
Kini Keiji sudah membawa Boa untuk menemui permaisuri Shiina yang masih duduk di pinggiran kolam. Permaisuri Shiina masih terlihat sedikit murung menatap kolam di hadapannya, namun dia segera tersenyum tipis saat menyadari kehadiran Boa dan Keiji.
"Yang mulia permaisuri Shiina. Hormat saya Boa dari kekaisaran Shingen." ucap Boa memberikan salam penghormatan untuk permaisuri Shiina.
"Putri Boa, jangan seperti itu. Panggil saja kak Shiina. Biar bagaimanapun kamu adalah istri kedua dari suamiku. Jadi jangan terlalu kaku dan jangan merasa sungkan, agar kita bisa menjadi lebih dekat lagi." ucap permaisuri Shiina dengan ramah dan tersenyum hangat menatap Boa.
Meskipun sebenarnya belum sepenuhnya permaisuri Shiina melakukan semua itu. Dan hatinya masih merasa sedikit sakit, nyeri dan sesak saat bertatapan dengan Boa yang cantik dan lebih muda darinya itu.
"Ba-baik, Kak Shiina." sahut Boa juga mulai tersenyum manis menatap permaisuri Shiina.
Syukurlah, rupanya permaisuri Shiina begitu ramah dan terlihat sangat baik hati. Semoga kita bisa menjadi lebih dekat dan segera akrab.
Batin Boa terlihat begitu lega dan bahagia.
"Ehm ... baiklah. Kalian berbincang saja dulu agar semakin akrab. Aku akan melihat para prajurit berlatih dulu." ucap Keiji mulai melenggang meninggalkan kedua istrinya dengan gagahnya.
Sebenarnya kedua wanita cantik itu masih begitu kaku saat berbincang bersama-sama. Namun dengan terpaksa mereka berdua tetap melakukannya karena ingin menjadi akrab satu sama lain.
Dan beruntungnya Keiji, karena kedua wanita cantik yang saat ini menjadi istrinya itu adalah sama-sama wanita yang baik, bermartabat dan keturunan dari orang yang sangat terpandang.
...⚜⚜⚜...
Bacakan statusku saat ini, Kenshin-kun!
Titah Keiji dalam hati, karena saat ini masih ada beberapa prajurit yang masih berlatih di sekitar Keiji.
[ Baik, Tuan Dazai. Memeriksa satatus dan membacakan status akan segera dimulai. ]
DING ...
Sahut Kenshin sang sistem pemandu Dazai lalu mulai membacakan status untuk Dazai.
[《《《《《《 《《《 System 》》》》》》》》》
Nama : Dazai Nakahara
Ras : Manusia
Usia : 21 Tahun
Tubuh yang ditempati : pangeran Keiji Fujiwara ( 27 tahun )
Elemen :
__ADS_1
- Api : Tersedia ( Lv. 2 )
- Kegelapan : Tesedia ( Lv. 1 )
- Cahaya : Tersedia ( Lv. 2 )
- Es : Tersedia ( Lv. 2 )
- Petir : -
- Angin : Tersedia ( Lv. 1 )
Combo skill : bisa menyerap energi dari lawan
Senjata : pedang wields, shotgun
Teknik bertarung : 27
Ketangkasan : 25
Kecepatan : 28
Kekuatan : 35
Kemampuan Spesial : Licik, cerdik
Poin sistem : 70
Koin emas : 300 keping
Sistem pemandu : Kenshin
《《《《《《《《 System 》》》》》》》》》]
[ Membacakan status selesai, Tuan. ]
Ucap Kenshin melaporkan semua status Keiji.
"Hhm. Okay!! Jadi aku baru saja membuka elemen kegelapan dengan level 1 ya. Dan aku juga mendapatkan poin sistem 2, dan juga koin emas 20 keping. Apa benar begitu, Kenshin?" guman Keiji menyimpulkan.
[ Benar sekali, Tuan.] sahut Kenshin lagi.
Baiklah!! Saatnya aku belajar menggunakan katana!! Haahh!! Okay!! Berusahalah lebih keras, Dazai!! Yang benar saja, aku seorang putra mahkota, namun aku tidak bisa memainkan katana. Sungguh sangat memakukan bukan? Aku tidak boleh selalu mengandalkan kekuatan sistem! Aku juga harus melatih diriku sendiri!! Benar sekali!!
__ADS_1
Batin Keiji mulai memasuki arena pelatihan para prajurit lalu berhenti dan berdiri dengan gagahnya menatap para prajurit yang sedang berlatih itu.
"Ambilkan katana untukku!!" titah Keiji dengan suara yang begitu menggelegar dan sangat tegas.
"Baik, Pangeran Keiji!" sahut salah satu pengawalnya dan segera memberikan sebuah katana khusus untuknya. "Silakan, Pangeran!"
Kali ini Keiji mulai menatap Masamune dan tersenyum tipis, karena di dalam masa Muromachi ini, hanya Masamune-lah yang bisa diandalkan untuk membantu segala hal untuknya.
