
"Yan! Kamu lucu sekali, Sayang! Ahaha ... tak aku sangka aku sudah memiliki seorang putra dan seorang putri." celutuk pangetan Keiji yang kebetulan sedang berada di kamar bersama pangeran kecil Yan.
Karena saat ini permaisuri sedang mandi dan menitipkan pangeran kecil Yan kepada Pangeran Keiji. Pangeran Keiji terlihat begitu menyukai si pangeran kecil Yan yang menurutnya sangat menggemaskan.
Namun tiba-tiba saja sebuah angin kencang berhembus dari arah luar dan memasuki kamar ini melalui jendela kamar. Angin kencang itu membuat ransel hitam Dazai terjatuh dari meja kayu dan membuat sebuah pelajaran Dazai terjatuh di dekatnya.
Buku sejarah itu terjatuh dan terbuka pada sebuah halaman. Dazai yang melihatnya dan sekilas membaca halaman buku itu, kini mulai membeku seketika. Dan wajahnya kembali terlihat pucat. Bahkan tubuhnya terlihat sedikit bergetar ketika membaca beberapa paragraf itu.
Pangeran Keiji Fujiwara meninggal pada tahun 1592 yaitu di usianya ke 28 tahun karena dibunuh oleh Akechi Mitzunari, seorang psikopat dan merupakan salah satu anak buahnya yang berkhianat padanya.
Lalu Akechi Mitzunari ditangkap dan dibunuh oleh panglima perang Masamune. Dan disaat itu panglima perang Masamune diangkat menjadi seorang Shogun dan memimpin dan penerus wilayah Fujiwara hingga sang putra mahkota Yan Fujiwara tumbuh menjadi dewasa.
Buku sejarah yang sudah diraih oleh Dazai itu kembali terjatuh dari tangannya. Sepasang matanya sudah terlihat begitu berkaca-kaca saat ini karena mengingat waktu kematian dari pangeran Keiji ... raga yang saat ini menjadi cangkang dari jiwanya akan segera menemui ajalnya pada waktu dekat ini. Karena saat ini usianya sudah mulai memasuki 28 tahun ( menurut perhitungan Dazai ).
"Apakah sejarah ini benar-benar tidak bisa diubah, Kenshin? Apakah pangeran Keiji akan benar-benar tewas dalam tahun ini? Aku sudah mengetahui penyebab kematiannya!! Jadi aku bisa menghabisi Akechi Mitzunari sebelum dia membunuh pangeran Keiji bukan?" ucap Dazai yang juga merasakan sesak di hatinya.
Terlebih saat melihat pangeran kecil Yan Fujiwara yang masih begitu kecil dan pastinya membutuhkan kasih sayang seorang ayah? Bukan hanya Yan Fujiwara!! Tapi putri kecil Rie Fujuwara dan calon putri kecil lainnya yang masih dikandung oleh Kikiyo saat ini, mereka semua pasti juga begitu membutuhkan sosok seorang ayah.
Dazai yang membayangka semua itu juga semakin merasa sesak dan bersedih, seolah-olah dirinyalah yang sedang berada di posisi pangeran Keiji. Atau mungkin karena saat ini Dazai memakai raga dari pangeran Keiji, sehingga mereka bisa saling merasakan.
[ Sejarah tetap tidak akan bisa dirubah, Tuan Dazai. Semua akan terjadi sebagaimana mestinya sesuai yang sudah tertulis di buku sejarah. Seberapa keras tuan Dazai merubahnya, maka semua itu hanya akan menjadi sia-sia saja, Tuan. Kematian dari pangeran Keiji Fujiwara sudah digariskan dan tertulis. Sang dewa kematian akan segera menjemputnya. ]
__ADS_1
Jawab Kenshin sang sistem pemandu yang membuat Dazai semakin kalut, hingga membuat air matanya mulai membasahi pipinya.
"Lalu ... lalu apa yang akan terjadi denganku? Apakah aku juga akan mati bersama raga pangeran Keiji?" pertanyaan itu mulai dilontarkan oleh Dazai dengam suara yang begitu bergetar.
[ Semua itu tergantung dengan tuan Dazai. Jika tuan Dazai bisa segera menyelesaikan misi puncak dari sistem dan bisa kembali pada kehidupan tuan yang sebenarnya. Maka tuan Dazai akan tetap bisa hidup. Namun jika tuan gagal menyelesaikan misi puncak itu, maka tuan akan berakhir bersama dengan raga pangeran Keiji Fujiwar. ]
Jawab Kenshin menjelaskan.
