeran Keiji kembali untuk menyampaikan sesuatu sesuai dengan pengamatannya.
"Lapor, Pangeran Keiji. Menurut pengamatanku, rusa itu sudah mati antara 7 jam hingga 10 jam yang lalu. Karena warna darah sudah berubah dan darah juga sudah sedikit mengering. Sangat tidak mungkin jika rusa itu baru saja mati." ucap Masamune menyimpulkan.
__ADS_1
Azai yang mendengarkan penjelasan dari panglima Masamune seketika menjadi gelagapan dan terlihat kebingungan.
"Azai, adikku! Jadi kamu sudah melakukan sebuah kecurangan ya. Hhm ... benar-benar tidak mencerminkan perilaku seorang putra mahkota! Kamu ini adalah seorang pangeran dari Fujiwara! Berperilakulah yang mencerminkan dirimu!" ucap Keiji menggunakan untaian kalimat Azai yang pernah disampaikan Azai untuknya.
Azai yang sudah merasa kesal, akhirnya mulai berbalik dan meninggalkan tempat itu dengan cepat, hingga membuat jubahnya sedikit menari di udara.
[ Mission completed! Meskipun pangeran Azai datang lebih dulu ke istana dengan membawa seekor rusa hasil buruannya, namun dia tidak melakukan perburuan. Melainkan pangeran Azai sudah membeli rusa mati itu di pasar, maka pemenang dari kompetisi ini adalah tuan Dazai. Selamat, Tuan. Tuan sudah mendapatkan beberapa hadiah. ]
Ucap Kenshin sang pemandu sistem tiba-tiba, dan hal itu membuat Keiji merasa lebih lega.
Padahal jika berburu dengan benar pasti kemampuan Azai juga lebih baik dari diriku. Namun dia terlalu tidak mempercayai dirinya sendiri dan malah membeli seekor rusa di pasar. Pangeran Azai terlalu berambisi untuk menjadi seorang pemimpin. Huft ... aku harap lain kali aku bisa mengatasinya lagi. Dia terlalu licik, sama seperti diriku.
Batin Keiji sambil menghela nafas.
"Aku juga akan segera mandi! Siapkan air suci itu untukku kembali!" ucap Keiji memberikan titahnya.
"Baik, Tuan Keiji." sahut salah satu dari pengawal dan segera ngeloyor pergi begitu saja.
Selama ini pangeran Keiji selalu mandi dan berendam dengan menggunakan air suci dan bukanlah bukan air biasa. Dan air itu menggunakan sumber dari air sumber obat yang akan memberikan efek yang begitu kuat dan cukup besar.
Air tersebut berwarna bening kehijauan dan sudah ditambahkan dengan penawar racun dalam darah, agar segala jenis racun yang mengendap pada tubuh pangeran Keiji bisa lenyap bersamaan dengan setiap hembusan nafas yang dikeluarkan oleh pangeran Keiji.
"Suamiku,aku akan mengantarmu." ucap permaisuri Shiina mulai membersamai Keiji untuk mengantarkannya menuju tempat pemandian khususnya.
"Shiina, mengapa kita tidak mandi bersama saja?" ucap Keiji dengan konyol dan malah menggoda permaisuri Shiina dengan wajah nakalnya.
"Aku akan mandi nanti saja. Air suci itu hanyalah dipersiapkan untukmu saja." jawab permaisuri Shiina yang sukses membuat Keiji merasa kecewa.
__ADS_1