"Masamune! Ayo kita berlatih bersama!" tandas Keiji masih dengan suara yang tegas. "Ajari aku cara menggunakan katana dengan benar!" imbuh Keiji mulai memelankan suaranya.
Lagi-lagi ucapan dari Keiji membuat panglima perang Masamune melongo selama beberapa detik. Bagaimana mungkin seorang pangeran Keiji Fujiwara yang terkenal begitu kuat, kejam, dan tak terkalahkan, namun kini sedang minta diajari menggunakan katana?
Mungkin seperti itulah yang sedang dipikirkan oleh panglima perang Masamune saat ini. Namun panglima Masamune tak ada pilihan lain dan tak berani menjawabnya, hingga akhirnya pemuda yang juga cukup tampan dan terampil dalam peperangan itu mulai mengiyakannya saja.
Keiji dan Masamune mulai memasuki lebih dalam lagi arena pelatihan itu dan segera berlatih bersama.
"Jelaskan sedikit padaku dan ajarkan padaku, Masamune-sama!! " ucap Keiji kembali sudah mencabut katana miliknya.
"Baik, Pangeran. Sinar matahari yang terang bisa membutakan mata jika berada di sudut yang tepat dengan tingkat ketajaman yang kuat. Paksa lawan agar mereka berada dalam posisi yang membuat matanya terkena sinar matahari sehingga tuan menjadi sulit dilihat." ucap Masamune sebelum menarik katana miliknya.
"Lingkungan yang gelap bisa membuat tubuh menjadi tidak terlihat, baik untuk pangeran Keiji maupun lawan. Hutan memiliki banyak ruang untuk bersembunyi. Pepohonan bisa menyulitkan para petarung untuk membentuk pertahanan massal seperti dinding dari perisai, atau melancarkan serangan dengan formasi seperti dalam medan perang. Rintangan alami seperti tebing, laut, atau dinding bisa menghambat pergerakan dan menghalangi upaya untuk melarikan diri. Jadi itu semua juga harus diperhitungkan, Pangeran." ucap Masamune lagi.
"Petarung berpedang seperti kita yang mengenakan zirah atau baju besi, biasanya tidak bisa menampilkan kemampuan terbaik di area lumpur, rawa, es, atau di salju yang tebal dan lunak. Jadi sebisa mungkin hindari itu semua!" ucap Masamune lagi.
"Hhm. Aku akan mengingatnya!" sahut Keiji dengan mantap.
"Jagalah agar tubuh tetap seimbang sehingga pangeran Keiji bisa menyerang dan menangkis tanpa terpukul. Selalu posisikan kaki selebar bahu, dan ketika bergerak, jagalah agar kaki tetap terentang. Jangan pernah memosisikan kedua kaki secara berdekatan. Gunakan genggaman pedang yang memudahkan tuan untuk menggerakkannya. Awasi gerakan lawan dan pelajari caranya bergerak ketika menyerang dan melancarkan serangan pembuka." ucap Masamune yang sudah menarik katana miliknya dan memperagakannya.
"Ketika menangkis, jagalah agar pedang berada di dekat tubuh sehingga pangeran tidak perlu merentangkan tangan untuk menangkis serangan. Cobalah untuk selalu melakukan serangan balik. Pergerakan dan penempatan kaki adalah kunci keseimbangan. Semakin sering telapak kaki menyentuh tanah, keseimbangan menjadi semakin baik sehingga kekuatan yang pangeran salurkan dalam serangan menjadi lebih besar." imbuh Masamune lagi dengan sabar menjelaskannya.
"Untuk menjaga keseimbangan, usahakan untuk bergerak dengan menggeser kaki, bukan mengangkat dan melangkahkannya. Memiringkan tubuh ke depan akan mengangkat tumit sehingga mengurangi keseimbangan di tanah. Berhati-hatilah dengan penempatan dan penggunaan kaki di setiap serangan karena ini bisa memberi peluang bagi lawan untuk menghantam pangeran." ucap Masamune lagi.
"Jagalah agar tubuh tetap lurus dengan dada dan tubuh mengarah ke depan sehingga keseimbangan akan tetap terjaga ketika pangeran mengayunkan pedang. Ini juga memudahkan pangeran untuk menghindari serangan lawan dengan gerakan tubuh yang sederhana. Jika tubuh menghadap ke samping, pangeran akan terkunci karena hanya bisa menghindari serangan dalam satu arah." ucap Masamune lagi.
"Baiklah! Aku paham!" sahut Keiji.
"Lakukan serangan pertama. Walaupun petarung yang terampil bisa bertempur secara terus-menerus dalam waktu yang lama, pertarungan pedang yang sebenarnya sering kali ditentukan oleh serangan pertama dan biasanya diselesaikan dalam waktu kurang dari 30 detik. Jika serangan pertama pangeran meleset, maka lawan akan mengambil keuntungan dan mengakhiri pertarungan dengan serangan yang mematikan." ucapMasamune lagi.
"Baiklah!! Ayo kita lakukan!! Ayo kita mulai berlatih!!" Keiji menyauti dengan bersemangat dan segera memulai serangannya untuk Masamune. "Hiathh ..."
TRANG ...
.....
__ADS_1