Dazai menghembuskan nafas kasarnya di udara lalu mengusap air matanya dan mulai memijit keningnya sendiri.
"Berarti intinya satu tahun ini adalah masa penentuan untukku ya? Di tahun ini aku harus bisa memenangkan peperangan dasyat itu bersama kerajaan Fujiwara! Dengan begitu misi puncakku akan berhasil?"
"Aku masih memiliki waktu beberapa saat lagi. Aku akan terus berlatih dan memantaskan diriku untuk peperangan itu." gumam Dazai begitu pelan.
DDRTTT ...
Tiba-tiba pintu kamar mulai terbuka, dengan cepat pangeran Keiji segera menyimpan buku sejarah itu ke dalam ransel hitamnya lalu segera meletakkan ranselnya di bawah meja, agar tak ada seorangpun dari jaman Muromachi ini yang mengetahui semua itu.
Kini terlihat permaisuri Shiina sudah melenggang dengan langkah yang begitu anggun saat memasuki kamar ini. Senyum merekahnya menghiasi wajah ayunya saat melihat pangeran Keiji sedang menggendong pangeran kecil Yan.
"Apakah Yan rewel saat aku tinggal, Suamiku?" tanya permaisuri Shiina yang kini sudah menghampiri kedua pria yang sangat berarti di dalam hidupnya itu.
__ADS_1
Saat ini pangeran Keiji sedang berdiri dan menimang-nimang putra kecilnya dengan penuh kehangatannya. Benar-benar terlihat seperti seorang ayah yang sedang menimang-nimang putranya dengan penuh kasih sayang.
Padahal selama ini Dazai begitu kurang menyukai anak kecil, karena menganggap mereka begitu bawel dan rewel. Tapi entah mengapa saat Dazai melihat Yan dan Rie, Dazai mulai menyukai kedua bayi itu. Dan Dazai malah ingin selalu bersama dan bermain-main bersama dengan kedua bayi lucu dan menggemaskan itu.
"Pangeran kecil kita tidak rewel kok, Shiina. Dia malah sangat asyik bermain denganku hingga melupakan sang ibu. Hhmm ..." sahut pangeran Keiji disertai tawa kecil menggoda permaisuri Shiina.
"Apaan sih. Mana mungkin pangeran kecil Yan melupakanku? Benar begitu, Sayang?" ucap permaisuri Shiina mengusap lembut pipi putih kemerahan sang bayi yang masih begitu mulus dan lembut itu.
Pangeran Keiji yang menyaksikan kehangatan dan sesuatu yang menurutnya begitu manis itu, kini mulai menarik sudut-sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman yang begitu hangat.
Pangeran Keiji menatap lekat permaisuri Shiina dan pangeran kecil Yan dengan tatapan nanar. Masih sulit untuk dibayangkan oleh Dazai, bagaimana sedihnya mereka saat pangeran Keiji benar-benar pergi dan meninggalkan mereka untuk selama-lamanya saat itu?
Bukan hanya mereka saja, namun kematian dari pangeran Keiji Fujiwara pasti akan meninggalkan sebuah duka untuk seluruh keluarga istana, bahkan untuk rakyatnya.
Karena selama ini rakyatnya juga begitu menjunjung dan membanggakan pengeran Keiji Fujiwara, karena dianggap pangeran Keiji selalu mensejahterakan rakyat-rakyatnya.
"Suamiku, ada apa? Mengapa kamu terlihat begitu murung dan besedih? Apakah sudah terjadi sesuatu?" tanya permaisuri Shiina yang mulai menyadari kesedihan yang sedang diamban olah sang suami saat ini.
Namun dengan cepat pangeran Keiji segega mengelak dan meng-cover wajahnya dengan senyuman hangat dan dan tawa penuh keceriaan, seolah sedang kembali bermain bersama pangeran kecil Yan.
"Tidak ada apa-apa, Shiina. Semua yang terjadi adalah baik-baik saja." pangeran Keiji mulai menimang-nimang kembali pangeran kecil Yan dan mulai membawanya ke teras kamar untuk melihat pemandangan indah kala senja ini.
__ADS_1