
Pangeran Keiji menyusuri sebuah jalan kecil yang masih berada di sekitar istana. Ada beberapa bangunan kuno di masing-masing jalan yang sedang dia lalui.
Dan dia juga mulai melewati sebuah jembatan klasik berwarnaerah di atas sebuah sungai kecil. Hingga akhirnya kini pangeran Keiji mulai memasuki sebuah pintu gerbang raksasa yang terbuah dari baja perpaduan kayu.
Dua orang penjaga pintu gerbang itu mulai memberikan salam penghormatan untuk pangeran Keiji di saat pangeran Keiji melalui mereka.
Kini terlihat beberapa prajurit yang sedang berlatih bersama dengan prajurit yang lainnya juga. Mereka berlatih dengan menggunakan katana, pemanah dan shotgun. Karena memang senjata-senjata itulah ciri khas dari kerajaan Fujiwara.
Kecuali panglima perang Masamune yang memang menggunakan shuriken raksasa andalannya, selain menggunakan katananya saja. Karena kedua senjata itu adalah senjata andalannya. Namun meskipun menggunakan shuriken raksasa, sebenarnya panglima perang Masamune tidak memiliki keahlian ninja.
Kini pangeran Keiji mulai memasuki tempat terbuka untuk pelatihan itu dan segera mencari sosok pangeran Azai. Hingga akhirnya pangeran Keiji mulai menemukan pangeran Azai yang sedang berlatih berperang dengan menggunakan katana miliknya melawan seorang prajurit kerajaan.
Pangeran Keiji berkacak pinggang dan melihat mereka berlatih bersama. Namun pangeran Azai segera menghentikan semua itu ketika melihat kehadiran dari pangeran Keiji.
"Keiji-sama!! Apa kamu mau berlatih bersama denganku lagi? Bukankah seharusnya kamu menemani selir barumu yang baru saja kamu nikahi?" celutuk pangeran Azai dengan senyuman yang begitu menyebalkan.
"Hhm. Ya ... aku akan menemaninya nanti. Namun aku ingin sedikit berbincang-bincang denganmu. Bisakah kita berbincang-bincang sambil menikmati angin senja ini bersama?" tanya pangeran Keiji dengan seulas senyum.
"Hhm? Tumben sekali kamu ingin berbincang-bincang denganku, Keiji-sama? Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" sahut pangeran Azai mulai merentangkan tangan kanannya yang masih menggenggam sebuah katana.
Seorang prajurit yang sudah tanggap, kini mulai menyimpan katana milik pangeran Azai. Pangeran Azai yang masih tersenyum samar kini mulai melenggang mendekati pangeran Keiji.
"Hanya ingin sesekali menghabiskan waktu senja indah ini bersama dengan adikku." sahut pangeran Keiji masih memasang senyuman bersahabat menatap sang adik tiri.
"Baiklah! Ayo!! Mari kita berbincang-bincang!!" sahut pangeran Azai memperlihatkan wajah ramah dan bersahabat.
__ADS_1
Namun semua itu tentu saja hanyalah sebuah drama saja. Karena jauh di dalam lubuk hati terdalamnya sebenarnya pangeran Azai sangat membenci pangeran Keiji. Dan pangeran Azai selalu berusaha untuk menjatuhkan dan mencelakai pangeran Keiji.
Kini mereka mulai melenggang bersama dengan langkah santai sambil menikmati keindahan istana Fujiwara di kala senja dengan langit yang sudah menjadi semakin memerah ini.
"Apa kamu tidak pusing dan repot memiliki 3 orang istri sekaligus, Keiji-sama?" tanya Azai tiba-tiba. "Lebih enak sepertiku. Masih bebas dan tidak bingung mendengarkan rengekan dari para istri."
"Mengapa harus merasa pusing dan repot? Justru memiliki istri akan membuat hidup kita menjadi lebih lengkap dan berwarna. Disaat aku pulang ke istana setelah peperangan, akan selalu ada mereka yang selalu mengurusku dan memberikan pelayanan yang baik untukku. Bahkan mereka bertiga malah saling berlomba untuk memberikan pelayanan untukku." jawab pangeran Keiji dengan sengaja memprovokasi sang adik tiri.
Dan benar saja!! Ucapan dari pangeran Keiji rupanya cukup membuat pangeran Azai merasa kesal, hingga rait wajahnya seketika berubah. Namun hal itu malah terlihat begitu lucu untuk pangeran Keiji.
"Namun meskipun begitu, mereka juga selalu rukun dan akur kok. Mereka juga saling peduli dan menghargai satu sama lain. Dan mereka tidak pernah bersengketa satu sama lain. Karena semua istriku begitu memiliki hati yang baik dan lembut." imbuh pangeran Keiji membanggakan ketiga istrinya.
"Makanya kamu juga harus segera menikah, Adikku Azai. Agar kamu mengetahui nikmatnya memiliki pendamping hidup. Ada seorang putri mahkota yang cantik dari kerajaan Nagamasa. Aku kira dia sangat cocok denganmu." ucap pangeran Keiji lagi.
"Putri mahkota dari kekaisaran Nagamasa?" tanya pangeran Azai mengulang kembali ucapan dari pangeran Keiji.
"Hhm. Dia sangat cantik. Kamu pasti sangat menyukainya." jawab Dazai yang sebenarnya belum pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya.
Namun Dazai pernah membaca dan mengetahui kisah itu di jaman modern dalam pelajaran sejarahnya.
[ Waktu pelaksanaan misi hanya tinggal beberapa saat saja, Tuan Dazai. Karena matahari akan segera terbemam. Silakan segera selesaikan misi kali ini agar tuan tidak mendapatkan pinalti. ]
Ucap Kenshin yang pemandu sistem tiba-tiba. Dan seketika ucapan yang lebih menyerupai sebuah notifikasi alarm itu membuat Dazai kelabakan.
Pangeran Keiji mulai mencari sesuatu di dalam saku jubahnya, lalu mulai mengeluarkan sebuah benda pipih. Dengan cepat pangeran Keiji mulai mengusap layar ponselnya dan memasukkan sebuah pola sandi untuk membuka kunci layar ponsel itu.
__ADS_1
Setelah itu sebuah menu kamera mulai ditekannya dan pangeran Keiji juga segera menekan kembali sebuah tombol untuk menggunakan kamera depan.
"Azai!! Ayo kita ambil beberapa gambar!!" dengan cepat pangeran Keiji segera merangkul pangeran Azai dan menghadapkan layar ponsel super canggihnya ke arah mereka berdua.
Seketika raut wajah pangeran Azai terlihat begitu terkejut bukan main dan mulai waspada. Hingga akhirnya pangeran Azai berusaha untuk melepaskan rangkulan dari sang kakak.
"Benda apa itu? Mengapa ada benda aneh seperti itu?!" tanya pangeran Azai begitu waspada menatap ponsel canggih itu.
"Azai, tenang saja. Ini bukan benda aneh kok. Ini hanyalah sebuah ponsel. Sebenarnya ini adalah sebuah alat komunikasi. Uhm ... tapi benda ini juga bisa kita gunakan untuk menangkap gambar ... atau bahasa mudahnya seperti membuat sebuah lukisan dengan cepat dan lebih dan nyata." ucap pengeran Keiji berusaha untuk menjelaskan.
"Tenang saja, Adikku Azai! Benda ini tidak berbahaya kok. Aku hanya ingin mengambil sebuah gambar atau lukisan dari kita saja kok." ucap pangeran Keiji kembali menarik dan merangkul pangeran Azai lagi.
Hingga akhirnya dengan terpaksa pangeran Azai mulai menurut saja, meskipun raut wajahnya masih terlihat begitu kaku dan waspada. Hingga akhirnya hasil foto mereka berdua pun juga seperti itu. Pangeran Keiji tersenyum penuh binar, sementara pangeran Azai masihemperluhatkan wajah kaku, tegang dan waspada.
Pangeran Keiji yang melihat hasil foto itu kembali kini mulai tertawa karena menganggap ekspresi pangeran Azai yang begitu lucu dan konyol.
Rupanya pangeran Keiji meang benar-benar tampan ya. Bentuk wajah, hidung, mata, bibir, rahang, alis ... semuanya begitu sempurna. Dan sebenarnya pangeran Azai juga tak kalah tampan. Namun sayang sekali dia sangat jahat dan licik. Hhm ...
Batin Dazai masih melihat hasil foto dari mereka berdua.
Bersambung ...
Bonus visual pangeran Azai ...
__ADS_1